POV SERENA LEE
Aku selalu percaya satu hal. Kalau hidup sedang berantakan, maka minimal makan dulu. Karena orang lapar tidak pernah bisa berpikir jernih. Dan ternyata Samudra Raditya masih sama seperti dulu.
Dia tidak banyak bertanya. Tidak mengasihani. Tidak juga menatapku seperti orang yang baru gagal menikah di depan kantor negara.
Dia cuma berkata santai, seolah ini hal paling normal di dunia.
“Ayo makan.”
Dan aku langsung setuju tanpa negosiasi. Aku mengikuti langkahnya keluar dari gedung KUA. Mencoba mensejajarkan langkah kami. Saat itu aku tahu, kalau Samudra lebih tinggi dariku. Waktu SMP, dia lebih pendek dariku. Sekarang tinggi badannya melebihi aku yang juga seorang mantan atlet voli.
Apa setelah SMA dia sering olahraga renang atau basket. Aku menjadi penasaran dengan perjalanan hidupnya sampai sekarang.
Restoran Padang itu tidak jauh dari KUA. Hanya lima menit jalan kaki. Bangunannya sederhana. Cat hijau pucat yang mulai memudar, kipas angin besar berputar malas di langit-langit, dan etalase kaca penuh lauk yang membuat perutku langsung berbunyi keras.
Saking kerasnya Samudra menoleh. Aku pura-pura batuk.
“Anginnya kencang ya,” gumamku.
Dia tidak komentar. Tapi bahunya bergetar. Kurang ajar. Kami duduk berhadapan di meja dekat jendela. Pelayan langsung datang membawa piring-piring kecil dengan kecepatan ninja.
Rendang.
Ayam pop.
Gulai otak.
Telur balado.
Daun singkong.
Sambal merah yang terlihat seperti ancaman negara.
Aku menatap semuanya dengan mata berbinar. Kalau Mama melihatku sekarang mungkin beliau akan menangis karena anak yang dulu sering dikasih makan di rumah sekarang mengajakku makan siang.
“Atlet nasional ya,” kata Samudra santai.
Aku sudah menyendok nasi.
“Aku mantan atlet nasional.”
“Bedanya?”
“Ada.” Aku memasukkan ayam pop ke mulut. “Kalau masih atlet nasional biasanya makanannya diatur. Ini bebas.”
Dia akhirnya tertawa. Dan suara itu… anehnya membuat suasana jadi ringan. Seperti SMP dulu.
Lupakan tentang gagal menikah dan rumah yang hampir disita. Saat ini hanya dua orang yang kebetulan makan siang.
“Aku terakhir lihat kamu di televisi,” katanya sambil mengambil air minum.
Aku berhenti mengunyah. “Hah?”
Dia mengangkat bahu. “Final liga nasional. Kamu cedera lutut kan?”
Sendokku berhenti di udara. Aku tidak menyangka dia tahu. Banyak orang bahkan lupa aku pernah ada.
“Iya,” jawabku pelan.
“Itu pertandingan bagus.”
Aku mendengus kecil. “Bagus apanya. Aku kalah.”
“Kamu tetap berdiri waktu selesai pertandingan.”
Aku terdiam. Itu detail kecil. Tidak banyak orang ingat. Bahkan aku sendiri berusaha lupa.
“Setelah itu kamu masih beberapa kali main,” lanjutnya. “Aku sempat nonton langsung di stadion.”
Aku langsung menatapnya. “Kamu nonton?”
Dia mengangguk santai. “Iya.”
“Kenapa nggak nyamperin aku kalau datang nonton langsung.”
Dia mengambil nasi. Jawabannya datar. “Nggak berani.”
Aku hampir tersedak sambal.
“Kamu? Nggak berani?”
Dia hanya tersenyum tipis.
“Aku pikir kamu udah lupa sama aku.” Wajahnya serius saat mengatakan itu.
“Hey mana mungkin aku lupa sama kamu.” Nada suaraku terdengar santai. Padahal tidak sepenuhnya.
Samudra mengangguk pelan. “Baguslah.”
“Hah?”
“Kamu selalu suka voli.”
Aku menatapnya lagi. Dia ingat. Hal-hal kecil yang bahkan teman satu timku mungkin lupa. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Kalau kamu?”
Dia tampak berpikir sebentar. “Aku sekarang kerja.”
Aku menunggu. Dia makan. Diam. Aku menyipitkan mata.
“Kerja… apa?”
“Oh.” Dia seperti baru sadar harus menjelaskan. “Pokoknya kerja di sebuah perusahaan di bidang makanan.”
Aku mengangguk. Aku tidak berani bertanya posisi apa dia di perusahaannya. Takutnya dia tersinggung atau bagaimana.
“Kayaknya kamu udah jadi orang sukses,” gumamku. Kulihat jam tangannya tampak mahal.
Dia hampir tersedak air minum. “Apa?”
“Jam tangan kamu.
Dia menatap pergelangan tangannya seolah baru sadar dia memakainya.
“Ini hadiah kantor.”
Aku mengangguk sok tahu. Padahal tidak ngerti merek apa. Yang jelas harga motor bekasku mungkin tidak cukup. Kami makan beberapa menit tanpa bicara. Aneh. Tapi nyaman. Tidak canggung.
Seperti dua orang yang pernah lama saling mengenal, lalu tiba-tiba lanjut dari titik terakhir.
“Sebenarnya jurusanku Programmer IT, tapi saat ini posisiku masih staf biasa di kantor.” Akhirnya dia bercerita juga tentang posisinya.
“Oh yang penting kamu kerja bukan pengangguran biasa,” jawabku santai.
Dia seorang programmer, memang cocok sih. Dulu waktu di SMP nilai Matematikanya sering membuat guru bangga. Jadi sangat cocok dengan Samudra.
Sampai akhirnya— Pertanyaan itu keluar.
“Sam.” Dia menoleh.
“Iya?”
Aku menaruh sendok. “Kenapa kamu ada di KUA?”
Dia diam. Tidak langsung menjawab. Tangannya memainkan gelas. Tatapannya turun sebentar. Lalu kembali ke arahku.
“Aku habis cabut berkas.”
Aku berkedip. “… berkas?”
“Pengajuan nikah.” Sendokku jatuh ke piring.
“HAH?!”
Beberapa orang menoleh lagi. Hari ini aku benar-benar kandidat manusia paling berisik se-Kecamatan.
Dia tetap tenang. Seolah membicarakan hal sepele.
“Aku sudah daftar.”
Aku mendadak merasa bersalah. “Oh…”
Ada rasa tidak enak. Jangan-jangan dia juga gagal nikah. Hari ini ternyata hari patah hati nasional.
“Kenapa nggak jadi daftar nikah?”
Dia menggeleng. Lebih dingin.
“Aku batalkan karena memang gagal mau menikah.”
Aku bingung. “Terus?”
Dia menatap sambal di meja. Lama. Seolah sedang memilih kata.
“Sebenarnya aku dijodohkan. Aku juga tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Aku juga tidak pernah pacaran dengan dia. Mamaku ingin maksa aku segera menikah tapi — dia selingkuh.”
Aku terdiam. Suasana restoran tiba-tiba terasa lebih sunyi. Kipas angin tetap berputar. Orang-orang tetap makan. Tapi di meja kami—
Ada sesuatu yang berubah.
“Aku baru tahu kemarin dan menyaksikannya langsung, jadi hari ini aku mau cabut berkas pengajuan nikah,” lanjutnya pelan. Nada suaranya tidak marah. Tidak juga sedih. Justru terlalu tenang. Seperti luka lama yang sudah membeku.
Dia mengambil napas pendek. “Aku nggak akan menikahi perempuan yang selingkuh.”
Kalimatnya tegas. Tanpa ragu. Tanpa kompromi.
“Aku tahu rasanya,” katanya lagi. Matanya tidak melihatku sekarang. Melihat sesuatu yang jauh.
“Ibuku korban.”
Aku langsung teringat gosip SMP dulu. Rumah tangga berantakan. Ayah yang sering membawa perempuan lain. Ibunya yang sering menangis.
“Ayahku selalu bilang itu cuma kesalahan kecil,” lanjutnya lirih. “Tapi tiap malam rumah jadi perang.”
Tangannya mengepal sedikit. “Aku nggak mau hidup seperti itu.”
Sunyi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Samudra tersenyum kecil. Tapi senyum itu pahit.
“Aku nggak mau jadi bodoh seperti ibuku.” Kalimat itu menusuk.
Aku tahu dia tidak bermaksud jahat. Dia hanya jujur. Dan entah kenapa— Di tengah semua itu… otakku tiba-tiba menyala. Seperti lampu stadion. Terlalu terang. Terlalu cepat. Aku melihat fakta satu per satu.
Samudra.
Lajang.
Baru batal nikah.
Punya prinsip tidak mau menikah sembarangan.
Sekarang berada di dekat KUA.
Hari ini. Sendirian. Dan aku— yang membutuhkan surat nikah. Dadaku berdegup. Sebuah ide muncul dengan cepat bahkan ini sangat gila.
Akan tetapi … aku Serena Lee. Mantan opposite hitter tim nasional. Kalau ada bola tanggung di depan net— Aku tidak pernah membiarkannya jatuh. Aku meletakkan sendok perlahan. Menatapnya lurus.
“Sam.”
Dia mengangkat alis. “Iya?”
Aku tersenyum. Senyum paling percaya diri yang kupunya. “Aku punya tawaran untukmu.”