Tawaran Gila

1341 Words
POV SERENA LEE Ada momen dalam hidup ketika otakmu berkata jangan. Harga dirimu berkata jangan. Logika berkata ini ide paling bodoh yang pernah kamu punya. Dan entah kenapa, mulutmu tetap bergerak tanpa bisa terkontrol. “Aku punya tawaran untukmu.” Samudra berhenti mengunyah. Benar-benar berhenti. Sendoknya menggantung di udara seperti adegan film yang tiba-tiba di-pause. Dia menatapku. Tatapan programmer yang sedang membaca kode error berlapis. “Iya?” ulangnya hati-hati. Aku menarik napas. Oke Serena. Ini servis penentuan. Kalau gagal, kamu pulang tanpa rumah dan jadi gelandangan. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Berusaha terlihat santai. Padahal telapak tanganku mulai dingin. “Kamu mau menikah denganku?” Sendoknya jatuh. TING. Suara logam mengenai piring terdengar terlalu keras di restoran kecil itu. Beberapa orang kembali menoleh. Aku resmi menjadi headline makan siang di rumah makan Padang ini. Samudra tidak berkedip. Tidak bicara. Tidak bernapas. Aku bahkan curiga dia sedang reboot sistem. “Apa?” katanya akhirnya. Dia terlihat shock mendengar tawaranku. “Maksudku—” Aku berhenti. Tidak ada cara elegan mengatakan ini. “Aku mau kamu menikah denganku.” Sunyi. Kipas angin berputar. Seseorang di meja belakang tertawa. Sendok beradu piring. Hidup berjalan normal kembali di sana. Kecuali di meja kami. Samudra menatapku seperti baru saja mendengar ayam rendang berbicara. “Serena.” Nada suaranya datar. Terlalu datar. “Kita baru ketemu lagi.” Aku mengangguk cepat. “Iya.” “Kamu tahu ini bukan aplikasi dating online kan.” Aku hampir tersedak udara sendiri. “Hah?” “Kamu nggak bisa tiba-tiba pesan suami.” Aku menutup wajah sebentar. Ya Tuhan. Kalimat itu masuk akal. Tapi aku sudah terlanjur lompat dari tebing. Tidak ada jalan mundur. “Aku serius.” Dia bersandar. Tangannya menyilang di d**a. Ekspresinya bukan marah. Bukan juga mengejek. Lebih seperti seseorang yang benar-benar berusaha memahami. “Kenapa?” tanyanya. Satu kata. Tapi berat. Aku menarik napas panjang. Dan akhirnya— aku menyerah. Aku menceritakan semuanya. Rumah mama. Sepupu yang menggugat. Surat pengosongan. Empat belas hari tenggat waktu. Syarat penangguhan kalau status kepemilikan berubah setelah menikah. Tentang bagaimana aku sudah mencoba semua cara. Tentang bagaimana aku bahkan datang melamar mantan pacarku di lapangan latihan. Tentang bagaimana aku berdiri sendirian di depan KUA pagi tadi. Aku tidak sadar kapan suaraku mulai pelan. Tidak sadar kapan tanganku menggenggam ujung kebaya di pangkuan. Dan ketika aku selesai. Aku merasa… kosong. Samudra tidak memotong. Tidak sekali pun. Dia hanya mendengarkan. Tatapannya berubah pelan. Dari kaget. Menjadi serius. “Oh.” Hanya itu. Satu kata. Tapi entah kenapa aku merasa dia benar-benar mengerti. Aku buru-buru menambahkan. “Ini cuma penawaran bisnis.” Dia mengangkat alis. “Bisnis?” Aku langsung duduk tegak. Mode presentasi aktif. “Kamu butuh istri.” Dia berkedip. Aku menunjuknya. “Mamamu terus maksa kamu nikah kan?” Dia tidak menyangkal. Aku menunjuk diriku sendiri. “Aku butuh surat nikah.” Aku mengangkat tangan seperti diagram ekonomi. “Ini simbiosis mutualisme.” Dia diam. Aku semakin semangat. “Kita saling menguntungkan satu sama lain!” Aku bahkan hampir berdiri. “Aku dapat rumah aman sementara. Kamu dapat istri supaya mamamu berhenti menjodohkan kamu sama perempuan random.” Dia masih diam. Aku mulai kehilangan tenaga. “Ini kontrak aja,” lanjutku lebih pelan. “Nggak perlu drama. Nggak perlu cinta. Kita bisa atur batasan.” Sunyi. Samudra menyandarkan punggung. Menatap langit-langit sebentar. Seperti menghitung sesuatu di kepala. Ketika dia kembali menatapku— ekspresinya berubah. Shock. Itu kata yang tepat. “Kamu serius.” “Iya.” “Kamu ngajak aku menikah… sebagai solusi agar rumahmu nggak disita?” Aku mengangguk kecil. Kalau dijelaskan begitu memang terdengar kriminal. Dia mengusap wajah. Seperti seseorang yang baru kehilangan jaringan internet saat deadline. “Serena.” Nada suaranya rendah sekarang. “Pernikahan yang aku inginkan… bukan seperti itu.” Dadaku langsung turun. Aku tahu. Aku tahu ini gila. Tapi tetap saja… sedikit sakit mendengarnya. Dia melanjutkan. “Aku tumbuh di rumah yang hancur karena orang menikah tanpa cinta alias cuma bisnis.” Tatapannya tajam. “Menikah kontrak.” Dia menggeleng kecil. “Aku nggak pernah membayangkan menikah seperti bisnis yang kata kamu saling menguntungkan itu.” Aku terdiam. Restoran tiba-tiba terasa terlalu panas. Oke. Dia menolak. Masuk akal. Aku hampir tertawa kecil pada diri sendiri. Tentu saja dia menolak. Kenapa aku berharap berbeda? Apa karena aku dulu pernah bersikap baik padanya lantas aku berharap dia bisa membalasnya dengan setuju menikah denganku? Aku menunduk. Tanganku mengepal. Harga diri Serena Lee sebenarnya ingin berdiri sekarang. Membayar makan lalu pergi dan melupakan kalau percakapan tadi tidak pernah terjadi. Tapi— aku ingat rumah itu. Kenangan Mama di dapur. Foto Papa. Lapangan kecil tempat aku latihan servis waktu SMP. Dan entah kapan— suaraku keluar. Lebih kecil, dan lebih jujur. “Sam… aku nggak punya siapa-siapa lagi.” Dia langsung diam. Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Untuk pertama kalinya hari itu— aku benar-benar memohon. “Aku udah coba semua cara.” Aku tersenyum. Tapi rasanya pahit. “Kalau bukan kamu… aku nggak tahu harus minta tolong siapa. Maaf kalau tawaran ini malah membebanimu.” Dadaku terasa sesak. “Lucu ya.” Aku tertawa kecil. “Hari ini aku ditolak dua kali.” Dia tidak bergerak. Aku melanjutkan. “Mungkin kedengarannya egois.” Aku menarik napas panjang. “Tapi aku percaya sesuatu.” Dia menunggu kelanjutanku bicara. Aku berkata pelan. “Kalau kita bisa ketemu lagi di hari seburuk ini… di tempat tadi, setelah dua belas tahun nggak pernah ketemu…” Aku menatap matanya. “Mungkin ini takdir.” Kata itu keluar begitu saja. Dan aku langsung merasa bodoh. Ya Tuhan. Siapa yang bicara takdir di restoran Padang? Aku buru-buru mengambil air minum. Menyesal. Aku sangat menyesal. Tapi Samudra tidak tertawa. Dia justru menatapku lama. Seolah membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Lalu dia bersandar. Menghela napas dengan pelan. “Bisa saja aku setuju.” Jantungku berhenti. “Apa?” Dia mengangkat satu alis. “Tapi aku mau tanya dulu.” Aku menelan ludah. “Apa?” Tatapannya berubah serius. Tidak dingin. Tidak juga lembut. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan sesuatu sebelum melompat. “Serena Lee.” Namaku terdengar berbeda dari mulutnya. “Kalau aku bilang iya…” Dia berhenti sebentar. “Benar kamu mau menikah denganku…” tatapannya menahan napasku— “… cuma karena rumah?” Aku menelan ludah berusaha memahami pertanyaan Samudra. Apa aku tidak salah dengar. Dia bilang iya, tapi dia mempertanyakan apa aku menikah karena rumahnya mau disita. “Mungkin ini kedengarannya aku mengada-ngada Sam. Tapi usia kita sudah matang untuk menikah bukan? Perkara itu cuma untuk menunda penyitaan rumah aku juga tidak tahu. Tapi – aku tidak punya pilihan. Walaupun rumahku disita, aku juga harus menikah karena harus kemana aku tinggal. Jadi meskipun itu bukan menikah denganmu, aku pasti akan menikah dengan orang lain demi memiliki tempat tinggal.” Jawaban yang paling absurd mungkin. Tapi aku tidak punya kalimat lain untuk meyakinkan Samudra. Menikah dengannya memang tak ada salahnya. Aku sudah tahu Samudra itu orangnya seperti apa. Tapi pertanyaannya, apa Samudra mau menikah denganku? “Maksudmu meski aku menolak, kamu juga akan tetap cari pria lain untuk menikahimu?” tanyanya dengan wajah kaget. Aku mengangguk, memang tidak ada pilihan lain. “Baiklah aku setuju! Aku akan menikahimu. Kamu jangan menyerah! Rumah itu jangan sampai diambil orang! Rumah itu banyak kenangannya. Kasihan Mamamu kalau harus meninggalkan rumah itu.” Aku tertegun mendengarnya. Akhirnya dia setuju, tapi sepertinya Samudra belum tahu kalau mamaku sudah meninggal. “Sam, Mamaku sudah lama meninggal!” ucapku dengan lirih. “APA? Sudah meninggal!” Dia terlihat lebih shock ketimbang dia mendengar tawaran gila tadi. “Ya Tuhan, aku belum sempat berterima kasih pada Mama.” Dia terlihat berduka dengan wajah yang sedih. Aku memahaminya jika ia sedih dan merasa kehilangan. Ketika masih SMP mamaku memang sudah menganggapnya seperti anak sendiri. “Maafkan aku jika aku menyela, Sam. Jadi kamu setuju menikah denganku?” tanyaku ingin memastikan kalau dia tidak berubah pikiran. “Kamu bawa KTP kan sekarang? Kita menikah hari ini juga. Kita balik lagi ke KUA!” ajaknya membuatku langsung menutup mulutku saking tidak percayanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD