"Aku enggak mungkin bisa melupakan ini, Re." Namun, begitu Janatra melanjutkan kalimat selanjutnya, Revalia merasa dirinya masih punya harapan. Ragu-ragu, dia menolehkan kepala ke samping kanan, membalas tatapan mata Janatra. wajah laki-laki itu tampak keemasan, efek dari cahaya lampu jalan yang menyusup kedalam mobil melalui kaca transparan Fortuner hitam yang mereka tumpangi. "Aku mau ... mengulang semuanya dari awal sama kamu. Dan ...," ucapan Janatra tersedak oleh buncah bahagia yang meledak di balik d**a. Revalia menunggu dengan tak sabar. "Dan aku cuma mau punya anak dari rahim kamu aja, Re. Bukan perempuan lain." Sekonyong-konyong, telaga bening Revalia terasa memanas. Lelehan cairan bening jatuh dari ujung matanya tanpa sadar. Perkataan Janatra barusan benar-benar berhasil membua

