Seketika, Revalia merasa ada sesuatu yang keras menyumbat saluran pernapasannya. Kedua tangan Revalia semakin terasa dingin dalam genggaman hangat Silvia. Revalia tak bisa menemukan kata-kata yang bisa dia gunakan sebagai jawaban. Bibirnya mendadak terkunci dengan lidah yang mendadak kelu untuk bicara. Jadilah dia hanya diam. Menunduk, tak punya nyali membalas tatapan sang ibu mertua. "Re,” panggil Silvia lembut. "Tatap Bunda!” pintanya yang ragu-ragu Revalia turuti, kendati dengan binar mata sayu. "Kamu serius dengan pernikahan ini, kan, Sayang?” Masih sulit berkata-kata, Revalia hanya bisa mengangguk saja. "Kamu tau tugas utama seorang istri?” tanya Silvia lembut. Dia tahu karakter Revalia seperti apa. Jadi beliau sedikit berhati-hati memilih dan mengolah kata terhadap perempuan muda i

