“Loh.. Loh.. Kita ke mana?” Meggly menoleh saat Andreas memilih melewati kantor begitu saja. Gadis itu mulai panik, karena waktu telah mepet dengan jam masuk kerja. “Andreas,” panggilnya sambil menggoyangkan lengan lelaki itu. Andreas melirik sekilas. “Gue mau ajak lo pergi.” “Tapi gue harus kerja.” “Udah gue izinin.” Seketika bibir Meggly terbuka. Benar begitu? Tapi kenapa Andreas tidak memberi tahunya? Meggly menggeleng tegas, pasti hanya akal-akalan Andreas. “Coba aja tanya atasan lo. Udah gue izinin kok,” ucap Andreas kala melihat keraguan di wajah Meggly. Meggly menurut, mencari kontak atasannya dan mengirimkan pesan. Setelah itu dia memutar tubuh menghadap Andreas. Sungguh, lelaki di hadapannya itu sekarang suka membuat jantungan. “Terus kita mau ke mana?” tanya Meggly ingin

