BAB 1 Penampilan Biasa
Rania tersenyum kecil, ketika menatap sebuah kotak merah kecil sudah bisa di duga jika isi kotak itu adalah perhiasan, karena penasaran Rania membuka kotak itu, sebuah cincin emas, di tengahnya ada mata kecil, terlihat berkilau, seperti berlian.
“Apakah ini untukku, sebagai hadiah anniversary yang ketujuh belas,” gumam Rania dengan mata berbinar.
Satu bulan lagi tepatnya, di tanggal 1 Januari adalah ulang tahun pernikahannya, dan pasti suami Rania memberikan kado yang teristimewa untuknya. Rania menyimpannya kembali di bawah tumpukan kemeja suaminya, tempat di mana ia tak sengaja menemukan kotak perhiasan itu.
“Mah!” panggil seorang gadis, lalu terdengar langkah menuju kamar.
“Iya sayang ada apa?”
“Sore ini Safa, akan pergi Mah, nanti pulangnya bareng Papah,“ ucap gadis yang berusia enam belas tahun itu, dengan pakaian modisnya.
“Iya, hati-hati,” balas Rania sambil mengulurkan tangan, dan Safa pun mencium tangan mamahnya dengan takzim, Safa melangkah meninggalkan rumah minimalis berlantai dua yang terletak di tengah perumahan.
Tiba-tiba langkah Safa berhenti dan menoleh ke arah Rania, dengan tatapan nanar.
“Ada apa?” tanya Rania.
“Mamah harus mengubah penampilan Mamah, cobalah untuk menjadi wanita yang mengikuti perkembangan jaman, jangan kalah dengan wanita di luar sana Mah.”
Ucapan Safa, membuat Rania terkejut. ”Apa ada yang salah dengan penampilan Mamah?”
Rania memindai tubuhnya sendiri, yang saat itu mengenakan daster lebar di bawah lutut.
“Ahhh sudahlah, Mamah bisa menilai sendiri penampilan Mamah,” balas Safa, lalu gadis belia itu melangkah cepat menuju pintu luar, dan menaiki ojek online yang sudah menunggu di luar.
Setelah kepergian Safa, Rania berdiri berjalan ke arah cermin yang tertempel di dinding kamarnya, ia berdiri di depan cermin dan menatap pantulan tubuhnya, selama ini jika di dalam rumah, daster satu-satunya pakaian yang ternyaman, di sela kesibukannya mengurus rumah.
“Apa ada yang salah dengan penampilanku, di rumah ‘kan, semua ibu-ibu rumah tangga juga berpakaian seperti ini,” gerutu Rania mengedikan bahu.
Malam beranjak naik, wanita yang saat ini berusia 37 tahun itu, menunggu duduk diruang tengah, yang menyatu dengan ruang makan. Makan malam telah siap, tapi sang suami dan putrinya tak kunjung datang, ponsel mereka pun kompak tidak aktif, sementara perutnya sudah keroncongan minta di isi. Waktu menunjukkan jam sembilan malam, Rania mulai cemas, ia takut terjadi apa-apa dengan putri dan suaminya itu, sementara ponsel juga tidak aktif. Akhirnya ia menghubungi sang mertua. Tapi baru saja akan menekan nomor ponsel, tiba-tiba suara mobil sudah ada di depan pintu pagar, Rania bernapas lega, bergegas ia melangkah cepat untuk membuka pagar.
Mobil masuk dan berhenti, Safa keluar dari mobil setelahnya Faiz suami Rania turun.
“Kenapa sampai malam Safa, terus kenapa ponsel kalian tidak aktif, bikin Mamah khawatir,” cerca Rania.
“Namanya saja acara ulang tahun, ya pasti lama ,” balas Safa sambil berlalu.
Rania hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah anak gadisnya beranjak dewasa, lebih sering berkumpul dengan teman-temannya daripada di rumah.
“Mas Faiz, makan dulu, pasti capek ‘kan nungguin Safa,” tawar Rania pada sang suami yang berjalan masuk ke dalam rumah.
“Ran, aku sudah makan tadi, aku mau langsung tidur saja, Safa juga pasti sudah kenyang, tadi di pesta ulang tahun kami sudah makan banyak,” jawab Faiz datar.
“Lho, jadi Mas Faiz ikut makan-makan di sana?”
“Iya sekedar makan, ditawari, masak nggak mau.”
“Ya sudah, bersih-bersih dan istirahat.”
Rania meraih tas kerja suaminya, lalu mengikuti langkah sang suami menuju kamar, tercium aroma mawar khas sekali dengan parfum seorang wanita. Rania membuang jauh pikiran yang buruk yang tiba-tiba menghampirinya.
Ia menghela napas pelan dan menghembuskannya lalu pergi ke ruang makan, dan sendiri memakan menu makan malam yang sudah disiapkannya sedari sore.
Malam semakin larut, Rania terhenti di kamar Safa, karena terlihat pintu sedikit terbuka, dan lampu kamar menyala, Rania membuka pintu.
“Safa, kamu belum tidur?”
“Belum Mah, Safa mematikan ponselnya, ketika tahu mamahnya masuk ke dalam kamar.
“Tadi kamu pergi ke ulang tahun siapa, dan Papahmu juga ikut makan di sana,?
“Iya Mah, Safa di undang oleh Tante Kinan, Tantenya Nayla, teman sekelas Safa.”
“Ooo begitu, ya sudah tidur, sudah malam,” suruh Rania.
“Mah, Tante Kinan, itu sangat cantik, pakaian selalu modis, ia juga memiliki butik dan salon, hebatkan ya Ma. Safa sering datang ke sana, dan gratis mendapat perawatan di sana, padahal Tante Kinan seorang janda tapi sangat mandiri ,” seloroh Safa.
“Janda”
“Iya, Tante Kinan bercerai dengan suaminya dua tahun yang lalu,” timpal Safa sambil memegangi tas barunya.
“oh.”
Lalu Rania beranjak keluar dan menutup pintu kembali, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, terlihat Faiz sang suami sudah tertidur. Rania menatap sejenak, wajah tampan suaminya, meskipun usianya sudah 40 tahun justru suaminya semakin terlihat gagah dan tampan, tubuh tinggi dan tegapnya juga badan yang berotot, didapatnya, karena sering berolah raga, beda dengan Rania, usia Rania terpaut empat tahun lebih muda dengan sang suami, tapi terlihat lebih tua, karena Rania tidak peduli dengan penampilannya.
Tapi perkataan Safa tadi pagi membuatnya terusik. Lalu Rania berjalan di depan cermin, mengerai rambut hitam sebahu dan menatap tubuhnya.
Apakah penampilanku begitu membosankan hingga putriku sendiri mencibirnya, tapi Mas Faiz tidak pernah mengeluhkan tentang penampilanku,” batin Rania.
Hari berganti, Rania sibuk membuat kue tart, hari ini adalah ulang tahun pernikahannya, ia akan memberi kejutan untuk sang suami, selama ini memang hari spesial itu berlalu begitu saja, tapi khusus tahun ini adalah spesial, Anniversary sweet seven teen, sungguh suatu kebanggaan bagi sepasang suami istri telah melewati tujuh belas tahun pernikahan. Dengan berbagai ujian, suka dan duka terlewati, bagi Rania mendampingi Faiz selama tujuh belas tahun adalah suatu kebahagiaan.
Tangan Rania membuat cake, cokelat berbentuk hati tentu saja dengan penuh cinta ia membuatnya, sesekali senyum menghiasi bibirnya merah muda alami tanpa balutan lisptik.
Sebuah chat masuk di ponsel Rania.
{Ran hari ini aku belum bisa pulang, tugas luar kota diperpanjang dua hari lagi}
Wajah Rania berubah kecewa, ia menatap cake yang sudah jadi, ia mencoba menghubungi Faiz, tapi ponsel tidak aktif.
“Yah, dua hari cakenya keburu basi,” gumam Rania sedih. Di saat hatinya galau tiba-tiba sapaan Safa mengejutkannya.
“Mah, Safa pergi dulu,” pamit gadis itu memakai gaun warna pink lembut dengan tas kecil dijinjingnya.
“Kamu mau ke mana? Ke pesta lagi?” cerca Rania.
“Iya Mah, ke pesta pernikahan,” sahut Safa.
“Siapa yang menikah?”
“Tante Kinan.”
“Oh syukurlah, Tante Kinan sudah mendapatkan jodoh lagi.”
Safa mencium tangan Rania, dan bergegas pergi, di luar sudah ada taksi online yang menunggunya.
Rania berjalan ke lantai atas, tiba-tiba ia melihat ponsel Safa, yang tertinggal di meja kamar, dengan cepat meraihnya, dan terdengar bunyi panggilan ponsel, Rania menyalakannya.
Belum sempat menyapanya suara di seberang ponsel, terlebih dahulu terdengar.
“Safa, kamu sampai di mana, cepat sedikit, Papahmu sudah menunggu, cepat ya.”
Tut...tut, sambungan ponsel terputus. Rania menatap dan meneliti kembali siapa yang barusan menelpon, nama Nayla, keponakan dari Kinan yang katanya akan menikah hari ini.
“Tapi kenapa Mas Faiz menunggu di sana, bukankah ia barusan bilang masih di luar kota ?” tanya Rania pada dirinya sendiri.