"abisnya kakak kesel banget" lanjut ku dengan nada yg sudah lebih rendah dan emosi yg mulai mereda
"kak Riri memang selalu kayak gitu dek" Dinda langsung nyamber, dan menatap licik seolah ingin balas dendam
aku mengambil bantal sofa dan melemparnya ke Dinda, lalu kami bertiga tertawa dan obrolan kami pun pecah kemana-mana keluar dari topik
. . .
pagi ini aku sudah berada di kampus, jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, saat ini aku tangah duduk di perpustakaan saat ku dengar para gadis yg duduk di sebelah meja ku tengah mengobrol seru, awalnya aku gak tertarik dengan obrolan mereka yg ngebahas soal lawan jenis, mereka sebut gebetan atau apalah itu pokoknya
"itu lagi topiknya" batinku mulai merasa bosan
baru saja aku hendak pergi ku dengar mereka melanjutkan obrolannya, secara gak sengaja aku mendengar mereka menyebut nama seseorang
"tebak siapa itu? WAHYU!"
"wah kebetulan nih" batinku, sambil kembali duduk tidak jadi beranjak pergi
aku mendengarkan percakapan mereka dengan seksama tapi dengan mataku yg tetap melihat kearah buku dan sesekali membolak-balik halaman nya
"wahyu anak ekonomi kan? yg pakai kacamata?" terdengar suara salah seorang gadis itu menanyai temannya
"iya coba lihat dia kasih ini" kata gadis yg satunya, yg wajahnya lebih manis dari lawan bicaranya, sambil mengangkat tangan menunjukkan sebuah cincin di jari manisnya
"wow. . . so sweeet banget, terus dia bilang apa?" lanjut gadis tadi bertanya lagi
"dia ngajakin aku PDKT" jawab gadis satunya lagi
"terus kamu bilang apa Lin?" gadis tadi kembali bertanya
"ya Linda mau" kata gadis satunya yg ternyata bernama linda
"terus kalian jadian?" gadis tadi bertanya lagi
"belum sih, kayaknya dalam waktu dekat, kamu do'ain aja" tutur Linda menjelaskan
"amiiiiinnnnn, ako do'ain" kata teman Linda
sedang fokus men dengarkan obrolan mereka tiba-tiba ada yg menepuk bahuku dari belakang
"hai. . . Riri ya?!" terdengar suara yg aku yakin adalah orang yg menepuk bahuku
aku menoleh ke arah pemilik suara itu
"kamu?" kataku terkejut saat melihat siapa orang itu
"kamu sudah sembuh, maaf waktu itu aku. . ." orang itu yg ternyata adalah Rian si cowok gak peka yg waktu itu nabrak aku dan langsung kabur
"udahlah gak usah minta maaf udah telat" kataku judes, langsung memotong ucapan Rian
"tapi kan. . ." sambung Rian seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali aku cegat
"gak ada tapi-tapi aku lagi sibuk, gak ada waktu ngobrol" kataku jutek, dengan emosi yg meledak-ledak, seraya menyilang kan tangan di d**a tetap dalam posisi duduk
"ok deh kalau gitu aku pamit dulu" kata si cowok gak peka yg gak aku lirik sedikit pun sejak tadi
"emmmmhh. . ." jawabku singkat, seraya batinku ngedumel
"dasar cowok gak peka, minta maaf kek apa gitu, masak gitu aja langsung pergi" pikirku entah mengapa aku malah ingin cowok gak peka itu minta maaf lagi, padahal tadi aku udah marahin dia
tampa kusadari, semua mata yg ada di dalam perpus sedang memandang ke arah ku
"mampus, malu banget nih, ngapain sih aku marah-marah di perpus" gumam ku dalam hati menyalahkan diri sendiri
setelah itu aku mencoba bersikap biasa saja, tapi suasananya beneran kikuk banget, sampai akhirnya dewi penyelamat ku tiba
"hai cantik" terdengar suara merdu di telingaku, suara yg familiar, siapa lagi kalau bukan Dinda
"oh Tuhan terima kasih" batinku, rasanya bener-bener lega seolah nemu oasis di tengah gurun pasir
"heh, kok bengong?" Dinda menyenggol bahuku
"eh enggak, gak bengong kok cuma lagi serius baca aja" kataku berkilah
Dinda lalu tertawa terbahak
"baca apaan beb, orang bukunya aja kebalik" kata Dinda mengejek
spontan aku membalikkan buku dengan gelagapan, Dinda kembali tertawa, kalau tadi aku malu banget dilihat banyak orang, sekarang malunya dua kali lipat, mungkin ini yg orang bilang keluar dari kandang singa tapi masuk ke mulut buaya
"hehehe" aku hanya tersenyum masam dengan tawa yg dipaksa
"kenapa sih beb, kalau ada masalah cerita dong, sampai kayak orang linglung gitu" kata Dinda menegur ku
"gak ada apa-apa kok Din, cuma tadi ada si cowok gak peka di sini, untung sekarang udah pergi" kataku dengan raut wajah kesal
"siapa sih?" tanya Dinda yg kurang memahami maksud ku
"ya si cowok gak peka itu siapa lagi" kataku malas menyebut namanya
"maksud kamu Rian?" tanya Dinda lagi
"iya siapa lagi!?" jawabku mengiyakan
"memang dia ngapain?" Dinda mulai penasaran
"dia kesini sok-sok minta maaf, males banget kan!?" kataku menerangkan dengan lesu sambil mengangkat bahu dan ke dua alis
"terus kamu jawab apa?" Dinda masih terus mewawancarai ku
"apaan sih Din? kayak wartawan aja tanya-tanya" kataku sedikit lebay
"udah jawab aja" balas Dinda menolak protes ku
"ya aku marah-marah lah" jawabku dengan bangga
"disini? ditempat ramai ini? aduh Riri memalukan tau gak!?" pertanyaan Dinda berkali-kali yg tidak sempat aku jawab
"sebenarnya malu banget Din, makanya tadi sampai salah tingkah" aku kembali menjelaskan
"terus Rian gak kamu kasih kesempatan ngomong?" tanya Dinda lagi
"enggak" jawabku seraya menggeleng
"ini nih kebiasaan buruk kamu" Dinda tiba-tiba serius menatap ku
"maksudnya Din?" tanyaku penasaran
"kemarin itu aku ke rumah kamu mau jelasin kalau si Rian itu yg gendong kamu ke unit kesehatan, malah dia sempat ikut nungguin kamu sadar sekitar sejam, tapi pas temannya ngechat ngajak latihan dan gak bisa dia tolak, dengan berat hati dia minta izin buat pergi" ungkap Dinda yg langsung melengkapi rasa malu ku
"jangan bercanda dong Din" kataku mulai cemas
"siapa yg bercanda? makanya sebelum ngapa-ngapain dipikirin dulu!" Dinda memasang ekspresi tegas di wajahnya
"terus gimana dong?" tanyaku dengan perasaan sangat malu untuk ketiga kalinya dalam rentang waktu kurang dari dua jam
"ya aku gak tau, kamu cari aja jalan keluarnya sendiri" kata Dinda sambil menahan tawa
"Dinda bantuin dong" kataku merengek
"iya-iya bikin masalahnya sendiri, menyelesaikannya minta bantuan" Dinda mengomel sambil memajukan bibirnya
"ayo lah beeeeb" kataku merayu
"udah ngapain gede giti matanya" kata dinda menggoda
"hehehe" aku hanya tertawa kecil
kami pun masuk kelas pagi itu, dan membiarkan masalah Rian di tunda sementara
. . .
siangnya kami tidak lagi membahas tentang Rian, aku dan Dinda justru melanjutkan rencana kami untuk menyelidiki Wahyu, tak lupa aku menceritakan kepada Dinda tentang percakapan gadis bernama Linda dan temannya yg sempat aku dengarkan tadi di perpus, sebelum Rian datang dan membuyarkan konsentrasi ku
"apa aja yg kamu dengar?" tanya Dinda
"gak banyak, tapi kurang lebih aku mendengar kalau gadis bernama Linda diberi cincin oleh Wahyu anak ekonomi" jelas ku pada Dinda
"berarti mereka jadian? terus apa Wahyu yg dia maksud Wahyu yg sama?" Dinda melontarkan beberapa pertanyaan lanjutan
"kalau jadian kayaknya belum, soalnya aku dengar tadi mereka masih PDKT, kalau masalah sama atau gak aku juga gak tau" jawabku menanggapi pertanyaan Dinda
"setau aku sih Wahyu yg ada di kelas ekonomi ada dua, pertama Wahyu kita dan. . ."
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 8