setelah itu aku keluar dari ruangan kelas itu dan berjalan menuju ke lapangan futsal
ketika aku tiba hanya terlihat beberapa anak laki-laki yg sedang bermain futsal, tapi Rian sama sekali masih tak terlihat di sana
lalu tiba-tiba!!!
"hai cewek, cantik banget sih lagi ngapain disini? kesasar ya sini aku temenin" tiba-tiba seorang pria aneh yg aku tak kenal mendekat ke arah ku, aku mengelak saat dia tiba-tiba hendak merangkul tubuh ku
"maaf mas jangan kurang ajar ya, kita itu gak saling kenal, mas jangan deket-deket apa lagi mau nyentuh saya gak sopan banget sih jadi orang" kata ku marah-marah
"gak usah jual mahal gitu cantik, nama ku Riki, kamu udah punya pacar belum?" tanyanya lagi sambil mencoba meraih tangan ku, tapi tiba-tiba
"bukkk" suara keras terdengar, membuat ku terkejut, sesaat kemudian pria tidak sopan yg katanya bernama Riki itu lalu jatuh tersungkur
"punya dia punya pacar, gue orangnya, mau apa lo ganggu cewek gua?" tiba-tiba muncul dua sosok di depanku Hendra dan Adam, dan suara keras yg tadi terdengar adalah suara tinju Hendra yg mendarat di pipi pria b******k itu
"Hendra, Adam" sapa ku kaget
"iya Ri, lagi apa kamu di sini Dinda mana? tumben kalian gak sama-sama?" sapa Adam sambil menanyakan Dinda
"iya nih Dam aku lagi ada perlu sama seseorang, Din Dinda, aku belum ketemu dia dari pagi" jawab ku jujur
"terus gimana ceritanya si b******k ini mau nyentuh-nyentuh kamu yang?" tanya Hendra berpura-pura menjadi pacar ku, ekspresinya memang kaku sekali
Adam hanya tersenyum geli melihat tingkah Hendra
"iya yang, tadi aku baru masuk dia udah sok kenal dan langsung mau pegang-pegang aku" jawabku mengikuti permainan Hendra, karena memang sepertinya saat ini itulah jalan yg terbaik, pertama aku ingin berhenti di ganggu oleh Riki si lelaki gak ada akhlak itu, dua aku juga berpikir kalau aku harus menghargai niat baik Hendra yg berusaha membantu ku
"untung aja tadi pas aku lewat aku lihat kamu di kurang ajarin sama ni orang" kata Hendra marah
"iya yang, makasih banyak ya bantuannya, kalau gitu aku pamit dulu" kataku berterima kasih
"ciiiiiieeee yg makin mesra" goda Adam yg membuat aku tersipu dan membuat Hendra salah tingkah
kemudian aku berlalu pergi tampa menoleh sedikit pun ke arah pria bernama Riki tersebut, aku benar-benar gak suka banget tipe lelaki pengganggu kayak gitu
pagi ini aku sama sekali tak melihat Rian, mungkin hari ini dia gak ke kampus, saat bayangan Rian melintas di kepala ku tiba-tiba saja sesosok gadis cantik melintas di depan mata ku
"Dinda" pikir ku
aku mengikutinya dari belakang dan saat itu kami kembali ke tempat aku tadi di ganggu oleh pria tidak sopan bernama Riki
Dinda masuk ke lapangan, dan menghampiri beberapa lelaki yg duduk di sana, beberapa saat kemudian mata ku terbelalak kaget saat melihat Dinda mendekati pria bernama Riki dan memberikan sesuatu
"g gak mungkin, apa aku gak salah lihat? Dinda ngapain bicara sama cowok gak sopan itu, apa mereka saling kenal" batin ku penasaran
aku masih memperhatikan keduanya, beberapa saat kemudian tiba tiba terlihat Riki hendak mencium Dinda, tapi secara reflek, Dinda menghindar, tapi bukannya marah Dinda justru terlihat malu-malu dan minta maaf
"ada yg gak beres nih" batin ku
"aku harus cari tau"
"Nia, iya aku harus tanya Nia" itu hal perama yg muncul di otak ku
. . .
siang itu aku pergi ke sekolah Nia, aku mengajaknya untuk ikut dengan ku
"Nia, kamu tau sesuatu tentang Dinda?"
"emmm,,, tau kak" jawab Nia
"bisa kamu ikut kakak, ada yg mau kakak bicarakan sama kamu" ajak ku
"bisa kak, tapi sebentar Nia izin dulu sama mamah, biar kak Dinda nanti gak jemput ke sekolah, Nia bakal bilang kalau Nia ada tugas kelompok" jawab Nia
"ok dek" kata ku
beberapa saat Nia terlihat menelpon seseorang, itu pasti mamahnya, setelah lima menit, Nia kembali kearah ku dan bilang
"yuk kak"
"ayo dek" jawab ku
Nia lalu naik ke motor ku dan kami pun berangkat menuju ke rumah ku, sampai di rumah aku mendapati pintu terkunci, tanda bahwa tidak ada siapa pun di rumah
aku membuka pintu lalu langsung mengajak Nia ke kamar, tak lupa sebelum naik aku menawari Nia minum tapi dia menolaknya
"kak Riri Nia boleh numpang mandi dulu? badan Nia lengket" tanya Nia sopan
"boleh dek silahkan" lalu setelah sepuluh menit Nia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk
"kak Riri gak mandi" tanya Nia
"gak dek nanti aja" jawab ku
lalu Nia berjalan ke depan cermin, melewati aku yg duduk di ranjang wangi harum tubuh Nia tercium di hidung ku, mengingat kan ku pada aroma tubuh Dinda, seketika mata ku terpejam memikirkan Dinda, gairah ku tiba-tiba naik mahkotaku serasa lembab dan gatal
"kak Riri, Nia boleh minta tolong?" tanya Nia mengagetkan ku
"em iya, kenapa dek?"
"tolong pasangin pengait bra Nia kak" katanya polos
aku yg sudah dipenuhi oleh nafsu, mendadak berdebar, aku berusaha menahan nafsu yg bergejolak dalam diri ku
"Nia melepaskan handuk yg ia kenakan, terpampang lah dua bukit indah yg baru tumbuh dengan puncak berwarna coklat kemerahan
"N N Nia, kamu ngapain?" suara ku gemetaran
"kan mau minta tolong pasangin bra, kak Riri mau kan?" tanya Nia mengulangi permintaannya
"mau dek tapi jangan di buka gitu dong, kak Riri kan. . ." kalimat ku putus dan tak ku lanjutkan aku takut semua kesalahan yg pernah terjadi akan terulang lagi, aku berbalik hendak menghindari Nia, tapi Nia tidak membiarkan ku bebas begitu saja, dia langsung memeluk ku dari belakang lalu menciumi dan menjilati tengkuk ku
"emmmmm, ahhhhhh, stop Din ini gak bener" gumam ku
"bukan Din kak, tapi Nia" jawab Nia
"emhhhhh" lenguh ku lagi saat Nia mulai meraba dua bukit kembar ku, aku menggeliat makin menjadi saat Nia memelintir puncak bukit ku yg mulai mengeras dengan lembut
"kak Riri gak perlu takut, atau merasa bersalah, Nia melakukan ini dengan kemauan Nia sendiri kak, ini bukan salah kak Riri, justru kak Riri dan kak Dinda adalah kakak Nia yg terbaik, kalau saja Nia belajar ini dari orang lain mungkin Nia saat ini sudah gak perawan lagi, Nia tau ini salah kak tapi Nia cinta sama kak Riri" kata Nia lagi
lalu dia membalik badan ku dengan lembut, lalu mulai melumat bibir ku
permainan berlanjut dan kini pakaian ku sudah berhamburan di lantai, tubuh ku sekarang layaknya bayi yg baru lahir, tidak tertutup sehelai benang pun
mata tajam Nia melihat ku gemas, dia tersenyum penuh kemenangan
sore itu Nia mendapatkan kepuasan berlipat, karena semua hasrat ku yg tertahan berhari-hari kini telah ku curahkan padanya, kami tertidur setelah o*****e berkali-kali dan saat aku terbangun waktu di jam weker ku menunjuk kan pukul enam sore
aku menggoyangkan tubuh Nia lembut, berusaha membangunkan Nia dari tidur lelapnya
dek bangun sayang bisik ku lembut, setelah itu aku berpikir sejenak
"lagi? apakah aku akan masuk lagi ke jurang kenistaan ini?" batin ku
tiba-tiba Nia membuka mata dan mencium bibir ku singkat
"muuuaachz. . . love you beb, makasih ya untuk hari ini" kata Nia mengagetkan ku
"beb?" tanyaku sambil mengerenyitkan dahi
"kenapa kak? kak Riri gak suka ya?" Nia kembali mengganti panggilannya
"eh enggak kok beb, aku suka, sukaaaa banget, sekarang kamu harus bantuin aku untuk mengembalikan Dinda yg dulu dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 19