"ok deh" jawab Rian singkat lalu kami pun berjalan ke arah yg berlawanan dan terpisah satu sama lain
. . .
setelah tiba di rumah, aku buru-buru mengambil hp lalu mengetik nama Dinda di kontak w******p, sesaat aku ragu apakah aku harus menghubungi Dinda atau tidak, tapi akhirnya aku coba mengirim pesan ke Dinda
"P" centang dua
"P" centang dua juga
"P" masih gak di Read
"beb" centang biru
"beb" centang biru lagi, tapi masih gak ada respon
"Dinda ?" gak di bales juga
"ok Din, kalau ini mau kamu, kalau kamu anggap aku pacar kita putus sore ini juga, kalau kamu anggap aku sahabat, anggap aja Riri sahabat kamu udah mati" pesan ku yg terakhir yg mengancam penuh dengan amarah
"?????? jangan ngomong gitu beb, aku gak mau kehilangan kamu" Dinda akhirnya membalas
"terus kamu kenapa menghindari aku?" tanya ku kesal
"aku gak bisa jelasin sekarang, tapi aku janji nanti aku jelasin beb, maaf banget aku minta pengertian kamu dulu aku butuh waktu sendirian dulu" balas Dinda
"ok kalau gitu aku gak akan ganggu kamu dulu" jawab ku
"kamu gak marah kan?"
"gak" balas ku singkat, aku memang gak marah tapi kesel banget masak dari kemarin gak ada angin gak ada hujan Dinda tiba-tiba menjauhi aku siapa yg gak kesel coba
. . .
hari masih sore saat aku terbangun dari tidur ku, setelah chating dengan Dinda tadi siang aku tertidur sampai sekarang sudah jam lima sore aku baru bangun
aku bingung mau lakuin apa, biasanya jam segini aku lagi sibuk chating, telponan, atau gak jalan sama Dinda, tapi sekarang Dinda bilang dia gak mau di ganggu dulu, akhirnya aku kan gak bisa hubungin dia, jadi mesti ngapain juga aku gak tau, aku juga bosan tiduran di kamar sejak siang tadi, lalu aku putuskan untuk menyalakan tv dan menonton tayangan "ku menangis di tv" ceritanya ada seorang cewek yg menangis di depan laki-laki kayaknya sih suami atau gak calon suaminya, dialognya kurang lebih kayak gini
"maafin aku mas, aku udah mengecewakan kamu, aku ini memang jahat aku perempuan kotor, aku gak bisa jaga keperawanan aku buat kamu" kata si cewek dalam tayangan tadi
tapi masalahnya bukan pada si cewek tapi dialognya yg bikin aku kepikiran
"perawan?" gumam ku tiba-tiba
pikiran ku kembali melayang penuh tanya
"apa aku, Dinda, dan Nia masih perawan?" batin ku
"masih lah, kan selaput dara kami masih utuh" kata-kata dalam benak ku saat hati dan pikiran ku saling mengobrol
"tapi. . . mahkota kami kan sudah gak suci lagi, kami bertiga sudah saling menikmati liang surga itu, kami juga o*****e berkali-kali" pikiran ku saling bertolak belakang
hingga malam hari saat aku akan tidur, pikiran ku masih melayang, aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan ku
"sial" sungut ku dalam hati saat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, mata ku tak kunjung terpejam, rasa kantuk pun tak kunjung datang
"bagai mana kalau aku nikah nanti, apa aku harus jujur pada suami ku tentang Dinda dan Nia?" batin ku
"oh tuhan kenapa aku harus jatuh ke jurang tak berujung ini?" sungut ku dalam hati penuh dengan rasa sesal dan bingung
rasanya aku ingin hilang saja dari muka bumi
. . .
tak lama pagi pun tiba, aku hanya tidur satu jam kemudian aku bangun, pikiran ku masih berkutat pada perkara yg sama, aku tak kunjung menemukan jawaban yg logis untuk semua pertanyaan itu
untuk meredakan rasa kantuk ku aku mandi dengan air hangat pagi itu, aku menyapu seluruh tubuhku dengan sabun
saat air hangat mulai menyentuh tubuh ku, gairah ku bangkit
"ahhhhhhh" desah ku saat jari-jari ku menyentuh mahkotaku yg mulus tampa bulu, aku sendiri heran kenapa saat Dinda yg seumuran dengan ku mahkotanya sudah berbulu lebat, Nia juga yg dua tahun dibawah ku hampir sama lebatnya dengan Dinda, tapi aku? kenapa masih saja gundul, tapi peduli setan yg jelas kocokan jariku di mahkotaku terasa sangat nikmat
"ahhhhhh, Dinda hisap Din, jilat-jilat Din ahhhhhh, aku sayang kamu Dinda" ocehan dan desahan ku bercampur dengan gemericik air yg jatuh ke lantai
"ahhh Din Dinda aku kangen kamu Din, pengen hisap mahkotamu yg wangi dan berbulu lebat itu" aku masih berlari menuju puncak kenikmatan seraya memanggil-manggil nama Dinda orang yg sudah berhasil mengantar ku mencapai kenikmatan surga untuk pertama kalinya, sekarang hanya bayangan Dinda yg ada di otak ku
"ahhhhh ahhhhh ahhhh" desah ku makin cepat, saat dinding mahkotaku terasa berkedut, seluruh tubuhku bergetar dan
"ahhhhhhhhhhhh, love you Dinda" teriak ku tertahan takut ada orang yg dengar
"lalu byooooor byooooor byoooor" terasa o*****e ku menyembur berkali-kali dari liang mahkotaku
aku duduk lemas di lantai kamar mandi, air mata ku berlinang
"Dindaaaaaaa kamu kenapa sih Din, aku kangen banget sama kamu, aku sayang kamu Dinda" tangis ku sesenggukan
kira-kira setengah jam aku berurai air mata di dalam kamar mandi, lalu aku keluar dan bersiap untuk berangkat ke kampus
. . .
setelah sarapan bersama ayah, bunda, dan nenek, aku lalu berangkat ke kampus masih dengan motor matic kesayangan ku, dalam hati aku berpikir
"aku harus ceritain masalah ku ke seseorang tapi siapa?" batin ku bingung
"Dinda kan sekarang udah gak bisa di ajak curhat, jangan kan curhat deket aja dia gak mau" pikir ku lagi
"aduh aku cerita ke siapa ya?" tanya ku pada diri ku sendiri
"Rian" tiba-tiba nama itu muncul di otak ku
"apa aku cerita ke Rian aja ya semuanya, tapi apa gak gengsi, kan baru kenal masak sih cerita yg kayak gitu?" pikiran dan hati ku mulai bertarung lagi
"tapi kalau bukan Rian siapa lagi? dia kan satu-satunya temen aku selain Dinda"
"cerita gak ya?" pikir ku bimbang
setelah beberapa saat aku tiba di halaman kampus aku segera memarkir motor ku, dan hal pertama yg aku pikirkan saat itu adalah mencari Rian, dia kan dari fakultas ekonomi aku cari aja kali ya, saat itu aku sudah mantap ingin bercerita pada Rian tentang masalah yg sedang ku alami, rasa malu ku sudah sirna, yg ada dalam benak ku hanya bagaimana agar ketenangan ku kembali, bagaimana mencari solusi dari semua masalah ini, saat aku memasuki salah satu ruangan di fakultas ekonomi, beberapa pasang mata langsung menatap ku aneh, aku benar-benar merasa canggung dan malu, aku melihat ke seluruh ruangan tapi sosok Rian tak terlihat di mana pun, aku bingung saat tiba-tiba
"Riri" seseorang di sana memanggil nama ku, aku lalu menatap ke arah suara itu
sesosok lelaki tampan berkaca mata, yg sedang duduk di sebelah seorang gadis cantik, itu adalah Wahyu dan Linda
"Wahyu" sapa ku
"kamu lagi apa di sini? tumben banget?" tanya Wahyu sambil bangkit dari duduknya mendekat ke arah ku bersama Linda yg berdiri di sampingnya
"aku lagi cari Rian" jawab ku jujur
"Rian dari pagi belum kelihatan, ya kan yang?" jawab Wahyu sambil bertanya pada Linda
"iya bener"
"oh iya kenalin ini Linda pacar aku" kata Wahyu memperkenalkan Linda pada ku
"oh iya, kenalin aku Riri" kata ku sambil menjabat tangan Linda, sebenarnya aku tau Linda itu siapa (lihat episode 08 Wahyu) tapi aku pura-pura gak kenal aja biar gak canggung
"Linda" katanya memperkenalkan diri seraya membalas senyum ku
"biasanya pagi-pagi begini Rain itu ada di lapangan futsal, coba deh kamu cek ke sana, emangnya ada perlu apa sih Ri?" kalimat Wahyu yg ditutup dengan pertanyaan
"gak ada apa-apa kok Yu cuman ada perlu sedikit, makasih ya infonya, kalau gitu aku langsung pamit ya Yu, Lin" kata ku pada sepasang kekasih itu
"iya Ri, hati-hati ya Ri" balas Linda pada ku dengan ramah
setelah itu aku keluar dari ruangan kelas itu dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 18