"aku bangga sama kamu beb" kataku sambil memegang tangan Dinda dan membelai rambutnya
Dinda hanya tersenyum manis padaku, tampak pipinya memerah
. . .
seharian kami bersama, belum pernah aku merasakan hal seperti sekarang ini sebelumnya hati ku terasa sangat bahagia
"sejak SMP hampir tiap hari aku bertemu dan bersama dengan Dinda seharian, tapi kenapa baru sekarang hatiku berdebar setiap menatap matanya?" batin ku, aku hanaya tersenyum membayangkan semua yg kami lalui, hal yg lucu, sedih, bahagia, memalukan, bahkan menakutkan sudah kami lalui bersama, tapi sikap Dinda masih sama seperti saat pertama kali kami kenal
"sebegitu tulus kah hati mu pada ku Din" batin ku lagi
"beb kok bengong?" tanya Dinda saat menatapku
"gak apa-apa beb, cuma lagi ingat-ingat masa lalu kita" jawab ku jujur
"yg mana beb?" tanya Dinda penasaran
"yg mana ya???" kataku menggoda Dinda, lalu berlari meninggalkannya
"iiiiihh, awas ya" ancam Dinda dengan senyum semangat lalu mengejar ku
secara tidak sengaja kami sampai di ujung taman, tempat kami berencana memata-matai Wahyu dan Linda yg berujung pada kesalahan kami yg nikmat
"beb kamu pasti ingat tentang toilet ini ya?" kata Dinda mengejek
"iiiii enak aja gak tuh" kataku jual mahal
"terus apa dong?" tanyanya penasaran
"yg aku ingat adalah saat berkali-kali kamu kepergok gak berkedip saat liatin buah d**a ku kalau kita lagi mandi bareng" godaku iseng
"kamu ini beb, awas ya" kata Dinda dengan pipinya yg memerah
kami berlari kecil dan tertawa seharian, rasanya nyaman sekali, mungkin inilah kebahagiaan sejati itu, dan mungkin ini arti ketulusan yg sebenarnya dua hati yg menyatu bukan karena ikatan tapi karena perasaan ingin saling menjaga
. . .
tak terasa kini hari sudah sore, sehari penuh aku habiskan bersama Dinda, tertawa, berlari, bercanda. Hari yg kata Dinda adalah hari ulang tahun terbaik sepanjang hidupnya
"beb aku boleh nginep lagi gak?" tanya Dinda padaku
"aku sih gak masalah beb, tapi papah sama mamah kamu?!" kataku yg sebenarnya juga tak ingin berpisah dengan Dinda
"aku bingung beb" kata Dinda dengan wajah murung
"aku juga beb, tapi gak apa-apa, kamu pulang aja dulu,, besok pagi kan kita ketemu lagi" kata ku mencoba memberi Dinda pengertian
"gak mau ah nanti kangen" kata Dinda manja, mendengar itu seperti hilang kendali aku langsung melumat bibir Dinda yg terasa manis itu, Dinda meronta berusaha melepaskan lumatkan ku pada bibirnya, saat dia berhasil melepaskannya aku hendak menyambar lagi tapi Dinda mengangkat telapak tangannya sambil berkata
"beb sadar kita lagi di kampus" kata Dinda mengingatkan
"duar" seketika kesadaran ku kembali dan dengan reflek aku langsung menoleh ke segala arah kalau-kalau ada yg sempat melihat adegan hot kami
"hufhhh" suaraku membuang nafas panjang
"maaf beb kebablasan" kataku sambil tertawa
"masih yakin kamu rela aku pulang beb" tanya Dinda dengan senyum penuh arti
"ya habis mau gimana kamu kan mesti pulang beb" kataku sedih
"tapi nanti kalau kangen?" tanya Dinda lemah
"kan bisa telponan beb, kita bisa VC kan?!" kataku memberi solusi
"ok deh" jawab Dinda dengan malas dan lesu
"tapi setelah ini, kita bisa bikin alasan biar kamu bisa sering nginep" kataku licik, tampa ku sadari ada banyak hal yg berubah pada diriku juga pada Dinda, sikap kami seperti kebalikan dari sikap asli kami semula
Dinda yg dulu berani, ceplas-ceplos, dan gak pernah baper, sekarang jadi bucin parah,, sedangkan aku yg dulu manja, pendiam, dan penakut kini justru jadi licik dan bar-bar, tau sendiri kan barusan aku nyosor bibir manis Dinda, apa ini yg di maksud cinta dapat mengubah segalanya
. . .
jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam aku sudah di rumah, Dinda pun juga telah kembali kerumahnya, aku sudah selesai mandi dan makan malam, lalu aku tiduran di kasur sambil kirim chat w******p ke Dinda,
"sayang" isi chat pertamaku yg ternyata langsung centang biru
"apa sayang?" balas Dinda mesra yg membuat hatiku berbunga
"kamu lagi apa?" tanyaku
"lagi mikirin kamu" balas Dinda yg berhasil membuat ku tersenyum
"gombal" balas ku singkat
"dih gak percaya, yang VC yuk kangen nih" balas Dinda lagi
"masak udah kangen sih, belum juga dua jam" kataku seolah tak percaya, padahal sebenarnya aku juga sama bahkan aku ngechat Dinda duluan saking kangen nya
"iya beb serius ni, mau ya?!" kata Dinda memohon
"emmm ok deh" jawabku setelah berfikir sebentar
tiba-tiba ada panggilan video masuk dari Dinda, segera ku angkat, yg pertama terlihat adalah wajah cantik Dinda dengan baju putih tipis bergambar bunga
"hai beb" sapa ku
"haaaaiiii" balas Dinda sambil tangannya melambai ke kamera, terlihat jelas buah d**a besarnya juga ikut bergoyang
"beb kamu gak pakai bra?" tanyaku blak-blakan
"enggak, emang kenapa? nafsu ya liat buah d**a goyang-goyang?!" goda Dinda
"emangnya kamu, yg pikirannya m***m terus" jawabku membela diri
Dinda hanya cekikikan dari sebrang telpon
"kok sepi pada kemana beb?" tanya ku
"iya nih beb, papah mamah baru aja berangkat ke luar kota, katanya ada urusan mendadak yg gak bisa di tunda, kata papah sepuluh hari baru balik, kalau si Nia lagi nonton tv" kata Dinda menjelaskan dengan wajah manisnya yg cemberut
"owhh gitu" jawabku singkat tapi tiba-tiba muncul sebuah ide gila di otak ku
"beb kamu ada kontaknya bunda?" tanya ku
"ada beb kenapa?" tanya Dinda
"kamu mau ketemu aku gak?" tanyaku balik menggoda Dinda
"ishhh pakai nanya lagi, jelas mau lah" jawab Dinda kesal
"kalau gitu kamu sekarang matiin VC nya" kataku pada Dinda
"kok gitu beb?" tanya Dinda penasaran
"kamu telpon bunda, dan minta izin mau ajak aku nginep di rumah kamu, bilang papah mamah kamu mendadak keluar kota, kalau di izinin kamu jemput aku pakai mobil" lanjut ku memberi tau rencana ku pada Dinda
"ok beb sekarang aku telpon buda kamu" jawab Dinda lalu mengakhiri panggilan video kami
sekitar lima menit kemudian
"tok tok tok. . . Riri kamu lagi apa nak? bunda boleh masuk?" terdengar ketukan pintu dan suara panggilan bunda
"masuk bunda" teriak ku mempersilahkan bunda masuk
bunda sudah masuk dan duduk di ranjang ku aku masih membolak-balik halaman buku, berpura-pura fokus membaca
"ada apa bunda?" tanyaku pura-pura
"tadi Dinda telpon bunda minta izin mau ajak kamu nginep di rumahnya" kata bunda
"kok tumben bunda?" tanyaku memasang muka polos
"katanya papah mamahnya mendadak keluar kota ada urusan, sepuluh hari lagi baru balik, kamu temenin gih kasihan Dinda sama Nia, biar lebih rame" perintah bunda
"males ah bunda, masak udah malam gini Riri naik motor sendirian ke sana" kataku pura-pura menolak
"katanya kalau kamu mau, nanti Dinda sama Nia jemput kesini pakai mobil" jelas bunda lagi
"ok deh kalo gitu bunda, Riri mau" jawab ku
"kalau gitu Riri telpon Dinda sekarang suruh jemput" kata bunda
"Riri WA aja bunda" jawab ku
. . .
dua puluh menit kemudian aku sudah selesai bersiap lalu aku turun membawa alat seperlunya, toh aku akan ke rumah kekasih ku di sana pasti semua sudah ada pikir ku
"tinnnn tinnnn tinnnn" suara klakson mobil Dinda terdengar, lalu aku dan bunda keluar
"Riri berangkat ya bunda" kataku sambil bersalaman dan mencium tangan bunda
"iya sayang hati-hati ya" pesan bunda
"iya bunda" kataku pelan sambil mengangguk, kemudian aku berjalan memasuki mobil Dinda
"Din gak turun dulu?" tanya bunda menyapa Dinda
"makasih tante, tapi kayaknya langsung jalan aja dah, biar gak kemalaman" jawab Dinda dengan senyum
"oh ya udah, nanti hati-hati, jangan ngebut-ngebut nyetirnya" kata bunda mengingatkan
"iya tante, kami berangkat sekarang ya tante, assalamualaikum" jawab Dinda seraya menginjak pedal gas
mobil Dinda pun mulai melaju dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 14