mendengar pengakuan Dinda aku benar-benar terkejut dan hatiku tersentuh
"jadi sudah selama itu kamu nunggu aku beb?" tanyaku terharu
"sekarang aku lega beb karena kamu gak marah, gak ninggalin aku, setelah kamu tau semuanya" kata Dinda dengan nafas lega
"beb hari ini aku mantap mau jalanin ini, aku mau kamu tau, aku siap jadi lebih dari sekedar sahabat kamu, aku siap jadi kekasih mu" kataku mengungkap isi hatiku
"tapi beb. . ." Dinda berhenti, keraguan tampak jelas di wajahnya
"beb aku tau yg kamu pikirin, kamu selesaikan semuanya dengan Adam kalau kamu kembali nyaman sama dia aku akan tetap jadi sahabat terbaik buat kamu, aku janji,, tapi kalau kalian pisah usahakan pisah baik-baik, saat itu terjadi artinya secara otomatis kita jadi pasangan kekasih" kataku meyakinkan Dinda
"makasih ya yank" ucap Dinda seraya memeluk ku
"beb kenapa kamu masih pakai handuk?" tanyaku heran
"aku kan udah bilang mau pinjem baju, makanya aku bangunin kamu" kata Dinda mengingatkan
"beb, sekarang aku tanya" kataku sambil bangkit dari tidurku dan melepas daster piyama ku
"siapa yg pertama melihat tubuh ini telanjang?" tanyaku lembut
"aku" jawab Dinda polos
"lalu siapa yg pertama pegang dan hisap ini?" tanyaku lagi sambil tangan ku menarik tangan Dinda ke buah d**aku
"aku beb" jawab Dinda dengan ekspresi agak bingung
"terus siapa yg pertama mainin dan nikmatin ini?" tanya ku sambil mengangkat kedua kaki ke ranjang lalu sedikit berbaring dan menunjuk mahkotaku
"iya itu aku juga beb, tapi maksudnya apa beb aku gak ngerti?" tanya Dinda balik
"beb kalau tubuh ku ina saja milik kamu, apa lagi cuma baju, kamu boleh pakai yg mana pun yg kamu suka, kapan pun kamu mau" jawab ku romantis
bibirku yg mengatakannya tapi hatiku sendiri yg berdebar
Dinda melepas handuknya dan menindih tubuhku, dia melumat bibirku mesra
"makasih ya beb, kamu harus tau beb semua yg kamu katakan tadi juga berlaku untuk kamu, faham beb!?" seru Dinda di atas tubuhku yg di tindihnya
mahkota kami bersentuhan, bulu-bulu halus milik Dinda yg terasa sedikit lembab menyentuh kulitku
"beb ini baru jam setengah tujuh, kita ada waktu satu jam kamu mau?" tanya Dinda dengan wajah berseri, tak pernah aku melihat Dinda seceria ini sebelumnya
"mau beb" jawabku pelan
"kita coba 69 yuk" ajak Dinda
belum sempat aku jawab Dinda sudah mengarahkan mahkotanya ke mukaku, aroma khasnya tercium jelas oleh hidungku, bukannya jijik aku justru terangsang
"sleppp sleppp sleppp" terasa jilatan Dinda sudah dimulai aku pun melakukan hal yg sama
"emhhhhh Riri sayang enak Ri" rintihan kenikmatan Dinda terdengar
"plakkk" aku menepuk b****g Dinda
"jangan keras-keras beb, nanti kedengeran bunda, bahaya" kataku mengingat kan
"gak ada siapa-siapa di rumah beb, ayah mu sudah pergi pagi-pagi sekali, bunda dan nenek sudah ke pasar pas aku mandi tadi, sampai sekarang pasti belum datang" jelas Dinda yg menoleh ke arah ku
"jadi aman beb? yakin kamu?" tanyaku ragu namun merasa senang
Dinda mengangguk lalu kami melanjutkan aktivitas kami
"ahhhhhhh ahhhhhh emhhhhhh"
"sleppp sleppp sleppp"
"awhhh emhh ahhhhh" desah kami beriringan bercampur dengan suara jilatan dan hisapan kami
"Riri aku sampaaaaaaai" teriak Dinda panjang, kedua pahanya menjepit kepalaku lalu ia menekan mahkotanya ke mulutku, tepat saat itu cairan o*****e Dinda mengalir membasahi bibirku, ku jilat semuanya sampai habis
tak lama setelah itu aku juga berteriak, sebelum itu terjadi seakan Dinda tau aku hampir sampai, dia melemparkan dirinya kesamping sambil menarik ku, dan kini kami bertukar posisi aku di atas Dinda di bawah, tak sampai dua menit giliran aku yg menjepit kepala Dinda dengan kedua pahaku, ku tekan mahkotaku ke mulut Dinda lalu ku goyang-goyang dan
"ahhhhhhhhhhhhhhhh" desahku panjang, kurasakan cairan hangat muncrat dari liang mahkotaku terasa nafas Dinda yg memburu menabrak kulit ku, terasa juga jilatan lidah Dinda membersihkan seluruh mahkotaku
aku bangkit dan merebahkan tubuhku di sebelah Dinda seraya melumat bibirnya
"aku mau kamu putus sama Adam hari ini juga, kamu milik aku" kata ku posesif
"iya beb, aku janji,, kita jadian ya beb" kata Dinda
"ok love you Dinda" bisik ku lembut
"love you too Riri" jawab Dinda
saat itu dunia seperti milik kami berdua, aku dan Dinda lalu mandi bersama, setelah ketiga kalinya kami melakukan hubungan yg entah apa namanya tapi itu sangat nikmat. Dinda sedang melihat cermin seraya merias wajah cantiknya saat aku memeluk tubuh Dinda dari belakang
"happy birthday my best girlfriend ever" bisik ku di telinga Dinda, sambil menciumi lehernya kemudian aku mengeluarkan dua kotak berisi kalung kembar dengan liontin D&R, bermotif sama persis dengan kalung yg di kirim oleh Mr X, aku sengaja memesan kalung itu untuk hadiah kejutan ulang tahun Dinda karena aku tau Dinda menyukainya, kalung itu berinisial nama kami berdua, yg rencananya aku berikan sebagai simbol persahabatan, tapi apa daya disinilah kami kini sebagai pasangan kekasih
sekarang terlihat mata Dinda berkaca kaca yg memandang wajahku di cermin
"apa ini beb, ini buat kamu sayang, kamu suka kan?" tanyaku lembut
"suka banget beb, makasih ya" kata Dinda berbisik, dan pipinya memerah
"sekarang kita kembaran" kataku memakaikan kalung dan kemudian meminta Dinda memakaikan kalung yg satu lagi di leherku
kami berdua pun saling memandang dengan tersenyum satu sama lain
. . .
siang itu jam dua lewat sepuluh saat aku menemani Dinda menunggu Adam di kantin, sebelumnya Dinda sudah mengirim pesan w******p untuk meminta penjelasan tentang Nadia, beberapa saat kemudian aku melihat Adam memasuki pintu kantin yg memang hanya tertutup kaca bening, jadi dari luar ataupun dalam kami bisa saling melihat, Adam menggandeng seorang wanita, ya aku yakin itu Nadia, aku menyentuh tangan Dinda lembut dan melirik ke arah pintu masuk, memberi kode bahwa Adam sudah dekat, Dinda hanya mengangguk
beberapa saat kemudian Adam sudah berdiri di dekat kami, tampa basa-basi dia langsung mengatakan
"hai Din, hai Ri, kenalin ini Nadia anak teman papaku yg akan di jodohkan dengan ku, maaf aku gak bilang apa-apa Din aku cuma gak mau kamu kecewa" kata Adam menjelaskan singkat
"gak apa-apa kok Dam, aku yg minta maaf karena selama ini aku masih gak bisa bikin hubungan kita di kasih restu sama papah mamah ku, kamu gak salah Dam kamu pantas bahagia" kata Dinda sambil menggenggam tangan ku
ketika Dinda menoleh ke arah ku, aku hanya tersenyum dan mengangguk
Adam sedikit kaget karena tanggapan Dinda yg biasa saja saat mendengar kabar yg menurutnya mungkin akan membuat Dinda sangat terkejut
tampa Adam tau, Dinda sudah menyiapkan hati dan dirinya dari jauh-jauh hari, dan tampa Adam tau hati Dinda sekarang adalah milik ku
singkat cerita Adam menyatakan pisah pada Dinda, lalu Dinda mengiyakan dan mengucapkan selamat untuk hubungan Adam dan Nadia
setelah berbincang beberapa saat akhirnya Adam dan Nadia pergi, tinggal aku dan Dinda yg duduk berdua
"kamu gak apa-apa beb?" tanyaku pada Dinda
"nggak sayang, aku kan punya kamu" kata Dinda mantap
"aku bangga sama kamu beb" kataku sambil memegang tangan Dinda dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 13