11 Bimbang

1206 Words
saat itu sudah jam enam sore, Dinda menelpon mamahnya, minta izin menginap di rumahku malam ini dan kamipun berangkat dengan mobil Dinda menuju rumah ku, Dinda menyuruhku membiarkan motor ku di kampus malam ini, dan besok pagi aku akan berangkat bersama dengan Dinda naik mobil "beb kita masi teman kan?" tanya Dinda tiba-tiba "kak gitu pertanyaannya? ya jelas masihlah beb kamu itu sahabat baik aku sampai kapan pun" kataku tegas sambil tersenyum, aku gak tau apa yg ada di dalam hatiku saat ini "apakah ini cinta? apa aku mencintai Dinda? sahabat baik ku yg juga adalah wanita, am i a lesbian?" tanyaku dalam hati ketika mobil Dinda mulai melaju . . . kini kami sudah tiba di rumah, kami juga sudah selesai mandi dan makan malam, aku sedang berbaring sabil berpikir dan mengingat kembali, selama perjalanan tadi aku terus mengulangi pertanyaan yg sama sampai sekarang pertanyaan itu juga masih membayang "beb kamu kenapa?" tanya Dinda sambil menatap ke arah ku "gak apa-apa kok beb" aku langsung tersenyum pada Dinda "kamu nyesel ya beb?" tanya Dinda ragu "enggak sayang, aku cuma lagi mikir, sekarang status kita apa? sahabat atau pacar?" kataku menjelaskan dan bertanya sekaligus "gak usah di pikirin beb, kita jalanin aja untuk kebahagiaan kita, kalau nanti kamu maunya sahabatan kita jadi sahabat, tapi kalau kamu cinta sama aku, aku gak keberatan kita anggap hubungan ini pacaran, toh gak pernah ada siapa pun di dunia ini yg perhatian kayak kamu ke aku" Dinda berusaha mengekspresikan perasaannya "iya beb aku mau" jawab ku setuju kalau kalian pikir Dinda akan memanfaatkan kesempatan berdua dengan ku untuk kembali melakukan hubungan seperti di toilet kampus sore tadi, kalian salah faham, karena Dinda benar-benar tulus dengan perasaannya bukan karena nafsu dan memanfaatkan ku "kamu lagi chat sama Adam?" tanyaku yg melihat Dinda bermain ponsel "enggak kok beb, kenapa kamu cemburu ya?" kata Dinda meledek "iiiihhh apaan sih beb, cuma tanya aja kan" kataku tak mengakui tuduhan Dinda "ih kok salah tingkah? berarti bener kan?" tuduh Dinda lagi sejujurnya aku memang sedikit merasa risih saat berpikir Dinda sedang chat dengan Adam, entah ini perasaan apa "beneran yang aku gak lagi chat sama Adam, aku chat sama Nia, nih buktinya" kata Dinda menunjukkan layar ponselnya kepada ku aku bisa melihat hanya ada nama Nia di list chat aktif, artinya Dinda berkata jujur, entah kenapa perasaanku sangat lega mengetahui kebenarannya "yang tembak aku sekarang, aku mau jadi pacar kamu dan aku rela lepasin Adam demi kamu" kata Dinda memberi jalan padaku aku semakin bimbang setelah mendengar ucapan Dinda, aku menatap dalam ke mata Dinda, sedikitpun aku tidak melihat kebohongan di sana, aku lalu mendekat kearah Dinda dam memegang tangannya menautkan jari-jari kami dan bibir lembut kami pun bertemu, suasana malam ini benar-benar sangat romantis aku tak mampu membendung hasrat ku hingga akhirnya kami melakukannya lagi untuk yg kedua kalinya . . . kini malam telah larut, ku lirik jam weker sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh, Dinda yg tampa busana setelah permainan kami telah tidur lelap di sampingku, dia pasti sangat lelah tangannya memeluk ku erat seakan tak ingin aku pergi, aku memandangi wajah Dinda yg tengah terlelap aku mengecup pipinya lembut "aku takut mengecewakan kamu beb" gumam ku ketika menciumi Dinda untuk kesekian kalinya Dinda yg tengah tidur, terbangun karena kecupan ku di pipinya yg berulang-ulang, dia membuka mata dan menatapku sejenak "love you beb" bisik Dinda lembut "me too" balasku singkat lalu Dinda mengecup bibirku sekali lagi dan kembali memejamkan matanya, aku tiba-tiba merasa haus, aku segera meraih daster piyama tipis tampa lengan yg berserakan di lantai lalu aku berjalan ke pintu "beb jangan tinggalin aku" terdengar suara Dinda memanggil ku, langkahku berhenti aku membalik badan dan menjawab "sebentar beb, aku mau ambil minum" kataku memberi tau "aku gak mau Adam, aku maunya kamu beb, kamu cinta pertamaku" ucapan Dinda terdengar aneh aku urung mengambil minum, lalu berbalik mendekati ranjang tempat Dinda terbaring lelap, aku lihat matanya terpejam "dia mengigau" batinku "apakah kamu mencintai ku beb, apakah aku yg ada di mimpimu, apakah aku yg kau sebut cinta pertama? tapi sejak kapan beb?" tanyaku dalam hati, aku makin bimbang dibuatnya, hatiku penuh dengan dilema dan tanda tanya aku kembali teringat dengan air minum, aku bangkit dari posisiku yg tadi bersimpuh di sebelah ranjang, baru saja aku hendak berbalik tiba-tiba Dinda memegang pergelangan tangan ku "mau kemana beb?" tanya Dinda, kini tampaknya ia terbangun "aku mau ambil minum beb, haus" jawabku "jangan lama-lama ya beb" kata Dinda, lalu ia kembali tidur aku lalu turun dan mengambil air di kulkas, kemudian membawanya ke kamar aku kembali teringat kalung liontin dari pengagum rahasia ku "jangan-jangan beneran kamu beb" bisik ku sambil menatap ke arah Dinda "kalau itu kamu aku pasti sangat bahagia" batinku dengan pipi memerah dan tersenyum malam itu aku tidur di sebelah Dinda dengan tubuh kami tetap saling berpelukan . . . "beb bangun, udah pagi, aku pinjam baju kamu ya!?" kata Dinda sambil menggoyang tubuhku, tapi aku masih mengantuk jadi aku kembali memejamkan mataku "beb bangun" panggil Dinda manja merasa tak ada jawaban Dinda lalu melumat bibirku dan tangannya meremas buah d**aku lembut "emhhhhhh emhhhhh, beb jangan" kataku melarang Dinda melakukan itu "makanya kamu bangun, aku pinjam baju ya beb" kata Dinda meminta ku segera bangun aku duduk dan bersandar di sandaran ranjang, aku memegang tangan Dinda yg sekarang berada tepat di depanku aku menyibakkan rambut Dinda yg menutupi wajahnya dengan jariku "kamu cantik beb" kataku lembut "kamu juga beb" balas Dinda "beb, kamu jujur ya sama aku" pintaku pada Dinda "ok sayang, tentang apa?" tanya Dinda "apa kamu si pengagum rahasia itu?" tanyaku penuh harap "huffhhhhh" Dinda membuang nafas panjang "kamu mau jawaban yg jujur atau yg bikin kamu senang?" tanya Dinda "yg jujur dong beb" lanjut ku "kalau gitu maaf mengecewakan mu beb, tapi itu bukan aku" kata Dinda sambil kepalanya tertunduk "beb, kamu kenapa?" tanyaku "kamu pasti kecewa kan?" tebak Dinda "jujur iya, aku sedikit kecewa, tapi sekarang, apa itu penting beb? bukankah yg terpenting sekarang adalah kita?" lanjut ku berusaha menenangkan kerisauan Dinda "beb, aku mau tanya satu hal lagi" kata ku lagi "apa beb?" tanya Dinda penasaran "beb, apa seperti kamu yg adalah cinta pertamaku, aku adalah cinta pertamaku?" tanyaku serius Dinda terperanjat kaget "emmmmmm. . . iya beb, tapi kok kamu bisa tau?" tanya Dinda ragu "sejak kapan beb?" tanyaku lagi "sejak kita masih SMP, sejak kita baru kenal seminggu, tapi aku tau kita gak mungkin bersama, karena kita sama-sama cewek, aku pendam rasa itu karena aku takut jika aku jujur kamu akan pergi menjauh dari ku, tapi saat kejadian kemarin, aku benar-benar sudah gak bisa lagi menahan gejolak jiwa ku, aku memainkan mahkotaku saat itu bukan karena mendengar suara Wahyu dan Linda atau membayangkan Adam seperti yg ku katakan, aku memainkannya sambil membayangkan menghisap mahkotamu beb, aku gak tau itu salah atau nggak tapi aku benar-benar bahagia saat mimpiku jadi kenyataan dan kita melakukan nya, aku sayang banget sama kamu beb" kata Dinda menjelaskan mendengar pengakuan Dinda aku benar-benar terkejut dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 12
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD