10 Kenikmatan Yang Salah Atau Kesalahan Yang Nikmat

1192 Words
aku mengangguk dan membiarkan Dinda melakukan apapun yg dia inginkan "kamu terpaksa beb?" tanya Dinda ragu "nggak beb" jawabku pendek "kita coba ya beb, nanti kalau kamu ngerasa gak nyaman atau sudah kelewatan kita berhenti" kata Dinda membuat kesepakatan aku mengangguk seraya tersenyum, kali ini Dinda kembali mencium bibirku, ia melumat bibirku dengan ganas, nafas kami bercampur, seperti sepasang kekasih yg sedang dimabuk asmara, kami b******u mesra, Dinda lalu memutar tubuh ku, ia menciumi leherku dari belakang, Dinda lalu menjilati telinga dan leherku bergantian, aku hanya menggelinjang kegelian "ahhh, Din geli" kataku saat Dinda menggigit kecil leher ku aku berpikir, jika hanya aku yg di manjakan dinda maka rasa sakit Dinda tidak akan berkurang, jadi aku membalik badan dan mulai membalas perlakuan Dinda. Untuk pertama kalinya setan di otakku menang, aku meraih bagian bawah kaos Dinda, lalu ku angkat sampai terlepas dari tubuhnya, sekarang hanya tinggal bra berwarna pink yg menutupi buah d**a Dinda, terlihat kulit Dinda yg putih mulus tampa noda sedikit pun, bibir kami masih terpaut saat ciuman kami masih terus berlangsung, kedua tangan Dinda lalu meraih kancing kemejaku dan di lepasnya satu persatu, sekarang aku juga tinggal mengenakan bra warna hitam yg menutupi buah d**aku setelah melihat tubuhku tampa tertutup kain, Dinda menghentikan aktivitasnya "sudah beb ayo kita pulang" kata dinda sambil merapikan rambut panjangnya lalu ia berjalan menuju pintu, beru saja ia hendak memakai kausnya aku langsing menariknya kebelakang, aku melakukan hal yg sama seperti yg tadi ia lakukan pada ku dari belakang "emmhhhh,, beb apa yg kamu lakukan?" tanya Dinda terkejut "tanggung beb, hari ini kita harus menikmati semuanya" bisik ku lembut "kamu yakin beb?" tanya Dinda lagi aku mengangguk dan berkata "cuma bagian atas ya beb" kataku memperingatkan Dinda. aku masih menciumi tengkuk Dinda, ku lepas pengait bra Dinda, lalu Dinda berbalik dan melepas pengait bra ku juga, terpampang lah dua pasang buah d**a besar kami yg saling berhadapan "gede banget beb" kataku menggoda Dinda "ihhh, besaran punya mu beb" goda Dinda balik "boleh pegang?" tanya Dinda ragu "hisap juga boleh" tantang ku yg sebenarnya hanya bercanda, tapi Dinda langsung memegang satu buah d**aku dengan tangan kirinya dan yg satunya lagi dilumat dengan bibirnya "emhhhh, beb geli" lenguh ku saat lidah Dinda menyentuh p****g ku lalu dengan cepat Dinda melahap kedua buah d**aku bergantian . . . keringat membasahi tubuh kami berdua, entah siapa yg memulai, tapi sekarang celana jeans yg kami pakai sudah terlipat rapi di atas rak kecil di sebelah kloset, bersama dengan baju, bra, dan tas kami berdua tersisa hanya celana dalam tipis yg sama-sama menutupi mahkota kami dengan warna senada dengan bra yg kami pakai entah apa yg ada di pikiranku tiba-tiba aku berinisiatif membuka celana dalam ku dan duduk mengangkang di atas kloset duduk sambil memainkan tangan di mahkotaku, Dinda hanya melongok menatapku "ahhhhhh" desahku saat tanganku menyentuh bagian paling sensitif dalam tubuhku, lalu aku mulai mengocoknya seperti yg tadi Dinda lakukan padaku "ahhhhhh ahhhhhh ahhhhhh" desahku seraya pinggulku mulai bergoyang secara naluriah, ada rasa geli bercampur nikmat yg baru pertama kali aku tau rasa itu ada, dan yg memberi tahuku adalah sahabatku sendiri "beb sini" panggil ku manja, meminta Dinda yg sejak tadi menatapku, untuk mendekat Dinda mendekat dan duduk di depan ku "hisap p****gku beb" bisik ku lirih lalu tampa ku pinta dua kali Dinda melakukannya, saat aku sedang menikmati hisapan Dinda di p****gku suara panggilan masuk di ponsel ku membuat kami berdua kaget "bunda" nama pemanggil terlihat di ponselku yg ternyata adalah bunda, lalu aku buru-buru mengangkatnya "halo bunda" sapa ku sedikit tegang "Riri lagi dimana?" tanya bunda "masih di kampus bunda, ada apa?" tanyaku berusaha tidak gugup "tumben jam segini belum pulang?" tanya bunda lagi "iya nih bunda, lagi ada praktek sama Dinda" jawabku meyakinkan bunda "iya tante ini lagi sama Dinda" teriak Dinda di sebelahku "owh ya sudah, bunda pikir Riri kenapa-kenapa habis gak kasih kabar" sungut bunda karena cemas "maaf bunda Riri lupa kabarin bunda" kataku meminta maaf "nanti pulangnya hati-hati jangan mampir-mampir udah sore" tambah bunda lagi "iya bunda" jawabku terakhir sebelum menutup ponsel "huhhhhhhh" Dinda membuang nafas lega "untung tante Lina gak curiga" kata Dinda sedikit lega "kamu sih beb, kan tadi aku sudah ajakin berhenti kamu malah minta terusin" suara Dinda mengomel "habisnya enak beb" kataku sambil kembali mengocok mahkotaku "ahhhhh, beb enak beb, ahhhhhh" desahku "tadi katanya cuma bagian atas" gerutu Dinda "kenapa? gak suka? wuuuuu cemen" kataku memprovokasi Dinda "berani hisap gak?" tanyaku menatap mata Dinda sambil menunjuk mahkotaku "beeeeb" suara Dinda datar sambil mengernyitkan dahi "berani gak?" tantang ku lagi "tapi beb" Dinda masih berusaha bersuara "berani gak?" tantang ku ke tiga kalinya lalu tampa aba-aba Dinda menyambar dan menjilati mahkotaku dengan liar, aku meringis saat Dinda menggigit kecil c******sku "ahhhhhhh, beb nyeri beb, ahhhh beb enak beb, enak banget beb jangan berhenti beb" nafasku ngos-ngosan tak lama kemudian seluruh tubuhku mengejang bagian mahkotaku berkedut dan "aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh" desahku panjang sambil menekan kepala Dinda ke mahkotaku, rasa nikmat yg tak bisa di lukis kan aku mendapat o*****e pertamaku dengan lidah sahabatku sendiri "asin beb" kata Dinda mengelap bibirnya yg penuh cairan, dengan nafas tersengal "enak beb enak banget" kataku lemas Dinda sudah duduk bersandar di dinding lantai kamar mandi yg cukup bersih, aku menarik celana dalam Dinda dan ku lempar sembarangan, segera ku jilat dan ku hisap mahkota sahabatku dengan lahap,, emm emm emmm suara bibirku melumat mahkota Dinda aroma khas yg tercium dari mahkotanya menambah gairahku, membuat ku makin kasar melumat mahkota Dinda "ahhhhhhh emhhhh ahhhhhh" suara desahan Dinda berulang kali terdengar sampai beberapa saat kemudian tubuh Dinda mengejang dan cairan asin menyembur dari mahkotanya, aku berhenti sejenak dan membiarkan Dinda menikmati sisa kenikmatan o*****e pertamanya lalu aku jilat mahkota Dinda sampai bersih "rasanya nikmat banget beb" kata Dinda aku hanya mengangguk, lalu tersenyum pada Dinda "aku sayang kamu beb" bisik Dinda pelan "aku juga" jawabku sambil mengecup kening Dinda . . . kami masih berpelukan tampa busana dan berkali-kali kami tertawa tampa sebab "aku bahagia beb, ini pertama kalinya aku ngerasain kayak gini" kataku jujur "aku juga beb, ini yg pertama dan ini enak banget, maafin aku ya beb, gara-gara aku persahabatan kita jadi gini" kata Dinda dengan wajah murung "bukan salah kamu beb, aku juga menikmatinya, ingat ya ini rahasia kita, kapan-kapan kita lakuin lagi kalau kamu masih mau" ajak ku pada Dinda "mau beb, bahkan aku janji aku akan jaga perawan ku sampai aku nikah nanti, aku juga janji aku cuma akan lakuin ini sama kamu sahabat terbaik aku" kata Dinda sambil tersenyum entah mengapa melihat senyum Dinda hatiku terasa nyaman "hubungan ini apa?" tanyaku dalam hati "apakah harus disebut kenikmatan yg salah atau kesalahan yg nikmat?" tanyaku dalam hati, entahlah tapi yg terpenting aku dan Dinda sama-sama bahagia . . . setelah aku dan Dinda membersihkan diri, kami keluar dari kamar mandi dan pulang saat itu sudah jam enam sore, Dinda menelpon mamahnya, minta izin menginap di rumahku malam ini dan. . . bersambung. . . sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 11
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD