seketika aku tersentak dari lamunanku, lalu aku menoleh kearah Dinda yg masih tetap pada posisinya semula dan tergeletak lemas bersandar di dinding kamar mandi
"kamu gak apa-apa Din?" tanyaku polos
Dinda hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala
" mereka udah pergi, ayo kita pergi juga" kataku mengajak Dinda
"Riri" Dinda memanggilku yg hendak membuka pintu
"kenapa beb?" tanyaku sedikit bingung
"besok kan aku ulang tahun, kamu mau kasih kado apa beb?" tanya Dinda dengan suara lirih dan masih lemas
"kamu mau kado apa?" tanyaku pada Dinda
"aku kan udah kasih boneka kesayangan aku buat kado ulang tahun kamu, sekarang aku juga mau minta sesuatu yg kamu sayangin" perkataan Dinda yg membuatku tambah bingung
"apaan tuh Din?" tanyaku tak faham dengan maksud Dinda
"kita teman kan Ri?" tanya Dinda tiba-tiba dengan raut wajah sedih
"iya dong, malah lebih, kita kan sahabat" kataku menghibur Dinda yg ku rasa sikapnya agak aneh kali ini
"kalau aku minta hadiah ulang tahun sekarang boleh gak?" tanyanya lagi
"boleh tapi kita ke rumah ku dulu, buat ambil uang, nanti kita beli apapun yg kamu mau" jawab ku halus, seraya berusaha menenangkan hati Dinda
"gak usah beb, aku gak mau hadiah apa pun" kata Dinda menolak ajakan ku
"lho, tadi katanya mau minta hadiah sekarang tapi kok gak jadi?" tanyaku yg makin dibuat bingung dengan sikap Dinda
"mintanya jadi kok, tapi kita gak perlu kemana-mana" jawab Dinda enteng
"terus aku mau kasih apa sayang? aku kan gak bawa apa-apa" aku menekan suara dengan ekspresi sangat bingung
"emmmm, aku mau hadiah yg spesial, tapi sebelumnya aku mau kamu janji tiga hal" kata Dinda mengajukan syarat
"ok janji" kataku mantap
"pertama kamu harus janji gak akan marah" kata Dinda yg buru-buru ku potong
"ngapain aku mesti marah?" tanyaku memotong
"dengerin dulu dong!" seru Dinda kesal
"ok sorry, lanjutin" jawab ku
"ke dua kamu harus janji kalau ini rahasia kita, dan yg ketiga kamu gak boleh dalam keadaan terpaksa kalau kamu gak suka kamu harus bilang" Dinda menyelesaikan kalimatnya
"ok sekarang sebutin hadiah apa yg kamu mau!?" seru ku dengan semangat
Dinda belum menjawab tapi dia hanya menyentuhkan telunjuknya ke tubuh ku, lalu bibirnya didekatkan ke pipi ku seraya berbisik
"aku mau kamu" bisik Dinda di telinga ku
"maksudnya beb?" tanyaku bingung
Dinda tiba-tiba mencium bibir ku, aku kaget dan mundur selangkah, tapi badanku sudah menyentuh dinding kamar mandi yg memang ukurannya hanya satu kali dua meter, aku tersentak kaget aku berfikir sejenak, aku hendak melepaskan diri tapi aku tidak melakukannya karena tidak ingin mengecewakan Dinda, aku juga belum tau maksud Dinda sebenarnya
beberapa saat kami terdiam dengan bibir kami saling menyatu, lalu Dinda menjulurkan lidahnya ke mulutku aku kembali tersentak dan aku memalingkan wajah ku
"kenapa beb? kamu gak suka ya?" tanya Dinda ragu
"bukan beb, jelasin dulu kamu kenapa?" kataku meminta penjelasan tentang keanehan Dinda
aku melihat mata Dinda berkaca-kaca, aku tau dia berusaha bohongin perasaannya dia pasti menahan sesuatu
"cerita aja beb, aku aja tiap ada masalah cerita kok sama kamu, kita kan sahabat" kataku kagi meski belum ada respon apa pun dari Dinda
"aku aku" kata dinda terbata tak bisa berkata-kata
"cerita beb, lepasin semuanya, tumpahkan semua kesedihan kamu, kamu bisa cerita apa pun ke aku" kataku sambil memeluk tubuh Dinda dan mengecup keningnya
"Adam Ri" kata dinda pelan
"kenapa dengan adam Beb? kalian ada masalah?" tanyaku penasaran
"aku belum siap cerita sekarang, yg jelas aku udah bohong sama kamu tentang sesuatu" kata Dinda jujur
"gak ada, gak ada, kamu mau ngomong sekarang atau aku keluar?" ancam ku, berharap segera tahu ada apa di balik keanehan Dinda hari ini
"beb please" kata Dinda memelas
"setiap aku ada masalah aku cerita sama kamu, sekarang kamu gini beb?" tanyaku dengan ekspresi ngambek
"iya iya beb aku cerita, sebenarnya semua yg aku ceritain ke kamu tentang hal-hal yg aku lakuin sama Adam, itu bohong beb kecuali ketika Adam main ke rumah aku sembunyi-sembunyi itu beneran. Aku gak pernah ngapa-ngapain sama dia, aku sama sekali gak pernah di sentuh sama Adam bahkan ciuman pertama ku ya sama kamu tadi" kata Dinda jujur, dengan air mata yg mulai membasahi pipinya
"ya terus kenapa sayang ku? bagus dong kalau gitu" kataku berusaha menenangkan Dinda sambil meraih tubuhnya dan memeluknya dengan lembut
"iya, tapi. . . kemarin aku gak sengaja buka hp Adam, terus aku baca ada chat romantis dari cewek yg namanya Nadia"
lanjut Dinda dengan berurai air mata
"terus kamu udah tanya langsung sama Adam?" tanyaku halus
"aku terlalu takut beb, kalau-kalau jawaban Adam akan sama seperti yg aku takutkan, aku takut dia gak sabar dan berpaling dari aku" dinda sudah tak mampu lagi membendung air matanya
"terus kamu maunya gimana?" tanyaku lagi
"beb udah ya, kita stop bahas itu aku mau menenangkan diri dulu" pinta Dinda dengan nada lemah
"ia sayang sekarang berhenti menangis, jadi jelek lho mukanya" kataku mencoba menggoda Dinda dengan mengusap air mata di pipinya
Dinda lalu memeluk tubuhku erat, pelukan kami berlangsung sekitar lima menit tampa suara, tampa gerakan
"aku sayang kamu beb" ucap Dinda lirih
"aku tau beb, aku juga sayang kamu" balasku menenangkan hati Dinda
kami masih berpelukan, sampai tiba-tiba aku kaget, tangan Dinda sudah masuk kedalam kemejaku dan meraba buah d**aku
"emmmmhhh" desah ku kaget karena untuk pertama kalinya ada orang lain yg menyentuh bagian sensitif itu selain diriku, semenjak aku menjadi remaja dan bagian itu tumbuh membesar. Belum bisa aku mencerna kejadian barusan suara panggilan Dinda memaksaku tersadar
"beb, tadi pas kita dengerin Wahyu sama Linda, punyamu basah gak?" tanya Dinda lembut
"punyaku?" tanyaku belum faham apa yg Dinda maksud
"iya punyamu yg itu beb, basah nggak?" tanya Dinda lagi
"aku gak ngerti apa yg kamu maksud beb" jawabku jujur, karena memang tak faham dengan maksud Dinda
tiba-tiba tangan Dinda menyusup kedalam celana jeans ku dan meraba bagian mahkotaku
"maksud ku yg ini beb" kata Dinda sambil tangan usilnya mengocok bagian yg memang sudah terasa licin dan lembab itu, entah kenapa rasanya nyaman sekali saat jemari lembut Dinda bermain di bagian itu
"emmhhhh,, beb kamu ngapain?" tanya ku ragu
"beb, aku minta hadiah ulang tahunku di sini ya" pinta Dinda
tampa sadar kepalaku mengangguk, seakan tau apa yg Dinda mau, pikiranku di ikat oleh rasa nikmat kocokan jari Dinda di bagian mahkotaku
"ahhh beb, stop dulu beb, please" pintaku lirih, tapi hatiku menolak untuk ini berhenti
Dinda menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah ku dengan tatapan sayu
"apa ini gak salah beb?" tanyaku lembut di telinga Dinda
"aku gak tau beb, yg aku tau sejak tujuh tahun lalu cuma kamu yg selalu ada buat aku, aku bukan seorang lesbian atau biseksual, tapi perasaanku mengatakan kalau aku ingin melakukan ini sama kamu, kamu gak perlu khawatir ini rahasia kita, satu lagi, kita akan tetap perawan" bisik Dinda lembut
aku mengangguk dan. . .
bersambung. . .
sekian dulu update kali ini, semoga para pembaca gak bosen ya!!! kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar, dan kalau suka cerita ini jangan lupa like dan share ke teman-teman, terimakasih semuanya, sampai jumpa di episode 10