Happy reading.
Typo koreksi.
____
Hari ini Bianca sudah berjanji akan menjemput Bagas, putra semata wayang Darren yang berusia 11 tahun. Di kursi samping kemudinya sudah ada Bulan putri semata wayangnya juga duduk dengan celana jeans panjang dipadukan atasan kaus berwarna biru awan dengan cardigan rajut berwarna putih gading, rambutnya yang panjang di kuncir kuda membuat bocah manis itu terlihat sangat cantik siang ini.
Mobil Bianca berhenti tepat di halaman rumah yang selalu ia datangi bersama putrinya, melihat ada mobil yang wanita itu kenal membuat Bianca berpikir sejenak.
Haruskah ia masuk kedalam sekarang. Batinnya.
Dan suara Bulan menyentak Bianca dalam lamunannya. "Bunda! Ayo turun."
"Ah! I-- iya, Sayang. Ayo." balasnya.
Meski sedikit ragu, Bianca tetap turun membawa putrinya ikut serta memasuki rumah tersebut. Pintu yang tidak tertutup rapat membuat Bianca bisa mendengar sedikit pembicaraan Darren dengan seseorang.
Lagi, seperti waktu itu.
"Mama sudah bilang, kamu harus cepat-cepat menikah Darren. Apalagi yang kamu tunggu? Kalian sudah lama sama-sama sendiri. Mama tidak melarang asal wanita itu bisa menjadi ibu yang baik untuk Bagas. Dia cucu Mama satu-satunya, jangan buat Bagas justru salah mendapat ibu tiri kalau kamu asal memilih."
"Ma, Darren belum kepikiran untuk menikah." Itu suara mas Darren.
"Aduh ... kamu ini, tunggu apa sih? Apa kamu nggak tertarik sama nak Bianca? Dia cantik, baik, lemah lembut, kenapa tidak mencoba membuka hati untuk nak Bianca?"
Deg.
Bianca sampai menahan napasnya menunggu jawaban dari Darren, sebelum suara pekikkan Bulan mengagetkannya dan juga dua orang yang ada di dalam rumah.
"Kak Bagas! Main yuk!"
Tak lama terdengar langkah mendekati pintu, wajah tampan Darren muncul dari balik pintu terlihat terkejut melihat keberadaan Bianca dan Bulan sekarang.
"Bi," panggilnya pelan terdengar seperti cicitan.
Bianca mendongak menatap raut wajah Darren yang terlihat canggung saat ini, Bianca diam-diam menoleh ke balik punggung terlihat sosok Andini ibu kandung Darren yang sama canggungnya menatap wanita beranak satu tersebut.
"Ya ampun, Bulan sini Nak. Nenek mau peluk." Seru Andini senang.
Bulan berlari melewati ibunya dan juga Darren, memeluk wanita paruh baya yang terlihat sangat sayang kepada bocah perempuan tersebut.
"Nenek, Ulan kangen." rengek Bulan di balas kekehan geli Andini.
"Bi, masuk Nak." Suara Andini kembali terdengar.
Bianca melirik Darren sekilas sebelum menjawab kikuk.
"I-- iya Ma," sahut Bianca lalu masuk kedalam rumah seraya merunduk malu saat melewati sosok Darren, di tempatnya lelaki itu hanya bisa mendesah kasar.
Hal yang selalu tidak Darren inginkan, karena Bianca akan bersikap segan dan canggung kepadanya kalau sudah bertemu dengan ibunya, Andini. Apalagi, beliau selalu saja menjodoh-jodohkan keduanya. Karena terbiasa lama bersama dan nyaman dengan satu sama lain, Darren tidak berani membuat hubungan mereka berubah. Darren tidak mau kehilangan Bianca jika dia mengutarakan isi hatinya.
"Kalian mau kemana? Ya ampun, cantik-cantik banget." Puji Andini melihat dua sosok berbeda usia di depannya kagum.
"Ulan mau main ke mall, Nek. Om, kak Bagas mana?"
"Oh, Bagas masih di kamarnya, masih pakai baju kayanya, Sayang."
Bibir Bulan tertekuk manyun, sebal karena Bagas belum juga selesai dan selalu telat.
"Sabar ya, Cantik, sebentar lagi kak Bagas turun." Hibur Darren membelai pucuk kepala Bulan saat sudah berdiri di belakang bocah itu.
Drap.
"Nah itu dia, kak Bagasnya turun," ucap Andini.
Dari beberapa anak tangga terlihat bocah laki-laki tampan sedang turu dengan langkah tergesa-gesa, segera mengambil duduk dan tampak merayu Bulan yang sedikit ngambek.
"Ayo berangkat, maaf ya Kakak lupa kalau ada acara jalan sama Ulan." seru anak laki-laki tersebut.
Bibir Bulan masih tertekuk, semua yang melihat dua bocah berbeda gender itu hanya menahan senyum mereka. Keduanya terlihat lucu dan menggemaskan.
"Udah dong jangan ngambek lagi, yuk nanti kesorean."
"Ih! Kan Kak Bagas yang lupa. Kalau kita kesorean yang salah itu Kakak."
"Iya ... iya ... maaf." Pasrah Bagas, mengalah.
"Ulan, nggak boleh marah-marah. Kak Bagas kan sudah minta maaf masa Ulan nggak mau maafin. Nanti Kak Bagas nggak mau main lagi sama Ulan gimana?"
Mata jernih milik Bulan mengerjap mendengar ucapan ibunya, kepalanya menoleh melihat senyum lebar Bagas untuknya.
"Ya udah, Ulan maafin. Tapi Kak Bagas janji jangan lupa lagi ya. Kan hari ini mau jalan-jalan sama Bunda Ulan juga."
"Iya, maaf ya," ucap Bagas menyodorkan jari kelingkingnya, kearah bocah perempuan di sampingnya. Bulan mengaitkan jemari kelingkingnya.
Kedua bocah itu akhirnya kembali berbaikan. Bagas yang pengertian dan Bulan yang cerewet menjadi kombinasi yang lengkap di dalam dua keluarga ini.
Bianca tersenyum dalam hati melihat binar di manik bulat putrinya.
"Aduh, maaf ya, Nenek nggak bisa ikut. Hari ini Nenek ada arisan."
Kini Andini dan Darren berdiri di samping pintu mobil milik Bianca, menatap kearah jendela yang terbuka lebar memperlihatkan wajah dua cucu-cucunya itu.
Ulan terlihat sedih, karena jarang bertemu dengan beliau.
"Nenek besok datang lagi ya, Ulan bawa kue brownies buatan Bunda."
"Iya, Sayang," sahut Andini mengiyakan ucapan bocah berusia 9 tahun tersebut.
"Bi, bawa mobilnya hati-hatinya Nak. Mama titip anak-anak."
"Iya, Ma." Andini balas tersenyum lebar, mencium sekilas pipi Bulan tapi tidak dengan Bagas. Karena Bagas tidak suka di cium siapapun.
"Bi, kalau ada apa-apa telepon aku ya."
"Eh, oh iya Mas," jawabnya gugup masih malu dan canggung dengan lelaki yang bekerja sebagai dokter kandungan tersebut.
"Dadah! Nenek!" pekik Bulan sebelum mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah tersebut.
Sesampainya di mall, Bianca mengajak kedua bocah-bocah menggemaskan itu masuk kearea permainan.
Bulan dan Bagas terlihat senang, keduanya asyik bermain aneka permainan, seperti air hockey, street basketball, capid boneka, dan beberapa mainan lainnya di mainkan.
Bianca bernapas lega, masih bisa membuat putrinya tertawa. Mencurahkan semua kasih sayang ia miliki untuknya, dan bersyukur Bulan tidak pernah marah jika Bianca juga membagi perhatiannya untuk Bagas, bocah 11 tahun yang sudah kehilangan ibu kandungnya sejak 5 tahun lalu.
"Apa kamu nggak tertarik sama nak Bianca? Dia cantik, baik, lemah lembut, kenapa tidak mencoba membuka hati untuk nak Bianca?" Ucapan Andini kembali terngiang menganggu wanita itu.
Dalam hatinya, masih belum berani mendengar jawaban apa yang akan diberikan oleh Darren, laki-laki baik yang selama ini Bianca kenal, laki-laki yang menjaganya setelah kepergian orangtuanya.
Tidak mungkin mas Darren menyukaiku. Pikirnya merendah.
Tidak terlalu berharap jika Darren memiliki perasaan lain untuknya, meski getaran asing itu Bianca pendam setiap bertemu dengan Darren.
"Bunda, Ulan mau es krim!" Teriakan Bulan membuat Bianca terkesiap, wanita itu mengerjap menatap putrinya yang sudah berdiri tidak jauh darinya seraya menunjuk stand penjual es krim.
Bianca terkekeh kecil.
Bulan kebahagiaannya, bukankah sudah lebih daripada cukup.
____
BERSAMBUNG...