Berpasangan namun tak ada sapaan. Begitulah saat Elisa dan Garvin tak sengaja bentrok. Elisa melihatnya agak lama, mengangkat tangannya dengan kaku melebarkan telapak tangan, senyum di bibirnya tersungging. “Pagi, kak,” Matanya agak menyipit, bertanda betapa sangat berusaha ia tersenyum hingga memberikan kesan cantik dan manis itu. Garvin menatap sekilas. Lalu melengos pergi. Seperti hari-hari sebelumnya, Garvin belum merespon usaha pendekatan Elisa. Melihat Garvin pergi, Elisa masih berdiri di tempat menatap punggung kakaknya yang sudah menjauh. Kapan dia luluh sama gue? Lama banget perasaan. Gerutunya membatin. “Tuan Muda, tunggu! Tunggu Tuan Muda!” Bi Yuni dari arah dapur muncul. Berlari hendak melewati Elisa tapi dengan segera Nona muda itu menahan lengannya. “Kenapa?” Bi Yuni

