Menyudahi makannya Najwa langsung ke kamarnya yang ada di lantai atas. Wanita itu membuka pintu, masuk dan menghantamnya hingga kembali tertutup. Najwa berdiri di depan sebuah kaca, air mukanya keruh, air matanya mengalir, matanya merah dibasahi oleh cairan bening yang diusahakannya untuk ditahan. Kepalan tangan Najwa mengerat, diayunkannya ke udara lalu dihantamkannya ke meja berkali-kali. Najwa mengumpat, “sial! Sial! Kamu sialan, Loco. Tidak ada yang ingin kamu tanyakan? Semuanya jelas, katamu? Apanya yang jelas bagimu?” “Padahal aku ingin mengaku … padahal aku ingin menjadi tahu diri dengan mengatakan semuanya padamu—” Najwa berharap suaranya tidak akan terdengar menembus dinding. Sekalipun isakannya keras bisa memecahkan gendang telinga siapapun. “Aku menggugurkan anakmu … anak kita

