Yang Laura inginkan hanya ketenangan diri, tanpa da rasa sakit pada hati maupun tubuhnya. Namun, apa boleh buat? Takdir mengatakan bahwa ia harus melewati semua itu untuk proses pendewasaan diri. Perasaan Laura jelas saja sakit ketika ia harus merelakan cinta pertamanya agar ia terlepas dari banyaknya hal yang membuatnya tersiksa selama ini. Bahkan, rasanya lebih menyakitkan saat bersama dengan Keenan dibandingan dengan kedua orangtuanya yang memilih hidup masing-masing. Bagi Laura, perbandingan rasa sakitnya hanya berbeda sepuluh persen saja. Setelah seminggu istirahat bekerja, hari ini gadis itu kembali dengan pekerjaannya. Meski terkadang tangannya terasa sedikit nyeri, namun tidak ia katakan pada siapa-siapa karena takut kalau Hanna akan memberinya hari libur lebih lama lagi. “

