Di antara senyuman yang sering disematkan Laura di wajahnya, ia justru menyembunyikan kesedihan yang membuat hatinya terasa nyeri. Namun, Laura selalu berusaha untuk mengalihkan perhatian orang-orang terdekatnya agar tidak lagi menanyainya perihal kampus mana yang akan menjadi tempatnya melanjutkan pendidikan nantinya. Sebab Laura tahu bahwa semakin ia banyak ditanyai, maka akan semakin nampak bahwa ia sedang berbohong. “Gedung, katering, gaun, undangan, terus apa lagi, Ra?” tanya Hanna seraya menatap layar ponselnya yang mana di sana lah ia mencatat segala hal tentang persiapan pernikahannya nanti. “Tempat bulan madu, Bu,” jawab Laura dengan santai. Jawaban itu jelas saja membuat Hanna menatap Laura dengan bola matanya yang membulat dengan sempurna. “Pikiran kamu sejauh itu, Ra?”

