Jendra baru saja pulang dari penerbangan panjang — long haul. Begitu memasuki halaman rumah, matanya langsung menangkap sosok Harni, sang nenek yang tengah duduk di kursi roda untuk mendapatkan sinar matahari pagi.
"Siapa dia?" gumam Jendra pelan, saat melihat wanita berseragam nanny yang berada di samping Harni.
Langkah Jendra terhenti sejenak, kedua alisnya bertaut rapat. “Pagi, Nek,” sapannya sambil mendekat.
Harni menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Jendra. “Oh, cucuku yang tampan sudah pulang. Sini, Jen! Kemarilah!" perintahnya sambil mengulurkan tangan.
Jendra mendekat dan berlutut di depan kursi roda Harni, pria itu mencium punggung tangan wanita lansia itu dengan penuh hormat. Tapi matanya masih tertuju pada Elis yang berdiri kaku di belakang Harni.
“Dia siapa, Nek? Dan ... di mana dia?” tanyanya dengan nada tegas.
Harni menghela napas sambil mengelus kepala cucunya. “Dia? Maksudmu istrimu, Mutia, kan?”
Jendra terpaksa mengangguk pelan.
“Dia ada di dapur, Jen. Sedang membantu Mbak Sari memasak makanan favoritmu karena dia tau kamu akan pulang hari ini," jelas Harni antusias. "Sana kamu masuk ke dalam, dia pasti senang melihat kamu sudah pulang."
Mata Jendra menatap lurus ke arah pintu rumah. Tanpa berkata apa-apa, dia bangkit dan berlari masuk ke dalam rumah. Langkahnya berat, dengan expresi penuh amarah yang entah dari mana datangnya.
"Ya ampun ... cucu Nenek bucin banget ya sama Mbak Mutia." Elis terkekeh pelan, dia masih belum mengetahui fakta yang sebenarnya tentang alasan terjadinya pernikahan Jendra dan Mutia.
Harni jadi ikut terkekeh pelan, "Maklum, Lis. Namanya juga pengantin baru. Eh, malah ditinggal terbang gara-gara temen pilotnya sakit. Pas pulang ya jadi gitu, paling nanti Mutia ditarik ke kamar."
"Sepertinya, bentar lagi Nenek bakal punya cicit, nih. Sehat-sehat ya, Nek. Biar bisa liat cicit Nenek besok." Elis tersenyum sambil mengusap lembut pundak Harni.
"Aamiin, semoga saja ya aku bisa melihat bayi dengan perpaduan wajah Jendra dan Mutia." Meski di dalam hati Harni, dia merasa ragu.
Sementara di dapur, Mutia sedang sibuk memotong sayuran. Rambutnya dicepol tinggi, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Apron yang dia kenakan membuat tubuh mungilnya tampak lebih anggun.
Leher jenjang gadis itu juga jadi terlihat jelas, pipi merona merah karena merasa kepanasan di dekat kompor, membuat siapa pun yang melihat gadis itu akan mengakui kecantikannya.
Namun, saat Jendra muncul di pintu dapur dengan napas memburu ditambah tatapan mata yang penuh dengan amarah, keindahan dari seorang Mutia yang masih perawan itu seakan tidak ada artinya.
“KAMU!” bentaknya keras.
Mutia terkejut, pisaunya hampir jatuh dari tangan. Dia berbalik dengan wajah pucat. “Mas … Mas Rajendra sudah pulang?”
Tanpa banyak bicara, Jendra berjalan cepat mendekati Mutia, menarik tangan gadis itu dan menyeretnya dengan kasar hingga gadis itu hampir tersandung.
“Aduh, Mas! Sakit!” seru Mutia sambil berusaha melepaskan tangannya.
“Diam kamu!” bentak Jendra tajam.
Dia semakin mengencangkan cengkramanya, membawa Mutia keluar dari dapur, menaiki tangga dengan langkah besar, dan langsung membawa gadis mungil itu ke kamar mereka. Setelah pintu ditutup dengan keras, Rajendra melepaskan tangan Mutia dengan kasar.
“Heh, gadis kampung! Kamu sudah malas merawat Nenekku, ya?! Makanya kamu suruh Mama untuk cari orang lain untuk merawat beliau?!”
Mutia memegang pergelangan tangannya yang memerah. Matanya sudah berkaca-kaca. “Bukan begitu, Mas … bukan saya yang meminta … itu—”
“Jangan banyak alasan kamu!” potong Jendra. “Kamu pikir setelah kamu jadi istri seorang pilot, kamu bisa ongkang-ongkang kaki, ya? Kamu pikir pekerjaanmu selesai hanya dengan jadi Nyonya Kamandanu?!”
“Mas … tolong, dengarkan saya dulu! Semua itu usulan Mama, bukan saya … saya—”
“Jangan bawa-bawa Mama di sini! Mama nggak mungkin mengambil keputusan secara sepihak! Pasti itu ide busuk kamu!”
Air mata Mutia akhirnya jatuh. “Saya bersumpah, Mas. Saya nggak pernah meminta hal itu. Saya masih mau merawat Nenek Harni. Tapi Mama bilang saya harus fokus pada Mas Rajendra."
“Omong kosong!” bentak Jendra, kedua tangannya mengepal erat. “Kamu benar-benar gadis kampung yang sok jadi nyonya besar! Kamu pikir setelah menjadi istriku, kamu bisa bertindak semaumu, ya?!”
“Mas … tolong jangan bicara seperti itu,” isak Mutia pelan. “Saya benar-benar tidak pernah berpikir seperti itu, Mas.”
Jendra memalingkan wajahnya dengan kesal. “Aku semakin menyesal menikahi kamu! Kamu cuma nambah beban di hidupku! Dasar perempuan menjijikan dan pembawa sial!”
Pernyataan itu terasa seperti pisau yang menusuk d**a Mutia. Wanita muda itu berdiri kaku di tempatnya, air mata terus mengalir di pipinya.
“Maaf, Mas. Maaf karena aku membuat repot hidup Mas Rajendra. Tapi, akupun juga tak punya kuasa untuk menolak permintaan kelurga Mas Rajendra."
Jendra membeku. Kata-kata Mutia menggantung di udara. Tanpa menjawab, dia berjalan keluar dari kamar, membanting pintu di belakangnya.
"Jen, apa yang kau lakukan pada Mutia?" Nurma yang sedari tadi berdiri di balik pintu kamar Jendra langsung mendelik dan berkacak pinggang.
"Mama," pekik Jendra yang terlihat ketakutan. "Itu, Mah ... itu."
Plak!!!
Nurma menampar pipi Jendra. "Apa Mama dan Papa pernah mengajarimu berbuat kasar pada perempuan, Jen?"
"Ma-maaf, Ma." Jendra menunduk takut menatap wajah Nurma yang murka.
"Itu baru ditampar, Mama. Coba kalau Papa kamu yang dengar tadi, kamu bisa habis babak belur!" Nurma menunjuk wajah Jendra dengan tubuh bergetar karena emosi.
"Iya, Mah. Aku minta maaf, aku tadi emosi karena aku pikir ... dia, tidak mau merawat Nenek lagi," jelas Jendra terbata-bata.
Nurma menghela napas panjang. "Mana ada menantu yang merawat Nenek suaminya? Apa kamu berharap istrimu masih memakai seragam nannynya? Apa kamu ingin istrimu kelelahan?"
"Ti-tidak, Mah," jawab Jendra yang masih menundukkan wajahnya.
"Asal kamu tau, Jen. Kemarin Mutia menolak saat Mama memanggil Tiffany. Dia kekeh pengen merawat Nenek kamu." Nurma memegangi pundak Jendra.
"Jen, kamu beruntung memiliki istri seperti Mutia, dia cantik, bukan ... dia sangat cantik, hatinya juga sangat cantik, orangnya lemah lembut. Mama mohon cintai dia, Jen!" pinta Nurma lalu membuka kamar Jendra.
Mutia terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Air mata mengalir deras di pipinya. Suara bentakan Rajendra masih terngiang di telinganya, dan ucapan itu—"Dasar menjijikan, pembawa sial!"—terus berputar di kepalanya.
Dia memeluk lututnya erat-erat, menggigit bibirnya untuk menahan isak yang semakin keras. ‘Kenapa, Mas? Apa salahku padamu?’ batinnya sambil terus menangis.
Pintu kamar terbuka pelan, Nurma berdiri di ambang pintu dengan wajah khawatir. “Mutia, kamu nggak apa-apa?”
Mutia mengangkat wajahnya yang basah. “Mama … apa salah saya? Kenapa Mas Rajendra begitu membenci saya?”
Nurma segera mendekat dan memeluk Mutia erat-erat. “Kamu nggak salah apa-apa, Sayang. Kami yang salah, maaf kami memaksamu untuk menikah dengan Jendra.”
Mutia hanya bisa menangis di pelukan ibu mertuanya. Nurma mengusap lembut kepala Mutia, hatinya juga terasa sakit, air mata langsung menetes di pipinya.
Sementara itu, di luar kamar, Jendra berdiri di ujung lorong dengan wajah kusut dan tatapan kosong. Dia bisa mendengar isak tangis Mutia dari balik pintu. Tapi ego dan amarahnya menahan langkahnya untuk kembali.
Di dalam hatinya, sesuatu terasa sesak. Tapi pria itu terlalu bodoh untuk menyadari kalau dia sedang melukai gadis yang sangat tulus mencintainya, karena di pikirannya masih ada satu nama yang tersimpan ... Inez.