"Em ... apa lagi ya, yang harus dibawa?" gumam Mutia melihat tas Harni yang terbuka.
"Saya rasa sudah semuanya, Bu Mutia," jawab Elis, sang perawat baru.
Mutia tersenyum menatap Elis. "Panggil aku Mutia saja, Mbak. Kita ini kan teman, apalagi Mbak Elis lebih tua dari pada aku."
"Eh jangan, Bu Mutia," timpal Elis cepat. "Anda kan sama saja majikan saya, tidak etis jika saya memanggil hanya nama."
"Duh, Mbak Elis nih." Mutia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah kalau gitu, panggil aku Mbak Mutia aja ya! Tapi ngomongnya ke aku jangan formal banget juga. Pokoknya anggap aja aku temanmu dan jangan pernah sungkan ke aku ya, Mbak!"
"Siap." Elis mengangguk setuju. "Mbak Mutia ini ternyata enggak cuma cantik di wajah aja, tapi juga cantik di hati, pantas saja kamu dinikahi sama cucu majikan."
Mutia hanya tersenyum dan membatin, "Andai Elis tau yang sebenarnya. Pasti enggak bakal bilang begitu. Faktanya aku cuma pengantin pengganti."
Pagi itu, suasana rumah terasa sibuk ketika Mutia membantu menyiapkan perlengkapan untuk keberangkatan Nenek Harni ke rumah sakit. Begitu dia dan Elis keluar dari kamar Harni, Nurma dengan semangat menghampiri mereka.
"Loh, kamu mau ikut ke rumah sakit juga, Mut?" tanya Nurma dengan kening yang berkerut.
"Iya, Mama." Mutia mengangguk. "Memangnya kenapa? Apa Mama lagi butuh bantuanku?"
Nurma menggeleng dan memegang tangan Mutia. "Enggak gitu, Mut. Maksudnya Mama tuh, biarkan Elis aja yang menemani Nenek ke rumah sakit. Kamu di rumah saja, istirahat. Nanti, gimana kalau kamu kecapean?”
Mutia tersenyum sambil membalas genggaman tangan Nurma. “Aku enggak capek, Mah. Lagian Mas Rajendra nggak ada di rumah. Dari pada aku bosan sendirian, lebih baik aku ikut ke rumah sakit. Lagipula, aku belum tenang kalau nggak mendengar penjelasan dokter secara langsung tentang keadaan Nenek.”
Nurma mendesah, tapi akhirnya mengalah. “Ya sudah, kalian hati-hati di jalan, ya.”
***
Setelah memastikan Harni sudah nyaman duduk di ruang tunggu dengan Elis di sampingnya, Mutia pamit sebentar untuk ke toilet. Saat keluar dari toilet, langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang pria yang memanggil namanya.
“Mutia?”
Mutia menoleh dan mendapati seorang pria dengan jas dokter berdiri tidak jauh darinya. “Eh, ada Mas Madhafa? Selamat pagi, Mas? Apa kabar?” sapanya sopan sambil tersenyum kecil.
"Pagi, Mut. Aku baik." jawab Dhafa yang berdiri di depan Mutia, matanya tampak menatap wajah Mutia dengan penuh ketertarikan. “Aku nggak menyangka bakal ketemu kamu di sini. Kamu pasti lagi nganter Nenek Harni periksa, ya?”
“Iya, Mas." Mutia tersenyum dan mengangguk. “Beliau hari ini ada jadwal check up dan fisiotherapi.”
"Keadaan Nenek Harni baik-baik saja, kan?” Dhafa membalas senyuman Mutia, dia semakin terpesona dengan kecantikan istri sahabatnya itu.
“Alhamdulillah, kesehatan Nenek masih stabil," jawab Mutia lalu matanya membaca id card yang menggantung di leher Dhafa. "Mas Madhafa dokter spesialis kandungan, ya? Wah keren banget."
Dhafa mendadak salah tingkah, dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Eh, makasih loh udah dipuji. Besok kalau kamu periksa kehamilan bisa sama aku, Mut."
Mata Mutia mengerjap, pipinya memerah, sekilas bayangan manis Jendra yang mengantarkan dia periksa ke rumah sakit berputar di otaknya. "Duh kamu mikir apa sih, Mut!" batinnya merutuki dirinya sendiri.
"Saya harus kembali menemui Nenek Harni sekarang, Mas Madhafa. Karena Nenek pasti sudah menunggu saya, permisi,” pamitnya sambil menundukkan kepala.
Baru saja Mutia hendak berbalik, Dhafa tiba-tiba menarik tangannya. "Awas, Mut!"
Bruk!!!
Waktu serasa berhenti berdetak.
Mutia berada di pelukan Dhafa, wajahnya menempel di d**a Dhafa. Mata gadis itu membelalak karena terkejut dengan pipi yang memerah semerah tomat. Aroma maskulin Dhafa tercium dan detak jantung Dhafa dapat terdengar dengan jelas.
"Sadar, Mutia! Kamu sudah bersuami!" batinnya lalu mendorong tubuh Rajendra dan melangkah mundur.
"Sorry, Mut. Itu ada anak kecil di belakang kamu lagi lari-lari." Wajah Dhafa juga memerah, dia merasa salah tingkah.
"Gila! Apa yang kamu lakuin, Dhafa! Kamu malah meluk-meluk istri orang!" batinnya merutuki diri sendiri.
"Enggak apa-apa, Mas. Terimakasih, jika Mas Madhafa enggak menarik saya nanti malah anak itu yang terluka. Kalau begitu saya permisi."
Mutia kembali membungkuk sopan sebelum melangkah pergi. Dhafa hanya bisa menatap punggung Mutia yang semakin menjauh. Langkahnya tampak elegan dengan dress biru muda yang dia kenakan, rambut panjangnya yang tergerai bergoyang pelan setiap kali dia melangkah.
Dhafa menghela napas panjang. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan — bagaimana mungkin Jendra bisa begitu membenci dan menyia-nyiakan perempuan sebaik Mutia?
"Kalau Jendra nggak mau sama dia, kenapa nggak aku rebut saja dia dari Jendra?" batinnya, disertai senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.
Namun Dhafa segera menepis pikirannya. "Astaga, Dhafa! Kamu mikir apa lagi sih! Masak iya kamu mau merebut istri sahabatmu sendiri!"
Dhafa kembali menghela napas panjang dan membatin, "Tapi, si Mutia emang cantik banget sih. Mana wangi banget lagi, sayang banget aku telat kenalan sama dia. Andai Inez enggak kabur, terus aku datang ke pernikahan Jendra, terus ketemu Mutia, aku pasti langsung minta nomor handphonenya."
Dhafa langsung menampar pelan pipinya. "Woy, ayo kerja! Malah mikirin bini orang!" gumamnya lalu pergi ke ke ruang praktek.
Setelah kembali ke ruang tunggu pasien, Mutia langsung duduk di sebelah Elis dan memastikan Nenek Harni baik-baik saja. Akan tetapi pikirannya masih terbayang-bayang dengan pertemuannya bersama Dhafa. Ada sesuatu di mata pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Mas Madhafa baik banget orangnya, ramah dan juga murah senyum. Pasti pasien beliau banyak. Terus juga pasti istrinya cantik sekali, dan profesinya sama-sama dokter," batin Mutiara sambil tersenyum.
"Eh, tapi ... Mas Madhafa udah nikah belum, ya? Apa aku coba tanya ke Nenek kali ya?" Mutiara menatap ke arah Harni.
"Nenek, tadi waktu ke toilet aku ketemu Mas Madhafa. Ternyata beliau dokter spesialis kandungan yang praktek di sini," ucap Mutia memegangi tangan Harni. "Beliau terlihat semakin berkharisma dengan jas dokternya."
Harni mengangguk dan tersenyum. "Iya, dia memang praktek di sini. Pasien dia banyak loh, Mut. Makanya dia enggak bisa datang kemarin ke pernikahan kalian karena katanya lagi menangani operasi caesar."
"Mas Madhafa udah nikah belum, Nek?" tanya Mutia penasaran.
"Belum, dia mah sibuk belajar dari dulu. Orangnya rajin banget dan enggak neko-neko. Dia adalah teman Jendra yang paling Nenek sukai," jawab Harni. "Andai Jendra punya adik perempuan, aku pasti akan menjodohkan mereka."
"Owh begitu," gumam Mutia pelan sambil mengangguk.
Setelah Harni diperiksa, saat ketiga perempuan berbeda umur itu berjalan ke arah basement. Langkah Mutia terhenti saat melihat seorang wanita yang sangat dia kenali. Mutia terpaksa berbohong kepada Harni dan Elis, dia bilang ingin pergi ke toilet karena hendak mengejar wanita itu.
"Mbak Inez!" ucapnya sambil mencengkram lengan tangan wanita itu.
Mata Inez membelalak saat melihat Mutia. "Ka ... kamu ... kenapa bisa ada di sini?" tanyanya dengan terbata-bata, lalu tatapannya melihat ke sekeliling dengan wajah panik.
"Mbak Inez kenapa pergi ninggalin Mas Rajendra?" tanya Mutia dengan mata berkaca-kaca.
Inez menepis tangan Mutia dengan kasar. "Terserah aku lah! Ini hidupku!"
"Tapi, aku jadi terpaksa menjadi pengantin penggantimu, Mbak," balas Mutia cepat.
Inez tersenyum smirk lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Mutia seraya berbisik, "Apa ... terpaksa? Bukannya kamu malah seneng ya nikah sama Jendra? Iya kan?"