Bab 5. Mencari Mantan

1216 Words
Di ruang tunggu khusus pilot, Jendra duduk dengan wajah masam sambil menatap layar ponsel. Beberapa pilot lain yang baru tiba menghampiri dengan senyum lebar. Salah satunya adalah Kapten Arya, teman Jendra yang kemarin hadir di pernikahannya. “Wih, pengantin baru kok malah kerja sih, Kapten?” goda Arya saat sudah duduk di samping Jendra. "Nggak honeymoon, nih?" Jendra melirik sekilas lalu mendesah kesal. “Nggak usah mulai deh, Ar!” Arya tertawa sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Cepat juga ya kamu dapat pengganti si Inez. Jujur sih, istri kamu yang sekarang tuh sebenernya lebih cantik dan manis dari si Inez. Meski badan dia mungil, tapi menurut aku itu malah jadi nilai plus buat dia karena dia keliatan imut, lucu dan menggemaskan, auranya juga lembut dan kayaknya dia itu orang yang ramah plus murah senyum. Kamu beruntung bisa mendapatkan pengantin pengganti seperti dia.” Jendra mengerutkan kening dan melirik Arya dengan tatapan tajam. “Nggak usah ngomongin dia, deh! Enggak penting banget!" “Waduh, marah bener! Santai dong, Kapten!” Arya mengangkat tangan seolah menyerah. “Tapi ngomong-ngomong, Inez pergi ke mana, ya? Aku juga enggak lihat dia akhir-akhir ini. Bahkan nomornya pun enggak aktif. Padahal dulu dia rajin bikin status w******p, kan?” Mata Jendra memicing mendengar nama itu. “Aku juga nggak tahu, Ar. m Makanya aku tadi tanya sama para pramugari di sini, ada yang lihat dia atau nggak. Tapi nggak ada yang tahu dan emang enggak ada orang yang bisa hubungin dia.” "Eh ...?" Arya menaikkan alisnya. “Kamu masih peduli sama dia, Jen? Kamu masih mau nyari dia? Setelah apa yang dia lakukan padamu? Mending kamu fokus sama istri barumu aja deh, Jen!” “Itu bukan urusanmu, Ar. lebih baik kamu diam!” balas Jendra ketus. Arya hanya terkekeh pelan, lalu dia menepuk bahu Jendra dengan ringan. “Aku cuma mau bilang, Jen. Kamu jangan menyia-nyiakan orang yang udah ada di samping kamu sekarang. Kadang kita nggak sadar kalau yang terbaik itu ternyata udah ada di depan mata kita.” Jendra terdiam. Kata-kata Arya seperti menusuk sesuatu di dalam hatinya, meskipun dia buru-buru menepis perasaan itu. “Sudahlah, Ar! Kamu fokus aja ke penerbangan kita hari ini!" perintahnya dengan nada galak. Arya mengangkat bahu dan bangkit dari kursinya. “Terserah kamu, Jen. Tapi suatu hari nanti, kamu bakal nyesel kalau sifat kamu terus-terusan begini.” Jendra menatap punggung Arya yang berjalan pergi, lalu menghela napas panjang. Kepalanya bersandar di kursi, sementara bayangan wajah Mutia dengan mata sembab kembali muncul di pikirannya. "Aish, sialan! Malah wajah gadis kampung itu yang ada di otakku!" batinnya frustasi. Setelah penerbangan selesai, Jendra tiba di hotel tempat para kru biasanya menginap. Dia berjalan menuju kamar dengan langkah gontai. Hari itu terasa melelahkan, bukan hanya karena penerbangan, tetapi juga karena pikirannya yang penuh. Setelah memasuki kamar, Jendra duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipis. Dan tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja kecil yang ada di samping ranjang. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. “Mas Jendra, maafin aku, ya. Aku nggak bisa bertemu denganmu lagi. Aku sudah memutuskan untuk pergi jauh. Semoga kamu bahagia dengan istrimu yang sekarang. – Rinezta.” Jendra terdiam, tatapannya kosong menatap layar ponsel. Jari-jarinya mengetuk permukaan ponsel ingin membalas pesan dari Inez itu. Namun, akhirnya pria itu memutuskan untuk membuang ponselnya ke atas ranjang dengan kasar. “Kamu pikir dengan pergi semuanya akan selesai begitu saja, Nez?” gumamnya pelan. Jendra berbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamar hotel. Wajah Inez kembali muncul di benaknya — wajah cantik yang selalu berkata dengan nada lembut, manja, genit, manis sehingga dia tergoda. Jendra memejamkan matanya. "Aku rindu kamu, Rinezta. Kumohon, kembalilah padaku. Kenapa kamu tega pergi meninggalkan aku?" Tiba-tiba ponsel Jendra kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Ia segera duduk dan dengan bersemangat mengangkatnya, mengira bahwa yang menelepon adalah Inez. "Ha-halo, Mas Rajendra. Apa penerbangan Mas sudah selesai?" Sayang sekali, suara lembut perempuan itu bukanlah suara Inez, melainkan suara Mutia. Hal itu jelas membuat Jendra kesal, hingga dia refleks menjambak rambutnya sendiri. "Sudah, ngapain kamu telpon aku? Ganggu aja orang lagi istirahat! Dasar gadis kampung rendahan!" Di seberang telepon, mata Mutia melebar karena terkejut mendengar suara Jendra yang keras dan kasar. "Ma-maaf, Mas. Saya disuruh ibu menghubungi Mas Rajendra." "Alasan kamu! Aslinya kamu mau cari perhatian ke aku, kan? Lain kali jangan telpon-telpon aku lagi!" bentak Jendra lagi. "Dan malam nanti, kamu jangan tidur di kasurku! Nanti kasurku bisa kotor dan bau gara-gara kamu!" "Baik, Mas Rajendra, nanti aku akan tidur ...." Mutia belum selesai mengucapkan kalimatnya tapi panggilan itu sudah diputuskan oleh Rajendra. Mutia menghela napas panjang dan memaksakan di untuk tersenyum, masih dengan ponsel di telinganya dia berkata, "Selamat beristirahat Mas Rajendra." "Gimana, Mutia? Jendra sudah sampai di hotel kan?" tanya Nurma menepuk pundak Mutia. "Iya, Bu. Mas Rajendra sudah ada di hotel, aplikasinya akurat. Terimakasih Ibu sudah kasih tau saya tentang aplikasi penerbangan itu," jawab Mutia lembut, masih dengan senyuman di bibir mungilnya. Nurma mengelus punggung Mutia. "Mulai sekarang kamu panggil aku Mama ya, Mut! Kamu itu sekarang udah jadi anakku. Ingat ya, jika Jendra berbuat ulah dan menyakitimu, kamu harus cerita sama Mama!" Mata Mutia berkaca-kaca, dia terharu dan merasa senang. "Terimakasih, Bu ... maaf, maksud saya Mama. Terimakasih karena sudah menjadikan saya anak. Terimakasih sudah menerima saya menjadi menantu Anda meskipun saya memiliki banyak kekurangan." Nurma memeluk Mutia dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tidak memiliki kekurangan apapun, Mutia. Mama yang beruntung memiliki menantu seperti kamu sekarang." Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Nurma segera melepaskan pelukannya. Dengan semangat dia berlari ke arah pintu dan Mutia mengekor di belakang. Mutia sudah mencoba menawarkan diri agar dia saja yang membuka pintu, tapi Nurma menolaknya. "Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga," ujar Nurma setelah membuka pintu. Mata Mutia membelalak, pasalnya yang datang adalah ibu pemilik yayasan tempat dia bekerja. Apalagi ibu pemilik agency perawat itu datang bersama dengan tiga wanita yang menggunakan seragam nanny. "Wah, Mutia benar-benar menjadi Mutiara sekarang. Dia semakin cantik dan bersinar deh. Duh, duh yang udah jadi Nyonya Kamandanu, istri Pak Pilot," sapa Tiffany, sang pemilik yayasan. Nurma mengangguk setuju. "Iya, dong. Menantu aku gitu loh." Wajah Mutia memerah karena malu. "Jangan begitu, Ibu. Saya masih Mutia yang dulu," jawabnya lalu mencium punggung tangan Tiffany. Tiffany menatap Nurma. "Ini, Jeng. Udah aku bawa calon nanny yang sepinter dan sehebat Mutia. Aku jamin, pekerjaan mereka enggak bakal mengecewakan kamu deh." Nurma menatap ketiga wanita yang dibawa Tiffany itu satu persatu, lalu menatap Mutia. "Sekarang biarkan Mutia aja deh yang memilih siapa yang layak merawat Mamaku, dia lebih tau kan dari pada aku." Mata Mutia membelalak karena terkejut dengan ucapan Nurma. "Maksud Ibu ... eh, Mama, saya enggak boleh merawat nenek lagi? Saya dipecat? Apa salah saya, Mah?" Hal itu membuat Nurma dan Tiffany kompak menertawakan kepolosan Mutia. Ketiga wanita berseragam nanny itupun sekuat tenaga menahan tawa mereka. "Ya jelas kamu dipecat, Mut. Kan, status kamu di sini udah berubah menjadi Nyonya. Masak iya kamu masih bekerja jadi perawat Nenek suami kamu sih," jelas Tiffany. "Tapi, saya tidak keberatan merawat Nenek Harni." Mutia menatap Nurma. "Mama tidak perlu seperti itu, saya masih ingin merawat Nenek Harni." Nurma menggeleng. "Enggak, Mut. Sekarang kamu harus fokus pada Jendra! Pokoknya, sekarang kamu pilih di antara mereka, siapa yang pantas mengantikan tugas kamu untuk menjaga Nenekmu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD