Bab 4. Jam Terbang Pilot

1301 Words
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Mutia berdiri dengan kepala tertunduk di depan ranjang tempat Jendra sudah berbaring sambil asik memainkan game di ponselnya. "Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Aku nggak suka lihat kamu lama-lama di dekat tempat tidurku," ucap Jendra dingin tanpa menatap ke arahnya. Mutia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. "I-iya, Mas. Saya tidur di bawah lagi saja." Tanpa menunggu jawaban, Mutia mengambil dua bed cover dan bantal kecil dari lemari, lalu menggelarnya di lantai, tepat di sudut kamar yang dingin. Dia duduk sebentar di atas selimut itu, memeluk lututnya sambil menarik napas dalam-dalam. Sementara itu, Jendra masih sibuk dengan ponselnya, dia sama sekali tak peduli dengan keberadaan istrinya yang tidur di lantai. "Matikan lampunya!" perintah Jendra dengan nada membentak. "Baik, Mas," jawab Mutia lirih sebelum berdiri dan mematikan lampu kamar, meninggalkan hanya cahaya kecil dari lampu tidur di pojok ruangan. Mutia kembali ke tempat tidurnya di lantai, membungkus tubuhnya dengan bed cover. Udara malam dengan AC maksimal terasa menusuk tulang. Rasa dingin di tubuh masih bisa dia tahan, tapi rasa dingin di hati terasa jauh lebih menyakitkan. Malam itu terasa sangat panjang. Mutiara mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya penuh dengan kata-kata kasar yang diucapkan Jendra. Hatinya kembali perih, dan tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi bantal kecil di bawah kepalanya. "Ya Allah, lembutkanlah hati Mas Rajendra padaku," batinnya dengan menahan Isakan tangisnya agar tidak terdengar. Hingga akhirnya, dalam tidurnya yang tak nyenyak, Mutia mulai mengigau. Suaranya kecil, namun cukup untuk terdengar di telinga Jendra yang tengah terlelap. "Ibu ... Bapak ... Mutiara kangen ... Jangan tinggalin Mutiara sendirian di sini ...." Jendra terbangun dengan wajah kesal. Dia langsung bangkit dan menyalakan lampu kamar. "Berisik banget sih kamu! Aku nggak bisa tidur nyaman gara-gara kamu pelayan kampungan!" bentaknya keras. Mutia langsung terbangun dengan tubuh gemetar. Matanya masih basah oleh air mata. Dia duduk bersila di atas bed cover, menunduk dalam-dalam. "Maaf, Mas ... maaf sudah mengganggu tidur Mas Rajendra," cicit Mutia dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar. Jendra mendengus kesal sambil mengusap wajahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia kembali berbaring di ranjang dan mematikan lampu kamar dengan kasar. Sementara di sudut ruangan, Mutia masih duduk dengan kepala tertunduk. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghimpitnya. Dia menggigit bibirnya untuk menahan suara tangis, meski air matanya terus mengalir. "Ya Allah ... kuatkan aku, kuatkan aku untuk bertahan di sini. Lembutkan hati Mas Rajendra," bisiknya pelan. Sementara di tempat tidurnya, Jendra memejamkan mata, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tidak nyaman. Bayangan wajah Mutia yang basah oleh air mata terus berputar di pikirannya. Untuk pertama kali, hatinya merasa sedikit bersalah. Tapi seperti biasa, egonya terlalu besar untuk membiarkan rasa bersalah itu tumbuh. "Dasar gadis kampungan! Berisik!" *** Paginya, wajah Mutia tampak pucat karena kurang tidur semalam. Setelah memandikan Harni, dia berjalan keluar sambil mendorong kursi roda yang diduduki Harni. Nurma, ibu mertua Mutia, duduk di ujung meja sambil menyeruput teh hangat. "Wah, Ibuku sudah cantik ternyata. Ayo-ayo kita sarapan,” ajaknya sambil tersenyum. Mutia tersenyum dan mengangguk sambil menatap Harni. “Nenek mau makan apa? Biar saya ambilkan.” Belum sempat Harni menjawab, langkah cepat Jendra terdengar memasuki ruang makan. Ponselnya menempel di telinga, dan wajahnya terlihat sangat sumringah. “Iya, Pak. Siap! Saya siap terbang nanti siang. Terima kasih atas kesempatan yang anda berikan,” ucap Rajendra sebelum menutup panggilan. Nurma menatap putranya dengan alis terangkat. “Ada apa, Jen? Kok pagi-pagi udah heboh sendiri?” Jendra meletakkan ponselnya di meja dan menarik kursi. “Jadwal terbang tambahan, Mah. Sekarang aku harus berangkat untuk bersiap-siap.” “Apa? Sekarang? Bukannya hari ini kamu seharusnya ngajak Mutia jalan-jalan? Kalian kan baru nikah!” protes Nurma meletakkan cangkir tehnya dengan cukup keras. Mutia menunduk, memainkan jari-jarinya, sementara Jendra mendesah pelan. “Partner pilotku sakit, Mah. Aku harus gantiin dia. Ini lebih penting.” “Alasan!” ujar Nurma tegas. “Kamu itu kerja terus. Nikah sama Mutia itu bukan cuma formalitas, Jen. Dia juga butuh perhatian!” “Bu, aku juga punya tanggung jawab sebagai pilot. Lagi pula ini perintah langsung atasanku, dan aku jelas nggak bisa nolak,” jawab Jendra datar. Nurma menghela napas panjang. “Ya sudah. Tapi, Mama udah enggak mau siapin koper kamu lagi karena kamu sudah punya istri. Jadi mulai hari ini dan seterusnya Mutia yang bakal ngurusin kamu. Sekarang, kamu jelasin ke dia barang-barang apa yang biasanya kamu bawa ketika dinas!” Jendra melirik ke arah Mutia dengan tatapan tajam. “Nggak usah, biar Mbak Sari aja deh kalau gitu.” “Nggak! Mutia istrimu, bukan Mbak Sari. Mulai sekarang dia yang akan siapin kebutuhanmu!” tegas Nurma dengan suara yang tak bisa dibantah. Nurma lalu menatap Mutiara. "Nggak apa-apa ya Mut, kamu harus belajar siapin keperluan suamimu." Mutiara buru-buru menjawab, “I-iya, Bu. Saya siap belajar.” “Bagus,” kata Nurma sambil berdiri. “Ayo, Mutia, ikut Mama, kita ke kamar Jendra!” Jendra mendesah pelan, tapi dia tidak berani membantah ibunya. "Sial, najis banget barang-barangku di pegang si gadis kampungan itu!" batinnya sambil mengengam tangan erat-erat. Setelah berada di kamar, Nurma dengan semangat membuka lemari pakaian Jendra dan mulai menunjuk beberapa pakaian. “Mutia, lihat baik-baik. Baju seragam pilot ada di sini. Kaus dalem, celana dalam, kaos kaki, dan juga perlengkapan lain di bagian ini.” "Baik, Ibu." Mutia memperhatikan dengan seksama, berusaha menghafal setiap detail yang ditunjukkan. Tangannya mulai memasukkan pakaian satu per satu ke dalam koper dengan hati-hati. “Biasanya Mas Rajendra suka bawa apa saja, Bu, selain baju seragam dan baju santai untuk tidur di hotel?” tanya Mutiara sambil menatap ibu mertuanya. “Dia biasanya bawa skincare, parfum, alat cukur, dan headset favoritnya," jawab Nurma menatap balik Mutia. "Baik, Bu. Biar saya yang ambil." Mutia bergegas mengambil barang-barang yang disebutkan, lalu meletakkannya dengan rapi di dalam koper. Dari pintu kamar, Jendra bersandar sambil melipat tangan di d**a. “Lama amat sih? Aku harus pergi sekarang!” Nurma menoleh tajam ke arah Jendra. “Sabar sedikit, Jen! Mutia kan baru pertama kali, wajar lah kalau agak lama.” Mutia menunduk lagi, merasa bersalah. “Maaf, Mas. Saya usahakan lebih cepat.” Jendra mendengus kecil. “Iya, iya. Cepat selesaikan saja!” Setelah koper hampir selesai diisi, Nurma menepuk bahu Mutia pelan. “Kamu sudah melakukan pekerjaan dengan baik, Nak. Nanti lama-lama kamu pasti lebih terbiasa.” “Terima kasih, Bu. Saya akan belajar lebih baik lagi,” jawab Mutia sambil tersenyum kecil. “Jen, lihat ini. Istrimu sudah berusaha maksimal. Hargai sedikit kerja kerasnya,” ujar Nurma sambil berjalan keluar kamar, meninggalkan mereka berdua. Kini hanya ada Mutia dan Jendra di dalam kamar. Gadis itu bergeser agar Jendra bisa meneliti barang-barangnya sebelum koper itu dia tutup. “Koper Mas Rajendra sudah siap. Apa ada barang yang kurang?” tanyanya dengan nada lembut dan tersenyum. Jendra menatap koper itu sekilas, lalu beralih menatap Mutia dengan tatapan dingin. “Lain kali jangan lama-lama. Aku nggak suka nunggu.” “I-iya, Mas ... maafkan aku, besok aku akan lebih cepat lagi,” jawab Mutia lirih. Jendra meraih kopernya dengan kasar dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Tetapi, di balik pintu, dia berhenti sejenak, melirik ke belakang dan melihat Mutiara yang berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Perasaan aneh kembali mengusik hati Jendra, tapi seperti biasa, dia menepisnya dan melangkah pergi. Sementara itu, Mutia memejamkan mata dan menarik napas panjang. “Aku akan terus berusaha jadi istri yang baik, Mas. Meskipun kamu nggak pernah melihatku.” Air mata jatuh perlahan di pipi, tapi Mutia buru-buru menghapusnya. "Semoga penerbanganmu lancar. Aamiin." Di luar kamar, Jendra sempat melirik lagi ke arah pintu. Entah kenapa, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa salah. Tapi lagi-lagi, ego pria itu yang lebih mendominasi. "Bodo amat! Aku nggak peduli sama gadis kampung itu," batin Jendra sambil melangkah pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD