...Walaupun maut merenggut nyawaku, kupastikan hantuku akan terus mengikutimu...
Fara memukul-mukul kepalan tangannya ke pinggiran ranjang sambil terisak-isak. Tubuhnya gemetar. Ketakutan yang dulu menghantuinya kembali hadir. Fara merasa ada sengatan tak kasat mata yang menghunjam ke jantungnya dan membuat bulu romanya merinding.
Beberapa bulan semenjak Fara 'melarikan diri', susah payah ia melupakan bayang-bayang kejadian tragis yang menimpanya akibat perbuatan seseorang yang saat itu masih disebutnya sebagai suami. Ia menyiksa dirinya sendiri dengan belajar hingga kelelahan dengan harapan saat ia tertidur, mimpi buruk itu tidak lagi muncul. Setiap hari, ia sampai memegangi ujung baju Sam yang menemaninya hingga terlelap sementara lelaki itu sibuk dengan laptopnya.
Setelah perjuangan berat melahirkan sang buah hati yang ia yakini sebagai pelipur lara, kembali pertahanannya runtuh. Wajah Andra yang tercetak jelas pada wajah anaknya membuatnya mengingat kembali kenangan buruk itu tanpa diminta. Walaupun luka di tubuhnya telah menghilang, tetapi luka di batinnya masih meninggalkan bekas yang saat ini berdarah kembali. Setelah menemui Andra untuk terakhir kalinya waktu itu, ternyata dirinya masih belum berdamai dengan perasaannya sendiri.
Kenapa kau terus menghantuiku, Alandra? Aku sudah berlari sejauh ini tapi bayangan kekejianmu masih saja mengikuti.
Fara tidak bisa memungkiri, rasa cinta yang mati-matian ia hapus itu, masih ada disana bertahta dengan angkuhnya. Ia merindukan Andra yang dulu selalu menghapus airmatanya. Ia merindukan kebersamaan mereka. Seharusnya saat ini mereka tengah berbahagia, menggendong buah hati yang dinantikan sejak lama.
Dulu, walaupun ada sandungan disana sini, Fara bahagia bersama Andra. Dan kebahagiaan itu juga lah yang membuat pengkhianatan dan kekejian Andra menyayat luka yang amat dalam dihatinya.
Fara terus menitikkan airmata putus asa.
***
"Ara, do you have a name?" Tanya Sam sewaktu ia kembali setelah menitipkan bayi Fara di ruangan bayi.
Fara diam saja. Tubuhnya tengah berbaring miring dengan mata merah menatap ke satu titik di dinding.
"Hmm, mereka perlu data untuk pembuatan dokumen. Kamu keberatan kalau aku yang memberinya nama?"
Tidak ada jawaban.
Sam mengepalkan tangannya melihat mata redup itu kembali menghiasi wajah Fara. Kosong. Seperti pertama kali ia menemukan adiknya tersiksa. Psikiater yang dihadirkan oleh pihak rumah sakit tidak banyak membantu karena Fara menolak untuk merespon.
Ia kemudian keluar untuk menemui petugas administrasi dan mengurus dokumen kelahiran si bayi.
"Astaga, Sam. Ini sih mirip banget sama ayahnya, pantas Fara histeris!" Seru Ian setelah Sam mengirim foto bayi Fara lewat w******p beberapa menit yang lalu.
"Gue harus gimana, dong?" Tanya Sam gelisah sambil mondar-mandir dengan suara lirih, takut menganggu kenyamanan beberapa keluarga pasien lain.
"Lo kasih support terus."
"Gue kasihan bayinya, belum minum susu."
"Fara nggak mau menyusui?"
"Lah, gimana mau menyusui, melihat anaknya saja nggak mau."
"Aduh! Lo bujuk kek atau apa. Biasanya kan dia selalu dengerin omongan lo."
"Kalau nggak mau juga?"
"Masih ada waktu. Bayi punya cadangan makanan sampai maksimal empat puluh delapan jam kedepan. Lagipula, kalau nggak ada ASI, bisa pakai s**u formula."
"Tapi kan ASI lebih bagus."
"Memang, tapi kalau kepepet gimana? Lo mau ponakan lo kelaparan?" Teriak Ian ketus.
Alamak! Kok begini amat nasib gue?
***
Sam kembali memasuki kamar Fara dengan perasaan gundah gulana. Ia tidak siap dengan kemungkinan seperti ini. Ia menyangka semua akan baik-baik saja setelah mimpi buruk Fara sudah jarang terjadi walaupun ia sering mendapati Fara gelisah dalam tidurnya.
Andai saja sang bunda masih ada, tentu ia tidak akan panik begini. Sesama perempuan, bundanya tentu paham cara menghadapi Fara. Mereka hanya tersisa tiga bersaudara. Al yang dihubungi dengan menyesal mengatakan tidak bisa cuti lagi berhubung masa kontrak kerjanya sudah hampir habis.
Sam menyeret langkahnya menuju ranjang perawatan Fara setelah meletakkan bayi mungil digendongannya terlebih dahulu dalam baby crib yang disediakan rumah sakit. Sementara ibunya terlihat masih berbaring miring dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya.
"Ara." Panggilnya kemudian menggenggam tangan Fara.
"Jangan begini, Ra. Aku bingung."
Fara menjawab lirih dengan menggumam tangisnya. "Aku takut, Sam."
"Takut kenapa?"
"Wajahnya mengingatkan aku sama kebiadaban ayahnya." Isak Fara.
"Tapi dosa ayahnya bukanlah kewajiban dia untuk menanggungnya, Ra."
"Kamu nggak tahu bagaimana rasanya, Sam. Sakit sekali."
"Aku memang nggak tahu rasanya. Tapi semuanya sudah berlalu. Nggak ada lagi yang akan nyakitin kamu. Perjalananmu sudah sejauh ini, bahkan ujian yang lebih berat sebelumnya bisa kamu lewati. Masa yang ini saja nggak bisa?
"Ikhlaskan, Ara. Kita memang tidak bisa merubah masa lalu, tetapi masa depan ada dalam genggaman kita. Mau seperti apa masa depan itu, kita yang menentukan pilihan. Jangan terus berlari, hadapi! Kamu nggak sendirian, ada aku."
Sam membungkuk dan memegang kedua pipi Fara dengan tangannya dan memaksa Fara menatap matanya dalam-dalam.
"Look at me in the eye, Ara. There's no one will ever hurt you as long as I am near. Keep that in mind."
Fara tergugu. Air matanya bercucuran.
"Do you trust me?"
Fara terdiam dan menggigit bibirnya. Pandangannya mencari kekuatan di dalam mata yang selalu berbinar jenaka tersebut.
"Ara, do you trust me?"
"Yes." Fara mengangguk lemah.
"Say it again, do you trust me?"
"I do, Sam."
Samudera tersenyum. "Good. Apa kamu mau ketemu Rafael?"
"Rafael?"
Fara menarik panjang dan menghembuskannya perlahan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berlarian.
Sam mengangguk. "Rafael ganteng banget loh, kayak aku."
Fara mencebik. "Iya, kamu ganteng kalau dilihat dari p****t botol!"
Sam terkikik mengacak rambut Fara.
Kemudian ia kembali membawa Rafael ke pangkuan Fara yang disambut penuh haru oleh wanita itu.
"Maaf, Sayang. Maaf!" Bisiknya lirih sambil mencium kening bayi laki-laki itu dalam deraian air mata.
Inilah akhirnya, pada setiap nestapa yang mendera, hadapi dengan kepala tegak dan jangan lagi kau lari. No one will hurt you as long as you don't let yourself get hurt.
***
Fara meringis ketika air kehidupan itu disesap dengan rakusnya oleh Rafael. Setelah peristiwa itu, Fara masih belum berani menatap bayinya lama-lama atau ia akan kembali merinding.
Layanan terhadap ibu-ibu melahirkan di sana benar-benar patut diacungi jempol. Selama seminggu, setiap hari seorang midwife akan datang ke apartemen untuk mengecek perkembangan bayi. Si bidan juga mengajari cara merawat bayinya mulai dari cara memandikan, menidurkan juga cara merangsang keluarnya ASI, mengajari cara menyusui agar bayinya dapat latch on dengan baik serta mengajak diskusi seputar persoalan yang dialami oleh Fara sebagai ibu baru.
Fara juga memerah dan menyiapkan stok ASI nya dalam freezer. Ia hanya punya jatah study leave satu bulan dan ia harus menyiapkan stok ASIP untuk Rafael saat mulai kuliah nanti.
Sam tidak pernah membiarkan Fara lelah. Pria itu mengambil semua tanggung jawab dengan senang hati. Ia membawa crib Rafael ke kamarnya dan hanya akan membangunkan Fara untuk menyusui bayinya saja hingga Fara dapat beristirahat dengan tenang.
Bel apartemen berbunyi.
Fara mengerinyitkan kening. Sam baru saja pergi berbelanja kebutuhan dapur, kenapa sekarang sudah kembali? Lagipula kakaknya punya keycard sendiri, apa Sam lupa membawanya? Fara juga tidak banyak bersosialisasi dengan tetangga atau teman-teman kuliahnya.
Ia meninggalkan Rafael yang tengah tertidur lalu membuka pintu dengan jantung berdebar lalu memekik.
***
Fara memekik kaget saat wanita setengah baya itu menubruk dan memeluknya erat.
"Mbok Nur?!"
"Non! Aduh, Mbok kangen!" Serunya heboh. Sementara di belakangnya Ian mengedipkan matanya.
"Hai!" Sapanya lalu memeluk Fara singkat. "Makin cantik aja."
"Apa, sih?" Fara tersipu malu dan mempersilahkan dua orang itu masuk.
"Kok Mbok Nur ada disini?" Bisik Fara pada Ian.
"Sengaja, biar kamu dan Sam nggak repot. Atau kamu udah ada babysitter?"
"Belum sih."
"Oh iya, ini ada titipan Mama dan Padre. Maaf, mereka belum bisa datang. Lagi ke Spanyol soalnya nenek kurang sehat." Ujar Ian panjang lebar sambil menyodorkan sebuah paperbag besar yang disambut sumringah oleh Fara.
"Wah, makasih, Ian." Ian tersenyum hangat.
Ian dan Mbok Nur dipersilahkan oleh Fara menuju crib Rafael yang tadi dibawa oleh Sam ke ruang tengah.
Mbok Nur yang memang sudah terlatih menangani bayi, segera menggendong Rafael yang merengek membuka matanya mendengar keributan.
Ian ikut menggendong bayi mungil itu dengan senyuman haru. "Ganteng banget ya Mbok, mirip aku."
"Hah? Mirip dari mana? Emang si bos ada nanam saham disini?" Celetuk Mbok Nur polos.
"Astaga Mbok, mulut itu tolong ya!" Muka Ian merah padam. Fara cekikikan melihat interaksi majikan dan asistennya yang kocak itu.
Tidak lama kemudian Sam datang dan langsung akrab dengan Mbok Nur yang cerewet.
Fara mempersilahkan Mbok Nur membongkar kopernya dan menaruh baju-bajunya di lemari yang masih kosong. Mbok Nur menempati kamar Fara berhubung apartemennya hanya dua kamar yang satunya dipakai oleh Sam.
***
"Sam, gue nginap disini ya." Pinta Ian setelah hari menunjukkan pukul sebelas malam. Cuaca sudah dingin hingga Sam menyalakan pemanas ruangan.
"Duit lo kan banyak, nginap di hotel kek!" Jawab Sam sambil mendelik ke arah Ian.
"Kalau ada yang gratis, kenapa mesti bayar?"
"Dasar pelit."
"Tapi..." Ian memandangnya ragu sejenak. Bayangan Sam mencium pipinya terakhir kali di bandara membuatnya bergidik.
"Apa?" Tanya Sam penasaran.
"Lo bukan gay, kan?"
Plak!
"Haduhh!!"