Part 7

1032 Words

“Lia... Kenapa kamu menangis?” Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, aku malu sekaligus terharu, malu karena sudah menangis di hadapan nya, pasti ia makin ilfeel padaku dan membatalkan untuk menikahiku, dan terharu ternyata impian yang kuanggap terlalu tinggi akhirnya tercapai begitu mudah, nikmat tuhan manakah yang engkau dustakan? Kalau aku tidak memiliki urat malu pasti aku langsung sujud syukur di sini, di hadapan Pak Bara, namun aku masih punya malu untuk tidak mengungkapkan rasa senang di hati yang terlalu berlebihan. “Jadi, kamu menolak lamaran saya, ya...?” Kepalaku menggeleng cepat, kedua telapak tanganku yang semula menutupi wajahku langsung merosot. Mataku melirik tangan nya yang menutup kotak beludru berwarna merah kedalam saku celana nya lagi, wajahnya kembali t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD