Mayang Belum Mau Jujur

1646 Words
##Bab 9 Mayang Belum Jujur Aku panik ketika melihat darah di hidung Mayang, dan wajahnya pun terlihat pucat. Astaga, apa yang harus kuperbuat saat ini? Kuinjak gas mobil dengan kecepatan tinggi, dan melaju sekencang-kencangnya tanpa memikirkan kendaraan yang melintas. Mayang, istriku, ia kenapa? Ada apa dengan tubuhnya? Apakah ada penyakit serius yang ia derita? Setelah mencari rumah sakit terdekat dari rumah ibu, akhirnya kumenemukan sebuah rumah sakit besar hanya dalam waktu sepuluh menit. Kuparkirkan mobil di depan ruang UGD persis, dan petugas beserta team medis segera membawa Mayang ke ruang gawat darurat. Ada perasaan cemas dan tegang di d**a ini. Lalu kupinta petugas untuk memarkirkan mobil ke halaman parkir. “Mas, tolong parkirkan mobil saya, ini kuncinya! Ditunggu di depan UGD, ya!” suruhku. Kemudian, ia pun mengangguk tanpa basa-basi, dan bergegas pergi membawa mobilku. Aku lihat jam yang melingkar di tanganku ini. Sudah pukul dua siang, seharusnya aku berada di kantor lagi. Namun, kejadian ini tak memungkinkan itu terjadi. Aku raih ponsel yang berada di saku celana, lalu menghubungi Pak Wijaya untuk izin padanya. “Halo, Pak,” ucapku dengan suara tersengal-sengal. Kepanikan kala melihat istri pingsan mengingat kembali ketika ia hendak melahirkan dulu. “Iya, kenapa? Sudah selesai masalahnya?” tanya Pak Wijaya. “Sudah, Pak. Tapi ....” putusku. “Tapi apa?” tanyanya penasaran. “Pak, saya izin tidak kembali ke kantor siang ini, Mayang pingsan,” jawabku dengan nada pelan. Tangan menggenggam ponsel dengan d**a yang gemetar kencang. “Astaga, ada apa dengan Mayang? Ya sudah, kamu urus dulu kesehatan istrimu!” serunya ikutan panik. “Baik, Pak. Terima kasih banyak,” sahutku kemudian telepon pun aku matikan. Ketika panik melanda, maka semua akan terlupakan, termasuk memberikan kabar pada orang tua Mayang. Mereka pasti cemas jika diberi tahu keadaan Mayang saat ini, dan pastinya akan menanyakan penyebabnya. Hal ini benar-benar membuatku ragu untuk menghubungi orang tuanya. Sebaiknya aku menunggu kabar dari dokter yang menangani Mayang saja, jika diizinkan Mayang untuk memberikan informasi ini, maka aku akan menghubungi orang tuanya. Kecemasan semakin meningkat ketika sudah hampir lima belas menit, dokter yang berada di dalam ruang tindakan pun belum keluar. Aku hentakan kaki ke depan dan ke belakang, mondar mandir seperti ketika menunggu Mayang melahirkan Arya dua tahun lalu. Setelah menunggu hampir dua puluh menit, akhirnya dokter keluar dari ruangan tindakan. “Bagaimana, Dok?” tanyaku ketika ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu. “Bapak suaminya?” tanya dokter berseragam putih itu sambil mengeluarkan tangannya dari kantong. “Iya, Pak. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?” tanyaku lagi. “Perlu pemeriksaan lebih dalam jika ingin tahu ada apa dengan istri Bapak, untuk saat ini, silahkan Bapak menemui istrinya yang sudah mulai siuman dari pingsan,” jawab dokter yang kulihat pada papa nama yang berada di seragamnya, Dokter Putra Adithia. “Saya tanyakan istri dulu, Dok. Tapi untuk saat ini, ia baik-baik saja, kan Dok?” tanyaku lagi. “Belum tahu, jika belum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ini belum ketahuan penyakitnya. Tadi sih bicara sebentar dengan istri Anda, katanya hanya memiliki penyakit anemia saja,” terang dokter. “Kalau anemia memang ia sering, Dok.” “Perlu diperiksa lebih lanjut, Pak. Khawatir anemia yang ia derita dikarenakan penyakit kronis,” ujar Dokter Putra. Seketika aku pun takut, jangan sampai ucapan dokter itu menjadi kenyataan. “Baik, Dok. Kalau begitu terima kasih banyak, saya masuk ke dalam dulu,” pamitku. Aku melangkahkan kaki ini dengan gemetar, menemui bidadari yang telah lama menyimpan kepedihan sendirian. Kubuka daun pintu yang bercatkan putih, lalu masuk ke dalam ruangan yang berisikan beberapa pasien gawat darurat. “Hai, Sayang! Aku mencemaskanmu,” bisikku ketika di dekatnya. Kupeluk sambil mengecup kening wanita yang memiliki lesung pipi di sebelah kanan. “Mas, pulang, yuk! Aku baik-baik saja, hanya kelelahan berdiri dan agak kepanasan tadi di depan mobil,” ajak Mayang, mataku menyipit menyorot wajahnya yang sedikit pucat. “Kamu pucat, apa tidak sebaiknya di sini dulu, istirahat,” usulku agar ia mau memeriksakan kondisinya lebih lanjut. “Nggak, Mas. Aku mau pulang, kasihan Arya,” jawab Mayang. “Ya sudah, kita pulang tapi ada syaratnya,” ucapku membuat kedua alis Mayang ditautkan. Ia tampak keheranan dengan ucapanku yang memberikan syarat padanya. “Syarat apa?” tanya Mayang. “Kita ke Rumah Sakit Maya Bakti, tempat kamu memeriksakan kesehatan,” Sindirku dengan sengaja. Ya, aku teringat betul dengan ucapan pihak asuransi, bahwa Mayang pagi-pagi tadi kontrol ke rumah sakit tersebut. Namun, seperti biasa, Mayang mengelak. “Mas, aku baik-baik saja, kamu utang janji padaku, katanya mau buatku bahagia, minta pulang ke rumah saja tidak menurutinya,” celetuknya dengan wajah cemberut. Akhirnya aku pun terpaksa mengindahkan ucapannya. “Sus, saya mau pulang, tolong lepaskan infus ini,” suruh Mayang. “Tapi Bu, Dokter belum memberikan izin,” cetus suster. “Sus, saya minta dilepaskan, saya mau pulang!” suruhnya berkali-kali. Suster menoleh ke arahku, kemudian aku mengangguk. Akhirnya ia pun menuruti kata-kata Mayang. Aku hanya mampu menghela napas, kali ini aku kalah dengannya. Ia begitu gagah untuk bertemu dengan Arya di rumah. “Baik, kalau begitu, Bu,” ujar suster. Setelah urus administrasi dan pembayaran obat di kasir, kami pun bergegas pulang, tanpa memberikan informasi lagi pada dokter yang menanganinya tadi. Biarlah, yang terpenting urusan administrasi sudah selesai. Kutuntun tiap langkah Mayang hingga ke parkiran mobil, dan melayaninya bak putri raja. Rasa bersalah padanya membuatku ingin selalu ada untuknya. Kemudian, kami melaju ke arah rumah. Niat untuk mencari informasi mengenai kontrolnya Mayang ke Rumah Sakit Maya Bakti pun aku urungkan untuk sementara. Kupegang gagang setir sambil melirik ke arah istriku yang sedang bersandar di kursi mobil. Wajahnya memang berbeda, ia tampak pucat dan lemas. Apa mungkin ini efek dari kegiatannya selama dua tahun belakangan? Yang berusaha mencari uang untuk membayarkan utang. Namun, ada yang tiba-tiba terlintas di pikiranku. Bukankah utang yang dibayar pada Rika hanya 1.500.000 rupiah? Lalu ia ngojek uangnya dipergunakan untuk apa? Sebaiknya nanti di rumah aku hubungi pihak asuransi lagi, atau pihak rumah sakit sekalian. Jarak rumah sakit dan rumahku cukup jauh, jadi memakan waktu lama. Namun, kulihat mata Mayang tertutup, sepertinya ia tertidur pulas. “Mayang, kamu tidur?” tanyaku mencoba membangunkan. Akan tetapi d**a ini mulai berdetak kencang, khawatir ia bukan tidur. “Mayang, kamu tidur, Sayang?” tanyaku sekali lagi. Kali ini tangan kiri berusaha menyentuh pipinya, agar ia terkejut dengan colekanku. Sepertinya ia tidak tidur, aku harus mengecek napasnya. Kupegang bagian lubang hidung, tapi masih ada napas yang berhembus. Aku tak membuang waktu lagi, gas mobil kuinjak dengan kencang, dan segera menuju ke Rumah Sakit Maya Bakti. Kali ini aku yakin Mayang bukan sakit biasa. Sambil melaju kencang ku coba pegang tubuh Mayang. Astaga, dingin sekali tubuhnya. Kemudian, aku menepi untuk memeriksa denyut nadi Mayang. Setelah itu, kupegang tangan sebelah kanannya, dan dengan uraian air mata, aku pun teriak. “Mayang!” “Mas, awas!” teriak Mayang seketika mengejutkanku. Hampir saja mobil yang aku kendarai menabrak portal jalan. Ternyata aku hanya melamun, rasa cemas dan takut kehilangan Mayang membuatku membayangkan yang negatif. “Mas, kamu kenapa sih? Yang fokus kalau nyupir,” celetuk Mayang menatapku lirih. “Maaf, Sayang. Aku melamun,” jawabku sambil menyalakan mesin mobil kembali. “Jangan ngebut kalau melamun, pelan yang penting sampai rumah dengan selamat,” pesan Mayang. Kemudian, aku pun mengangguk dan sedikit melirik ke arahnya. Ia baik-baik saja, kini aku yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan Mayang. Lamunanku membuat waktu terasa cepat, rumah yang sudah terlihat dari kejauhan membuatku semakin yakin bahwa ini hanyalah kecemasan yang berlebihan. Jadi, kuurungkan niat untuk mencari tahu, kenapa Mayang tadi ke rumah sakit. Setelah kuparkirkan mobil, ternyata sudah ada ibu di rumah. Rasanya enggan sekali bertemu dengannya saat ini. Kebohongan yang telah ia simpan dua tahun ini, membuatku tak ingin bertemu bahkan bicara dengannya untuk saat ini. “Mayang, kamu baik-baik saja?” tanya ibu ketika kami baru saja tiba. “Aku baik-baik saja, Bu,” jawab Mayang. “Ibu antar ke kamar, ya!” pintanya sambil mencoba menuntun tangan Mayang. “Tidak perlu, Bu!” Aku menepisnya, kemudian kutuntun sendiri Mayang ke kamar. “Ardan, Ibu bisa jelaskan!” lirihnya memohon. Ia seperti mencari cara merayuku, untuk apa? Pastinya agar ia tidak lagi kehilangan mata pencahariannya. Aku sadar itu, ibuku hanya memanfaatkan uangku saja. Ia tidak berusaha menyayangi orang yang aku sayang juga, yaitu Mayang. “Bu, Mayang harus istirahat, lebih baik Ibu pulang!” tekanku. “Mas, jangan begitu!” rayu Mayang. Ia belum mengetahui bahwa ini memang cara ibu untuk menggerogoti uangnya. Mayang belum mengetahui bahwa ibu melakukan ini karena kesal padanya. Membenci proses persalinannya hanya alasan yang kebetulan menjadikan ladang uang untuk ibu. Tadi ia belum sempat mendengar rekaman ketika Rika dan ibu bicara. Jadi wajar, jika ia masih saja membelanya Kemudian, kulihat ibu pulang sembari menghentakkan kakinya dengan keras. Ia terlihat tidak menyesali apa yang ia lakukan. Wajahnya terlihat biasa saja dengan yang telah ia perbuat dua tahun belakangan. Aku meminta Mbok Ani untuk mengambilkan makan, lalu aku menyuapi istriku itu dengan telaten. “Mas, aku mau tidur dulu,” ucap Mayang. Makanan yang di piring baru termakan beberapa suap, ia sudah ingin tidur. Aku pun meletakkan kembali piringnya. Kemudian mendampingi Mayang hingga aku pun ikut tertidur. Setelah ketiduran sekitar setengah jam, aku terbangun karena mendengar dering suara telepon. Sepertinya ponsel Mayang yang bunyi. Aku cari keberadaannya dan ternyata masih di dalam tas. Ketika hendak kuangkat telepon yang tertera di layar kaca ponsel, tapi telepon tersebut mati. Entahlah, siapa yang menghubunginya itu. Nomer yang tertera tidak ada namanya. Kumasukkan kembali ke dalam tas, agar ketika ia bangun tidak mencari ke mana-mana. Kemudian, kulihat secarik kertas berada di dalam tas Mayang. Kutautkan kedua alis hingga menyatu, kemudian mengeluarkan kertas tersebut perlahan dari tas milik Mayang. Kubuka kertas yang dilipat menjadi empat bagian, dan segera k****a dari atas hingga bawah. Tulisan atas menunjukkan logo Rumah Sakit Maya Bakti. Kemudian, k****a kembali isi surat tersebut dengan mata sedikit menyipit. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD