setelah kemarin hari yang cukup melelahkan, dengan segala kerempongan untuk persiapan, kini hari itu sudah tiba, hari di mana aku telah memutuskan untuk menerima status baru untuk kehidupan selanjutnya ke depan.
semalam mamah sudah menyuruhku agar tidur lebih awal, tapi entah kenapa mata ini sulit sekali untuk ku pejamkan, rasa gugup, rasa takut, bercampur dengan rasa penasaran melebur jadi satu, menjadi rasa yang membuatku berdebar2 begitu hebat, entah pukul berapa aku tertidur. seperti baru berapa detik mata ini terlelap aku sudah di kagetkan dengan ketukan pintu, yang teramat berisik.
tok,,, tok,, tok,,, tok,,, tok,,,,
" ya alloh siapa si, ngga tau apa orang baru bangung tidur. ya sebentar!" grutuku sembari beranjak dari tidurku, menuruni ranjang lalu bergegas membuka pintu.
saat pintu terbuka, langsung memperlihatkan wajah mamahku sudah cantik dengan baju yang sidah rapi.
" lah jam berapa si mah, udah rapi aja"
" ish, ini calon pengantin bagaimana si udah jam 5:00, waktu subuh uda hampir habis, MUA udah pada dateng lah kamu malah belum siap"
omelan mama yang seketika membuatku tersentak dan melebarkan mata melihat kearah jam dinding di kamarku.
" ya alloh, iya loh udah jam lima" keluhku sembari menepuk jidatku." perasaan baru merem bentar banget loh"
" udah sekarang mandi trus solat dulu, jangan lupa kalo udah batal nanti wudhu lagi sebelum di makeup"
" siap komandan" jawabku seraya mengedipkan sebelah mataku pada wanita yg amat ku cintai itu.
kemudian aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan melaksanakan solat subuh. seperti perintah mama sebelum aku mempersilahkan MUA masuk aku kembali berwudhu, entah untuk apa gunanyapun aku tak tau karna waktu sepertinya tak memberikan aku kesempatan bahkan untu sekedar bertanya.
begitu cepat waktu berlalu sekarang jam sudah menunjukan pukul 6:30, aku masih dalam proses make up, sedangkan rombongan mempelai pria terdengar sudah tiba. jantungku yang sedari tadi sudah berpacu tidak normal, kini jadi semakin tambah tidak normal, aku begitu gugup, tanganku bahkan terasa dingin dan gemetar.
" mbak ngantuk ya?"
pertanyaan MUA yang mengagetkanku dari segala fikiran yang sedang berkeliaran di otakku.
" sedikit mbak, jawabku asal"
adik dan mamaku sudah selesai di make up kini jam sudah menunjukan pukul 7:00 setelah pra- acara yang entah apa saja, kini sudah tiba saatnya acara inti yaitu ijab kabul. meski aku belum keluar dari kamarku aku mencoba untuk tidak melewatkan momen sakral ini.
"ya Askari baihaqi ibnu kiyai haji ahmmad abizar, angkahtuka wamahtubataka Gendis Farafiba devina binta Ahmad Nawawi, mewakili bimahril homsun niatin waminhunnahu rupiatin halaaaalan" itu adalah kalimat penghulu yang tertangkap oleh indra pendengaranku. tapi entah kenapa aku belum mendengar ucapan dari mempelai prianya aku sudah mendengar kata "SAH" yang di ungkapkan serempak bbahkan oleh MUAku dan para asistennya.
"cie udah sah jadi istri, selamat ya mba" ungkap salah satu dari mereka yg ku angguki dengan senyumanku." terimakasih"
" yuk, saatnya keluar. MUA itu menuntunku untuk berjalan keluar, sementara di depa pintu adik serta mamahku sudah menunggu di sana.
mamahku langsung menghambur kepelukanku dengan isakan harunya yang membuatku hampir juga ingin ikut menangis." mashaalloh anak mamah, kamu cantik sekali sayang, selamat ya nak, sekarang kaka sudah berstatus ostri orang"
" terimakasih mah, terimakasih untuk segala cinta dan kasih sayangnya selama ini"
" stttt, udah jangan sampai kamu ikut menangis, yuk kita turun" akupun menuruni tangga di apit oleh adik serta mamahku, seluruh tamu undangan yang hadir tidak melepaskan pandangan mereka dariku, aku menuju pelaminan, di mana penghulu, para saksi, papah dan juga pria yang sekarang sudah bergelar menjadi sumiku itu duduk, aku di arahkan duduk di sebelah mas Askari. tampak bulir bening mengalir di pipi suamiku itu, entah apakah perasaannya begitu bahagia atau sebaliknyapun aku tak tau.
" monggo mas di bacakan doa dulu istrinya"
mas askari lalu menoleh menghadapku meletakkan tangan kanannya di pucuk kepalaku lalu beliau merapalkan doa
"Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.” akupun menunduk serta menengadahkan kedua tanganku dan mengaminkan yang beliau doakan, setelah selesai dia mengecup puncak kepalaku.
deg,,, jantungkuuuuuu, rasanya aku ingin menjerit saat itu juga, ah ini terlalu mengagetkan untukku.
" nduk" ucapan syeh yang sudah menjadi saksi pernikahanku membuyarkan lamunanku.
" njih" akupun segera menoleh dan memperbaiki ekspresi wajahku yang sudah ku pastikan sudah seperti udang rebus.
" cium tangan suamimu" titahnya yang ku angguki dan segera aku berpaling dan meraih tangan kanan suamiku dan menciumnya takzim.
mashaalloh aroma apa ini, aroma maskulin seorang pria yg begitu amat memabukan indra penciumanku.
"ish, ndis gendis sadar bodoh, belum waktunya," hatiku bermonolog tak terima dengan reflek tubuhku yang begitu menyebalkan.
suara riuh tepuk tangan dari semua keluarga dan tamu undangan yang datang membuat kami tersenyum secara bersamaan.
acarapun berlanjut ke resepsi, di mana aku sudah berganti dari kebaya akadku menjadi gaun nan indah, aku baru sadar meski terkesan mendadak ini tidak seperti pernikahan dadakan, anggota keluarga yang hadir dan tamu undangan yang datang bisa di bilang cukup banyak, dua grup solawat dari naungan mas Askari sendiri dan grup solawat dari majelisku. mengingat grup hadroh majelisku, aku mengingat seseorang.
"mas arif, apakah dia juga datang?" aku mengedarkan netraku pada dua majelis bersolawat yang mengiringi ceramah dari habib besar yang ku kenal. ya kemudian netraku menangkap sosok itu, sosok yang ku kenal sangat ceria dan begitu antusias dalam setiap acara yang kami isi, kini menampilkan ekspresi yang berbeda, tak ada senyum sedikitpun di bbirnya itu, atau ini hanya perasaanku saja.
***
hari yang cukup melelahkan khususnya untukku dan juga istriku, istri ah ya aku baru saja melangsungkan akad dengan wanita pilihan hatiku, acara bahkan belum selesai, guru besar kami habib syekh, masih menyampaikan tausiahnya. ku lirik istriku yang sudah terlihat amat lelah, seharian berdiri menyalami tamu undangan, dan mengikuti prosesi acara sakral kami ini.
" dek" ku genggam jemari lentiknya. dia yang sedang fokus menyimak ceramah yang di iringi dengan gema solawatpun reflek menoleh.
" iya mas, kenapa" terdengar ada nada gugup di setiap kata yang terucap dari bibirnya.
"cape ngga?" ku eratkan genggamanku. senyum tak bisa beranjak dari bibirku sepanjang acara, aku tidak tau caraku untuk bersyukur lebih untuk anugrah tuhan yang satu ini.
" lumayan" jawabnya seraya tersenyum simpul padaku, memperlihatkan dimple di pipi sebelah kanan dan di ujung bibir sebelak kiri, subhanalloh, betapa indah ciptaan tuhan yang satu ini.
" nanti kalau ceramah sudah selesai, adek istirahat saja. hari juga sudah malam, tamu yang masih ada nanti biar mas yang urus"
" apa tidak apa2 begitu?"
"insyaalloh, tidak papa syang. mereka juga pasti tau kita lelah"
wanitaku kemudian mengannguk dengan senyum yang kembali mengembang, membuat jemari ini enggan untuk melepaskan tautannya.