sepanjang perjalanan mbak nur tak henti mengajakku mengobrol, dari hal2 kecil yang sesekali membuat kami tertwa lecil. sedang mas aji fekus menyetir sementara gus askari lebih anteng jadi pendengar.
"ndis sekarang lagi sibuk apa nih, kegiatannya"
" seperti biasa mbak, mengisi solawat di pengajian akbar"
"oh ya, kamu kan salah satu vokalis favorit majelis solawat as-salafiah ya, siapa si pimpinannya"
"tidak vaforit juga si mba, pimpinan mas arif muslim mba"
" ish, kamu tu suka merendah ya. eh tapi gimana kelanjutan karirmu nanti setelah menikah? apa kamu sudah fikirkan?"
" emmmmm, gendis belum tau mbak" tuturku jujur padanya.
" selama itu baik, dan bisa saya pantau saya akan tetap izinkan adek berkarir, di jalan alloh bersama saya tentunya".
deg... jantungku terasa berhenti sejenak, itu bukan suara mas aji, apalagi mba nur, itu suaranya gus askari, yang sejak tadi hanya diam menyimak.
mbak nur kemudian menyenggol lenganku" ndis, sudah dapat petunjuk tuh dari suami, eh baru calon ding ya, aku sampe lupa" mbak nur meledekku di iringi kekehan kecil darinya dengan mas aji.
"jangan di ledek terus yang, nanti nangis loh anak orang" kini mas aji yang sedari tadi heningpun ikut menimpali saja.
"jadi gimana nih ndis?" tanya mbak nur lagi.
" nanti akan gendis fikirkan mba" jawabku.
entah karna tidak ingin aku merasa canggung atau memang mbak nur benar penasaran dia terus saja menanyakan banyak hal padaku.
****
prof askari.
perjalanan kami menuju tempat fiting yang lumayan jauh dan memakan waktu karna macet, menjadi tidak terasa. untuk pertama kali kami berada di dalam satu mobil yang sama, ya dia gendisku, calon istriku. entah dia sadar atau tidak dengan obrolannya dengan kakak perempuanku tapi seluruh perbincangannya amatlah cukup mewakili berbagai hal yang ingin ku ketahui tentangnya. perlu di akui jiwa makcomblang kakaku itu memang paling sip. entah perasaan macam apa yang sekarang aku rasakan, tapi sudut bibir ini tak henti2nya terangkat ketika mendengar cerita dari dua wanita yang duduk di belakangku itu, sesekali terdengar tawa kecil dari keduanya yang semakin menambah debaran di d**a ini kian tak terkendali.
" alhamdulillah kita sudah sampai" suara mas aji menyedarkanku dari fikiran yang sedang jauh berkelana.
" alhamdulillah" jawabku juga.
"yuk kita turun" ajak mbak nur pada gendis yang di balas dengan anggukan kecil dan sedikit senyum oleh gadis itu.
"duluan mbak ibuknya udah tau ko kita kesini hari ini, nanti aku nyusul" terangku yang di angguki oleh kakak perempuanku itu.
setelah dua wanita itu turun aku bergegas mencari sesuatu yang biasanya ku selipkan di belakang kursi kemudi. karna biasanya aku adalah penumpang setia di belakang pak sopir.
"cari apa toh qi" tanya mas aji padaku.
" mencari minyak kayu putihku mas, kepalaku sedikit pusing mungkin karna kurang tidur" jawabku jujur.
" eyalah, calon pengantin ko mumet ki piye to?" ledek mas aji padaku.
" semua serba cepat, tapi aku tetap tidak ingin mengecewakannya. dan memberikan segala persiapan yang terbaik, jadi ya mau ngga mau harus kerja rodi hee" jawabku sembari mengoleskan pinyak kayu putih pada pelipisku.
"iya tapi kesehatan tetap nomer satu, nanti kalo segala persiapan perfect dan sempurna tapi mempelai prianya tumbang ya malah ngga jadi bahagia" timpal mas aji lagi yang di iringi dengan kekehan meledekku.
" iya ya mas, ya sudah ayo kita turun. kasian para pidadari kita sudah menunggu"
kami berduapun turun dan menyusul kedua wanita kami yang sudah sibuk memilah dan memilih gaunnya.
***
aku yang tidak punya gambaran ingin gaun pernikahan seperti apa juga sekarang harus mengikuti alur dari takdirku untuk menentukan pilihanku hari ini.
" sudah dapat pilihannya dek?"
suara yang tak asing bagiku, yang satu patah katanya saja sudah mampu membuat tubuh ini menegang sumpurna, aku yng suka peci**lan tiba2 di buat terus tertunduk, dan ludah yang biasanya lancar jaya berceloteh riapun kini mendadak kelu.
" belum gus" jawabku asal karna sepertinya pertanyaan itu di tujuksn untukku.
" hla ko gus si manggilnya neng?" itu suara mas aji yg berdiri tepat di belakang gus askari.
"mungkin belum terbiasa mas, nanti juga kalo sudah sah punya panggilan sayang seperti kita" mbak nur yang menjawab di sertai kekehan kecil drinys.
" tidak apa2 dalam proses pengenalan, tapi alangkah baik jika di biasakan sejak dini panggil mas saja, atau adek punya panggilan yang lain mas juga tidak keberatan, asal jangan panggil gus saja ya dek. nanti kita bisa di kira murid dan guru" suara merdu itu berdialog cukup panjang, paling panjang selama kami mengenal satu sama lain. kekehan2 kecil yang mengiringi setiap katanya sungguh membuat jiwa ini terhipnotis, ada rasa malu, ada rasa gugup dan juga ada rasa penasaran yang ingin terus dekat dan mendengar setiap tutur katanya
" iya mas" jawabku singkat tapi mampu membuat mas aji dan mba nur tertawa girang.
" ih gemes banget si calon pengantin, masih malu2 gimana gitu ya mas" ledeknya pada kami.
" jadi inget kita dulu kan sayang"
" iya bener, udah yuk lanjut lagi, hari udah semakin siang nih sebentar lagi ddzuhur"
kamipun melanjutkan aktifitas kami memilih baju pengantin. setelah selesai dengan kegiatan kami memilih baju, kami mempir ke resto untuk makan siang sekaligus solat dzuhur, setelah itu kamipun beranjak pulang kerumah, mengingat perjalanan kami yang cukup memakan waktu jadi kami segera bergegas.