40~Terbenamnya Matahari

232 Words
Saat matahari telah terbenam beberapa jam yang lalu, Amorist sudah kehilangan penglihatannya bersama jantungnya yang menebar begitu kuat rasa sakit pada dirinya. Amorist berusaha menahan desakan sakit yang begitu menyiksa dirinya dengan memegang erat kedu jantung miliknya hingga, ia harus berlutut di bawah karpet mengekspresikan dera yang di rasakan oleh dirinya. Jantungnya Ini terasa membunuhnya sekarang yang tidak benar - benar akan membawanya dalam kematian. Ia hanya berputar terus menerus pada rasa sakit tersebut tanpa adanya akhir. Manik merah miliknya semakin memerah bersama mulutnya yang mengeluarkan rintihan - rintihan sakit yang berusaha di redam olehnya. “Apa yang kau lakukan. Pergilah.” Ucap Amorist dengan berusaha menahan deru sakit pada dadanya, terus menunduk membiarkan Crius yang berdiri di ujung ruangan menatapnya dalam kegelapan. Lagipula adiknya itu tidak dapat melakukan apapun yang dapat memanilitsir rasa sakit tersebut, Crius hanya dapat membantunya jika ia memberikan izin untuk mengambil darah Hemera sekarang. Sayangnya petuah darinya sudah di keluarkan oleh Amorist sendiri, ia lebih memilih menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya di bandingkan mengorbankan gadis manusia tersebut. “Kau hanya akan terus menahannya.” Gumam Crius menatap pada tubuh Amorist yang bergematar ketakutan di atas karpet berbulu. Crius semakin mencengkram dadanya saat rasa panas dan tusukan yang di rasakannya semakin menyebar membuatnya harus lebih berusaha untuk memanilitsir rasa sakit karena jantungnya sendiri. Ia tidak berdaya. “Kau tau itu. Pergilah. Aku tidak ingin kau disini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD