10~Kepingan Kecil

3391 Words
Amorist pada awalnya hanya ingin melihat keberadaan Hemera saja secara diam - diam sekaligus keluar untuk mengepakan sayapnya kembali setelah beberapa lama tidak lagi di keluarkannya. Mengingat beberapa tahun belakangan ini ia hanya sibuk berdiam diri di dalam kastilnya, terus menunggu para gadis manusia di tuturunkan untuknya. Setelah merasa cukup dengan mengagetakan gadis manusia tersebut ia lebih memilih untuk sedikit berkeliling lagi. Kembali memberikan waktu untuk dirinya menikmati pemandangan dari negeri Keaton miliknya. Amorist bukannya lebih memilih untuk melihat daerah sekitar Viula setelah sekian lama tidak pernah memperhatikan daerah yang di gunakan untuk melakukan perdagangan, secara tidak langsung daerah yang di sebut Viula itu adalah tempat pusat kota untuk mencari kebutuhan disana atau lebih dikenal pusat perbelanjaan. Seperti, ramuan - ramuan ajaib, tanaman berbahaya, senjata, bahkan makananpun disana ada layaknya tempat perbelanjaan lengkap. Namun dirinya justru lebih memilih arah yang saling bertolak belakang dari tempat pusat yang ramai di negeri Keaton tersebut. Dirinya tiba - tiba saja teringat akan suatu tempat yang lama tidak di kunjunginya lagi sejak terakhir kali dirinya mendapatkan kutukan di sana. Tempat berasalnya kutukan itu datang. Tidak butuh lama baginya agar dapat sampai di tempat yang di tujunya menggunakan sayap yang mengepak pada punggungnya itu dan mendarat dengan begitu sempurna di atas tanah. Tepat di depannya terdapat rimbunan pohon yang lebat sehingga terlihat begitu jelas bahwa saat dirinya masuk kedalam maka tidak akan ada lagi penerangan dari tempat itu. Hanya ada kegelapan yang begitu pekat menyelimuti dirinya disana, padahal satu langkah dari tempatnya berdiri masih di sinari oleh matahari yang begitu cerah. Sayangnya Amorist yang berasal dari klan Demon tidak mempedulikan hal terkait kegelapan, di saat ia sendiri merupakan lahirnya kegelapan. Dimana saat gelap mulai menyelimuti dirinya ia masih saja terus berjalan mengikuti langkah kakinya dan hanya menggunakan penglihatan dari mata iblisnya saja. Manik merah darah itu justru bersinar di dalam gelap gulita dengan begitu indah seolah memadukan dirinya dan sang kegelapan memang lah cocok. Tidak ada yang menghalangi langkah dari Amorist hingga ia mencapai sebuah gerbang yang telah di penuhi oleh berbagai lumut dan tumbuhan yang berbelit, di dorongnya gerbang tersebut hingga mengeluarkan suara yang tidak mengenakan dan justru ikut memperburuk suasana di sekitar. Jelas bahwa tidak ada penerangan dan tanda - tanda adanya kehidupan di sekitarnya ini. Mata merahnya menatap bangunan yang telah mengalami kerusakan dengan begitu buruk menunjukan bahwa tempat ini telah lama tidak di tinggali oleh orang seseorang yang memiliki kehidupan. Bahkan kastil ini jauh lebih buruk dari kastil yang di milikinya sebagai seorang bagian dari klan Demon. Tidak ada perasaan gentar dalam diri Amorist agar tidak melanjutkan langkahnya lagi, bahkan dengan tenang dirinya justru mulai melangkah masuk melewati gerbang tersebut. Di lenggokan kepalanya kesana kemari untuk menatap sekitaran taman dari bangunan di depannya lalu mulai mendongakan kepalanya, menatap lurus ke arah langit. Padahal disana jelas terlihat sebuah matahari yang berdiri terang dan seharusnya dapat ikut menyinari tempat ini tanpa adanya hamabatan. Namun sayangnya matahari itu sepertinya enggan hanya untuk kembali membagi cahaya terangnya pada tempat yang telah terkutuk . Tidak tinggal - tinggal dirinya hanya kembali meneruskan langkahnya, mulai melewati tangga - tangga kecil yang telah di tutupi oleh berbagai dedaunan di sekitarnya sehingga menimbulkan decitan kecil saat sepatu dari miliknya menginjak daun - daun itu . Kini tepat di depannya terdapat pintu besar yang tertutup rapat membuatnya mengerutkan keningnya sebelum terbitnya senyum kecil di ujung bibirnya menatap pintu tersebut . Sepertinya pemilik dari kastil ini tidak ingin membiarkan dirinya untuk kembali masuk kedalam meskipun telah lama di tinggalkan oleh sang pemilik sendiri. Amorist akui ia yang membuat tempat yang dulunya begitu indah dan memancarkan cahaya kehidupan ini hancur hingga membuat negeri keaton sekarang memiliki tempat keramat berkat ulahnya . Namun jauh di dalam dirinya ia tidak pernah merasa bersalah dengan perbuatan masa lalunya karena, perbuatannya tersebutlah yang telah membuatnya dapat berdiri sejauh ini sebagai yang terkuat adanya. Sementara kutukan yang di deranya sekarang hanyalah sebuah harga untuk kehausan dari ketamakannya, dimana sebentar lagi kutukan itu akan lepas darinya. Maka dari itu tidak akan ada lagi halangan untuknya menjadi yang terkuat secara sempurna. Hanya butuh satu jari telunjuk dari Amorist bergerak dan pintu yang awalnya tertutup rapat itu kini telah terdorong kedalam, membuka untuknya dengan begitu kuat bahkan mungkin pintu utama dari kastil ini tidak akan dapat pernah menutup lagi. Dengan begitu jelas langkah kaki yang di keluarkannya saat menyentuh lantai - lantai penuh dengan debu itu terdengar bergema di dalam bangunan, hingga secepat kilat pula lampu - lampu yang menggantung dan penerangan yang melekat dengan baik di dinding menyala menernagi seluruh isi dari kastil meskipun dengan cahaya yang tidak begitu terang lagi. Hanya mengirimkan keremangan di tengah kegelapan menyelimutinya. Terlihat dengan begitu jelas bahwa bukan hanya bagian luarnya yang hancur luluh lantak namun bagian dalam nya juga hancur tak terkendali, mengingat bagaimana dulu klannya yang berada di bawah pimpinannya datang untuk menghancurkan seluruh sisi kastil ini hingga menjadi seperti sekarang seusai dengan perintah yang di keluarkan oleh dirinya sendiri . Tempat yang dulu paling banyak untuk di kunjungi orang - orang agar dapat bertemu dengan sang pemilik dari kastil ini kini telah menjadi tempat paling di hindari di Negerinya. Tidak ada lagi cerita dengan nuansa menyenangkan saat orang - orang mulai bercerita mengenai kastil ini, hanya ada cerita yang penuh akan teror dan ketakutan akan keganasan dari pemimpin mereka sekarang. Bahkan mungkin cerita yang bertajuk adanya dulu kehidupan di sini telah lenyap. Orang - orang hanya akan mengingat betapa mengenaskan tempat yang tengah di injaknya ini setelah ratusan tahun dirinya kembali datang kesini, mencoba mengenang masa lalu dari awal kutukannya. Amorist melangkahkan kakinya menaiki satu persatu tangga dimana akan membawanya menuju lantai bagian atas dari bangunan kastil tersebut . Seiring dengan langkah kakinya yang semakin dalam menjelajahi kastil ini maka penerangan - penerangan dari cahaya lampu juga ikut menayala satu persatu untuk menemani dirinya masuk kedalam. Salah satu pintu di ujung lorong memang telah terbuka seolah mengundang Amorist untuk masuk dan menemukan ruangan yang di penuhi akan kain yang seharusnya dalam ingatannya bahw kain - kain tersebut begitu indah dan menebarkan aroma manis dari sang pemilik, kini telah berubah gelap dan begitu kotor bahkan sudah sangat lapuk, rusak. Sebuah ranjang yang berada di dalam ruangan itu cukup menunjukan bahwa tempat yang di masukinya merupakan tempat peristrahatan dari seseorang dulunya. Amorist berdiri tepat di ujung ranjang dan hanya diam menatap pada bagian tengah kasur yang terdapatnya sebuah bercak yang telah menghitam di atas kain ranjang itu bahkan hampir memenuhi seluruh bagian dari alas ranjang tersebut. Secara tiba - tiba saja jendela dari ruangan tersebut terbuka dengan keras menghantarkan sebuah semilir angin diringa kepada dirinya. Angin itu seperti mendorong ingatan masa lalunya bagaimana sebuah teriakan dari suara menenangkan masuk kedalam pendengaran milknya. “Langit akan menghukummu. Kau akan membayarnya berkali - kali lipat dari ini.” Amorist tahu bahwa suara - suara halus itu hanya berada dalam kilasan ingatan masa lalunya sajalahbbukan nyata adanya, namun angin yang datang padanya itu justru terdengar seolah berbisik padanya. Menghantarkannya pada ingatan masa lalu dari ratusan ribu tahun sebelumnya. Flashback ON Amorist tidak bisa menahan gejolak nafsu saat darah yang menetes - netes dari kuku panjang dan begitu tajam dari jari miliknya tercium, begitupula dengan sayap miliknya yang telah terbentuk sempurna dan tanduk miliknya yang sudah keluar. Membiarkan sosok iblis dari dirinya yang sudah keluar itu semakin menjadi saat mencium aroma - aroma darah yang bertebaran di sekitarnya. Begitu jelas bahwa klan miliknya telah memenangkan pertarungan dengan begitu mudah melihat klan - klan bagian dari Centaur dan Nymph sudah terkalahkan dengan darah mereka yang mengalir memenuhi jalan. Bahkan darah - darah yang tertumpa itu telah mengenai bagian dinding - dinding kastil menutupi warna indah dari kastil tersebut. Mata semerah darahnya begitu jelas menatap pada sekitar, bagaimana dengan keji klan Demon yang berada di bawah pimpinannya tengah mencabik - cabik klan lain dengan tidak adanya belas kasih dari mereka tunjukan. Hanya ada pertumpahan darah dan jeritan kesakitan. Saat mereka berhasil memukul mundur para klan - klan lain yang telah berani melawan dan memasang diri untuk melindungi satu orang yang bahkan tidak memunculkan dirinya, melihat orang - orang yang berpihak padanya telah mati terbunuh demi menahan Amorist agar tidak dapat mencapainya di dalam kastil. Sayangnya semua pengorbanan tersebut hanya berakhir dengan sia - sia melihat bagaimana dengan begitu mudahnya mereka kini menembus masuk kedalam kastil. Saat seorang Centaur dengan tubuh setengah hewannnya itu muncul di depannya mengajukan pedang pada dirinya guna berencana untuk menghalanginya masuk lebih dalam dan menemukan apa yang di carinya. Baru saja Amorist akan mendekat untuk mencabikkan kukunya kedalam jantung dari pria tersebut, adiknya Crius sudah datang lebih dahulu untuk menghantam tubuh bagian atas dari pemimpin Centaur itu hingga terlempar dengan begitu keras ke arah dinding. Dilihatnya bagaimana Crius bertarung dengan pemimpin dari klan Centur yang kini telah terkalahkan saat pedang adiknya lebih dahulu memotong tubuh hewannya hingga ia menjerit kesakitan dan tak dapat bergerak di susul dengan pedang tersebut kini berakhir di jantung sang pemilik. Tidak lama suara teriakan dari bagian klan Centaur terdengar nyaring saat beberapa dari mereka melihat bagaimana pemimpin mereka mati terbunuh di tangan Crius, sehingga mereka kini datang untuk mengerumuni adiknya itu guna ingin membalas dendam. “Pergi saja. Aku bisa mengurus ini.” Amorist baru saja akan mendekat pada adiknya tersebut sebelum suara Crius lebih dahulu menghentikannya, mempercayakannya pada adiknya membuat, dirinya memilih untuk melanjutkan langkahnya saat melihat beberapa Kartakan juga datang membantu. Beberapa makhluk dari dua klan lain masih saja terus berdatangan menghalnginya sayangnya mereka bukanlah lawan sepadan untuk Amorsit sehingga begitu mudah untuk membunuh mereka dengan melepaskan bagian tubuhnya atau bahkan menusuk perutnya hingga isinya keluar. Bau anyir darah semakin saja kuat memenuhi ruangan tersebut dan juga melekat dengan begitu baik pada Amorist, hal ini menunjukan ada berapa banyak yang telah berhasil di bunuh olehnya. Suara keribuatan terdengar masuk kedalam indera pendengaranya saat menaiki tangga yang terakhir. Dengan tenang dirinya mulai berjalan masuk di ujung koridor lantai dua dari kastil tersebut. Membuat kedua manik matanya berkilat mengancam saat melihat sosok yang di carinya ternyata telah berdiri di ujung koridor bersama dua orang Nymph lainnya yang terlihat berusaha untuk menahan perempuan dengan sebuah sinar indah memancar dari dirinya untuk pergi kebawah, menunjukan siapa identitas perempuan itu. Dewi Matahari. Saat kakinya melangkah maju selangkah maka ketiga perempuan tersebut termundur spontan, bahkan kedua Nymph yang di ketahuinya sebagai Nymph bagian Dryan dan Hamaryad atau di kenal sebagai peri dari bagian pepohonan itu mendorong mundur perempuan cantik bergaun kuning indah kebalakang tubuh mereka. Amorist tidak bisa menahan senyuman miliknya saat melihat bahwa kedua Nymph tersebut seolah - olah yang akan melawannya lebih dahulu. Nymph sendiri tidak memiliki kekuatan yang berguna untuk melawannya, mereka hanya berguna untuk membantu menumbuhkan dan merawat tumbuhan sesuai bagian mereka masing - masing. Jadi, ia tidak bisa menahan senyuman meremehkannya dengan tatapannya yang menghujat mereka saat kedua Nymph itu terlihat akan bersiaga melawannya melalui sihir yang bahkan tak sebanding dengan miliknya. “Apa yang kau lakukan disini Dewi ? Bersembunyi sementara orang - orang bertarung demi melindungimu. Kupikir kau penuh akan belas kasih.” Ucap Amorist meledek pada perempuan yang terlihat menatapnya dengan begitu marah. “Justru kau apa yang tengah kau lakukan disini !. Tarik klanmu sekarang !. Kau akan menghancurkan negeri Keaton !.” Sahutnya begitu marah dari suara merdunya yang biasanya berbicara dengan begitu lembut tak memandang siapapun kini berubah saat berbicara pada sang pemimpin klan Demon. “Klanku terlihat begitu menikmatinya, bagaimana bisa aku menarik mereka dari kesenangan yang mereka alami.” Sesaat setelah Amorist mengatakan hal tersebut suara teriakan yang begitu kuat terdengar nyaring “Kau dengar itu Dewi ?” Saat Amorist mengatakannya perempuan yang di panggil sebagai Dewi itu menatapnya dengan murka dengan ledekan yang di keluarkan pria di depan padanya, membuatnya berniat mendekat dan memukul nya sebelum para Nymph menahannya. Jelas bahwa dia akan kalah. Bagaimana bisa dirinya berniat mendekat pada ibsli tersebut saat yang di inginkan oleh pria berambut hitam dengan mata semerah darah tersebut ialah kematiannya sendiri. “Dewi bersembunyilah. Kami akan menahannya. Selamatkan dirimu.” “Tidak. Kalian tidak bisa menahannya.” Sayangnya saat sang Dewi berbicara seperti itu para Nymph tidak mendengarkannya dan justru menariknya untuk masuk kedalam ruangannya kembali. Lalu mengeluarkan sihir mereka untuk menumbuhkan akar pohon yang membelenggu pintu bermaksud agar pintunya tak dapat lagi di buka. Amorist sendiri heran dengan bagaimana dunia bekerja. Membiarkan seorang Dewi yang tidak memiliki kekuatan sepertinya itu untuk memimpin Negeri Keaton hanya berdasarkan dengan emosi yang di miliki sang dewi. Dimana emosi yang di miliki oleh sang Dewi sendiri sebenarnya terlihat sebagai hal yang melemahkan dirinya sendiri, dia tidak memiliki nafsu dan ketamakan untuk hal yang lebih. Hanya ada rasa murni akan keutulusan yang dimiliki oleh sang Dewi Matahari, cahaya dari negeri Keaton. Karena inilah mengapa pemberontakan terjadi atas kekuasaan tersebut. “Jadi kalian yang akan melawanku begitu ?” Saat itu juga salah satu Nymph Dryad telah berlari ke arahnya semenatara kedua tangan perempuan tersebut telah terangkat bersama dengan mulutnya yang tengah mengeluarkan mantera. Amorist dapat merasakan bahwa pohon yang besar tengah mencoba tumbuh dari bawah terlihat bagaimana lantai bergematar namun sebelum pohon besar tersebut tumbuh dan baru berhasil meretakan sedikit lantai, sayap besar miliknya sudah lebih dahulu mengibas hingga sang Nymph terlempar dengan begitu keras kearah ujung tembok dan berefek mengeluarkan darah dari mulutnya. Melihat temannya telah terlempar hingga sekarat itu, Nymph Hamaryad yang tertinggal terbang dengan cepat menuju Amorist hingga dengan mudahnya pria itu lagi - lagi menangkap lehernya dan menusukannya kukunya kedalam leher mungil milik sang peri. Mata merah darahnya tersebut menatap manik mata indah di bawahnya dengan keji hingga leher peri yang berada dalam genggamannya itu berbunyi patah, meninggalkan jejak bagaimana mata indah tersebut membulat penuh akan kesakitan yang tercetak jelas di wajah indahnya. Melihat tidaka ada lagi halangan berarti untuknya membuatnya kembali mendekat kepada pintu yang terbelenggu oleh akar - akar pohon dengan begitu kuat. Dewi matahari yang berada di balik pintu itu sendiri tidak dapat mengetahui apa yang telah terjadi di balik pintu ini namun, saat pintu di depannya mengetuk pelan sebelum terdorong dengan begitu keras ia tidak bisa untuk tidak termundur, menghindari monster yang berada di depannya tengah mentapnya yang telah tertangkap. Tidak ada lagi yang dapat menolongnya sekarang. Inilah akhirnya dirinya tahu itu. “Dewi.” Panggil Amorist, membuat sang Dewi termundur mencoba menjauhinya hingga mencapat batas depan dari ranjang. “Hentikan semu ini !. Kau melawan kehendak dunia !. Dosamu tidak akan dapat di maafkan !.” Suara nyaring akan tawa terdengar dari Amorist saat mendengar ucapan dari perempuan tersebut padanya.“Kalau begitu jangan repot - repot memaafkanku Dewi, lagipula aku tidak membutuhkannya.” Dirinya melangkah mendekat semakin menjepit keadaan dari perempuan yang telah berberapa tahun ini memimpin 3 klan hanya dengan kasih keadilan yang di milikinya. Memang tidak ada yang tidak baik yang di lakukan oleh Dewi Matahari tersebut bagi mereka, semuanya sama rata tidak ada perbedaan. Maka dari itu klan Demon lebih banyak di rugikan melihat bagaimana ketamakan mereka harus di pendamnya karena sang Dewi. Raut bersemangat tersirat begitu jelas di wajah Amorist melihat targetnya telah berada di depan matanya tanpa ada yang dapat menggangu mereka sekarang, tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan sang Dewi. Jika Dewi Matahari telah mati di tangannya maka haus akan kekuasaan yang telah lama di idamkannya itu akhirnya akan menyirami dahaganya. Maka di antara 3 klan yang telah terbentuk hanya ada 1 klan yang berkuasa dan memimpin. Dirinya akan menjadi yang terkuat dan memiliki seluruh negeri Keaton ini di bawah kusanya. Pemikiran itu semakin menyemangatinya jadi saat perempuan tersebut baru saja berencana melarikan diri dari hadapannya dengan begitu cepat di tusukannya kuku tajam miliknya pada jantung sang Dewi. “Langit akan menghukummu. Kau akan membayarnya berkali - kali lipat dari ini.” Ucap Dewi Matahari merasakan bagaimana tajamnya kuku iblis tersebut menusuk dadanya sebelum, tanpa belas kasih Amorist semakin memasukan kuku tajam miliknya guna memperdalam tusukannya sendiri. Sang Dewi hanya dapat mengeluarkan suara kesakitan kecil miliknya bersama kedua tangan mungilnya yang memegang pada sebelah tangan Amorist yang sudah berhasil menembus jantungnya, seolah - olah berusaha menahan tangan itu agar tidak semakin dalam menusuknya. Darah mulai merembes keluar dari arah d**a Dewi Matahari membasahi kedua tangannya sendiri, begitupula merembes membasahi tangan Amorist yang memang sejak awal sudah penuh akan darah dari beberbagai bagian 2 klan lainnya dan kini telah tercampur dengan darah yang seharusnya tak boleh jatuh tertumpah. Tak sampai di situ di tariknya jantung dari dalam tubuh tak berdaya di depannya hingga terlepas dari tubuh sang pemilik, membuat Amorist yang kini hanya memegang organ yang masih berdenyut untuk beberapa detik itu tidak lagi menopang tubuh sang Dewi yang terjatuh ke belakang kasur, merembesi seluruh kain putih itu dengan warna merah pekat dari tubuhnya. Dewi Matahari yang memimpin Negeri Keaton kini telah mati dengan begitu mengenaskannya di Negeri dan Kastil miliknya sendiri, pada tangan seorang iblis yang dulunya berada di bawah pimpinannya. FLASHBACK OFF *** Suara pada pintunya yang berbunyi membuat mata biru Hemera tidak bisa berkedip dan justru hal ini membuatnya semakin menajamkan indera lainnya yaitu, pendengarannya sendiri, mewanti - wanti dengan bunyi dari pintu ruangan . Bahkan dirinya yang kini berada pada posisi berbaring dan sedang membelakangi pintu telah memasukan sebelah tangannya kebawah bantal meraih pisau yang telah di simpannya sedari pagi untuk ia pakai berjaga - jaga jika, dirinya berada dalam keadaan yang berbahaya hingga ia harus melawan. Saat suara kunci telah di gantikan dengan derit pintu yang membuka Hemera tidak bisa menahan detak jantungnya yang meningkat, namun ia masih harus bertahan pada posisinya yang seperti sekarang, tidak menimbulkan gerakan lain. Suara langkah kaki kecil kali ini berhasil masuk kedalam pendengarannya membuat dirinya semakin yakin untuk mulai menarik keluar pisau dari bawah bantalnya secara perlahan. Dan tepat saat di rasakannya sebuah pergerakan menyentuhnya pelan langsung saja Hemera bangun dari posisinya dan mengacungkan pisaunya pada orang yang telah masuk kedalam ruangannya. Manik biru yang yang awalnya tergurat penuh akan percaya diri dapat menyakiti siapapun itu langsung saja membulat tak percaya dengan yang di lihatnya. “Doly !.” Seru Hemera pada makhluk pendek yang juga terkejut melihat gerakan dan benda yang di acungkan oleh gadis manusia yang di sebutnya teman . Sadar dengan siapa yang datang dengan cepat Hemera kembali mengantongi pisau miliknya namun, kali ini bukan kembali ke bawah bantalnya melainkan kedalam gaun yang sedang di pakainya. “Kenapa kau kemari ?” Tanya Hemera setelah selesai mengantungi pisaunya dan mulai menatap sekeliling ruangannya lagi, tidak lupa mendongak menatap ke atas langit. Berjaga - jaga jika ada yang lagi - lagi mengawasinya. “Doly datang membantu teman Doly.” Jawabnya setelah yakin bahwa Hemera tidak lagi seagresif seperti tadi pada dirinya. Mendengar jawaban yang di keluarkan oleh makhluk tersebut membuatnya justru mengerutkan kening tidak mengerti. Padahal kemarin malam makhluk ini sendiri yang tidak mau menolongnya dengan menjawab pertanyaannya dan justru lebih memilih untuk meninggalkannya pergi. “Apa Hemera marah ?” Sambung Doly bertanya, terlihat dari raut wajah makhluk itu yang menurun bahkan daun telinga miliknya telah layu. “Apa yang kau inginkan ? Kau jelas tidak ingin membantuku .” Doly menggelengkan kepalanya lalu mendekatkan tubuhnya mendekati tubuh manusia milik Hemera yang masih berada di atas ranjang. “Doly tidak bilang kalau Doly tidak ingin menolong Hemera. Doly hanya— hanya—“ “Hanya apa ?” Pancingnya saat terlihat jelas bahwa imp tersebut kesulitan mencari kata yang tepat agar dirinya tidak marah. “Doly tidak bisa menjelaskan semuanya tapi, Doly datang untuk menolong Hemera teman Doly.” Jika memperhatikan wajah dari makhluk tersebut sekarang dirinya lebih mudah terbiasa dengan makhluk bernama imp tersebut bahkan struktur jelas dari raut wajahnya sudah mulai dapat jelas di baca Hemera. “Apa yang bisa kau lakukan untuk memabntuku ?” Kali ini raut cerah itu skeetika mengganti raut wajah sedih dari Doly bahkan daun telinganya telah naik menunjukan bahwa ia senang. “Hemera ingin keluar dari ruangan ini bukan ?” Hemera tidak menjawab namun, apa yang di katakan makhluk tersebut benar adanya. Terkurung terus menerus di dalam ruangan ini tidak akan membantunya mendapatkan informasi apapun. “Karena itu Doly datang membantu Hemera untuk pergi dari sini.” “Apa ?” Makhluk tersebut tidak menjawab lagi dan hanya menarik sebelah tangan milik Hemera untuk segera bangkit dari ranjang. “Doly kau akan membawaku kemana ?” Tanyanya saat imp tersebut masih saja menariknya berjalan, bahkan mereka telah kekuar dari ruangan tempatnya di kurung. “Ketempat kemarin. Pintu kemarin adalah jalan keluar. Doly akan membantu teman Doly pergi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD