11 ~Pelarian Pertama

3377 Words
Hemera tidak dapat melepaskan pandangannya dari apa yang berada di depannya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang tengah di lihatnya inilah bukanlah sebuah ilusi semata saja. Saat angin mulai meniup ke arah dirinya yang hanya memakai gaun putih tipis itu, dirinya dapat merasakan betapa dinginnya angin itu menusuk tepat pada kulitnya. Ini cukup membuktikan bahwa apa yang tengah di lihatnya bukanlah hasil dari ciptaan imajinasinya karena, telah begitu mengidamkan - idamkan hal ini dan akhirnya hal tersebut telah tiba pada dirinya. Ditatapnya tubuh kecil di sampingnya yang telah membukakanya pintu di depan ini, entah darimana Doly yang mengatakan mereka adalah teman itu mendapatkan kunci tersebut. Doly benar - benar menepati kata - katanya, imp itu telah membukakaya pintu kearah keluar. Benar - benar mengeluarkan Hemera dari kastil ini sesuai perkataannya. Mata besar dan bulat itu tersenyum ke arah Hemera saat gadis manusia yang di panggilnya teman masih saja menatapnya dengan tak percaya. "Doly, bagaimana bisa ?" ucap Hemera kembali menastap ke arah luar melempar pandangannya pada hantaran yang penuh akan berbagai rimbunan pohon menyatakan pada dirinya bahwa ia tengah berada di alam bebas dan bukan ruangan menyesakan lagi. "Hemera ingin keluar bukan. Doly membantu teman Doly." Hanya itu yang di ucapkan oleh imp tersebut hingga gadis manusia cantik itu mulai melangkahkan kakinya keluar, membiarkan rambut berwarna ungunya yang di urai hingga mencapai betisnga tersebut di terpa angin. Mungkin karena telah beberapa hari terus saja terkurung dirinya tidak bisa untuk tidak menghirup lebih banyak udara segar, merasakan udara bebas itu kini masuk kedalam paru - parunya dengan rakus, seolah - olah selama di kurung ia tak pernah mendapatkan oksigen. Namun jujur Hemera tidak dapat mengatakan bahwa udara bebas dibanding udara tempatnya beberapa hari di kurung sama saja dengan yang tengah di hirupnya ini,hanya karena memiliki fungsi yang sama saja bagi tubuhnya sendiri. Dimana ia merasakan begitu banyak kesesakan dengan frustasi yang tidak berhenti datang menghampirinya setiap kali ia menghirup udara di ruangan tersebut. Rasa dingin dan sensasi yang berbeda pada telapak kakinya yang menginjak rumput di bawahnya itu telah menyatakan kebebasan bagi Hemera sendiri dan tentu saja ini berhasil menerbitkan senyumannya di bibir hingga, bermekar dengan begitu baik sampai mengeluarkan suara tawa riang penuh akan keceriaan darinya mewakili isi hatinya sekarang. Rasa dingin yang menerpa kulitnya itu disambutnya dengan baik meskipun ia tahu mungkin ini akan membuatnya sakit nantinya sayangnya, ia tidak akan memikirkan hal itu saat kebebasan itu sendiri telah datang pada dirinya hingga membuatnya berputar - putar menikmati kebebasan miliknya. Telah puas menikmati kebebasan miliknya dirinyapun berbalik menatap pada imp setengah peri dan iblis yang juga menatapnya dengan senang. "Terimakasih Doly. Kau benar - benar teman baikku." seru Hemera bersemangat hingga raut wajah dari Doly semaskin berseri - seri bahkan telinganya semakin naik saja. "Lalu kita akan kemana sekarang ? Kita harus pergi sekarang Doly sebelum ada yang menangkap kita nantinya." kali ini raut wajah Doly sedikit menurun begitu juga dengan wajahnya yang menunjukan ekspresi setengah hati bahkan tidak enak. "Maaf Hemera. Tapi, Doly hanya bisa mengantar Hemera sampai disini saja." Mendengar ucapan dari imp tersebut berhasil membuat Hemera benar - benar mengalihkan seluruh fokus pandangannya dari alam menuju ke arah tubuh kurus dengan kening yang berkerut. "Kenapa ? Aku tidak tahu jalan dan harus kemana kalau kau tidak membantuku." Kali ini gerakan yang sirat akan keraguan di tunjukan oleh makhluk tersebut bingung harus menjelaskan apa pada gadis manusia di depannya yang masih saja menunggu jawabannya. Mata Doly menatap pada Hemera dengan binar ragu sejenak sebelum tangan kurus kecilnya itu mengeluarkan sebuah kantung kecil yang terlihat penuh, lihat saja bagaimana bentuknya dari luar yang mengembung. Di arahkannya kantung kecil itu pada Hemera membuat gadis tersebut masih dengan kebingungannya menerima kantung cokelat yang di berikan padanya. Hemera bisa merasakan bahwa kantung tersebut berat bahkan bunyi gemercik besi terdengar dari dalam kantung hingga ia membukanya lalu mengeluarkan sekeping untuk menatapnya lebih jelas. Di dalam kantung itu penuh akan koin - koin yang terbuat dari logam dan berkilau di beberapa bentuk ukiran miliknya. “Itu uang untuk Hemera melakukan perjalanan ke Viula. Jaraknya cukup jauh dari sini tapi, saat Hemera berjalan sedikit jauh kedepan dan telah menemukan jalan setapak, tunggu saja disana pasti beberapa kereta akan ada melintas jadi, Hemera bisa menyewanya untuk membawa Hemera ke Viula.” Hemera masih saja diam menatap dengan tidak mengerti apa yang di katakan oleh imp tersebut dan apa yang sebenarnya sedang coba di lakukannya sekarang. Ia pikir mereka berdua akan pergi dari sini, melarikan diri bersama tapi kenapa imp itu hanya meloloskannya secara diam - diam dan tidak ikut bersamanya. “Tunggu. Doly, kau benar - benar tidak akan pergi bersama dengan diriku ?” Doly berhenti menjelaskan sesaat kemudian menggelengkan kepalanya lalu mulai melengok kebelakang, melihat ke arah lorong yang masih sepi. Takut jika ada yang melintas dan mendapati mereka. “Hemera ingin mencari tahu sesuatu bukan karena, itu Hemera bertanya begitu banyak pada Doly.” Hemera terdiam mendengar ucapannya kembali di sela oleh makhluk di depannya, benar salah satu alasan ia ingin keluar dari ruangan tersebut karena tidak mendapatkan apa - apa disana bahkan hanya untuk segelintir informasi saja dirinya tidak mendapatkannya saat ia di tahan seperti tahanan. Tidak ada yang akan memberi informasi pada tahanan mereka. Mengingat hal tersebut Hemera menganggukan kepalanya, ia sudah berada di luar alam bebas jadi hanya perlu untuk mulai bergerak mencari informasi yang bisa di dapatkannya secara bebas. “Doly akan tinggal disini untuk mengawasi agar Hemera bisa dengan tenang mencari apa yang Hemera cari.” Sambung Doly lalu mulai ikut melangkah keluar mendekat pada temannya yang harus menundukan kepala menatap dirinya. Di genggamnya tangan yang mulai dingin tersebut pelan. “Doly yakin Hemera pasti bisa melakukan semunya dengan baik. Tapi, berjanjilah untuk kembali kesini sebelum matahari terbit Hemera.” Seiring dengan ucapannya genggaman tangan makhluk tersebut menguat padanya. “Aku harus kembali ? Kau bilang akan membantuku pergi. Doly, ini kesempatan emas untukku. Aku ti—“ “Doly tahu. Tapi untuk sekarang kita hanya dapat melakukan seperti ini Hemera. Setiap malam Doly akan mengantar Hemera kembali keluar tapi, Hemera harus kembali sebelum matahari terbit.” Jujur Hemera semakin kebingungan dengan semu ini. Doly mengantarnya keluar dan membukakaknya pintu kebebasan agar ia dapat mendapatkan informasi yang di butuhkannya mengenai keberadaannya sekarang, namun justru imp tersebut membuatnya semakin kebingungan. Ingin rasanya ia berkata pada makhluk tersebut agar berterus terang saja padanya dan jika, memang Doly tidak ingin Hemera benar - benar pergi meninggalkan kastil ini maka seharusnya ia saja yang membeberkan semuanya pada dirinya tepat sekarang. “Hemera akan kembalikan ? Doly akan menunggu.” Tapi, saat mata bulat itu menatapnya dengan memohon maka gadis manusia dengan perasaannya lemah yang di milikinya menganggukan kepala. “Aku akan kembali sebelum matahari terbit.” Hanya itu yang perlu di katakan oleh Hemera sebelum Doly melepaskan genggamannya berusaha yakin pada manusia tersebut. Kembali tidaknya gadis tersebut untuk menepati janji mereka, pastinya akan berpengaruh pada dirinya. Hemera mulai berbalik bersiap berjalan pergi dari sana meninggalkan Doly yang masih pada posisinya menatap dirinya yang mulai berjalan pergi, hal ini membuatnya sekali - kali melengokan kepalanya kebelakang menatap pada makhluk yang kini di percayainya sebagai teman. Saat Hemera berbalik untuk terakhir kalinya sebelum, memasuki hutan rimbun dengan gelapnya yang mengelilingi hutan tersebut, matanya mendapati bahwa ternyata pintu tempatnya tadi keluar telah tertutup dan sosok Doly sudah tidak ada lagi disana. Kali ini dirinya benar - benar sendiri di alam bebas dengan kegelapan pekat. Jauh di lubuk hatinya ia memiliki sedikit ketakutan saat harus berjalan masuk kedalam hutan rimbun tanpa bantuan penerangan sama sekali, membuatnya hanya mengandalkan kedua tangannya yang memeluk erat masing - masing sisi tubuhnya, berusaha melawan ketakutan yang menerpa dirinya sekarang dengan berbagai pikiran yang tiba - tiba saja datang memikirkan kemungkinan dengan apa yang dapat di temuinya di tengah gelapnya hutan ini. Saat terkurung di dalam kastil saja ia telah menemui begitu banyak makhluk yang berhasil mengacaukan pikirannya terlebih saat ia telah berada di alam bebas ini dengan begitu banyak makhluk yang berkeliaran bebas tanpa adanya penghalang. Dirinya terus berjalan mengikuti perkataan Doly yang hanya menyurunya mengikuti jalan kedepan hingga ia menemui jalan setapak yang di maksudkan oleh makhluk tersebut. Kakinya yang tidak memakai alas apapun bersentuhan langsung dengan begitu banyak ranting - ranting pohon sehingga menimbulkan suara kecil di tengah kegelapan. Jika saja ini di lakukannya pada siang hari maka tentu saja ini tidak akan sulit untuk dirinya melewati hutan - hutan tersebut tanpa adanya ketakutan. Hawa dingin yang awalnya tidak di pedukilannya itu entah kenapa semakin menjadi saja, entah efek dari ketakutannya atau karena suhu udara yang berubah. Saat matanya tak sengaja menemukan cahaya di ujung sana Hemera tidak bisa menahan diri untuk kali pertama berlari dengan tergesa - gesa agar dapat menggapai cahaya yang membuatnya melihat hal itu sedikit lega. Mengabaikan telapak kakinya yang pasti akan semakin tergores akibat bersentuhan langsung dengan berbagai hal di dalam hutan. Benar saja setelah berlari cahaya yang awalnya hanya kecil itu semakin membesar menyinarinya membuatnya, yakin bahwa ia telah sampai di jalan setapak yang di ucapkan oleh Doly dengan beberapa penerangan di pinggir jalan, menerangi jalan tersebut dari hutan yang mengelilingi mereka. Sekarang Hemera hanya perlu menunggu kereta yang akan melintas agar dapat di tumpanginya dan membawanya pada Viula. Benar saja sebuah langkah kaki kuda terdengar di ujung jalan sana membuatnya dengan bersemangat menanti kedatangan kuda yang tengah menarik kereta di belakangnya hingga semakin mendekat padanya. Saat kereta kuda tersebut sudah semakin mendekat padanya maka di gunakannya kedua tangannya untuk melambai - lambai dengan tubuhnya yang terus melompat - lompat berharap penunggang kuda itu dapat melihatnya. Saat kereta kuda tersebut benar - benar telah berhenti di depannya, Hemera melihat sesosok pria tua dengan janggut yang panjang dan tebal di daerah dagunya tengah pula menatap kearahnya dengan pandangan sinis. Memperhatikan tubuh Hemera yang hanya memakai gaun putih yang mulai kotor karena terdapat bercak - bercak tanah di gaun tersebut membuatnya, terlihat kotor dan lusuh di ikuti pula dengan kakinya yang tidak memakai alas kaki apapun, dirinya yakin jika gadis di depannya ini naik kedalam keretanya maka akan meninggalkan tanah - tanah di lantai keretanya. Sudah cukup buruk untuk di anggap sebagai penumpang yang tidak cukup layak menaiki kereta kudany penampilan Hemera juga di tunjang dengan rambut ungu lebat miliknya yang berantakan dan sedikit basah karena keringat bersama beberapa helai daun bahkan ranting - ranting yang bersarang di atas sana. “Kau punya uang ?” Maka kalimat pertama yang di dapatkannya dari sang kusir kereta itulah yang mewakili seluruh hasil akhir dari penampilan Hemera. Hemera sendiri tahu jika kusir tersebut tengah memandangnya sebelah mata namun, apa yang di lakukan oleh kurir tersebut sebenarnya tidak begitu salah. Mengingat ia saja mendapatkan pakaian dari pemberian kastil dan kini tas berisi koin yang sedang di genggamnya merupakai hasil pemberian dari Doly sendiri, seorang pelayan. Namun bagaimanapun dirinya tidak suka dengan tatapan tersebut membuatnya berdehem sebelum menjawab. “Berapa koin yang kau butuhkan untuk membawaku ke Viula ?” Jawabnya menyebut tempat yang harus di tujunya sesuai ucapan Doly, meskipun ia sendiri tidak kengetahui tempat Viula itu apa. “Sepuluh koin cukup untukmu.” Hemera menganggukan kepalanya saat mendengar harga tersebut dan membuka kantung berisi koin - koin yang memang di genggamnya dengan kuat, hanya ini harta miliknya tanpa koin ini dirinya tidak akan bisa melakukan apapun. “Aku bayar di depan. Bawa aku ke sana dengan cepat.” Sebelah tangan putih miliknya menyodorkan kearah pria tua tersebut yang terlihat cukup terkejut melihatnya mengeluarkan koin dari kantung kecil yang di genggamnya dan kini telah menyodorkan 10 buah koin ke arah sang kurir. “Naiklah.” Saat sang kurir telah menerima koin tersebut maka dengan cepat dirinya berjalan ke arah samping pintu kereta dan membukanya sebelum segera naik keatas. Kereta yang di tumpanginya ini jauh lebih biasa dari yang pertama di naikinya saat pertama kali mereka membawanya kedalam kastil, namun itu bukan hal penting untuknya selama kereta tersebut dapat membawanya ke tempat tujuan miliknya. Saat memastikan bahwa Hemera telah naik maka Kereta tersebut mulai berjalan terdengar bagaimana tapak kaki kuda yang di dengarnya mengadu bersama roda kereta di tengah gelapnya malam. Di tengah perjalanan yang di lakukannya Hemera mulai memikirkan apa yang harus di lakukannya setelah tiba di sana. Semuanya masih begitu abu - abu baginya sehingga rencana apa yang seharusnya di lakukannya juga masih kabur. Doly mengatakan padanya untuk pergi dan mencari apa yang sebenarnya dirinya ingin ketahui, dimana ia sendiri tidak tahu juga hal apa yang sebanrnya tengah di carinya. Ia seperti meraba - raba dalam gelap tanpa tahu arah yang pasti. Satu - satunya yang dapat di lakukannya sekarang adalah mengikuti lebih dahulu ucapan imp tersebut untuk ke Viula, tempat yang dirinyapun tak mendapatkan informasi apapun mengenai Viula. Hemera hanya dapat mempercayai Doly sekarang melihat bagaimana makhluk tersebut telah mau membantunya pergi dari kastil meskipun bersifat semantara. Tenggelam dalam pikirannya membuatnya tidak sadar bahwa kereta kuda yang tengah di tumpanginya itu telah berhenti saat ketukan dari arah depan yang pastinya berasal dari kusir kereta terdengar, barulah Hemera tertarik kembali ke kenyataan. Dimana saat itu pendengarannya menangkap begitu banyak suara ramai dan bising adanya yang seperti mengelilingi dirinya. Dengan cepat di bukanya pintu kereta melihat dimana dirinya telah tiba. Mata biru tersebut membulat tidak percaya dengan apa yang di temukannya. Ia berada di tengah keramaian yang begitu banyak makhluk dengan berbagai bentuk berada, namun matanya tak lepas juga menemukan sosok yang seperti dirinya mengingatkannya pada sosok Pria berambut hitam dan pria berambut putih, tak lain Amorist dan Crius yang memiliki tubuh sepertinya namun sebenarnya, tak seutuhnya manusia seperti Hemera. Hemera harus mengingatkan bahwa mereka semua tak terlihat seperti apa yang mata telanjangnya tangkap. Hanya dialah yang terlemah disini jadi, ia harus lebih berhati - hati dari mereka agar tidak di temukan jika, mereka sebenarnya berbeda. “Disana adalah toko pakaian. Kau terlihat mempunyai cukup banyak koin, jadi sebaiknya belilah beberapa pakaian untukmu.” Ucapan sang kusir yang terdengar seperti menasehatinya itu membuatnya ikut menatap pada sekitarnya saat kusir itu juga menatap orang - orang yang tengah menatap mereka. Rupanya beberapa orang yang melintas tengah menatapnya karahnya karena pakaian yang di kenakannya berhasil menarik minat mereka. Dirinya harus mengakui bahwa di tengah kerumunan itu tidak semuanya berpakaian yang bagus dan layak, hanya saja hal yang membuatnya begitu menarik perhatian adalah karena ia tidak terlihat seperti orang di kalangan tidak mampu melihat kulit putih serta wajah cantiknya di tengah penerangan yang baik ini. Terlebih mereka melihatnya turun dari kereta yang tak semua orang mampu untuk menyewa sebuh kereta untuk mereka tumpangi. Saat kereta yang di tumpanginya tadi telah pergi maka dengan cepat Hemera berjalan ke arah toko yang telah di tunjukan padanya. Agar dirinya tidak menarik begitu banyak perhatian lagi, maka ia harus berbaur dengan baik. Dibukanya pintu toko yang dihias dengan lampu - lampu cantik berkelap - kelip hingga membunyikan bel yang berada di atas pintu. Untung saja hanya ada sepasang mata yang menatapnya saat masuk kedalam karena tidak ada pembeli lain. “Selamat datang. Ada yang kau perlukan.” Awalnya sambutan tersebut terdengar sangat ramah sebelum kedua manik mata sang pemilik toko menangkap pakaian yang di pakai oleh Hemera kedalam tokonya, terlihat bahwa ia kini tidak berekspetasi apapun pada pembelinya kali ini. “Jika ingin bertanya - tanya kau bisa kembali besok. Ak—“ “Berapa harga jubah itu. Aku menginginkannya.” Potong Hemera cepat, tidak ingin tinggal lebih lama mendengar ocehan dari seorang wanita tua yang terlihat seperti ulzana dan memiliki kuku panajng berwarna hitam di kesepuluh jarinya. Wanita tua tersebut kembali menelusuri gadis di depannya dan menghelena nafas. Dimatanya gadis tersebut seperti seorang Nymph melihat wajah cantiknya. Wajah - wajah cantik dengan kulit bersih itu paling banyak di miliki oleh para Nymph. “Dua puluh lima koin.” Ditaruhnya koin sesuai dengan ucapan yang di kelurkan oleh wanita pemilik toko kemudian, berjalan ke arah jubah berwarna cokelat yang memiliki tudung kepala, di pajang pada kayu yang telah di pahat berbentuk tubuh itu.. Hemera awalnya ingin memilih beberapa pakaian dan membuang gaun putih yang telah di kotorinya ini, sayangnya ia teringat bahwa dirinya telah berjanji untuk kembali ke kastil sebelum matahari terbit seperti yang di janjikannya pada Doly. Jadi mengganti semu pakaiannya itu hanya membuang - buang uang dan waktu saja, akan aneh jika para penghuni kastil melihatnya memakai pakaian yang berbeda dimana mereka tidka pernah memberikannya padanya, membuat Hemera lebih memilih menutupi penampilannya saja. Di pakainya jubah tersebut lalu mulai di kancinginya agar tidak menampilkan gaun putih miliknya lagi, hanya sedikit pada bagian bawah saja. “Apa kau juga menjual sepatu ?” Tanya Hemera menatap pada sang wanita yang kini hanya diam menatapnya. “Disana. Kau dapat memilihnya.” Kali ini wanita tersebut mau menunjukan pada Hemera yang langsung berjalan kearah rak sepatu berada lalu meraih satu buah sepatu bots hitam dan mulai memakainya. “Aku akan mengambil ini, berapa harganya ?” “Dua puluh koin.” Lagi - lagi Hemera mengeluarkan dengan cepat koin - koin tersebut sebelum memasukan tas kecil itu kedalam bagian dalam saku dari jubahnya. “Apa kau tahu dimana ini ?” Pemilik toko pakaian itu kini terlihat cukup sibuk dengan menghitung koin - koin hasil dari penjualannya malam ini. Sehingga saat Hemera bertanya padanya ia mengerutkan kening sesaat namun masih saja terus sibuk menghitung, sehingga tidak menganggap aneh pertanyaan dari gadis di depannya. “Apa maksudmu. Kau di Viula pusat kota dari Keaton. Ada begitu banyak yang dapat kau lakukan. Berbelanja berbagai hal dan mencari berbagai hal. Disini semuanya lengkap.” “Mencari berbagai hal ? Seperti apa ?” Alisnya terangkat satu mendengar penjelasan dari tempat keberadaanya sekarang. Wanita tersebut terdengar cukup jengah dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Hemera padanya, lagipula siapa penghuni dari Negeri Keaton yang tidak mengetahui mengenai Viula. “Disini semaunya lengkap. Kau bisa membeli barang yang tidak dapat kau temukan dengan mudah. Intinya disini adalah pusat kau dapat mendapatkan semua kebutuhan dan keperluanmu.” “Apa disini juga menjual berbagai informasi ?” Seketika tangan wanita tersebut berhenti menghitung koin dan mendongak menatap pada Hemera, membuat Hemera sedikit gugup khawatir telah melakukan kesalahan. “Kau pasti ingin mencari informasi mengenai kekasihmu ya. Lagipula memang para lelaki jika datang ke Viula hanya mencari kesenangan saja.” Jelasnya bersemangat mulai menggosip, berpikir bahwa Hemera datang untuk hal tersebut. Karena ini merupakan hal yang lumrah disini. “Kekasihmu dari klan apa ? Tapi, kau sendiri memangnya merupakan Nymph bagian apa ?” Cecaran itu membuat Hemera kebingungan, tidak tahu harus menjawabnya seperti apa. Dirinya bahkan tidak tahu mengenai klan dan bagian yang di pertanyakan oleh wanita tersebut. “Apa ?” Tanya Hemera dengan hati - hati akan kebingungannya takut mengundang kecurigaan karena ketidaktahuan yang di miliki oleh dirinya ini. Namun wanita tersebut sepertinya tidak menangkap hal mencurigakan apapun dan justru masih saja terus berbicara. “Maksudku kau tahu. Apa kau ini bagian dari peri yang yang tinggal di hutan, pegunungan, atau air begitu. Kau ini Nymph bagian apa ?” “Ah aku tinggal di pegunungan.” Pilihan acak tersebut berhasil membuat sang wanita menganggukan kepalanya mengerti. “Kau rupanya seorang Nymph Oread ya. Pantas saja tidak tahu begitu banyak hal yang kau tahu, baru turun dari pegunungan rupanya.” Hemera membiarkan wanita itu menyimpulkan sesukanya saja dan ia hanya terus mengiyakan perkataan dari wanita tersebut padanya. “Jadi kau tadi bertanya apa ?” Hingga pada akhirnya ia sendiri selesai berbicara dan mempertanyakan kembali pada Hemera apa yang gadis tersebut cari. “Tempat aku bisa mendapatkan informasi.” “Ah benar. Di ujung persimpangan sana kau akan melihat berbagai bar tapi, kau hanya perlu memasuki sebuah bar sebelah kiri dengan tulisan Luciod mereka menyediakan jasa informasi disana.” Hemera menganggukan kepalanya berusaha menyimpan baik - baik petunjuk arah yang di berikan oleh wanita tersebut di kepalanya agar tidak lupa. Saat pemilik toko itu akan mulai mencercanya kembali dengan pertanyaan Hemera sudah lebih dahulu berjalan pergi meninggalkanya, ia telah mendapatkan apa yang di butuhkannya jadi tidak perlu berlama - lama lagi. “Terimakasih.” Semakin lama dirinya tinggal disana maka wanita itu akan terus bertanya hingga ia mungkin akan mendapatkan kejanggalan, diluar hal tersebut ia hanya akan membuang - buang waktunya saja. Jarak kastil dari Viula sendiri cukup jauh dan ada begitu banyak hal yang belum di lakukannya. Jadi untuk sekarang ia akan pergi ke bar tempat dimana katanya ia bisa mendapatkan informasi. Dipakainya tudung kepala dari jubah miliknya agar menutupi kepalanyai sebelum, mulai masuk berbaur di tengah kemaramaian dari Viula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD