12~Pembawa Informasi

3368 Words
Hemera mendongakan kepalanya ke atas papan yang menampilkan nama dari tempat yang berada di depannya tersebut. Terlihat sebuah papan yang terpasang dengan tulisan Luciod menggunakan lampu - lampu yang berkedip - kedip meramaikan papan yang tenagh di gantung di atas. Setelah yakin bahwa tempat yang di carinya sudah benar maka matanya kembali menatap dari bagian luar bar itu. Melihat ada beberapa banyak oranga yang cukup menempati ba itu, di antaranya orang yang berada di dalam bar tengah menikmati minuman mereka, tidak luput pula dengan beberapa orang yang mengisi meja di bagian luar bar bersama para kawanan mereka. Cukup menunjukan bahwa bar tersebut ramai akan dengan pengunjungnya. Di eratkannya jubah miliknya dan mulai melangkah masuk secara hati - hati, mulai mencari kemanakah dirinya harus duduk. Beberapa ornag yang sedang menikmati obrolan di temani dengan minuman mereka hanya melirik sekilas pada Hemera yang berjalan masuk kedalam bar sebelum, kembali pada kegiatan masing - masing. Entah karena jubah cokelat yang di belinya tersebut memang membuat dirinya tidak begitu mencolok lagi di tengah kerumunan ataukah karena semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing sehingga tidak mempedulikannya, ia tidak mengambil pusing akan hal tersebut. Ia hanya sibuk mencari tempat yang kosong membuat dirinya berjalan kearah tempat bartender minuman berada, terlihat disana sedang sibuk membuatkan para pelanggan - pelanggan minuman yang tenga di pesan oleh orang - orang , lagipula kursi yang berjejer di depan meja bartender itu hanyalah di isi oleh dua orang saja. Sehingga Hemera memilih duduk disana dan mencoba bertanya pada bartender yang bekerja di bar luciod ini. Jika ia harus bertanya jasa yang di sediakan oleh bar tersebut maka orang yang tepat untuk di tanyainya adalah seseorang yang bekerja di tempat tersebut dan bertugas untuk melayani keinginan para pelanggan. Tanpa menarik perhatian dengan pelan Hemera naik keatas kursi dan duduk di depan meja bartender, menatap pada seorang pria yang memakai baju berwarna merah lengkap dengan pitanya di kerah pakaian karyawan mereka. Namun pria tersebut hanya memakai atasan saja tidak dengan celananya melihat tubuh bagian bawah pria itu adalah setengah hewan yaitu kuda. Mengingatkannya pada seorang pria yang juga berbicara lebih dulu pada dirinya saat ia berada di dalam kereta yang membawanya ke kastil tempatnya di kurung. Sayangnya pria yang berada di depannya ini memiliki wajah yang jauh lebih mudah di bandingkan dengan Centaur yang di temuinya sebelum. Bartender ini hanya memiliki bulu - bulu tipis pada sekitar area rahangnya, berbeda dengan makhluk yang berada dalam ingatannya, tidak memakai pakaian di tubuh manusianya dan di penuhi oleh janggut yang lebat serta panjang di sekitaran rahang miliknya. Centaur yang bekerja sebagai bartender ini justru terlihat lebih rapi di banding yang dilihatnya di gua. Mungkin mereka berada dalam kawanan yang sama tapi, memiliki gaya hidup yang berbeda. Mata bartender tersebut kini akhirnya menatap pada Hemera tepat di manik birunya, membuatnya tersenyum saat kedua manik mereka bertemu. “Hei. Kau ingin minum apa ?” Ucapnya membuka percakapan sembari menyodorkan sebuah benda tipis berbentuk segi panjang tak lain adalah menu dari apa yang mereka jual. Membuat Hemera mengalihkan pandangan miliknya turun pada kertas yang berada di depannya. Hanya ada gambar saja dengan berbagai coretan yang terlihat sebagai tulisan sayangnya gadis manusia itu tidak dapat mengenali huruf apa yang berada di atas kertas itu. Ia tidak bisa membacanya. Sang bartender masih saja diam menunggu pesanan dari perempuan di depannya yang terlihat sedikit kebingungan dengan buku menu yang di berikan olehnya. Membuat matanya sedikit menjelajah ke sekitar tubuh yang di perkirakannya terlihat mungil itu tengah di tutupi oleh jubah berwarna cokelat yang terbuat dari bulu - bulu tipis untuk menghangatkan para pengguna jubah nya. Bekerja sebagai seorang bartender selama 3 setengah tahun lamanya cukup membuatnya tahu menilai orang - orang yang datang ke bar mereka. Melihat pakaian gadis di depannya yang terlihat masih berkilau cukup menunjukan pada dirinya bahwa ia baru saja membeli jubah tersebut sebelum matanya kembali menelusuri telapak tangan yang kini membolak - balikan kertas menu, tangan itu terlihat memiliki kulit yang bersih namun ada beberapa sedikit noda kotor yang melekat di sekitar punggung tangannya. Dari jubah mantel yang di pakainya cukup menunjukan bahwa ia orang dengan kelas menengah adanya. “Aku pesan yang ini.” Hingga suara gadis tersebut berhasil menarik kembali fokusnya untuk kembali melayani. Melihat ke arah buku menu saat tangan putih tersebut telah menunjuk sebuah gambar minuman yang di kenal sebagai Rocks. “Baiklah. Pesananmu akan segera kubuatkan.” Ucapanya dengan ramah menarik pelan buku menu tersebut sebelum, dengan gesit ia mulai berjalan meraih satu gelas dan alat - alat yang di butuhkannya untuk membuat minuman yang telah di pesan. “Kau baru aku liat berada di bar ini. Apa ini memang pertama kalinya ?” Hemera yang memperhatikan pria tersebut membuka percakapan di antara mereka kembali, sembari tangan sang bartender tetap dengan cekatan membuat minuman yang di pilihnya secara random hanya berdasarkan gambar. Tidak tahu sebenarnya minuman apa yang tengah di pesan oleh dirinya itu. “Ya. Pertama kalinya.” Jawab Hemera cepat hingga mata pria tersebut meliriknya sebentar sebelum lagi - lagi menganggukan kepalanya. “Kau ini bagian apa ?” Pertanyaan yang sama kembali di tujukan pada Hemera mengingat bagaimana wanita pemilik toko pakaian sebelumnya menanyainya. “Nymph Oread. Pegunungan.” Untung saja Hemera sudah lebih dahulu mendapatkan pertanyaan sekaligus informasi dari wanita tadi sehingga, ia tidak begitu bingung dengan apa yang tengah di pertanyakan padanya sekarang. Sang bartender tersebut yang telah selesai mencampurkan semua bahan dan kini tengah menuangkan kedalam gelas kaca terlihat bersemangat mendegar jawaban yang di berikan oleh gadis tersebut.“Ah kau seorang peri rupanya. Senang melihatmu peri.” Saat minuman berwarna merah dengan sedikit kekuningan di pinggirnya yang terlihat sedikit bercampur, hingga membuat cairan tersebut hampir berubah warna menjadi orange adanya telah di berikan pada Hemera yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari isi gelas tersebut. Terlihat dimatanya bahwa minuman berwarna itu seperti hidup dikarenakan beberapa gelembung dan warna yang berbeda itu seolah tengah berusaha menguasai satu sama lain, hingga mereka perlahan mulai menyatukan dirinya menunjukan tidak ada yang berhasil menguasai satu sama lain, meskipun perbedaan jumlah air yang berbeda jauh terdapat di antaranya. Air berwarna merah lebih dominan sementara yang berwarna kuning hanya sedikit dan berada di bagian pinggir saja mengelilingi warna merah. Diraihnya gelas tersebut dan mulai menyeruputnya pelan saat ketakjuban melihat minuman tersebut menjadi rasa penasaran akan rasanya. “Apa kau hanya sendirian ?” Pertanyaan itu kembali teraju padanya bahkan sang bartender terlihat menopang wajah manusia miliknya dengan sebelah tangannya, memperhatikan lebih dekat wajah Hemera yang kini menyesap minuman buatannya. Lidahnya awalnya menyeruput sebuah rasa manis yang dominan sebelum berubah menjadi sedikit kecut dan saat telah turun menuju tenggorokannya itu meninggalkan kesan panas yang menghangatkan. Membuatnya yang baru pertama kali merasakan rasa seperti itu mengernyitkan kening bukan karena tidak enak namun, cukup terkejut akan dari minuman yang di pesan olehnya. Sepertinya ia memilih minuman yang benar karena sesuai selera miliknya. “Ya aku sendirian.” “Apa yang seorang Nymph cantik sepertimu lakukan malam begini di Viula padahal, kau tinggal di pegunungan yang cukup jauh.” Mungkin Hemera tidak begitu kenal akan Negeri tempatnya berada sekarang tapi, ia jelas begitu tahu bahwa Centaur yang bekerja sebagai bartender ini tengah menebarkan pesonanya pada dirinya. Entah darimana ia tahu hal ini, hanya saja dirinya sudah menebak jika, pria tersebut telah begitu banyak mengggoda para perempuan menggunakan wajahnya yang terlihat cukup tampan itu. Mungkin saja jika pria di depannya memiliki tubuh sama sepertinya dirinya, hal itu akan membuatnya menambah nilai plus pada pria tersebut dan minus untuk sikapnya yang suka menebar pesona. “Aku mencari sesuatu disini, saat kudengar bar ini menyediakan yang tengah aku butuhkan langsung saja aku menuju kemari.” Jelas Hemera mulai mencari apa yang di butuhkannya tidak menanggapi godaan halus yang di lemparkan padanya. Bartender tersebut tersenyum ke arahnya dan mulai menganggukan kepalanya mendapatkan apa yang di maksudkan oleh Hemera. Sebarnya untuk pelanggan tetap dari bar Luciod hanyalah seorang pria yang benar - benar datang untuk menikmati minuman buatan tangannya, sebelum itu kini juga berubah menjadi tempat beberapa perempuan yang datang menjadi pelanggan sementara mereka bahkan ada yang kini menjadi pelanggan tetap. “Ah kau membutuhkan orang untuk mendapatkanmu informasi ya.” Jelasnya mulai menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajah Hemera saat mata gadis tersebut berkilat membenarkan perkataannya. “Tapi kau tahu harga minuman dan jasa yang kau butuhkan itu cukup berbeda .” Sambungnya lagi dengan santai bersama tangannya yang kini mulai melap gelas - gelas kaca yang telah di cuci. Hemera sedikit melirik kesana kemari cukup memastikan bahwa orang - orang tidak mendengar apa yang di katakan oleh Centaur di depannya bahw ia ingin menggali suatu informasi hingga memakai jasa tersebut, meskipun dirinya yakin jika semua orang pastinya sudah tahu bahwa bar ini menyediakan jasa tersebut. Mengingat bagaimana ia mendapatkan informasi mengenai bar Luciod dari mulut seorang wanita pemilik tokoh pakaian di ujung jalan sana. Hanya saja Hemera tidak ingin menarik makhluk - makhluk penasaran akan urusan orang lain. “Akan ku bayar berapapun asal kalian bisa mendapatkan informasi yang kubutuhkan.” Wajah cantik yang dilihatnya itu meskipun tertutupi oleh tudung dan kulit mulus yang memang banyak di miliki oleh para Nymph juga di tutupi oleh jubah cokelat, tidak semata - mata akan membuat dirinya terlena untuk tidak memberikan harga pasar . Bisnis adalah bisnis. Dengan tersenyum manis di tatanya gelas yang telah selesai di lapnya sebelum berjalan pergi ia mengatakan “Baiklah peri cantik. Tunggu disini. Akan kupanggil orang yang berada pada bidangnya itu.” Hemera menatap kepergian dari bartender yang telah meninggalkannya dan kini telah masuk ke salah satu pintu para karyawan. Sembari menunggu ia mulai kembali menyeruput minuman dari gelasnya hingga hanya menyisakan setengah dari gelas kaca tersebut. Barulah dirinya sadar jika dua orang dengan tubuh manusia seperti dirinya itu yang berjarak sekitar 3 buah kursi dari miliknya itu ternyata memang telah berada disana sedari tadi, ia melupakan kehadiran mereka. Dirinya melupakan sekitar untuk sesaat karena terlalu fokus pada yang di carinya. “Sebentar lagi negeri kita akan kembali ke masa pemerintahan Yang Mulia. Kita harus bersiap - siap untuk menjadi klan terkuat, klan Demon tidak lagi akan terkalahkan.” “Jangan berisik. Kau sudah mabuk.” Hemera setuju saat teman dari pria yang minum itu berbicara bahwa temannya telah cukup mabuk hingga terdengar berbicara ngawur. “Kenapa ? Lagipula klan lainnya tidak akan bisa melakukan apapun pada bagian klan kita. Mereka tahu jika gadis terakhir sudah terlahir untuk pemimpin Keaton. Klan kita tidak akan terkalahkan. Aku sangat senang karena terlahir menjadi klan Demon yang terkuat.” “Tetap saja diamlah kita masih menunggu hingga waktunya tiba. Jangan membuat keributan.” Pria tersebut masih saja tetap berusaha menenangkan temannya yang masih saja terus berbicara sesukanya efek alkohol. “Kau tidak perlu takut. Gadis ke seratus satu itu sudah berada di dalam kastil. Dia hanya manusia biasa yang tidak bisa melakukan apapun seperti seratus gadis lainnya. Kenapa kau begitu takut padahal kejayaan kita telah berada di depan mata. Aku bahkan sangat yakin jika gadis itu sudah akan kesulitan bangkit dari ranjangnya sekarang, mengingat darahnya telah di cicil - cicil selama berapa hari ini untuk Yang Mulia Raja.” Hemera yang tanpa sadar sudah ikut terhanyut mendengar percakapan dari dua orang pria yang menyebut diri mereka adalah klan Demon itu telah berhasil membuatnya berpikir dengan ucapan yang di keluarkan oleh mereka. Ia tidak tahu lebih apa yang di katakan oleh pria tersebut dan apa maksud jelas dari perkataannya namun, ia seperti bisa menemukan sedikit serbuk - serbuk yang mengarah pada dirinya. Hemera tidak tahu jika ada manusia lain pada negeri ini selain dirinya melihat hanya ada makhluk - makhluk yang berbeda dengannya secara fisik ataupun yang memiliki tubuh sepertinya tapi, tak seutuhnya adalah manusia. Terlepas dari itu semua jika yang mereka maksud adalah seorang gadis manusia dan tengah di kurung lalu darahnya di cicil - cicil itu seperti telah mengarah padanya, membuatnya menatap tangan kanan miliknya sebelum menarik kedalam jubah, menjauhi gelas minumannya sendiri agar tidak lagi tampak. Darahnya telah di ambil entah untuk apa dan itu juga hanya berlaku sekali saja tapi, ingatannya kembali mengarahkan dirinya pada seorang pria berambut hitam yang masih tidak di ketahui olehnya makhluk apakah sebenarnya dia yang datang menghampiri diringa untuk mengisap darahnya saat pagi. Meminumnya dengan rakus. Di tatapnya pria mabuk tersebut melalui ekor matanya di balik tudung kepalanya yang masih terpasang sempurna, melihat bahwa pria mabuk itu telah di seret oleh temannya sendiri agar segera berlalu pergi dari bar ini karena, temannya terlihat akan sedikit lagi membuat keributan. Hemera merasa bahwa ia harus bertanya pada orang mabuk itu agar mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai ucapannya tadi. Membuatnya dengan buru - buru meloncat kecil dari kursi yang lumayan tinggi dan tengah di dudukinya tersebut. Berniat mengejar dua pria mabuk tadi. “Hei. Kau akan kemana ?” Sebelum suara bartender yang tadi telah kembali masuk kedalam indera pendengaran miliknya dan membuatnya menghentikan langkah kakinya. Menatap dengan bimbang antara sang bartender dan dua orang pria berpakaian serba hitam tadi yang masih saja terus berjalan hingga mulai pergi menghilang di balik pintu bar dengan sempoyongan. Melihatnya Hemera hanya menghela nafas dan kembali naik pada kursi yang tadi. Mencoba meyakinkan dirinya jika kehilangan dua orang pria tadi bukanlah masalah besar karena, ia akan menyewa seseorang untuk mendapatkannya informasi lengkap tersebut. Ya itu bukan masalah besar, membayar orang untuk mendapatkannya informasi jauh lebih mudah di bandingkan memikirkan bahwa dirinya harus memaksa dua pria mabuk itu membuka mulutnya dan membeberkan segalanya padanya. “Ada apa ?” Tanya sang bartender pada Hemera setelah gadis tersebut telah kembali duduk di kursinya. “Tidak apa - apa. Jadi bagaimana ?” “Aku sudah membawakanmu orang yang akan memberimu informasi. Kenalkan ini dia, dia yang akan memberimu berbagai informasi yang kau butuhkan.” Mata biru Hemera mengikuti pergerakan tangan sang bartender ke arah seorang pria yang berdiri tidak jauh di sampingnya. Melihat seorang pria dengan tanduk kambing di kepalanya yang berambut lebat begitupula dengan tubuh manusia bagian atasnya yang tidak memakai pakaian dan hanya bertelanjang d**a sementara, bagian tubuh bawahnya mulai dari pinggang merupakan bagian bawah hewan kambing. Tepatnya ia tengah melihat Satyr yang merupakan jenis mahluk campuran antara manusia dengan kambing, pada bagian atas bertubuh manusia namun dibagian bawahnya memiliki kaki menyerupai kaki kambing, dan memiliki ekor dan juga telinga menyerupai kuda atau keledai. Rasa tidak percaya yang tiba - tiba masuk menyeruak kedalam dirinya itu bukan karena di sebabkan ia melihat penampilan fisik pria di depannya. Dirinya tahu ia berada di negeri yang memang memiliki makhluk - makhluk yang jauh berbeda dengannya. Tapi kata pertama yang di temukannya saat menatap wajah tersebut adalah bahwa ia tidak dapat di percaya oleh Hemera. Dia terlihat sedikit nakal jika dirinya harus menebak usia dari wajah pria di depannya yang terlihat belum begitu dewasa. “Perkenalkan aku Sam. Kudengar kau seoramg Nymph yang ingin aku bantu untuk menemukan informasi.” Satyr tersebut memperkenalkan dirinya sebagai seorang bernama Sam. Sayangnya jabatan tangan tersebut tidak di terima oleh Hemera sendiri yang kini hanya berbalik menatap pada sang bartender yang terlihat jauh lebih dapat di percaya oleh dirinya. “Kau yakin dia yang aku butuhkan ?” “Hei nona. Aku sudah berada di bidang ini cukup lama dan telah mempunyai cukup banyak pengalaman di bidang ini.” Sam kembali menyela saat melihat Hemera mempertanyakan kehadiran dirinya. Membuat gadis tersebut kini berbalik menatap pada dirinya, menatap pada mata cokelat miliknya sebelum melirik sebentar pada sang bartender hingga menghela nafas. Pada akhirnya menerimanya dengan mengalah. “Baiklah. Mari kita coba.” “Kalau begitu kalian bisa mulai berbicara mengenai bisnis yang akan terjalin di antara kalian berdua. Sementara aku akan kembali melayani para pelanggan.” Saat sang bartender telah pamit pergi meninggalkan mereka berdua maka dengan percaya diri Satyr di depannya mulai berjalan mendekat ke arah meja tepat di depan Hemera. Membuat Hemera yang memperhatikannya berpikir bahwa Sam justru terlihat ceroboh dan banyak gaya saja. “Jadi sebutkan identitas dan ciri - ciri dari kekasihmu itu dengan detail. Serta apa yang membuatmu yakin jika ia berselingkuh.” Satyr yang merupakan bagian dari klan tersebut mengeluarkan satu buku kecilnya dan terlihat mulai bersiap mencatat keterangan dari Hemera. Sementara Hemera yang mendengarkan ucapan penuh percaya diri itu mengerutkan keningnya bingung. “Menyebutkan apa ?” “Identitas dan ciri - ciri lengkap kekasihmu. Detail - detailnya sehingga aku tidak salah menyelidiki orang.” Ulangnya menjelaskan terdengar masih begitu percaya diri menjawab pertanyaan dari Hemera. “Kekasih ? Aku tidak punya kekasih. Lagipula aku bukan datang untuk menyewa seseorang untuk hal itu. Ini hal lain.” Kali ini terlihat cukup jelas bahwa pria tersebut cukup terkejut mengetahui bahwa gadis di depannya datang bukan untuk hal yang di maksudkan olehnya . “Bukan untuk hal ini ? Kau bukan ingin menyelidiki kekasihmu yang kemungkinan berselingkuh ?” Mengingat bahwa yang paling banyak menggunakan jasanya memang dari kalangan perempuan sendiri, yang meminta untuk mencarikan mereka informasi - informasi mengenai pasangan yang di curigai oleh mereka berselingkuh darinya. Cukup terkejut akan hal itu membuatnya mencoba mempertahankan kembali gayanya yang berusaha terlihat percaya diri di depan sang kostumer dengan berdehem dan menahan sedikit rasa penasaran yang dimilikinya, mengetahui bahwa klien miliknya kali ini ingin mengetahui sesuatu yang lain. “Baiklah. Jadi kau ingin aku mencari informasi apa ?” Awalnya Hemera kembali ragu untuk mengeluarkan perkataanya sebelum lagi - lagi ia melirik sebentar kesana kemari, berusaha melihat sekitar meyakinkan diri jika, tidak ada yang akan mendengar ucapannya. Bahkan Sam yang melihat hal tersebut menjadi jauh lebih penasaran dan kini telah mendekat pada Hemera. “Aku ingin kau mencari tahu informasi mengenai seorang perempuan manusia yang telah terlahir untuk Yang Mulia Raja.” Saat mendengar ucapan dari perempuan yang di pikirnya adalah seorang Nymph itu membuatnya sedikit tersentak mundur sebelum Hemera menariknya mendekat kembali. “Sertakan informasi lengkap mengenai Yang Mulia Raja beserta apa yang akan Yang Mulia Raja lakukan pada gadis manusia itu. Berikan aku informasi tersebut dengan cepat besok.” Sam terlihat tidak berkutik bahkan gayanya yang telihat percaya diri tadi telah hilang entah kemana setelah Hemera menyampaikan keinginnannya. Sayangnya Hemera tidak menyadari perubahan wajah di depannya dan hanya fokus pada bagian dalam jubahnya, mengambil kantong yang berisikan koin - koin pemberian Doly pada dirinya. “Karena aku membutuhkan informasi ini cepat, aku akan memberimu seratus koin terlebih dahulu. Jika, besok kau memberiku informasi yang berguna aku akan menambahkannya lagi sesuai dengan permintaanmu.” Jelas Hemera lagi mulai mengeluarkan koin - koin tersebut dari kantung miliknya dan menaruh di atas meja sebelum mendorongnya ke arah Satyr di depannya. “Kau bisa melakukannya bukan ?” Sam menelan ludahnya saat pertanyaan menyelidiki itu keluar dari mulut gadis di depannya. Sam seharusnya menjawab tidak dan menolak apa yang di inginkan oleh Hemera melihat apa yang di inginkan oleh perempuan itu bukanlah menyelidiki kekasihnya yang di curigainya berselingkuh melainkan menyelidiki seorang pemimpin dari Negeri Keaton. Siapapun tahu tidak ada yang berani menyelidiki pria tersebut saat taruhannya adalah kematian mereka tapi, perempuan yang telah memberinya koin sebanyak 100 keping itu justru melakukannya dan meminta pada dirinya agar memberikan informasi. Jiwa pengecut yang di miliki Sam sebagai seorang Satyr menggoyahkannya di satu sisi namun, di sisi lain menatap koin - koin itu membuatnya kehilangan kewarasan sampai harus menelan ludahnya sendiri. 100 buah keping koin tidaklah sedikit, dirinya dapat berpesta dengan koin itu sampai beberapa minggu kedepan. “Jika kau tidak bisa mel—“ “Akan kulakukan.” Sela Sam cepat saat Hemera terlihat akan menarik koin yang tidak pernah di tawarkan pada dirinya berjumlah begitu banyak sebagai bentuk jaminan untuknya dalam menggali informasi. Dengan cepat di tariknya koin tadi dari tangan Hemera agar kembali mendekat kearahnya dengan begitu nafsu akan uang yang di dapatkan malam ini. Dirinya tidak pernah menerima sebanyak ini hanya untuk pembayaran muka, minimal dirinya harus bekerja untuk 3 orang wanita yang menginginkan informasi dari mereka agar mendapatkan 100 keping tersebut. Ternyata benar besaran gaji itu tergantung dengan besar kecilnya resiko dari pekerjaan yang mereka ambil. “Besok malam aku akan kembali kemari. Jadi sebaiknya kau menyiapkan dengan baik informasi yang berguna.” Mata berbinar dari Sam saat menyentuh kepingan - kepingan tersebut untuk sesaat memudar mendengarkan ucapan Hemera lagi namun, ia menganggukan pula kembali kepalanya setelah terdiam beberapa saat yang lalu. “Baik. Besok malam akan aku berikan informasi yang berguna. Percaya saja padaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD