Hemera diam memperhatikan Sam yang sedang sibuk memberhentikan kereta untuk dirinya tumpangi, sesuai dengan permintaannya agar Satyr tersebut dapat membantunya mendapatkan tumpangan yang akan mengantarnya kembali ke kastil.
Terlihat bahwa Sam telah berhasil menghentikan satu buah kereta membuat pria campuran hewan tersebut berbalik dan menatapnya. Seolah mengatakan bahwa kereta yang di inginkan oleh dirinya telah ada dan siap untuk mengantarnya menuju pada tujuan gadis manusia itu.
Dengan perlahan dirinya berjalan mendekat pada Sam yang masih berdiri di samping kereta, membuatnya menatap pada pria tersebut di balik tudung cokelat miliknya yang memudarkan sedikit penglihatan dari Satyr tersebut padanya.
“Besok aku akan kembali. Sebaiknya tepati janjimu.”
Sam yang mendengarkan hal itu hanya menganggukan kepalanya lalu berjalan menggunakan tubuh bagian bawahnya yaitu, kaki kambing ke arah pintu kereta dan membukakannya bagi klien miliknya.
“Tentu saja peri. Sudah kubilang untuk jangan khawatir. Percaya saja pada diriku.” Hemera hanya terdiam menatap pada Sam yang kini kembali menunjukan gaya percaya dirinya hingga ia harus memutar bola matanya karena, mulai jengah akan tingkah pria itu padanya.
Dirinya menatap pada kereta yang akan membawanya kembali pada jalan setapak tadi agar ia bisa kembali kedalam kastil hanya, untuk masuk kembali pada ruang memuakan yang mengurung dirinya. Jauh di dalam dirinya ia tidak ingin untuk kembali kesana dirinya ingin pergi melarikan diri dan tidak pernah kembali ke kastil tersebut.
Hemera takut untuk berbagai kemungkinan yang berada di dalam pikirannya. Bagaimana jika kesempatan untuknya keluar seperti sekarang tidak akan kembali lagi meskipun, Doly telah menjanjikan hal tersebut padanya atau bagaimana jika ternyata besok adalah hari terakhirnya membuka mata. Ia takut untuk hal tersebut.
Sam yang memperhatikan tingkah gelisah perempuan di depannya untuk pertama kali setelah beberapa jam pertemuan mereka, membuatnya berhasil sedikit mengerutkan kening. Terlihat di matanya bahwa gadis tersebut mempunyai kegelisahan di dalam kepalanya namun, ia tidak tahu kegelisahan itu mengenai apa.
“Apa tidak jadi ?” Suara dari kurir kereta terdengar di tengah keheningan yang melanda mereka. Terlihat bahwa kurir tersebut sedikit tidak sabaran menunggu penumpangnya yang terlihat tak kunjung naik pula.
Hemera yang tersadar dengan ucapan sang kurir pada akhirnya menggegam erat bagian dalam dari jubah yang di pakainya dan mulai melangkah naik kedalam kereta saat Sam membantunya memanjat naik ke atas.
Untuk sekarang ia akan menepati janjinya pada Doly dan seperti apa yang di pikirkannya sedaritadi ia hanya dapat mempercayai imp tersebut. Jadi, dirinya harus kembali lebih dahulu kedalam kastil dengan berbagai resiko yang kemungkinann akan menantinya jika, memilih untuk kembali kesana.
“Sampai jumpa besok peri.” Hanya itu yang di ucapkan oleh Sam sebelum, di tutupnya kembali pintu kereta dan membiarkan kereta yang di tumpangi oleh gadis tersebut berjalan pergi.
Dengan bersemangat dirinya melambaikan tangannya kearah kereta yang di tumpangi oleh klien miliknya, meskipun mungkin Hemera tidak akan berbalik menatapnya hanya untuk melihat apakah Satyr tersebut melambai padanya.
Setelah kereta tersebut mulai berjalan menjauh di ambilnya kembali kantung kecil miliknya yang tergantung di sekitar pinggulnya dan di tatatpnya 100 buah keping koin pemberian Hemera padanya.
Tidak dapat menahan senyumannya sendiri membuat Satyr tersebut tersenyum dengan begitu lebar. “Malam ini aku akan berpesta.” Ucapnya dengan gembira dan mulai berbalik berjalan pergi bersama kantungnya yang penuh akan gemerincing dari koin - koin.
Dibukanya pintu belakang bagian bar Luciod lalu berjalan mendekat pada temannya yang bekerja sebagai bartender dan telah berkontribusi cukup banyak dalam membantunya mendapatkan 100 koin ini.
“Berikan aku satu buah Burlion.” Ucap Sam memesan dengan begitu santai sebelum, berjalan ke arah kursi para pengunjung dari bar Luciod ini dan duduk disana seolah - olah dirinya adalah pengunjung.
Centaur yang telah mengenal cukup lama Satyr tersebut tersenyum lalu membuatkannya sebuah bir yang memang telah di pesan, tahu bahwa Sam pasti sedang memiliki begitu banyak uang. Jika pria tersebut sudah datang untuk memesan Burlion bir yang di jual mahal di bar mereka maka Sam pasti sedang ingin berpesta.
Satyr yang satu ini memang tidak bisa lepas dari kesenangan miliknya yaitu mabuk - mabukkan jadi, saat ia mendapatkan uang pasti uang itu akan cepat habis hanya untuk kesenangan sesaat saja adanya dan tidak pernah terinvestasi dengan begitu baik.
“Apa kalian berhasil mencapai kesepakatan ?” Sam mengayunkan tangannya menolak menjelaskan pada teman satu garis klannnya itu dan lebih memilih untuk menenggak minuman yang berada di depannya hingga ia bersuara puas,
“Tidak perlu di bahas aku hanya ingin menikmati malam ini dengan Burlionku.”
“Kau pasti di tawarkan harga yang fantastis olehnya.” Gumam sang bartender mendengar Satyr tersebut hanya fokus padanya.
Sesaat kemudian Sam mengeluarkan 20 buah keping koin dari dalam kantung miliknya dan menyerahkannya pada Centaur di depannya yang langsung saja menerimanya. “Aku tidak akan kemari besok. Tidak, untuk beberap hari aku tidak akan kemari lagi. Jadi, jika ada yang mencariku katakan kau tidak melihatku.”
Ya. Sam memilih untuk melarikan diri dari tugas yang di dapatkannya. Ia hanya akan mengambil uang muka ini lalu menghilang beberapa hari kedepan dengan koin - koin yang telah di terimanya sebagai pembayaran di muka.
“Bukannya kau akan mencari informasi mengenai kekasih Nymph tadi ?” Heran sang Centaur mendengar ucapan Sam yang katanya tidak akan kemari. Sementara pekerjaan pria tersebut lebih sering di lakukan dalam bar Luciod dimana hal itu telah menjadi hal lumrah.
Bar Luciod sendiri sebenarnya tidak pernah menyediakan secara resmi jasa yang di lakukan oleh Satyr itu. Hanya Sam yang melakukannya secara mandiri di dalam bar Luciod ini dengan bantuan dari Centaur temannya dalam menggaet para pelanggan, sehingga mulailah muncul bisikan - bisikan yang menyebar dari mulut ke mulut,
Lagipula Sam bukanlah pekerja dari bar ini, ia hanya berkerja sama dengan sang bartender yang akan mendapatkan sedikit koin jika berhasil menghubungkannya bersama para pelanggan yang memang tengah membutuhkannya.
Hingga terbentuklah kerjasama seperti sekarang. Namun, mereka hanya sebatas partner kerja saja , di luar dari konteks tersebut mereka bukanlah apa - apa terlebih dengan kata pertemanan yang mempertemukan mereka berkat kebutuhan akan uang saja.
“Pokoknya saat ada yang mencariku katakan saja kau tidak melihatku. Aku sedang rehat dari pekerjaan ini.” Sam lagi - lagi tidak menjawab dan hanya meminta pada bartender tersebut untuk mengatakan hal itu nantinya.
Sudah begitu jelas jawabannya jika dirinya tidak akan menyelidiki sesuai permintaan gadis manusia tadi. Sam tidak gila untuk berani melakukan hal tersebut pada seorang yang memimpin negeri Keaton ini.
Memikirkannya saja membuat bulu - bulu pada tubuhnya merinding naik. Jiwa pengecutnya kembali keluar.
***
Suara tapak kuda juga sura roda kereta yang telah berhenti berjalan membuat Hemera membuka pintu kereta di sampingnya. Mengetahui bahwa ia telah tiba di tempat yang di tujunya.
Dengan pelan dirinya melompat turun dari kereta tersebut hingga sepatu yang di pakainya berdecit dengan tanah di bawahnya. Menatap pada sekitarnya meyakinkan bahwa ia telah berada di tempat yang tepat, tempat awal dirinya datang tadi.
Saat yakin bahwa ia telah berada pada tempat yang tepat Hemera menarik keluar kantung kecil miliknya yang mulai jauh lebih ringan di banding saat pertama kali dirinya menerima kantung berisikan koin tersebut.
Diserahkannya 10 buah koin sesuai dengan jumlah yang di ingatnya saat menaiki kereta yang pertama untuk membawanya ke Viula, lalu di serahkannya pada sang kurir yang langsung saja melintas pergi setelah menerima bayarannya.
Rimbunan hutan yang mengelilinginya tadi kini mulai terlihat tidak begitu menakutkan untuknya saat menyadari bahwa sebentar lagi matahari akan terbit. Sehingga pencahayaan di sekitarnya tidak begitulah gelap gulit seperti beberapa jam yang lalu.
Hemera sedikit merasa lega telah tiba sebelum matahari yang sebentar lagi akan menyongsong menampilkan dirinya. Tidak menunggu langsung saja dirinya mulai berjalan masuk kedalam rimbunan hutan - hutan, mencoba mengingat jalan yang di ambilnya semalam.
Dikarenakan tidak begitu gelap sehingga matanya sudah dapat sedikit mengenali jalan - jalan yang membutnya sedikit jauh lebih mudah kali ini dan hanya tinggal mengikuti instusinya saja dalam mengambil jalan.
Saat melihat bahwa dirinya telah berada di jalan yang benar hingga, dirinya telah berhasil mendapatkan jalan bagian samping dari kastil membuatnya kini mulai mempercepat langkahnya sendiri.
Ternyata sesosok tubuh kecil telah menunggunya di luar untuk kembali dengan raut kegelisahannya yang langsung berubah dengan raut tenang melihat Hemera telah kembali.
“Doly. Aku telah kembali.” Ucap Hemera sesaat setelah makhluk tersebut berlari ke hadapannya dan kini tengah menatap dirinya.
Doly memperhatikan Hemera dari atas ke bawah mencoba memastikan apa teman manusianya itu baik - baik saja. Saat menemukan bahwa Hemera sepertinya berhasil membeli pakaian dan sepatu untuk ia pakai dalam menyamar, Doly sudah tahu bahwa Hemera baik - baik saja selama melakukan perjalanan tunggalnya tersebut.
“Ya. Apa Hemera baik - baik saja dengan perjalanannya ?” Gadis manusia itu hanya menganggukan kepalanya sebelum menyerahkan kantung kecil yang masih tersisa akan koin - koin pemberian imp tersebut.
“Maaf Doly. Aku menghabiskan cukup banyak uang.”
Doly menggelengkan kepalanya hingga tangan kecil miliknya itu kembali mendorong mundur kantung - kantung tersebut, kembali pada Hemera. “Doly hanya ingin membantu teman Doly. Ayo Hemera, matahari sebentar lagi akan terbit.”
Doly menarik tangan Hemera dan mulai menggiringnya masuk kembali kedalam kastil setelah memastikan keadaan aman sebelum masuk. Mengantarkan kembali gadis manusia temannya untuk kembali pada ruangannya dengan hati - hati agar tidak tertangkap.
Hemera mulai melepaskan jubah dan sepatu miliknya dengan cepat sesaat setelah mereka tiba di dalam ruangan tempatnya di kurung dan mulai menyimpan jubah serta sepatu tersebut kebawah kolong ranjang, menyembunyikannya agar tidak kedapatan bahwa ia telah keluar ruangan ini untuk melakukan perjalanan semalam.
“Bagaimana ? Apa Hemera telah mendapatkan sesuatu yang Hemera cari ?”
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Doly padanya membuat Hemera menggelengkan kepalanya bersamaan dengan itu dirinya bangkit dari lantai setelah, sudah yakin telah menyimpan dengan baik - baik pakaian miliknya.
“Tidak. Aku belum mendapatkan apa - apa Doly. Tapi, aku telah menyewa seseorang untuk memberikanku informasi besok malam.”
Saat imp tersebut akan membuka suaranya kembali bertanya matahari sudah bersinar terlebih dahulu menandakan bahwa mereka telah menyambut hari yang baru.
“Kalau begitu Hemera beristrahatlah. Doly harus pergi sekarang. Nanti malam Doly akan kembali untuk membantu Hemera.” Jelas Doly mulai mendorong gadis tersebut naik ke atas ranjang dan mulai berbaring.
Dengan pelan Doly menarikan selimut agar menutupi tubuh Hemera yang sudah berbaring dengan sempurna.
“Terimakasih Doly karena sudah mau membantuku. Tanpamu, aku tidak akan bisa keluar dari sini.” Saat Doly baru saja akan bergerak pergi dari sana ia menahan tangan kurus itu dan dengan tulus tersenyum pada imp yang membantunya karena, mereka teman.
Doly terlihat tersentuh akan ucapan Terimakasih yang tulus dari Hemera, terlihat bagaimana kedua bola mata hitam besar miliknya membesar terharu.
Beberapa suara langkah kaki dari luar terdengar menandakan bahwa para kartakan sepertinya sudah akan berpatroli pagi ini mengecek sekitar.
“Kalau begitu Doly pergi dulu Hemera. Jaga dirimu baik - baik sampai kita bertemu lagi nanti malam.”
Saat makhluk pertama yang mau menolongnya itu kini telah menghilang dari balik pintu ruangannya, Hemera tidak bisa untuk tidak menghela nafasnya dengan tenang. Memikirkan bahwa ia telah kembali ke ruangan yang mengurungnya ini.
Jujur Hemera merasa sedikit lega karena telah kembali tepat pada waktunya di kastil ini setelah melakukan perjalanan semalam. Ini cukup mendebarkan untuknya memikirkan bahwa bisa saja ia tertangkap melakukan perjalanan semalam tadi yang entah mungkin akan berimbas buruk pada dirinya.
Manik biru miliknya yang masih terbuka menerawang ke atas menatap pada bagian kaca yang menampilkan awan - awan biru bercampur putih juga tengah menatap dirinya. Membiarkan matanya menikmati pemandangan awan tersebut bersama pikirannya yang kinj tengah melayang jauh.
Sayangnya saat bunyi kunci dari pintu ruangannya yang terdengar sedang di buka itu, spontan saja membuat kelopak matanya menutup tidak lagi menampilkan manik biru miliknya.
Disusul dengan derit pintu yang terbuka bersama dengan beberapa langkah kaki kecil dan beberapa dorongan troli. Hemera tahu jika para imp pelayan sudah datang untuk mengantarkannya sarapan. Tepat waktu seperti kemarin dan juga tepat waktu untuk perutnya yang kelaparan karena telah mengeluarkan begitu banyak energi untuk aktivitasnya semalam.
Biasanya para imp itu hanya akan datang mengantarkannya makanan lalu segera berlalu pergi setelahnya namun, suara derat kaki dari kaki kecil mereka tidak terdengar lagi bahkan pintu yang menutup belum juga terdengar kembali, menandakan bahwa mereka belum beranjak pergi .
Entah kenapa jantung miliknya mulai memacu dengan sendirinya mengirim rasa gugup dan waspada padanya .
Hingga saat belum juga mendengar tanda - tanda akan kepergian para imp itu dirinya yang mulai gugup karena takut ketahuan padahal telah menyembunyikan jejaknya dengan baik terpaksa membuka matanya. Berpura - pura baru terbangun dari tidur panjang semalam miliknya.
Hemera melihat troli makanan yang memang sudah berada pada posisinya seperti kemarin - kemarin sudah berada tidak jauh darinya. Namun 6 buah pasang mata bulat besar dari 3 orang imp itu tengah menatap ke arahnya dalam keheningan.
Membuat Hemera tidak memiliki pilihan lain untuk tersenyum canggung pada mereka untuk pertama kalinya menampilkan senyumannya karena, untuk pertama kalinya dirinya pula berhasil menarik perhatian para imp yang hanya lebih banyak mengabaikannya.
Hemera harus menarik kata - katanya mengani menyimpan jejak perjalanan saat mengetahui apa yang membuat para iblis setengah peri tersebut menatapnya, dirinya melupakan mengenai beberapa noda lumpur pada gaun putih miliknya.
Karena terlalu sibuk menyembunyikan satu hal di tengah waktu yang terburu - buru ia akhirnya teledor meninggalkan sedikit jejak.
“Aku tidak sengaja semalam menumpahkan makan malam di gaunku. Terlalu menikmatinya.” Elaknya mencari alasan menggunakan makan malam yang memang satu buah panggang daging dengan siraman saus yang berwarna cokelat. Saat mencoba menjelaskan hal itu Hemera tidak bisa menahan diri untuk tidak mencicit di akhir kalimatnya. Melihat respon yang di tunjukan padanya akan alasan tersebut.
“Bolehkan aku mendapatkan gaun baru ?” Sambung Hemera dengan was - was, masih mencoba mencari jalan keluar dari kecurigaan 3 makhluk tersebut.
Untuk beberapa saat imp tersebut hanya terdiam sebelum saling memandnang satu sama lain dan mulai berjalan pergi meninggalkannya tanpa lagi - lagi berbicara sepatah kata padanya .
Hemera tidak tahu haruskah merasa lega karena mereka telah pergi meninggalkan dirinya meskipun ia sendiri tidak yakin jika mereka menerima alasan yang di buatnya. Namun, karena kecurigaan dari para imp itu pula dirinya segera melompat turun dari ranjang dan mulai mengecek kebawah kolong pada pakaian yang di sembunyikannya, memastikan bahwa pakaian itu memang tidak terlihat atau mencuat keluar.
Beberapa saat kemudian suara pintu yang kembali terdengar membuat Hemera termundur menjauhi kolong tempat tidur miliknya dan menatap pintu dengan jantungnya yang berdetak tidak karuan, kembali harus menanti seseorang yang akan masuk kedalam ruangan.
Dirinya sedikit merasa lega bahwa ternyata salah satu imp yang melayaninya tadi ternyata kini datang dengan sepasang gaun putih yang terlipat rapi di tangannya. Dirinya tidak bergerak dari posisinya dan hanya terus menatap pada sang imp yang kini berjalan mendekat ke arah ranjang, menaruh gaun tersebut ke atas ranjang untuk dirinya pakai ganti .
Saat imp itu telah meletakan gaun putih polos yang sama seperti dirinya pakai di atas ranjang, kedua manik mata hitam bulatnya kembali menatap pada Hemera yang masih diam dan berdiri canggung di tempatnya.
“Terimakasih.” Cicit Hemera sedikit berbasa - basi di tengah kecanggungan yang melanda mereka. Namun, lagi - lagi imp itu hanya diam tidak menjawab sebelum kembali berjalan.
Kali ini imp itu tidak berjalan pergi ke arah pintu melainkan ke salah satu sisi dinding dengan lilin yang tertempel sebagai penerangan di sana. Hemera hanya terdiam menatap imp tersebut yang kini sedikit berjinjit agar tubuh pendek miliknya dapat mencapai gagang lilin, sebelum mulai menariknya kesamping membuatnya terkejut dengan apa yang di lihatnya saat itu juga.
Terlihat dinding tersebut bergerak dan kini bergeser membuka seperti pintu rahasia, hingga Hemera tidak bisa menahan diri untuk melangkah mendekat agar dapat melihatnya dengan lebih dekat.
Ternyata di balik pintu rahasia itu terdapat sebuah bathub untuk dirinya dapat pakai berendam membersihkan dirinya sendiri. Ia menunduk kesamping menatap sang imp yang juga menatapnya dengan diam.
“Terimakasih. Aku akan mengganti pakaianku setelah selesai membersihkan diriku.” Hanya itu yang di ucapkan oleh Hemera sebelum dirinya berjalan masuk kedalam.
Membiarkan imp yang menjadi pelayan di kastil ini berlalu pergi dari ruangannya agar ia bisa membersihkan dirinya dengan cepat.
Seharusnya Hemera tidak terpesona sejauh ini mengingat bahwa kemewahan yang di dapatkannya berada pada tempat yang kemungkinan paling besar akan membunuhnya. Sayangnya ia sedikit melupakan hal tersebut saat tangannya memutar keran air yang mengeluarkan air dingin untuk dirinya pakai.
Menyentuh air itu saja membuat rasa segar seperti langsung menyusup masuk kedalam dirinya setelah beberapa hari ini tidak pernah menyentuh air selain untuk dirinya minum dalam batas wajar. Di penuhkannya bathub di depannya, berencana untuk berendam sekarang juga mencoba menghilangkan rasa penat pada tubuhnya dengan berendam pagi hari ini.
Tidak tanggung - tanggung dirinya langsung saja melepaskan gaun yang di pakainya hingga, terjatuh kebawah lantai dan kini hanya menampilkan tubuh polos miliknya, membuatnya segera melangkah masuk kedalam bathub dan berendam disana.
Mulai membasuh tubuhnya dengan pelan menggunakan air yang langsung saja merelax kan saraf - saraf miliknya dalam sekejap, menjauhkannya dari kepenatan yang ada.
Di tutupnya mata biru miliknya menikmati sensasi segar dari air dingin tersebut hingga, ia mulai ikut menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam bathub yang kini menumpahkan air keluar saat tubuh mungilnya tenggelam sepenuhnya kedalam bathub yang ada.
Tanpa sadar membawanya pada sebuah ingatan. Dirinya seperti melihat potongan - potongan bagian kecil adegan yang tidak begitu jelas bahkan dirinya kini mendengar begitu banyak suara - suara yang begitu memekakan telinganya, tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan karena telah bercampur.
Ruang nafas dalam paru - parunya sebentar lagi akan habis dan seharusnya dirinya naik untuk mengambil nafas namun, tubuhnya seperti terkunci dan tidak dapat naik ke atas mengambil udara membuatnya, bergerak - gerak gelisah kesana kemari berusaha lepas dari belitan yang mengekangnya.
“Aku tidak ingin hidup seperti ini .”
“Tolong biarkan aku mati.”
Hingga suara nyaring yang memekakan telinganya itu terdengar bersama dengan dirinya yang terdorong naik ke atas untuk mengambil nafas dengan terbata - bata.
Dengan panik dirinya menatap kesana kemari seolah mencari seseorang yang mengeluarkan suara - suara yang di dengarnya. Sayangnya, Hemera tidak menemukan siapa - siapa, hanya ada dirinya disini sendirian.
Dirinya melihat begitu banyak potongan adegan - adegan kecil yang tidak di kenalinya bahkan begitu banyak suara - suara yang menyatu begitu berisik membuat kepalanya pusing dengan sendirinya mendengarnya. Ia hanya bisa mendengar 2 kalimat terakhir sebelum dirinya kembali terdorong naik ke atas saat dirinya benar - benar akan kehilangan kesadaran .
Mendapatkan pengalaman kurang mengenakan tersebut membuat Hemera memilih segera beranjak dari dalam barhub, mengakhiri detik itu juga sesi berendamnya. Ia tidak ingin kembali mendapatkan pengalaman seperti tadi, itu cukup menakutkan .
Dengan cepat dirinya melangkah keluar dan segera menutup kembali tembok dengan menggerakan bagian lilin yang masih pada posisi miring untuk kembali tegak dan segera menutup.
“Kau menikmati berendammu ?” Suara berat itu seketika juga membuat Hemera berteriak terkejut dan langsung saja berbalik menatap ke arah belakangnya, dimana suara itu datang.
Matanya menangkap sepasang manik merah yang juga tengah menatap dirinya. Pri yang terakhir kali dilihatnya saat tengah mengintainya dari atas atap tidak membuat jantungnya menurunkan detakannya, justru terus meningkat.
Pria yang pertama kali memberikannya nama namun, juga yang mengisap darahnya hingga kemarin mengintainya dengan menampilkan sosok lain dari diri pria tersebut tidak akan pernah membuatnya merasa aman di dekatnya.
Namun, kali ini dirinya mendapati bahwa pria itu kembali datang padanya tanpa sepasang sayap di tubuh belakangnya. Tidak menunjukan bahwa itu tidak akan menyakitinya.
Amorist menatap tubuh polos di depannya tanpa satupun busana yang melekat di tubuh tersebut membuat manik merah miliknya mengkilap. Menyadari hal itu Hemera hanya bisa menutupi tubuhnya sendiri menggunakan tangannya yang hanya dapat menutupi bagian - bagian intimnya saja di bawah tatapan intimidasi itu.
“Apa kau tahu Hemera bahwa kau hidup mewah di banding yang lainnya ?” Amorist membuka suaranya kembali sembari berjalan mendekat ke arah ranjang dimana gaun putih baru untuk gadis manusia itu pakai berada di sana.
Di ambilnya gaun putih polos tersebut lalu mulai berjalan mendekat ke arah Hemera yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi ketakutannya sendiri.
“Mereka semua hanya dapat berbaring dengan lemah di atas ranjang dan terus menerus memohon untuk di bunuh. Mereka tidak ingin hidup.” Langkah sepatu Amorist yang keluar di setiap langkahnya itu berhasil mencekam keadaan di sekitar mereka.
Bahkan setelah Amorist berdiri tepat di depan gadis tersebut, Hemera justru tidak berani mendongak menatapnya dan hanya terus berusaha melindungi dirinya sendiri dengan termundur hingga punggungnya telah menyentuh tembok di belakang.
Seperti seekor hewan yang terpojok.
Di ambilnya salah satu tangan Hemera hingga menjauh dari tubuhnya sendiri yang berusaha di tutupinya dengan lembut. Lalu di berikannya gaun pada tangannya beralih pada gadis di depannya.
“Tapi, kau berbeda. Kau bahkan menerima belas kasih dariku yang lebih memilih untuk kesakitan.” Bisik Amorist dengan senyum kecil di ujung bibirnya bersama tangannya yang mulai menyentuh lembur rambut ungu itu.