14~Panas Awal

428 Words
Tangan putih kecil yang sedang memegang gaun dengan sebelah tangannya itu kini bergemetar membuat Amorist yang berada di depannya menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Dirinya berlum beranjak pergi dari posisinya dan masih saja terus mempertahankan posisi mereka meskipun Amorist dapat merasakan bagaimana Hemera gadis manusia pemilik jantung ke 101 itu bergemetar berada dekat dengan dirinya. Jujur Hemera tidak dapat menahan gemetar ketakutan tersebut saat melihat pria yang menaruh kenangan kueang mengenakan pada dirinya kini tengah berdiri di depannya dengan begitu santai, bersama tangan besarnya yang masih mengelus lembut rambutnya. Hemera tidak tahu apa dirinya memang pantas merasa aneh dengan situasi ini atau seharusnya hal ini sudah bisa di jadikannya kebiasaan, mengingat ia memang berada dalam dunia yang tidak bisa di jelaskan oleh akal sehat miliknya. Namun, dirinya yakin situasi apapun saat seorang gadis yang terpojok tanpa busana akan merasakan hal yang sama seperti dirinya, tidak akan terpengaruh oleh keadaan apapun dan di dunia manakah dirinya berada. Ia yakin apa yang terjadi padanya itu efek normal dari bentuk refleks tubuhnya. “Kau berencana untuk terus seperti ini dan tidak akan memakai gaunmu ?” Suara berat itu kembali mengalun tanpa ada nada di dalamnya. Hemera tahu dirinya seharusnya bersuara menjawab pertanyaan yang sudah pasti terlontar untuknya tapi, mulutnya juga ikut membeku seperti seluruh tubuh rapuh miliknya yang hanya bisa bergemetar ketakutan di bawah tatapan dan sentuhan halus itu. Ia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Tidak mendapatkan jawabana apapun pada akhirnya membuat Amorist kembali membuka suaranya dengan tangannya yang mulai turun menyentuh helas rambut ungu indah yang begitu panjang. “Ada apa Hemera ? Tenangkan dirimu aku tidak akan menyakitimu.” Kali ini tangan besar dan dingin tersebut sedikit bersentuhan dengan bagian kulit milik Hemera meninggalkan jejak dingin pada kulit putih di depannya. Membuat tubuh tersebut berkali - kali lipat merinding untuk meresponnya. Entah karena gadis itu baru selesai mandi ataukah memang dirinya berhasil begitu mengintimidasi Hemera, Amorist sebenarnya tidak ingin begitu mencari tahunya. Kali ini lebih di dekatkannya tubuhnya pada tubuh polos Hemera hingga wajahnya telah berada tepat di samping kepala gadis tersebut, turun secara perlahan menyusuri pada area telinganya yang tertutup rambut. “Pakai gaunmu dan jangan takut lagi kepadaku. Ingat aku datang untuk menyembuhkan lukamu dan memberimu nama. Kau spesial bagiku Hemera.” Sambung Amorist lagi - lagi berhasil membuat gadis manusia tersebut terus mengunci mulutnya dengan bujukan yang berusaha meyakinkannya, justru hanya membuatnya semakin menundukan kepala miliknya. “Karena aku tidak pernah melakukan hal setengah - setengah seperti, kau yang mendapatkan belas kasihku. Jadi, aku akan menunggu di luar dan membiarkanmu berganti pakaian dengan tenang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD