15~Godaan Iblis

3429 Words
Hemera semakin memojokan dirinya dengan terus mundur seolah - olah dapat menembus dinding di belakangnya saat, mendengar perkataan pria tersebut padanya meskipun apa yang di katakannya bukanlah hal yang dapat membuatnya shock terkejut. Namun dirinya belum dapat terbiasa dengan Amorist bagaimanapun pria itu memperlakukannya dan terus mengatakan bahwa ia tidak perlu takut pada pria bermanik merah itu. Tetap saja naluri manusianya menyuruh dirinya untuk menjauh dan terus waspada akan pria tersebut padanya. Saat Amorist selesai dengan perkataannya tubuhnyapun mulai menjauh mundur dari gadis tersebut yang masih diam tidak dapat berkutik di depannya. Mata merah miliknya tidak dapat lepas dari ekspresi gadis ke 101 yang benar - benar menunjukan ketakutan akan keberadaannya disini. Melihat Hemera tidak berkutik dan juga tidak akan membalas ucapannya sehingga ia memilih untuk mulai melangkah pergi dari sana, membiarkn sepatunya bergema di dalam ruang Lebna ini. Mata Hemera yang memang sedari awal hanya terpaku pada lantai di bawahnya sedikit menghela nafas saat sepasang sepatu dari pria berambut hitam itu telah pergi menghilang meninggalkan dirinya. Di angkatnya kepala miliknya dengan pelan menatap pada punggung besar dan tegap yang telah membelakanginya dan mulai berjalan keluar dari ruangan ini, benar - benar meninggalkannya seperti perkataan pria tersebut untuk membiarkannya sendirian saat berpakaian. Rasa lega langsung saja menghantam dalam dirinya melihat kepergian Amorist dari hadapannya membuat, Hemera benar - benar dapat menarik nafas untuk menghirup udara agar segera mengisi pasokan udara bagi paru - paru miliknya. Berada dalam radar pria tersebut membuatnya serasa kehilangan semua kendali akan tubuhnya sendiri bahkan untuk bernafas Hemera sempat melupakannya, sebegitu besar pengaruh pria itu pada dirinya atau tepatnya sebesar itulah tekanan yang dapat di berikan Amorist pada gadis ke 101 itu. Setelah memastikan bahwa dirinya telah satu - satunya yang berada dalam ruangan tidak menunggu lagi langsung saja Hemera memakai gaun yang berada di tangannya, khawatir bila ada yang kembali masuk kedalam ruangan ini dan menemukannya tanpa sehelai benangpun pada tubuhnya ini. Sudah cukup buruk baginya bahwa tubuh tanpa busana nya itu tertangkap mata oleh seorang pria yang bahkan baru kembali di lihatnya setelah beberapa hari tidak menampakan batang hidungnya. Entah ada apa dengan pagi ini dirinya seperti teruji dengan pagi ini. Lihat saja bagaimana dari dirinya yang begitu ketakutan akan tertangkap oleh para imp, lalu di sambung dengan bagaimana ia mendapatkan pengalaman buruk pada bathub saat ingin bersantai, dan sekarang dirinya tertangkap tanpa busana di mata seorang pria yang berhasil menghisap darahnya hingga ia jatuh tak sadarkan diri. Hemera tahu dan sadar sepenuhnya jika dirinya sedang berada dalam dunia yang tidak bisa di jelaskan dengan akal sehatnya, bahkan setelah berkali - kali melihat dan mengalaminya sendiri. Karena itu ia berusaha untuk mencari cara agar dapat bertahan hidup di dunia yang berbeda dengan dirinya. Namun, segala hal yang dapat membunuhnya entah kenapa datang terus menerus menghantamnya. Padahal dirinya sudah berusaha menjauhi hal yang akan membunuhnya namun, mereka seolah - olah datang dengan sendirinya. Mengujinya tanpa adanya penjelesan apapun yang akan di dapatinya. Selalu saja dirinya yang akan berakhir dengan tidak baik, entah apa dirinya akan kehilangan darahnya kembali untuk malam ini. Jadi saat pikiran tersebut merasuk menusuk kedalam kepalanya tidak ada pilihan lain selain kembali di kantunginya pisau yang tadi di sembunyikannya di bawah kolong ranjang bersama pakaian pelariannya semalam. Di ambilnya pisau itu lalu kembali di sembunyikannya kedalam gaunnya, jika kejadian tadi kembali terulang dirinya benar - benar harus dapat membela diri dan tidak hanya berdiam diri seperti kucing yang terpojok. Agar pria tersebut juga tahu bahwa ia dapat melukai mereka jika terus mencoba untuk menekannya lagi. Tapi, di balik semua itu Hemera berharap kejadian tadi tidak akan kembali lagi menimpanya. Sayangnya pintu ruangannya kembali berderit terbuka pelan sehingga gadis tersebut dengan cepat bangkit dari posisinya di lantai, tepat setelah mengatur dengan baik letak dari pisau yang di curinya tersebut. “Kau sudah memakai gaunmu. Sekarang sarapanlah aku akan menemanimu.” Amorist kembali muncul dari arah pintu dan menatapnya dengan sekilas hanya untuk memastikan bahwa gadis manusia tersebut telah berpakaian. Lalu mulai berjalan ke arah troli makanan dan menariknya mendekat ke arah ranjang, hingga pria itu dengan begitu santainya mengelurkan sihirnya agar salah satu kursi yang berada dalam ruangan datang dan mendekatinya. Hemera yang melihat sihir tersebut menelan ludahnya dengan sedikit kekaguman namun, rasa tidak terbiasa akan apa yang di lihatnya jauh lebih membuat gejolak tidak tenang dalam dirinya timbul. “Kemarilah Hemera.” Suara itu kembali menyadarkan Hemera saat Amorist kembali datang memanggilnya, terlihat bagaimana pria itu telah duduk di kursi yang melayang tadi dan telah di posisikannya berhadapan pada arah ranjang, menjadikan troli yang berisi makanan menjadi penengah antara mereka. Hemera berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa sihir tadi jauh lebih baik di bandingkan sisi lain dari pria tersebut yang di tunjukannya kemarin . Anggap saja sihir tersebut merupakan sedikit pertunjukan kecil. Dengan langkah pelan yang di susahkannya saat manik merah itu terus mengawasinya tanpa henti membuat Hemera berjalan sedikit lebih lambat. Rasa lapar yang memang di deranya sedari tadi kini sirna bahkan ia tidak lagi merasakan rasa lapar pada perutnya yang meminta untuk di isi makanan, entah hilang kemana. Amorist hanya terus berdiam menatap pada gadis manusia di depannya yang berjalan dengan pelan layaknya siput, membuat sisi iblisnya yang tidak sabaran itu menguar dari dalam terlihat bagaimana kedua tangannya yang melipat di depannya itu kini mulai mengetukan jarinya pada lengan. Mencoba menahan diri agar lebih sabar. Tujuannya datang untuk mengenal lebih dekat gaids tersebut setelah semalaman ia di dera begitu banyak kesakitan, namun kepalanya tak dapat berhenti memikirkan gadis di depannya dan kini memaksanya untuk datang pada pagi hari selepas matahari terbit, agar apa yang hanya berada dalam pikirannya tersebut dapat terealisasikan secara nyata adanya . Amorsit menghela nafasnya saat pada akhirnya manusia berjenis kelamin perempuan itu telah berhasil duduk di ranjang tepat dengan posisi mereka yang saling berhadapan. “Apa kau memang berjalan dengan lambat ?” Hemera yang lagi - lagi hanya menundukan kepalanya itu tidak berani kembali mendongak kedepan bahkan ke arah troli makanan yang membatasi mereka berdua. Dirinya takut jika harus menatap manik pria tersebut. Namun saat pertanyaan dengan sedikit nada yang tak terdengar begitu baik itu terlontar menyuarakan ketidak sabarannya dengan langkah yang di ambilnya menghampir Amorist, berhasil membuat Hemera sedikit melirik mencoba menilik ekspresi sang pemilik sebelum lagi - lagi hanya dapat menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lagi - lagi tidak mendapatkan jawaban lisan membuat Amorist hanya menghela nafas dan mengespresikan ketidak sabarannya tersebut, melalui perubahan pada posisi duduknya yang kini memangku kakinya satu sama lain dan tangannya yang menumpu pada lutut kiri miliknya. “Makanlah Hemera, aku datang untuk melihatmu makan.” Hemera meremas tangannya dengan takut, tidak yakin untuk mulai melakukan hal yang di minta oleh pria tersebut. Bukan hanya rasa laparnya yang telah sirna namun, dirinya tidak begitu yakin jika ia tidak akan tersedak saat makan nanti . Dirinya ragu bahwa ia dapat menelan dengan baik makanan tersebut agar dapat di cerna bagi tubuhnya. “Kau tidak akan makan ?.” Kali ini pertanyaan yang mendesak tersebut mulai benar - benar menunjakan ketidak sabaran bahkan, terdengar begitu kesal melihat Hemera tak kunjung mulai mengangkat tangannya mengambil makanan yang tersedia. Sementara Amorist yang memang sedari tadi hanya mengawasi gadis tersebut tak dapat lagi untuk benar - benar menahan diri membuatnya, menutup kedua manik merahnya yang memerah karena sisi iblis darinya mulai menyeruak ingin keluar . “Sebaiknya kau mulai makan Hemera. Kau tidak akan suka jika, aku yang memaksa makanan itu masuk kedalam mulutmu nantinya..” Tekan Amorist hingga Hemera tersentak dan mulai mengangkat tangannya menggapai sarapan paginya. Amorist membuka matanya yang semakin saja bersinar dengan indah saat matahari yang di belakanginya itu kini bersinar pada tubuhnya membuatnya terlihat bercahaya, membiarkan gadis pemilik jantung ke 101 tersebut makan dalam bayangan gelap miliknya karena, tidak mendapatkan sinar matahari akibat terhalang oleh tubuh besar yang berada depannya. Amorist terdiam membiarkan Hemera menikmati sarapannya meskipun ia sendiri ragu jika, gadis tersebut dapat menikmati makanannya. Melihat bagaimana tangan kecil yang terus bergemetar itu berusaha menyuapkan makanan kedalam mulutnya sendiri. Hemera tidak menikmati makanannya melainkan dirinya tengah tertekan dengan makananan yang harus berusaha di telannya. Amorist yang hanya terdiam menonton bagaimana Hemera makan selama beberapa menit, sedikit memajukan tubuhnya dari posisi duduknya dan mulai mencapai teko berisikan minuman hangat di dalamnya lalu menuangkannya kegelas yang telah tersedia dengan pelan. Sementara Hemera yang sedari tadi hanya fokus pada makanannya sedikit tersentak mundur melihat tangan pria itu kini bergerak anggun di atas troli makanan, berpikir jika tangan itu akan menyakitinya namun, yang di dapatinya bahwa tangan yang meninggalkan kesan dingin pada kulitnya tadi hanya membantunya menungakan minuman . Melihat respon refleks Hemera, membuatnya hanya melirik datar dan kembali fokus pada teko di tangannya. Setelahnya dengan mata datar dan tanpa ekspresi di sodorkannya gelas itu kepada gadis manusia di depannya dengan pelan. “Minumlah.” Perintahnya lagi saat melihat bagaimana gadis manusia itu hanya fokus menghabiskan makanan miliknya tanpa, minum air sedikitpun meskipun tenggorokannya pastinya telah kering. Amorist begitu sadar jika Hemera tengah begitu takut dan waspada padanya, lihat saja bagaimana gerakan refleks tadi itu keluar hanya karena melihat bagaimana tangannya ikut bergerak di atas troli. Sepertinya dirinya meninggalkan begitu kuat kesan buruk pada pikiran gadis tersebut. Ia sendiri tidak tahu harus berlaku seperti apa pada gadis manusia ini. Amorist tidak pernah mencoba mencari tahu apapun mengenai 100 gadis manusia lainnya tapi, sekarang dirinya berada di ruangan ini hanya untuk mencoba mencari tahu mengapa satu gadis manusia ini berbeda dengan 100 gadis manusia sebelumnya. Sayangnya gadis tersebut terlihat tidak akan tahan berada dalam waktu yang lama untuk dekat dengannya meskipun, ia berbicara berkali - kali bahwa dirinya tidak akan menyakiti gadis tersebut atau tepatnya memang belum waktunya untuk menyakitinya. Memikirkan bagaimana cara mencari jawaban dari segala pertanyaan itu membuatnya hanya diam menatap pada struktur wajah halus di depannya yang sibuk menelan makanannya. Tanpa sadar membuat Amorist menangkup dagunya sendiri dengan sebelah tangannya dan semakin saja membungkuk agar dapat melihat jauh lebih dekat pada wajah Hemera. Manik merahnya turun meneliti bagaimana bentuk dari wajah di depannya. Amorist baru tersadar dengan apa yang di lihatnya, menemukan bahwa bulu mata gadis di depannya cantik, hingga dirinya berpikir apakah memang manusia memiliki bulu mata sepanjang dan selebat itu. Setelah selesai dengan bulu mata hitam tersebut dirinya kemudian turun meneliti bagaimana hidung dan garis rahang yang membingkainya terlihat begitu pas. Hingga matanya berakhir pada bibir ranum yang sibuk mengunyah membuatnya berpikir sekarang apakah semua gadis yang terlahir untuk menjadi tumbal baginya memang telah memiliki struktur wajah yang memesona. Hanya saja dirinya yang tak pernah mau untuk sekedar memperhatikan penampilan mereka. Saat Amorist sibuk dengan apa yang di lihatnya sampai matanya kembali naik untuk meneliti seluruh wajah kecil itu, dirinya tidak sengaja menemukan bahwa manik biru cerah layaknya laut yang begitu jernih berada di dalamnya tengah juga memandangnya. Hemera berhasil menyelesaikan sarapan paginya tanpa tersisa tidak ingin pria tersebut kembali mengusiknya nanti hanya karena, perkara dari makanan yang tidak habis. Lebih baik dirinya memaksa untuk makan dengan tangannya sendiri daripada memikirkan bagaimana jika, pria berambut hitam tersebut akan membantunya memasukan semua makanan kedalam tubuhnya dengan caranya. Saat dirinya telah menyelesaikan semuanya dengan sedikit harap cemas Hemera kembali menunggu perintah dari Amorist, sayangnya setelah menunggu beberapa saat pria itu tidak kunjung membuka kembali mulutnya hingga, gadis manusia tersebut sedikit penasaran dengan apa yang pria di depannya lakukan. Hemera hanya ingin melirik sebentar pada tubuh di depannya yang jelas masih ada namun, tak lagi bersuara. Sayangnya saat dirinya telah memberanikan diri untuk mendongak dan menatap pada pria tersebut, dirinya justru tak dapat lagi menarik turun kembali manik birunya agar menghindari kontak mata yang terjadi di antara mereka. Tatapan keduanya terkunci satu sama lain dengan keterpesonaan dari masing - masing kelebihan yang mereka miliki . “Akhirnya kau mau menatapku.” Hingga suara berat milik Amorist memecahkan keheningan dan menarik kembali kesadaran Hemera yang seolah tersedot melihat manik merah di depannya. Dengan cepat Hemera kembali menundukan kepalanya bersama sedikit gurat merah yang terliat di pipinya. Melihat hal tersebut pada akhirnya membuat Amorist menaikan sebelah alisnya dan menyandarkan tubuhnya pada kursi yang tengah di dudukinya. “Aku ingin mengenalmu lebih jauh Hemera. Tapi, kau terlihat begitu takut padaku.” Hemera hanya terdiam mendengarkan bagaimana pria tersebut tengah berbicara pada dirinya. “Apa karena pertemuan pertama kita yang begitu membuatmu shock ?” Sambungnya lagi. Amorist diam menunggu jawaban yang hanya di balas akan lirik - lirikan kecil dari gadis tersebut, sebelum Hemera mencoba meyakinkan dirinya jika pria di depannya memang murni bertanya dan sekarang tengah menunggu jawaban darinya. “Ak—Aku masih mencoba beradaptasi disini.” Jawabnya dengan gugup berkali - kali harus menelan ludahnya sendiri. “Beradaptasi.” Gumam Amorist mendengar jawaban yang di kelaurkan oleh manusa tersebut, berpikir apa yang di katakan oleh Hemera sedikit menggelitik dalam dirinya hingga berhasil membuatnya tersenyum miring. Hemera tidak akan pernah dapat berdaptasi dengan baik disini terlebih untuk waktu yang lama. Mengingat bagaimana asa usul dan tujuan dari gadis di depannya ialah berada untuk dirinya bunuh. Jikapun Hemera berhasil beradaptasi dengan baik selama waktu yang di tentukan maka itu hanya akan berakhir sia - sia untuk Hemera sendiri. Karena takdirnya adalah mati saat bulan purnama sempurna yang telah di perkirakan datang dalam 3 bulan lagi. Kecuali, Amorist sendiri yang tidak berniat membunuhnya, itu mungkin akan berhasil bagi manusia itu namun, tidak akan berakhir baik bagi dirinya sendiri. Amorist tidak akan membiarkan bagaimana mangsa yang telah turun untuknya itu akan membuatnya gagal dalam bulan purnama untuk memecahkan kutukannya yang sudah begitu lama di deritanya. Jika, Hemera kini sekarang terlihat memiliki kontrol padanya karena, berhasil membuatnya menahan diri agar tidak meminum darah segar tersebut maka itu akan segera di akhirinya setelah, semua rasa penasarannya terjawab pada gadis ke 101 tersebut. “Jadi, apa kau telah merasa cukup beradaptasi selama disini ?” Amorist melempar umpannya agar Hemera dapat sedikit lebih santai pada dirinya guna nantinya akan membukakannya jalan selanjutnya bagi pria tersebut. “Jika belum, apa kau ingin bantuan dariku ?” Mendengar hal yang seperti menunjukan niat baik dari sang pemilik manik merah di depannya membuat Hemera sedikit ragu untuk menjawab. Tepatnya dirinya tidak tahu harus menjawab apa saat di ajukan oleh pertanyaan tersebut . Memilih jawaban ya setelah apa yang di lakukan oleh Amorist rasanya tidak begitu benar untuk dirinya namun, memilih tidak juga rasanya tidak akan berakhir dengan baik bagi dirinya. Melihat bagaimana pria bermanik merah tersebut selalu berhasil mengintimidasinya dan rasa tidak sabaran yang di tunjukan olehnya, justru tidak akan dapat membantunya beradaptasi. Ia ragu tidak akan terus tertekan jika harus berada dekat dengannya. Amorist yang melihat bagaimana Hemera terdiam berpikir akan tawarannya membuat sisi iblisnya yang di miliki olehnya dalam menggoda para mangsa mereka beranjak keluar. Di pinggirkannya troli makanan yang telah membatasi dirinya dan Hemera ke samping dengan pelan, hingga terdorong pergi dari hadapannya. Setelah troli makanan tersebut telah pergi dengan pelan Amorist bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat pada gadis manusia yang belum menyadari pergerakannya. Barulah saat Amorist berdiri di depannya dalam jarak dekat, Hemera menyadari jika pria tersebut sudah tidak lagi duduk di kursinya. Manik biru itu membeku melihat sepatu hitam miliknya telah berdiri begitu dekat dengan kaki telanjang nya sendiri, maju selangkah saja lagi maka pria tersebut akan berhasil menginjak kakinya yang bersembunyi di balik gaun . Amorist menyentuh lembut puncak kepala dari Hemera dengan pelan lalu dengan perlahan turun menyusuri rambut berwarna ungu itu kebawah dan berhenti saat tangannya telah berada di samping wajah mungil tersebut. Beralih haluan di sentuhkannya tangan miliknya ke pipi mungil hangat itu dan di tangkupnya dengan lembut seolah mencoba mengambil kehangatan dari kulit halus yang tengah di sentuhnya. Hemera tidak dapat merespon apapun dan hanya terus berdiam diri pada posisinya, menanti - nanti akan apa yang di lakukan pria itu pada dirinya selanjutnya. Seolah tidak cukup dengan sebelah tangannya saja yang menyentuh wajah mungil tersebut kali ini tangan kiri Amorist juga menyentuh sisi sebelah wajahnya lagi setelah menyisipkan hentaian rambut milik Hemera ke belakang telinga, agar tidak menghalangi arah pandang gadis itu nantinya. Saat Amorist dengan perlahan mendongakan kepala mungil tersebut ke atas agar dirinya dapat menatap manik biru tersebut, Hemera justru tidak dapat menahan dirinya agar tidak meremas gaun yang di pakainya. Menyentuh dimana letak pisau yang sudah di simpannya . Sebelah tangannya sudah berada tepat di mana pisau yang ia simpan itu berada, dirinya hanya perlu masuk dan menariknya keluar lalu mengacungkannya pada pria bermanik merah yang tengah menyentuh wajahnya ini agar segera menghentikan semuanya. Sayangnya tangan miliknya bergemetar dengan kuat dan saraf - sarafnya seperti melumpuh merasakan kedua tangan dingin milik Amorist mengelus lembut tepat pada kulit pipi wajahnya, terasa lembut dan berhati - hati seolah takut akan meninggalkan luka nantinya disana. “Aku tahu apa yang ada di pikiranmu Hemera. Kau punya ketakutan disini dan kau tidak punya tempat bersandar untuk itu.” Hemera menatap manik merah di atasnya yang seperti menghipnotis dirinya setiap kali bertatapan dengan mata tersebut, membuatnya tak dapat menarik kedua matanya pergi dari sana. Di belainya kedua pipi yang berada pada tangannya pelan bersama bibirnya yang membentuk senyuman simpul namun, tak sampai ke matanya itu. “Aku bahkan tau kau sedang berusaha agar dapat menarik pisau yang kau sembunyikan di balik gaunmu.” Hemera yang sudah cukup terintimidasi semakin tak dapat berkutik saat mendengar apa yang di katakan oleh Amorist, bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak untuk beberap saat mengetahui, bahwa pria di depannya tahu apa yang tengah berusaha di lakukannya. Persis seperti yang di katakan oleh Amorist padanya dia tahu segala apa yang di pikirkan oleh Hemera hingga, gadis manusia tersebut menarik tangannya tanpa sadar menjauhi di mana letak pisau yang di sembunyikan di balik gaun miliknya. Amorist yang masih saja fokus mengelus lembut wajah mungil itu dengan kedua mata mereka saling mengunci melirik singkat pada tangan gadis manusia yang kini telah menjauhi letak pisau yang di letakannya di balik gaun. Menghentikan niatnya sendiri. Mata biru di depannya bergetar memberitahunya bahwa Hemera tengah di landa oleh ketakutannya sendiri karena gerakannya yang terbaca oleh Amorist. “Aku mengerti bahwa kau sedang berusaha beradaptasi disini. Tapi, memilih untuk menarik pisau itu saat bersamaku bukan pilihan yang baik. Apa kau sadar itu ?” Sambungnya bertanya dengan lembut namun, di balik nada lembutnya sebenarnya tersembunyi tebaran akan ancaman. Hemera sendiri yang memang sedari awal tidak punya cukup kekuatan bahkan atas tubuhnya sendiri kini mulai menutup matanya saat, manik merah indah itu terus - menerus saja menusuk matanya dengan tatapan yang begitu kuat bahkan bibirnya kelu hanya untuk membuka mulut, membiarkan lidahnya yang kini membeku tak dapat bergerak untuk menjawab. Kali ini kedua tangan Amorist yang masih menangkup wajah mungil tersebut mengelus lembut kedua kelopak mata gadis manusia yang sedang menutup, tak menatapnya. Tengah berusaha memperbaiki mentalnya yang terguncang hanya karena beberapa kalimat dari pria tersebut. Hemera yakin pria itu pasti tengah menahan gemas untuk tidak memberikan tekanan lebih pada kelopak matanya agar tidak menyakiti bola mata miliknya. Dirinya harus bersyukur jika, pria itu hanya mengelusnya sebentar saja seolah mengenali struktur pada bagian yang membingakai manik biru miliknya. “Kuharap kedepannya kau tidak akan menutup matamu saat aku sedang berbicara padamu. Itu tidak begitu menyenangkan bagiku.” Hemera terdiam tidak menjawab namun, matanya langsung terbuka mengikuti perintah itu. Ia tidak tahu apa yang salah disini, tubuhnya lebih dapat mengikuti apa yang di perintahkan oleh pria berambut hitam itu padanya di bandingkan mengikuti keinginan dirinya sendiri. Amorist menundukan wajahnya dengan sedikit membungkukan tubuhnya saat melihat manik biru tersebut telah terbuka, di sejajarkannya wajahnya pada wajah mungil tersebut. Menaruh dahi miliknya untuk mendekat kemudian menempel pada dahi gadis tersebut, hingga mereka berada dalam posisi dan jarak yang begitu dekat dan juga intim. Tidak ada yang kini benar - benar dapat memisahkan keduanya. Bukan hanya dahi dan hidung mereka yang menempel intim tapi, hidung keduanya telah saling bersentuhan menyisakan bibir lembut di antara keduanya yang belum benar - benar menempel, tertinggal akan satu jarak saja. Hemera jelas dapat melihat jauh lebih dekat bagaimana sinar kilat merah yang terdapat dalam bola mata merahnya bersinar terang. Bahkan salah satu tangan Amorist kini telah turun menelusuri leher jenjang miliknya dengan pelan dan berhenti disana, menyentuh lehernya pelan dan lembut seperti mengenali sesuatu yang dapat di remukannya dalam sekali. Sayangnya gadis pemilik jantung ke -101 itu tak dapat bergerak untuk melakukan perlawanan dalam bentuk apapun. “Akan kubantu kau dengan cepat untuk beradaptasi dengan baik disini.” Hembusan nafas dari bibir Amorist tepat menerpa pada bibir ranum yang hanya dapat diam berkutik. “Akan kulindungi kau dari segala ketakutanmu.” Membairkan sensasi hangat dari hembusan nafas pria tersebut seperti meniup lembut bibirnya, menggodanya untuk membuka. “Kau bersedia bukan menerima kebaikanku, Hemera ?” Dan godaan itu berhasil saat gadis manusia yang memang di kenal lemah akan sebuah godaan itu kini menganggukan kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD