5~Gadis ke-101

1295 Words
“Apa yang kau lakukan ?” Pertanyaan menuntut yang keluar dari bibir merah menggoda itu terdengar begitu bernada penuh akan keinginantahuan yang harus terjawab. Sayangnya Amorist yang mendapat pertanyaan itu hanya sibuk memandang pada kedua tangannya yang terlumur akan darah dari Hemera, gadis yang telah di berikannya nama sebagai penunjuk bahwa gadis jantung ke-101 itu spesial baginya. Hingga munculah 3 sesosok tubuh kecil yang kurus dengan mata yang membulat dan hidung yang mancung besar di ikuti pula dengan telinga yang sedikit meruncing ke atas menunjukan bahwa ia merupakan bagian kaum dari bangsa Devil. Sayangnya sesosok makhluk yang di sebut sebagai imp yang termasuk golongan fairy dan iblis itu hanya memakai sebuah kain yang sudah lecek di tubuhnya secara seadanya bahkan tergolong sedikit kebesaran untuk mereka pakai menutupi tubuh ringkihnya, terlihat bagaimana kain sederhana itu sudah akan menyentuh lantai. Hal ini pula yang menunjukan posisi mereka sebagai kasta terendah dari bangsawan Devil dan hanya bertugas sebagai pelayan yang melayani kasta yang berada di tingkatan atas. Meskipun imp ini mempunyai sihir namun sihir mereka / kekuatan mereka tidak sebanding dengan yang berada di kasta teratas maka dari itu mereka berada pada kasta terbawah. Amorist membasuh tangannya kedalam wadah yang di bawah oleh para imp, membiarkan air putih bersih itu ternodai dan berganti warna menjadi berwarna merah karena tercemarnya darah dari Hemera. Setelah selesai membasuh tangannya di ambilnya kain bersih yang memang telah di siapkan oleh salah satu imp untuk mengeringkan tangannya dari percikan - percikan sisa air, setelah selesai memakainya di lemparkannya kain tersebut dengan sembarangan membiarkan imp itu memungutnya dari bawah lantai. Selesai dengan kegiatannya maka Amorist berbalik menatap pada seorang perempuan bertubuh menggoda dengan parasnya yang cantik rupawan menyeimbangkan keindahannya untuk di pandang lebih lama sayangnya, perempuan di depannya itu tidak berhasil menarik kesan tersebut baginya. Sehingga membuatnya melemparkan pandangannya berganti pada Crius yang juga berdiri tepat di sampingnya “Apa kau sudah memanggil Ulzana untuk melihat keadaan Hemera ?” Ajunya pada adiknya yang terlihat mengkerutkan keningnya sebelum membuka mulutnya menjawab. “Ya. dia pasti sudah ada di ruangan Lebna.” Merasa puas dengan jawaban yang di berikan oleh Crius yang terlihat menyimpan pertanyaan untuknya namun, membuatnya mengabaikan hal itu saat tidak melihat tanda - tanda bahwa pria berambut putih tersebut akan mengeluarkan pertanyaan yang berada di dalam kepala iblisnya. Di dalam ruangan besar itu terdapat sebuah tahta terang yang menarik perhatian dengan kursi penuh emas dan pahatan yang luar biasa indah berhasil menunjukan posisi dari orang yang akan mendudukinya bahwa ialah yang memiliki Keaton. Maka dengan tidak ragu dan tanpa adanya gangguan membuat Amorist berjalan naik keatas kursi kebesaran tersebut. Mungkin untuk sekarang dirinya tidak dapat menunjukan pada dunia luar bahwa dirinya tengah duduk dan berkuasa dari atas tahta tersebut sekarang, namun penantian itu akan segera berakhir saat bulan purnama terjadi dimana kutukannya akan lepas setelah selesai memakan jantung yang ke-101 dari Hemera. Memikirkan jantung yang terakhir itu saja berhasil membuat detak jantungnya kini ikut berdetak dan serasa ingin kembali mendengar lebih dekat santapan miliknya yang begitu menggugah selera. Hingga tanpa sadar Amorist mengeluarkan suara menggeram mendamba dengan kepala yang mendongak dan mata yang terpejam dari tahtanya tersebut mengabaikan dua orang yang berada di depannya tengah mengamatinya. “Ada apa kau dengan satu gadis manusia itu ? Ini pertama kalinya kau mengunjungi ruangan para tumbal.” Suara perempuan yang sedari tadi tidak di jawabnya itu kembali mengalun masuk kedalam indera pendengarannya menghancurkan ketenangannya dari lamunan alunan detak jantung yang baru tadi di dengarnya dan sudah mengalun - ngalun kembali kedalam ingatannya saja. Sepertinya telah tertancap dengan baik dalam alam bawah sadarnya. Amorist membuka matanya menampilkan dua manik merah miliknya yang langsung menatap ke atas langit - langit kastil “Ah Hemera.” Jawabnya menggumam mencoba menjawab pertanyaan yang terlontar padanya sebelum memperbaiki posisinya yang awalnya bersandar pada kursi tahtanya menjadi tegak dan kini tengah menatap lurus tepat pada perempuan berambut hitam indah yang menunggu jawabannya tanpa gentar di tatap oleh manik merah miliknya. “Sebelum aku memberimu jawaban Nesrin. Aku ingin mengetahui sesuatu lebih dahulu darimu.” Kali ini mata Amorist menatap lurus tepat pada manik mata kuning di depannya yang menunjukan jati diri dari wanita tersebut. “Apa karena efek kau baru melihatku kembali duduk di atas tahtaku ini sehingga, kau kini dapat berbicara seenaknya padaku ? Apa kau menganggap bahwa derajat kita sama ?” Sambungnya membuat kilatan mengancam pada manik merahnya terlihat di akhir kalimat miliknya yang meluncur sempurna itu. Wanita yang di panggilnya dengan nama Nesrin tersebut terlihat sedikit terkejut dengan teguran yang di dapatnya sebelum dengan cepat memperbaiki ekspresinya menjadi tidak terbaca di ikuti dengan menurunkan pandangannya menjauh dari manik merah di depannya yang terlihat akan menghukumnya jika mencoba memantik api sekali lagi. “Maaf yang Mulia. Saya hanya merasa terlalu bersemangat setelah bertemu dengan anda.” Crius yang berdiri di samping Nesrin hanya melirik sekilas pada wanita tersebut sebelum, kembali menatap lurus pada kakaknya yang mengangguk dengan jawaban yang di berikan oleh pemimpin dari kalangan lilith itu. Lilith sendiri merupakan iblis betina yang dapat berubah bentuk menjadi ular untuk menggoda para korbannya. Tidak jauh berbeda dengan wujud mereka yang memang tercipta begitu menggoda di ikuti dengan tingkah mereka yang manipulatif. Nesrin sendiri di gadang - gadang yang akan menjadi Ratu untuk Negeri Keaton melihat bagaimana Amorist hanya dekat dengan wanita tersebut. Meskipun sebenernya alasan di balik semua itu ialah ketidakpedulian sang pemimpin untuk mendekati para wanita atau Nymph yang cantik jelita yang dapat di jadikannya sebagai gundik pemuas nafsunya saja, melihat Amorist begitu besar akan ambisinya jadi tidak mungkin jika ia menaruh seseorang yang di anggapnya tidak memiliki kekuatan yang sepadan dengannya untuk duduk bersamanya di atas tahta. Maka dari itu Nesrinlah dari sekian wanita yang ada yang paling mendekati kemungkinan menjadi calon pendamping bagi Amorist sendiri. “Kali ini aku akan memakluminya, melihat suasana hatiku mendukung. Tapi lain kali perhatikan tingkahmu.” Pemimpin dari Lilith yang merupakan struktur kedua terkuat setelah Devil murni itu menganggukan kepalanya dan mendongakan kepalanya menampilkan senyuman indahnya. Amorist, pria itu tidak pernah peduli akan bagaimana dirinya bertingkah dan berbicara sama hal seperti Crius saudaranya yang melakukan hal tersebut kepadanya, selagi mereka tidak menekan ego iblis tersebut maka pria berambut hitam tersebut tidak akan menunjukan sisi yang akan membahayakannya. “Saya hanya bertanya - tanya Yang Mulia. Melihat anda berada pada satu ruangan yang sama dengan tumbal anda membuat saya khawatir.” Jelasnya lembut dan terus tersenyum berusaha merayu dengan tidak tahu malu pada Amorist dengan menekan lembut di akhir kalimatnya. Dirinya datang untuk melihat tumbal jantung terakhir bagi pria tersebut dikarenakan tidak dapat hadir di hari terlahirnya Hemera akibat para kaum lilith miliknya yang mengalami sedikit masalah. Nesrin sendiri selama ini menjadi satu - satunya wanita yang berhasul berada dekat dengan Amorist itu dikarenakan terdapatnya pula usahanya yang juga menjauhkan para iblis - iblis betina dan Nymph cantik jelita dari jangkauan sang penguasa Negeri Keaton. Terlebih dengan ketidak pedulian itu sendiri membuatnya tidak terlalu risau terlebih jika itu hanya seorang gadis manusia biasa yang pada akhirnya harus mati di tangan Amorsit sendiri membuatnya tidak pernah membuang waktunya hanya untuk memikirkan hal yang kemungkinan dapat mengganggu tujuannya bersanding bersama sang penguasa di atas tahta mengkilap itu. Sayangnya kejadian pagi tadi untuk pertama kalinya dari sekian 100 gadis manusia dirinya mendapati bahwa Amorist menunjukan perlakuan spesial pada gadis terakhir, itu mengejutkannya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya merasa dia sedikit spesial karena dia pemilik dari jantung yang terakhir jadi, kuberikan perlakuan yang juga sedikit berbeda.” “Apa anda memberinya nama Hemera ?” “Ya.” Seharusnya Nesrin berhenti bertanya saat Amorist telah cukup memberinya jawaban yang jelas namun, ia hanya merasa kemarahan dan api kecemburuan mengembang dalam dirinya sehingga ia mengepalkan tangannya sendiri yang pastinya telah berhasil melukai bagian dalam dari telapak tangannya akibat kuku panjang cantik miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD