Suara erangan kecil dari belakang tubuhnya membuat sepasang manik mata berwarna merah tersebut akhirnya bergerak melepas pandangannya dari matahari yang begitu cerah dan sudah berapa jam setelah matahari terbit dirinya tidak berhenti memandangnya, dimana seharusnya hal tersebut dapat membuatnya buta dan bukannya membuat mata merah itu bersinar semakin indah.
Saat terdengar suara decitan di belakangnya, maka diliriknya sedikit ke arah belakang tubuhnya dimana terjadinya pergerakan dari atas ranjang akibat pergerakan seorang gadis yang sudah tertidur dari berapa jam lalu tanpa mengubah posisinya berdiri.
Sikap waspada yang di ambil oleh gadis tersebut membuatnya menampilkan sedikit senyum simpul tipis di ujung bibirnya, berbeda dengan manik mata biru yang tidak bisa melepaskan pandangannya untuk berjaga - jaga dari seorang pria berambut hitam yang masih saja memunggunginya sehingga ia hanya bisa melihat sedikit struktur wajahnya di tengah cahaya matahari yang menghalangi matanya.
Kejadian semalam masih terngiang di kepalanya dengan begitu jelas bagaimana lengannya di lukai hingga robek menggunakan pisau kecil yang begitu tajam, membuatnya memandang pada lengan kanan miliknya yang ternyata telah di perban entah oleh siapa.
Setelah mereka melukainya kini mereka mengobatinya, ini membuatnya tidak mengerti.
Saat dirinya masih fokus pada perban di lengannya dirinya terkejut saat sebuah tangan yang jauh lebih besar darinya meraih lengannya yang terluka itu membuatnya terkejut dan sedikit merengut kaget, sebelum berusaha menarik jauh tangannya.
Pria yang memunggunginya tadi kini telah berada di depannya dan duduk di ujung ranjang, menjadikan tangan kanannya sebagai tahanan sehingga ia tidak dapat menjauh.
“Si-siapa kau ?.” Tanyanya dengan gemetar namun ada ketegasan di dalamnya untuk mendapat jawaban, sembari masih berusaha menarik jauh bagian tubuhnya tersebut sebelum cengkraman pada lengannya yang di perban mengetat, menolak melepaskannya.
Amorist tidak menjawab dan hanya menatap kembali manik mata biru terang tersebut yang terlihat sedikit terpesona dengan manik mata merah miliknya sehingga gadis tersebut sedikit tenang dan berhenti memberontak untuk lepas.
Seolah manik mata semerah darah itu berhasil menyihir gadis di depannya.
Saat Amorist memutuskan pandangan mereka mengabaikan keterpukauan dari gadis tersebut, dirinya justru kembali menatap kepada lengan kecil putih yang di balut oleh perban kini mengeluarkan sedikit darah menembus perban tersebut akibat tekanan yang di berikannya.
Aroma anyir itu kembali menusuk indera penciumannya membuat manik matanya kini tidak bisa menjauh pergi dari rembesan darah yang kini begitu menggugahnya untuk mencicipinya.
Rasa sakit pada lengannya yang baru terhitung berapa jam itu menyadarkannya untuk mengakhiri memandang wajah pria di depannya dan kini ikut menatap pada lukanya yang kembali mengalirkan cairan merah dari luka yang baru di dapatnya semalam dan masih begitu basah semakin di tekan oleh Amorist agar darah tersebut semakain merembes menembus perbannya.
Rasa ingin bertahan hidup dan tidak ingin kembali mengalami kejadian mengerikan seperti semalam membuatnya benar - benar mengerahkan tenaganya yang tersisa sedikit saja karena, kehilangan begitu banyak darah semalam membuatnya sedikit pusing pagi ini sehingga tidak dapat melawan dengan sepenuh kekuatannya.
Saat menarik tangannya menjauh saja dari cengkraman tangan Amorist tidak cukup untuk menjauhkannya maka dirinya mulai memukul pria di depannya yang berhasil menarik pandangan dari pria tersebut.
Tatapan mata itu seperti kehilangan kontrol dan entah perasaannya saja tapi, mata itu seperti semakin pekat secara perlahan lalu bersinar seperti menatap mangsanya dengan begitu nafsu membuatnya bergidik ketakutan.
Jika melihat sekumpulan makhluk yang berhasil membuatnya terkejut hingga ketakutan, maka kali ini dirinya akan berkata bahwa pria bermata merah yang memiliki fisik dan tubuh sepertinya di depan ini jauh lebih menakutinya.
Dia terlihat seperti akan memangsanya dengan penuh ketakutan yang akan membutnya kehilangan kewarasannya karena ketakutan yang menebar dan mengancamnya.
“Apa kau ingin melihat sesuatu yang menarik ?” Hingga Amorist bertanya, mengeluarkan suaranya yang terdengar berat dan basah karena selimut nafsu akibat godaan dari darah gadis di depannya yang mulai hampir memenuhi sepruh dari perban, akibat dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menekan luka tersebut agar mengeluarkan lebih banyak darah lagi.
Mungkin dirinya bertanya namun ia sama sekali tidak membutuhkan jawaban atau menunggu sekedar sepatah kata dari gadis yang kini terlihat begitu ketakutan padanya, terlihat bagaimana manik biru terang itu bergemetar tanpa henti menatapnya.
Dibukanya perban yang kini sepenuhnya telah basah hingga terjatuh ke atas kasur dengan begitu mudahnya menampilkan bekas robekan yang cukup dalam pada lengan indah di depannya dan terus mengeluarkan darahnya.
Jika begini terus gadis dari pemilik jantung yang ke-101 itu tidak hanya akan kehilangan darahnya yang begitu banyak namun nyawanya juga akan ikut menghilang.
Manik biru terang yang bergetar ketakutan itu kini telah membola dengan tidak percaya saat melihat bahwa pria yang terlihat seharusnya tidak melakukan hal tersebut kini tengah menjilat lukanya, menyatukan bibir panas tersebut kedalam genangan penuh darah pada luka robekan di lengannya dan melahapnya dengan begitu rakus.
Seolah itu adalah sesuatu yang begitu enak untuknya dan sangat memabukan untuk dirinya santap.
Tidak hanya matanya yang menunjukan reaksi terkejut dari apa yang pria tersebut tunjukan padanya namun, debaran jantung miliknya mulai meningkat dengan begitu kuat mengirim debaran ketakutan yang begitu nyata dan benar - benar melumpuhkan seluruh saraf pada setiap sisi tubuhnya.
Suara debaran jantung yang seharusnya tidak dapat di dengar oleh orang biasa bahkan oleh sang pemilik tubuh itu sendiri, berhasil masuk kedalam indera pendengaran sang pemimpin keaton yang kini membuatnya berhenti menyantap darah dan secara ototmatis melonggarkan sedikit cengkramannya pada lengan kecil itu agar kini berhenti merembeskan darah lagi.
Suara degup jantung yang meningkat semakin naik menunjukan adrenali dari gadis tersebut tengah terpacu, terdengar begitu mengalun begitu kontraksi dan menariknya untuk mendengarnya lebih dekat lagi.
Di jauhkan wajahnya dari lengan tersebut sebelum mendongak naij menatap penuh pada gadis di depannya yang benar - benar telah lumpuh karena rasa ketakutan dan penuh intimidasi yang di tebar oleh Amorist dengan sendirinya, melihat bagaimana sisa - sisa darah miliknya sendiri berada pada sekitar sisi wajah pria tersebut cukup menunjukan bahwa ia berada dalam bahaya.
Aura gelap kini benar - benar menyelimutinya bahkan kuku tajam pada tangan pria tersebut sudah tumbuh hanya tinggal kenunggu tanduk dan sayapnya naik dan mencuat keluar. Maka sisi iblisnya telah terbentuk dengan sempurna.
Nafas gadis tersebut mulai semakin tersendat - sendat saat tangan yang awalnya dipikirnya sama seperti miliknya itu telah naik dan kini menurunkan dengan pelan penuh kehati - hatian sisi gaun dari tubuh gadis itu menuju kebawah agar kuku tajamnya tidak menggores kulit mulus tersebut yang nantinya akan menghasilkan luka baru lainnya, hingga kini berhasil menampilkan sebagian dari bagian atas dadanya.
Awalnya tangan dingin tersebut hanya meraba tepat di bagian mana jantung yang begitu di dambakannya berdetak berakhir meninggalkan jejak - jejak darah pada sekitar tubuh tersebut, hal itu sendirinya tidak luput dari pandangan sang pemilik tubuh yang kini mengeluarkan air matanya dengan sedikit desisan tangis yang di abaikan.
Jika gadis di depannya bergerak sedikit saja maka kukunya akan melukainya, terlebih jika dia mengeluarkan bentuk pemberontakan maka mungkin kuku tajamnya sudah akan menembus jauh kedalam untuk mencapai jantung tersebut, meskipun Amorist ragu gadis tersebut akan melakukannya melihat bagaimana ia begitu lumpuh sekarang.
Amorist tidak bisa menjauhkan matanya dari lapisan daging yang menutupi matanya dari jantung di depannya yang semakin berdebar dan semakin kuat menggodanya. Dengan pelan di dekatkannya wajahnya ke arah d**a tersebut yang tidak beraturan karena menangis lalu di tempelkannya telinganya disana, menutup matanya seolah menghayati degupan jantung itu.
“Ssst, tenanglah. Aku hanya ingin mendengar detak jantungmu yang menggodaku.” Bisiknya mencoba memberi tahu pada gadis tersebut agar sedikit tenang dan memberi tahu bahwa ia tidak akan terluka dengan tersirat. “Kau punya jantung yang begitu spesial. Karena kau yang begitu spesial untukku, apa kau ingin kuberi sesuatu yang spesial juga ?”
Tidak ada jawaban. Entah gadis tersebut mendengar ucapannya atau tidak karena terlalu sibuk dengan ketakutannya sendiri.
“Mereka semua terlahir tanpa tahu siapa diri mereka. Karena kau juga pasti terlahir begitu, aku akan memberimu sesuatu yang tidak mereka dapatkan. Hemera adalah namamu.”
Kepala gadis yang baru saja mendapatkan nama dari pria monster di depannya itu sudah terhantam dengan begitu banyak kejutan dari kemarin tanpa adanya jeda membuatnya setengah mati untuk mempertahankan kewarasannya dan kesadarannya sendiri.
“Hemera..” hanya bisikan singkat itu yang mengantarnya kembali kedalam kegelapan di susul dengan beberapa suara berisik yang terdengar dari arah pintu.