03~Darah Semanis Madu

1407 Words
Matahari telah terbenam. Terdengar suara teriakan nyaring di tengah keheningan secara tiba - tiba membuat seorag gadis yang sedari tadi berdiri di depan jendela untuk mengamati keadaan di luar kastil langsung saja tersentak kaget saat suara nyaring tersebut berhasil di tangkap oleh indera pendengaran miliknya.  Membuatnya spontan saja berbalik menatap kearah pintu besar yang membatasinya keluar dari  luar ruangan dan hanya bisa memikirkan semuanya sendirian di dalam ruangan gelap yang hanya di temani oleh pencahayaan sebatas lilin saja.  Seolah menantikan sesuatu yang datang dari arah luar pintu tersebut membuatnya tanpa sadar bergerak melangkah  maju ingin mendekat lebih dekat kepada pintu di ujung ruangan mencari tahu apa yang di dengarnya tadi setelah keheningan pekat menyelimutinya.  Hingga, pintu di depannya sudah lebih dahulu dibuka dari arah luar .  "Suara apa itu tadi ?" tanyanya tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran yang menggebu di dalam benaknya saat melihat Crius-lah sosok yang muncul di hadapannya. Hanya pria itu yang terlihat dapat memberinya jawaban sekarang. Pria berambut putih itu tidak menjawab dan hanya menebarkan rasa mengancam padanya melalui manik mata golden quartz miliknya di tengah kegelapan hingga tanpa sadar aura mengancam itu berhasil di tangkap oleh inderanya sebagai manusia, membuatnya termundur dengan pelan kembali mengambil jarak yang sudah cukup jauh untuk semakin jauh dari jangkauan pria tersebut.  Sementara manik mata biru miliknya menilik bahwa pria berambut putih itu tidak datang sendiri melainkan bersama Ulzana wanita pendek yang juga bersamanya pagi tadi di ikuti dengan 2 orang kartakan yang kembali ikut masuk kedalam ruangan bersama mereka.  Meskipun 2 makhluk itu tadi mengantarnya dan tidak menyakitinya seperti yang Crius katakan namun, bagaimanapun rasa tidak terbiasa dan tidak nyaman berada dalam satu ruangan yang sama bersama mereka masih saja membuatnya tidak nyaman dan ketakutan. Terlebih saat mereka datang dengan aura mengancam yang terkesan akan menyakitinya ini membuat nalurinya berbunyi untuk segera berlari pergi dari sana dan mencari tempat persembunyian yang jauh dari mereka ber-empat.  Sayangnya itu hanya bisa tereliasasikan di dalam pikirannya dan tidak dapat di lakukannya secara nyata dikarenakan tidak adanya tempat persembunyian bagi dirinya sekarang, membuatnya hanya bisa terus mengambil langkah mundur meskipun mereka kini berjalan mendekat padanya dan telah  berhasil mencapainya.  Saat kartakan tersebut berhasil menyentuhnya suara ketakutan yang sudah di tahannya sedari tadi kini berhasil mengalun keluar dari tenggorokannya dengan leluasa. Rasa ketakutan itu baginya kini menjadi nyata saat tangan kasar yang tidak terasa sebagai manusia sama sepertinya berhasil menyentuh kedua lengan lembutnya dan mengunci dirinya agar tidak bisa bergerak.  Ditatapnya Crius dan Ulzana yang hanya diam memandangnya dengan penuh ketakutan tanpa ekspresi dan belas kasih membuatnya harus berusaha lepas dengan kekuatannya sendiri yang hanya berakhir cuma - cuma. "Tenanglah. Ini tidak akan memakan waktu lama."  Ulzana membuka suaranya, mengeluarkan kalimat pertamanya seolah mencoba menenangkan gadis di depannya yang terus bergerak berusaha menjauh dari para Kartakan. Namun, hasilnya nihil gadis sebagai penumbal yang ke-101 itu terus saja bergerak dengan penuh ketakutan sama seperti gadis ke-100 lainnya terdahulu. Ini menunjukan bahwa manusia memiliki insting yang kuat untuk menerima signal mengancam dari sekitarnya.  Saat Ulzana mendekat padanya danterlihat  mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam mangkuk yang di bawahnya, gadis tersebut membulatkan matanya dengan tubuhnya yang kini sepenuhnya telah merinding ketakutan dan terus saja menggelengkan kepalanya menatap secara bergantian pada Crius juga Ulzana, meminta mereka melalui manik matanya untuk menghentikan apapun yang akan terjadi selanjutnya.  "Tolong jangan. Kumohon jangan." melasnya dan hanya di tanggapi dengan dingin tanpa adanya sebuah harapan dari belas kasih yang di mintanya pada kedua orang di depannya.  Saat itu juga Crius menganggukan kepalanya maka dengan kuat salah satu kartakan menarik maju lengannya mendekat pada Ulzana yang berada di bawahnya karena postur tubuhnya yang jauh lebih pendek kini berhasil memancing tangisan penuh ketakutan dari gadis tersebut melihat pisau berukuran kecil namun tajam, terlihat dari bagaimana mengkilatnya ujung pisau tersebut telah berada tepat di atas lengannya dan secara perlahan kini masuk menembus kulit mulusnya untuk merobek lengannya secara memanjang hingga bau anyir dari cairan berwarna merah yang tengah mengalir memenuhi indera penciuman mereka.   "Kumohon hentikan." pelasnya terus menerus di tengah deru tangisanya melihat tangan kanannya yang telah di banjiri oleh darahnya sendiri dan mulai menetes jatuh kebawah karpet membuat rasa sakit itu semakin menderanya tanpa henti.  Ulzana fokus dengan apa yang di lakukannya untuk menampung darah dari gadis tersebut yang terus mengalir dengan deras akibat sayatan yang di buatnya dalam satu kali tarikan. mengabaikan rintihan sakit dari pemilik jantung ke-101 itu.  Semakin lama pendarahan yang di alami oleh gadis bermanik mata biru itu maka cahaya kehidupan yang berada dalam matanya mulai meredup dan berhasil menarik kesadarannya kedalam kegelapan yang pekat akibat tubuhnya yang kehilangan begitu banyak darah .  *** Saat Amorist duduk bersimpuh di dalam kegelapan menyentuh jantungnya yang begitu sakit karena kutukan itu kini telah kembali bekerja akibat matahari yang telah terbenam, membuatnya mengerang dengan penuh kesakitan bahkan untuk mengatur nafasnya sendiri dirinya kesusahan hingga sebuah aroma yang begitu memabukan menusuk kedalam penciumannya.  Tidak dapat melihat apa - apa dikarenakan penglihatannya yang ikut melumpuh membuatnya hanya mengandalkan instingnya sebagai Demon yang begitu kuat berhasil membuatnya menajamkan manik mata merah terangnya yang bersinar di tengah kegelapan sebelum, dengan cepat dirinya melesat secepat angin dan tidak dapat di tangkap oleh mata telanjang ke arah pintu sedetik setelah Crius muncul dengan mangkok yang penuh akan genangan darah di dalamnya.  Darah itu kini mengendalikan semua hasrat setan yang dimilikinya. Disambarnya dari tangan adiknya lalu dengan begitu cepat di tenggaknya dengan begitu rakus hingga tidak bersisa sedikitpun.  Hingga di tetes terakhir yang dimilikinya berhasil membuat sinaran manik mata merahnya bersinar dengan begitu terang dan tajam sebelum secara perlahan meredup meninggalkan kilatan manik merah yang  indah namum mematikan.  Dijilatnya cairan merah yang tertinggal di ujung bibirnya dan membuatnya kini terlihat tengah menunjukan sisi bengisnya bersamaan dengan tangannya yang telah melemparkan mangkuk kecil tempat menampung darah sebelumnya hingga pecah menjadi serpihan - serpihan kecil tak terbentuk.  Sebelum tanpa disadari Crius gerakan selanjutnya yang begitu cepat dari Amorist berhasil membuatnya terkejut saat pria tersebut mendorongnya dengan begitu kuat hingga dirinya terpental jauh merusak pintu lalu berakhir dengan menabrak dinding yang kini retak akibat hantaman yang di terima dari tubuhnya.  Jika seseorang dengan kekuatan yang berada di bawahnya yang melakukan hal ini tentunya kekuatan mereka tidak akan sebanding dan rasa sakit yang di terimanya tidak sejauh ini. Namun kali ini berbeda, dorongan kuat yang di dapatnya ialah langsung dari sang pemimpin Keaton yang berada pada tingkatan atas tentu saja dapat membuat tubuhnya remuk.  Dengan mengeluarkan erangan sakit yang di rasanya pada dadanya dan mencoba bangkit dari poisisinya itu sebelum, kembali menerima serangan dari Amorist yang telah melesat mendekat pada tubuhnya untuk menaruh ujung sikunya tepat pada leher adiknya sendiri dan menekannya kuat membuat pria berambut putih itu tercekik namun, tidak terlihat menunjukan akan mengeluarkan bentuk perlawanan dari tindakan yang di terimanya.  Manik mata merah itu tepat mengarah pada manik mata golden quartz di depannya seolah dirinya dapat melihatnya menatapnya kuat hanya untuk menunjukan aura mematikannya "Sudah kukatakan padamu untuk menunggu perintahku." Pada akhirnya dirinya dapat mengerti arti dari tindakan sang Raja, mengingat pagi tadi bagaimana Amorist mengatakan untuk tidak melakukan apapun pada gadis ke-101 itu tanpa adanya perintah darinya. Sayangnya dirinya mengabaikan ucapan tersebut dan justru bergerak sendiri.  "Kau terlihat kesakitan jadi, aku tidak punya pilihan lain." seiring dengan pembelaan yang coba di keluarkan oleh Crius maka semakin kuat pula tekanan pada lehernya. Ini tidak akan membunuhnya mengingat siapa mereka namun, tentu saja ini berhasil menyiksanya mengirim gelenyar rasa sakit terlebih dengan tenaga yang di terimanya bukan dari sembarang orang.  "Dengar. aku akan menghancurkan lehermu jika kau mengulang hal seperti ini lagi." desis Amorist kejam memberikan ancaman pada seseorang yang memiliki ikatan saudara dengannya tanpa tanggung - tanggung. Disaat dirinya telah merasa cukup dengan apoa yang di katakannya maka di tariknya dirinya menjauh membiarkan adiknya memiliki ruang untuk bernafas dan lepas dari sakit yang di berikannya.  Pengaruh dari darah tersebut hampir sama dengan gadis - gadis lainnya, mereka mengurangi rasa sakit yang di deritanya meskipun tidak memulihkannya seperti mengembalikan detak jantungnya atau memulihkan penglihatannya.  Namun, rasa manis dari darah yang diminumnya kali ini meninggalkan kesan yang begitu kuat padanya bukan hanya pada aromanya saja yang begitu memabukan untuknya, melainkan setiap tetes dari yang di minumnya terasa begitu mengalir dalam tubuhnya mengirim desiran begitu nikmat hingga rasanya ia menginginkannya lagi, rasa haus itu kini ada dan tidak cukup untuk sekali saja.  Seperti yang dirinya duga gadis ke-101 itu berbeda dari 100 gadis lainnya. Dia memiliki kontrol untuknya.  Tersenyum sinis membuatnya menggumam kecil saat pikiran tersebut muncul di benaknya. "Ini buruk."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD