02~Sirine Berbahaya

1128 Words
Crius menyipitkan matanya saat melihat Amorist, kakaknya yang terlihat tiba - tiba begitu agresif dari atas menara balkon kastil hingga manik matanya hampir memerah sempurna dan membuat sinar matahari memantul melewati manik mata terang itu. Entah apa yang berhasil memancing sisi iblis sempurna dari pemimpin Keaton dan membuatnya hampir terlihat menyeruak keluar. Mengikuti arah pandang Amorist dirinya menemukan bahwa pria tersebut masih tengah fokus menatap gadis ke-101 dari penawar kutukannya. Ini bukanlah kali pertama kakaknya melihat gadis yang akan dimakan jantungnya, ini sudah yang ke-101 tepatnya ialah terakhir. Tapi, pria itu terlihat berbeda dari atas saat tengah mengintai penawarnya sendiri, tidak seperti 100 gadis lainnya. Terlihat Amorist butuh beberapa saat untuk menutup matanya sebelum segera berbalik masuk kedalam kastil dengan begitu cepat, membuatnya dengan tak kalah cepatnya memindahkan fokus matanya untuk menatap pada saah satu Tarkatan yang berdiri diam tidak jauh darinya untuk segera berjalan mendekat kearahnya. Ras Kartakan sendiri memiliki ciri - ciri dengan bentuk tubuh besar kekar, tidak memiliki rambut pada kepalnya, telinganya yang meruncing, dan mulutnya yang hanya dipenuhi oleh gigi - gigi tajam membuatnya terlihat menyeramkan. Ras Tarkatan sendiri merupakan bagian dari klan Demon yang berguna untuk menjaga kastil. Berada pada golongan posisi terbawah sebagai bagian dari Klan Demon. Meskipun pada posisi golongan bawah Ras Tarkatan sendiri terbilang cukup kuat sebagai salah satu bagian dari Klan yang memimpin, terlihat dengan cara bertarungnya yang mampu mengeluarkan sebuah pedang tajam pada kedua tangan miliknya untuk menghancurkan musuh. "Bawah gadis itu kedalam ruangan Lebna." Mendengarkan perintah yang di keluarkan oleh sang pemimpin membuat Tarkatan itu hanya menggeram sebagai balasan dalam nafas beratnya yang terlewati dari celah - celah giginya, karena tidak bisa bebrbicara. Saat gadis tersebut hanya berdiri dengan kebingungan setelah turun dari kereta yang di tumpanginya dan sedaritadi terdiam menatap pada kastil besar di depannya, secara spontan langsung saja bereaksi dengan takut hingga termundur dan kembali menabrak bagian dari kereta saat melihat sebuah makhluk lain yang begitu menyeramkan kini mendekat padanya. Matanya tidak bisa terlepas dari makhluk yang tidak memakai atasan itu saat terus berusaha menggapai dirinya, mencoba menyentuhnya. Bukan karena makhluk tersebut tidak memakai baju seperti Centaur hanya saja makhluk ini benar - benar berhasil menakutinya dengan tampilannya, seolah makhluk itu akan menyakitinya. Jadi dirinya terus melempar tatapan takutnya bersama tangannya yang semakin merapatkan kain cokelat pada tubuh polosnya, seolah berusaha bersembunyi pada benda yang hanya butuh sekali robekan dari makhluk di depannya menjadi dua bagian atau bahkan tak bersisa. "Dia tidak akan menyakitimu. Dia hanya akan mengantarmu kedalam kastil." Sebuah suara dari arah belakang Tarkatan berhasil menghentikan langkah makhluk itu yang segera meminggir hanya untuk membuka arah pandangangan yang memperlihatkan pada gadis tersebut siapa yang telah berbicara. Manik biru miliknya sedikit terlihat cukup lega saat menyadari bahwa Pria yang memakaikannya sebuah kain tadi di gua tengah menatap kearahnya, untuk pertama kalinya pria tersebut membuka suaranya dan berbicara padanya guna menghilangkan kepanikan yang melandanya. Di tatapnya semua orang yang sudah sedari awal di lihatnya dalam gua tengah berbalik menatpnya dalam diam juga, dirinya pikir makhluk - makhluk ini tidak bisa berkomunikasi dengannya karena memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengannya jadi, mereka tidak akan saling mengerti. Sayangnya setelah 3 kali komunikasi satu arah yang di lakukan dari bagian para makhluk itu padanya, maka dirinya sudah merasa cukup yakin bahwa dirinya akan bisa berkomunikasi dengan mereka. Sehingga tidak akan ada kesalahpahaman yang berujung melukainya. "Be—benarkah ?" Membuatnya akhirnya memutuskan untuk membuka suara dan bertanya, mencoba kembali meyakinkan dirinya pada pria berambut putih di ujung sana yang ternyata baru di sadarinya kini tidak memiliki tanduk lagi, seperti saat di gua. Hilang tak berjejak. Saat pria itu semakin menajamkan matanya mendengarnya pertama kali berbicara pada mereka juga, dilirknya sebentar kelompok yang berdiri di belakang pria itu saat di gua hanya untuk memastikan bahwa ternyata kelompok dari pria tersebut kini tidak menampilkan sebuah tanduknya. Sehingga mereka kini terlihat sama sepertinya hanya terlihat ekspresi yang jauh lebih dingin yang dilemparkan. Sayangnya hanya kelompok dari bagian Crius yang terlihat tidak aneh lagi baginya sementara lainnya masih sama dengan sayap pada punggungnya atau tubuh mereka yang setengah hewan. Membuatnya segera kembali melemparkan tatapannya pada Crius di ujung sana yang kini menganggukan kepalanya mengiyakan keraguannya, melihat itu dirinyapun berani mengambil langkah untuk mengikuti Kartakan di depannya yang membawanya masuk kedalam kastil. *** Amorist tengah berdiri di depan cermin yang kini memantulkan sosok dirinya yang terlihat sedang memegang sisi kiri tubuhnya tepat pada jantungnya sendiri, guna merasakan secara perlahan debaran yang mulai menghilang setelah aroma dari gadis tersebut juga tidak lagi tercium oleh inderanya. Ini membuatnya bingung. Di tutupnya kedua matanya agar tidak menampakan manik mata hitam miliknya lagi, mencoba mencari jawaban dari apa yang di alaminya barusan. Pengaruh gadis tersebut padanya bukan hanya sebagai pengangkat kutukannya melainkan lebih dari itu. Sayangnya dirinya tidak tau apa yang terjadi. Hingga suara derit pintu besar yang di buka dari luar, seketika membuatnya ikut membuka matanya dalam sekejap dan kembali menatap pada pantulan dirinya di depan cermin namun, kini dengan kedua tangan yang berada pada posisi di belakang tubuhnya. Terlihat sosok pria jangkung tinggi yang memiliki tekstur wajah yang tidak jauh berbeda darinya berjalan masuk. Mereka memiliki wajah yang di bingkai oleh sebuah rahang yang tegas, hidung yang meninggi mancung, dan alis yang tergambar sempurna. Perbedaan identik pada keduanya ialah pada manik mata berbeda yang menjadi hiasan sempurna bagi wajahnya. Crius, adiknya memiliki manik mata Golden Quartz dengan rambut berwarna putih. Sementara dirinya ialah merah terang dan rambut yang berwarna hitam. Mereka terlahir dengan sempurna namun itu hanya tampak di luarnya saja tidak dengan bagian dalam dari diri mereka sebagai seorang yang memiliki identitas iblis berwajah malaikat. Mereka seperti malaikat terbuang karena kejahatan yang mereka lakukan. "Ada apa ?" Suara pertama yang keluar di dalam ruangan tersebut ialah milik dari Amorist. Hingga Crius yang menundukkan kepalanya memberi hormat kini kembali mendongakan kepalanya menatap pada punggung sang Raja. "Aku melihat kau berbeda dari bawah jadi, kupikir kau kesakitan." "Matahari baru terbit belum akan terbenam." Jawabnya hingga tanpa sadar Crius melirik pada pintu arah balkon yang memang masih terbuka dan memperlihatkan keadaan luar yang masih terang. Tidak ada jawaban hingga Amorist melirik singkat pada Crius."Apa gadis itu pemilik jantung terakhir ?" "Ya. Dia yang terakhir. Saat bulan purnama terjadi, kutukanmu a—" "Dia berbeda. Dia terlihat memiliki kontrol untukku." Crius terdiam tidak mengerti mendengar pernyataan lugas dari pria di depannya itu. "Dia sama seperti seratus gadis lainnya. Tidak memiliki kekuatan dan hanya tubuh tanpa daya saja yang ada." "Tidak dia berbeda. Jangan menyentuhnya dahulu." "Malam ini aku harus mengambil sedikit darahnya guna menghilangkan rasa sakit yang akan kau alami nantinya." Jawab Crius terdengar tidak setuju dengan pendapat dari Amorist, hingga pria tersebut segera berbalik dan menatap tajam pada dirinya. "Jangan mencoba menyentuhnya Crius, sampai aku yang memberi perintah. Dia gadis yang berbeda, aku merasakannya. Dia berbahaya untukku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD