Al Bersaudara

1718 Words
Anak dari seseorang yang mereka panggil Tuhan, yang saking jeniusnya bisa membuat dunia paralel hanya demi keinginannya untuk menyaingi Tuhan Seisi Alam ini, yang biasa disebut oleh manusia Allah. Lalu, dia dikejar oleh para iblis yang menginginkan kematiannya? Bukankah itu sangat membuat pikirannya stres? Permasalahan itu tumpang tindih seakan tak memberikan celah kepada si pemilik otak untuk berehat sejenak. Baru saja Athela, si gadis bermata biru itu berimajinasi datangnya seseorang dari masa depan yang tentu saja itu khayalan semata, kini dia harus menerima kenyataan di luar imajinasinya sendiri. Sebentar... ini bukan kelainan, kan? Kelainan akibat dia yang selalu berimajinasi sehingga menimbulkan efeek seperti jessica method, imajinasi manusia yang berada di luar batas. Itu biasa disebut kelainan karena manusia terlalu larut ke dalam imajinasinya masing-masing. Atau ini memang jessica method? Akibat ocehannya tadi tentang hal-hal yang mustahil (contohnya datangnya seseorang dari masa depan) kini dia bisa menciptakan teman imajinasi, seekor harimau putih sepanjang dua meter yang saat ini meringkuk di depan api unggun dan membelakangi semak-semak. "Tunggu, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Banyak hal yang sangat mengganjal dalam otakku hingga rasanya ingin meletus saja." Byakko mengangguk sekali, menunggu penyelasan dari gadis berambut pirang itu dengan khidmat. Walaupun dalam hati Athela masih diliputi pertanyaan-pertanyaan aneh, lagi-lagi rasa penasarannya membuat gadis itu berani bertanya. "Kenapa hanya aku yang bisa melihatmu?" Athela bolak-balik melihat beberapa gadis di depan tenda mereka---dekat sekali dengan tendanya---yang masih asyik membicarakan sesuatu. Padahal jaraknya hanya beberapa meter, tak mungkin gadis-gadis itu tak melihat wujud Byakko sebesar ini. Pasti ada sesuatu. Entah itu penghalang, atau sihir yang membuat Athela tak terlihat oleh mereka. "Kau berada di alam yang berbeda dengan mereka, Nona. Mereka berada di alam yang jadi tempat para makhluk bernyawa menapakkan kaki. Sedangkan kau sekarang berada di alam roh, tempat di mana mereka tidak bisa melihatmu dan mendengar suaramu. Mau sekencang apa pun kau berteriak, mereka tidak akan mendengarnya. Karena, mereka masih mempunyai nyawa. Makhluk yang mempunyai nyawa tidak seharusnya bisa melihat alam kami kecuali dengan beberapa sebab." "Maksudmu aku ini sudah meninggal?" tanya Athela dengan wajah bingung dan terheran. Belum selesai masalah tadi, ada lagi yang muncul masalah ini yang membuat kepalanya berat seperti berton-ton karena dijejali oleh satu masalah lagi. "Bukan, Nona. Bisa dibilang saat ini kau tengah tertidur." Hening sejenak. Mata biru gadis berambut pirang itu menatap langit malam yang bertabur bintang. Kemudian dia menatap ke arah api unggun dengan tatapan lurus. Anak matanya menatap ke arah Athela lain yang saat ini tengah tertidur pulas. "Apa saat ini rohku sedang berpisah dengan wujud jasmaniku?" Byakko mengangguk. "Apa jika bertemu denganmu aku harus dalam wujud rohku?" "Dalam beberapa kasus, manusia harus berubah menjadi roh dulu untuk bisa masuk ke alam roh, tetapi kau adalah pengecualian. Karena kau adalah anak dari Tuhan kami, akan sangat mudah bagiku sebagai pelayan setianya untuk memasukkan roh bersamaan dengan jasmanimu ke alam roh. Tapi, aku tidak bisa melakukannya." Suara Byakko terdengar seperti seseorang yang berumur dua puluh tahunan, terdengar seperti remaja yang hendak beranjak dewasa. "Kenapa? Apa yang terjadi jika ragaku masuk ke alam roh?" "Para penyihir akan mengejar karena bisa mencium aroma tubuh dan darahmu." "Bahkan ketika aku tidak sedang terluka sekali pun?" Byakko kembali mengangguk, mulutnya terbuka seperti ingin memberikan penjelasan lanjut. "Beberapa vampir dan penyihir yang menyimpan dendam dengan ayahmu, sang penyihir hebat sepanjang masa, memiliki indera yang sangat tajam apalagi jika berada di alam rohnya sendiri. Berbeda ketika mereka berada di dunia manusia, indera mereka hanya sebatas jika target terluka." Athela mengangguk tanda mengerti, kemudian duduk memeluk kedua kaki yang telah dia rapatkan ke d**a. Napasnya tak lagi memburu seperti tadi, tak ada juga keringat dingin dan badan yang bergetar akibat ketakutan. Athela yang telah mengerti kebenarannya sekarang perlahan tenang. Yang dia tahu, entah harus percaya atau tidak kepada Byakko, tapi satu-satunya jalan adalah dengan mengikuti keinginan harimau putih itu untuk mengetahui kebenaran dari cerita tak logis ini, yang bahkan tak bisa diterima oleh akal sehat manusia. Tiba-tiba matanya yang tadi terpaku dengan api kini beralih melihat Byakko yang sedang mendekatinya. Apa aku harus memercayainya? Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisiku, Lyne? tanyanya dalam hati sambil melihat sahabat masa kecilnya, Evelyne yang sudah meringkuk di bawah selimut dan memejamkan mata. Apa jadinya jika Lyne tahu tentang ini? Apakah dia akan memercayai ini atau menganggap sebagai jessica method saja? "Nona, sebaiknya kau jangan memberitahu ini kepada siapa pun, bahkan dengan sahabatmu sendiri. Bisa saja dia adalah musuhmu." Mata Athela terbelalak. "K... kau?" "Iya, aku bisa mendengar apa yang saat ini sedang kau pikirkan. Selain bertarung, aku juga memiliki kemampuan telepati." Dia berkata dengan wajah dan nada yang sangat sombong. Entahlah, Athela tidak tahu bagaimana wajah kucing yang sedang menyombongkan diri, tapi menurutnya sekarang ini kucing raksasa itu tengah memamerkan sesuatu. Atau lebih tepatnya, menyombongkan kemampuan telepatinya. Byakko duduk melingkari Athela, mencoba menghangatkan gadis itu dengan tubuhnya. "Kenapa kau duduk seperti itu?" tanya Athela. "Untuk menjamin keselamatanmu, Nona. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika gagal dalam misi ini." "Misi?" "Ya, misi. Misi untuk melindungimu." Tiba-tiba bau anyir menusuk indera penciumannya. Mata Athela dan Byakko kini waspada ke seluruh penjuru hutan. Tak ayal jika gunung ini disebut angker, apalagi ketika Athela masuk ke alam roh. Itu akan sangat berbahaya. Dari semak-semak lain muncul seperti bayangan, sepasang mata merah menyala layaknya kobaran api itu seperti tengah menatapnya. Dedaunan kecil itu menimbulkan suara keras yang dapat didengar oleh sepasang telinga Athela. Napasnya memburu naik turun karena ketakutan, begitupun dengan tubuhnya yang bergetar hebat tak terkendali. Apalagi ketika sesosok bayangan itu mulai berbisik-bisik dari balik semak belukar. "Itu sang darah murni!" "Iya... jika kita bisa membunuhnya, kita akan memperoleh keabadian dan kekuatan melebihi Sang Penyihir hebat sepanjang masa itu sendiri." Suara satunya menimpali. Seram sekali, membuat bulu kuduk gadis cantik berambut pirang itu berdiri, menelan ludah menahan ngeri. "Bunuh... bunuh sang keturunan murni... ini bulan purnama, saat yang tepat untuk membunuhnya." Bisik makhluk itu lagi, sesuatu yang bersembunyi di balik semak belukar itu. Athela kembali menatap semak itu, barangkali ada satu makhluk lagi yang berada di sana dan tidak diketahui keberadaannya. Dua detik, dia telah melakukan pengamatan. Namun, hasilnya nihil. Makhluk itu hanya ada satu, tidak ada lagi sepasang mata yang terlihat di sana. Terrlebih, indera pendengarannya sangat yakin jika makluk itu hanya sendirian. Dia tidak mencium bau lain selain makhluk aneh itu. "Dia sudah berumur tujuh belas tahun," bisiknya lagi, dengan suara yang berbeda dari yang tadi. Bunyi suara seperti napas seseorang yang tertahan tiba-tiba semakin membesar saja. Awalnya, suara itu tak terdengar jelas. Sekarang seiring dengan kacaunya semak-semak, suara itu semakin mengudara. "Bunuh... bunuh... bunuh...." Mereka berbisik bergantian. Kendati berbisik, tetapi suaranya semakin kentara saja di telinga. Seolah-olah makhluk itu mendekati mereka. Tepat saat semak-semak itu disibak, Byakko berteriak, "Nona! Tolong jangan pergi dari pandanganku." Athela mengangguk, tangannya bergetar sendiri. Peluh kembali membasahi sekujur tubuhnya karena rasa takut yang mencekam. Apa... apa-apaan itu? Saat Byakko sudah siap-siap untuk memosisikan diri sebagai pertahanan, tepat sedetik setelah semak itu disibak muncullah sebuah tangan kiri hitam yang menyeramkan. Kuku-kukunya panjang dan runcing dipenuhi oleh darah yang menetes dari ujung kuku-kuku hitam pekatnya. Di punggung tangan makhluk itu ada beberapa bercak darah, dan urat nadinya menonjol di mana-mana menambah kesan jeri bagi siapa pun yang melihatnya. Semerbak bau anyir kembali tercium oleh hidung Athela. Bau darah anyir itu telah semerbak ke mana-mana. Membuat perut Athela dihujani rasa ingin muntah. Beberapa saat kemudian, akhirnya sesosok itu muncul juga. Seorang wanita berambut putih dengan wajah penuh kerut dan pucat menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Wanita itu menyeringai, membuat garis mulutnya memanjang sampai di bawah mata. Mata tuanya tak lebih dari sekadar manik mata berukuran tiga kali lipat besarnya dari mata manusia biasa. Saat berkedip, terlihat di matanya ada bekas luka lama yang habis dijahit. Wanita? Bukankah tadi suara laki-laki? Makhluk itu kembali menyeringai ngeri, membuat Athela kembali meringkuk dan meminta perlindungan Byakko. Tubuhnya berguncang hebat, dan kakinya seperti mati rasa. Bak melihat wajah makhluk itu saja sudah menyebarkan virus kelumpuhan bagi siapa saja yang melihat. "Nona, mundurlah! Cepat!" Suara bariton khas anak baru gede itu membuat Athela kembali tersadar dari ketakutannya. Athela mengangguk, lantas mengangkat kakinya. Sayang, kedua kakinya lumpuh. Tidak bisa apa-apa. Untuk bergerak seinci dari pertarungan itu saja tidak bisa. "Wah, kau memang gadis yang mengagumkan, wahai penyihir keturunan asli. Awalnya aku ingin mencarimu di dunia manusia. Tapi sepertinya kamu terlalu baik hingga datang sendiri menemuiku." Suara perempuan tua terdengar. "Aku harus membunuhnya malam ini agar dapat kehidupan abadi. Lalu mendapatkan kekuatan tanpa batas dan mengalahkan penyihir b******k itu dengan kedua tanganku sendiri." Suaranya kembali berubah, kini suara seseorang yang tadi berbisik-bisik di belakang semak. "Mari kita mandi darahnya, agar awet muda." "Aku ingin mencincangnya menjadi beberapa bagian." "Aku ingin memasaknya." Suara itu keluar berbeda-beda. Mimik wajah wanita itu pun mengikuti suara-suara itu. Saat semangat, mimiknya menjadi menyeringai. Saat sedih, air mata darahnya akan keluar. Benar-benar pemandangan yang menjijikkan sekaligus membuatnya jeri. Dadanya sejak tadi berdebar tidak bisa berhenti. "Byakko... di-dia... siapa?" "Maaf tidak bisa menjelaskan secara rinci, Nona, karena bukan waktunya menjelaskan saat ini. Dia adalah penyihir wanita. Bukan, lebih tepatnya wadah wanita yang menampung beberapa penyihir yang sudah tidak memiliki raga." Nadanya tidak menyiratkan kekhawatiran akan kekalahan sedikit pun. Mungkin selain sombong, Byakko juga memiliki kepercayaan diri di atas rata-rata. "Wah, kamu pintar sekali, Kucing Jantan. Sepertinya aku harus memberimu nilai sempurna." Suara seorang wanita tua itu kembali terdengar, lalu disusul dengan tawanya yang memecah langit malam. "Sempurna? Apakah hari ini kita akan memakannya, Al?" Kakek tua itu muncul lagi. "Tidak, Il. Aku ingin memutasi tubuhnya." Wanita itu menjawab seolah sedang berdialog dengan tubuh lainnya. "Yah... padahal aku sangat ingin merasakan daging kucing itu." "Masak daging kucing lembut itu dengan kuah darah sang keturunan murni, Al!" Kemudian terdengar tawa itu kembali. Tawa seram yang tadi sempat menggelegar dan memecah keheningan malam dengan bulan purnamanya. "Il, Ul, El, Ol. Adikku, aku telah berubah pikiran. Aku akan melakukannya untuk kalian. Tunggu saja, kupastikan kalian akan memakan daging kucing itu yang begitu lembut dan melumat-lumat tubuh gadis kecil itu." Tawa Al kembali mengerikan. Menggelegar bak guntur di atas sana. Athela menelan ludah. Hei, ini mimpi, kan? Dia harap begitu. Ralat, semoga saja ini mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD