Shock itulah yang dirasakan Sammy, tidak ada yang bisa dilakukannya. Sialnya menggerutu pun percuma, Apalagi harus protes pada orang telah tiada di dunia, mustahil bukan!
"Menikah?Apa anda yakin sudah membaca surat wasiat yang benar." Sergah Sammy dengan perasaan yang tidak bisa diterimanya.
"Sam, kau meragukanku. Aku kepercayaan ayahmu."
"BISAKAH ADA YANG MENJELASKAN PADAKU KENAPA AYAHKU LAKUKAN INI. s**t!!" Raung Sammy berada di rumah seperti istana itu, walaupun dia sendiri memilih tinggal di apartment.
"Sam! Tenanglah.. nenek yakin ayahmu sudah berpikir panjang." Leli berkata lembut pada cucunya. Ia sangat menyayangi Sammy.
"Tidak!! Mami tidak setuju." Sambar Mira, Kakak dari ibu kandung Sammy. Dia sudah seperti ibu untuk Sammy, bukan itu saja. Sering kali Mira memanfaatkan kebaikan Sammy padanya.
"Jangan ikut campur.. Mira!! Kurasa kau tahu batasanmu." Leli berkata dengan nada yang tidak sukanya.
"Sudah cukup!! Apa aku punya pilihan lain, ataukah aku harus menggali kuburan Ayah memintanya membatalkan semua isi wasiatnya."
"Sammy!! Jangan keterlaluan." Bentak Leli.
"So? Siapa yang harus ku nikahi. Aku harap dia cantik dan berkelas."
***
HANNY NINGRUM
Setiap pagi Hanny mengantar kue miliknya di warung kecil, bersyukur tiap hari kuenya selalu laris. Walau buta dia tidak pernah tergantung dengan orang lain.
Dari kecil, ia sudah biasa dengan desanya, lagi pula semua penduduk mengenal dirinya.
"Pagi, Han. Pulang antar kue." Ujar salah satu ibu-ibu yang sedang belanja sayur keliling, kebetulan sekali ia melewati tempat tersebut.
"Pagi, Bu. Iya dari antar kue bu Marni. Lagi belanja ya." Hanny berjalan tanpa tongkat karena ia sudah sangat hafal dengan jalan desanya.
"Enggak belanja, Han." Tanya ibu itu lagi pada Hanny.
"Sudah.. Kakek belanja tadi subuh." Jawab Hanny tersenyum. "Kalau begitu Hanny pulang dulu ya. Takut kakek cari."
"Hati-hati ya, Han."
Hanny menikmati perjalanan desanya, ia harus melewati pantai saat harus kembali kerumah kakeknya, jalan berlumpur sudah biasa bagi Hanny, Walau pun buta Hanny bisa merasakannya.
"Ya Allah.. Nikmatnya." Seru Hanny, ia termasuk orang yang pandai bersyukur, apa yang dirinya punya sekarang. Hanya satu prinsip Hanny, dia bukan perempuan lemah karena dia yakin hidupnya tidak selalu buruk.
BRUK!!
Seorang menabraknya, Hanny yang merasa tidak bisa melihat apapun, ia meminta maaf atas kesalahannya. Tapi ternyata ia mendengar setiap perkataan buruk keluar dari mulut lelaki itu.
"Maaf, Saya tidak sengaja." Ucap Hanny lembut.
"Oh God..!! Punya mata enggak sih? Jalan pakai dengkul." Pria itu membuka kaca matanya melihat keadaan Hanny dari atas hingga ke ujung kakinya. "Ishh.. Kotor amat."
Sammy merasa jijik pada Hanny yang terlihat lumus, kakinya penuh dengan lumpur, mukanya tidak menarik untuk Sammy. "Astaga, dia bau sekali. Apa kau enggak pernah mandi ya. Dekil amat!!"
Hanny memang buta, bisa dibilang miskin tapi siapa pun yang berani menghina dia sangat marah sekali. "Tuan, berani anda menghina saya. Memang kalau Saya dekil itu masalah buat anda. Cara bicara anda seperti seorang yang berpendidikan tapi anda tidak memiliki moral!!'
Sammy tak terima dengan kata-kata kasar dari Hanny. "Berani sekali lo!! Dasar perempuan miskin!!"
"Aku sumpahin nikah sama orang miskin!!" Cela Hanny lantang. "Saya memang miskin!! Tapi tidak pantas anda menghina."
"Hanny...!! Ada apa ini?" Tanya seorang yang penduduk desa.
"Raka? Kamu Raka." Tanya Hanny memastikan.
"Iya, Han. Kenapa kamu marah-marah." Tanya balik Raka pada Hanny.
Raka adalah teman Hanny yang baru selesai kuliah di kota. Walau dari kota pria itu tidak merasa sombong.
"Tuan Sammy." Tegur Raka seolah sudah mengenalnya. "Apa yang anda lakukan disini.
"Kamu karyawan Saya. Dia menabrak Saya, dan lihat dia dekil sekali."
"Tuan, disini jalan berlumpur, Hanny tidak bisa lihat, jadi dia tidak bisa menghindar."
"Astaga jadi dia buta. Pantas saja."
Hanny malas mendengar hinaan Sammy ia memutuskan kembali kerumah kakeknya.
'Dasar orang kaya sombong. Apa mereka selalu tidak sopan. Sama orang buta saja seperti itu' Gerutu Hanny dalam hati.
"Sam, tidak seharusnya sama wanita seperti itu." Tegur Leli pada Sammy.
"Sudahlah, nek. Bukan saatnya berdebat." Gerutu Sammy.
Sammy saat ini sedang menunggu pengacaranya untuk menunjukkan rumah perempuan yang akan di jodohkan untuknya.
"Nek, aku rasa tidak akan ada wanita yang berkelas disini. Apalagi cantik." Sungut Sammy berada di tepian orang-orang yang berjualan ikan. "Lihat saja mereka semua, Nek. Bagaimana mereka salah satunya."
"Sammy cukup!! Seperti ini kah sikap Ceo Safrio group."
Sammy tidak suka membuang waktu berjalan di pasar ikan tepian sungai. Tapi sayang hari ini sepertinya ia masih harus berjalan ditemani angin sepoi.
Lumayan cukup lama Sammy menunggu pengacara tersebut. "Akhir datang juga. Cepat dimana rumahnya." Ucap Sammy seakan memperintah.
Sammy dan Leli berada dirumah seorang kakek yang sangat sederhana. Rumahnya lantainya terbuat kayu, rumah yang sangat kecil. Leli dan kakek tersebut sangat akrab.
"Nak, Sammy yakin ingin meminang cucu kakek." Kakek Ridwan ragu karena Sammy sangat jauh berbeda dengan Hanny yang sederhana sekali, meski sebenarnya Hanny anak orang kaya. Namun kakeknya tau hidup di Kota akan mencemohnya karena Hanny buta.
"Mau bagaimana lagi, itu wasiat Ayah." Sahut Sammy.
"Tunggu sebentar kakek panggilkan Hanny."
Ridwan pergi meninggalkan mereka ke kamar Hanny. Ketika itu Hanny tengah memasuki uang di tabungannya. Sejak kecil Hanny bermimpi ingin bisa seperti orang lain yang bebas melakukan apapun. Ia ingin memandang dunia sesuai keinginannya.
Sebagian uang jualannya selalu Hanny tabung, agar bisa kekota, Karena dia tahu jika kakek tidak akan pernah mengijinkan dia kekota.
Entah apa yang kakeknya sembunyikan selama ini. Hanny selalu merasa kakek selalu takut saat dia membahas ingin ke kota. Walau terkadang merasa dia tahu apa yang membuat kakeknya melakukan itu."Hanny." Panggil kakek Ridwan dengan lirih. "Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa kek?"
"Dia ingin meminangmu, Han." Jawab Kakek sedih
Hanny memang tidak bisa melihat raut muka kakek yang sendu, namun Hanny bisa merasakan dari mendengar kakeknya. "Kek, sedih lagi. Apa Hanny harus menolaknya."
"Jangan!! Kali ini jangan karena dia putra dari sahabat ayahmu, kalian berdua sudah di jodohkan sejak kecil."
"Jadi menurut kakek Hanny harus menerimanya. Tapi bagaimana jika dia tidak baik."
"Dia orang kota. Hanny ingin pergi ke kotakan, Hanny bisa kesana ketika sudah menjadi istrinya."
Mendengar kata kota membuat Hanny sumringah, ia pun merasa bahagia senang jika itu kebenarannya. Tentu Hanny merasa beruntung.
Mereka keluar menemui Sammy. Pria itu sudah merasa gerah, merasa sangat tidak nyaman berada di rumah sempit itu.
"Hanny, kenalkan ini Sammy." Ujar kakek Ridwan yang mengandeng Hanny.
"Astaga... Lo!!" Celetuk Sammy, ia mendengus kesal menatap Hanny.
Sang kakek mengkerut mendapat respon seperti itu. "Nak Sammy, sudah mengenal Hanny."
Hanny mengingat suara orang kaya yang sombong telah menghinanya tadi, padaha dia sudah meminta maaf tapi masih saja Sammy terus menghina.
"Kakek, Hanny tidak mau menikah dengan orang kaya sombong."
"Apa lo bilang barusan!!" Sergah Sammy. "Nek, lebih baik batalkan saja semua ini."
"Tidak bisa Sammy.. Ayahmu sudah memberi amanat." Sambung pengacara pada Sammy.
"s**t!! Mimpi apa harus menikahi perempuan kampung seperti dia."
"Sammy!! Jaga sikap kamu." Bentak Leli kesal dengan ketidaksopanan Sammy.
"Hanny, kalian sudah di jodohkan dari kecil. Ini memang sudah takdir kalian harus menikah."
"Sammy, kamu harus berjanji pada saya kalau kamu bisa menjaga Hanny."
Sammy merasa nasibnya sangat buruk menikahi Hanny yang buta, tidak cantik, penampilannya sangat lusuh, dia harusnya membawanya ke kota untuk dijadikan istri.
Seperti mimpi buruk menghantamnya, tamat sudah kesenangannya selama ini.