4. Sih Brensek

1039 Words
Seharian Hanny menangis karena perlakuan Sammy yang kurang ajar padanya. Dirinya bahkan geli dan jijik merasakan sentuhan Sammy. Sekarang Hanny berada di kamar mandi, diguyur oleh shower, dia menangis dan bersumpah tidak akan memaafkan Sammy dengan mudahnya. 'Sadar Hanny, jangan lemah. Kakek mengajarkanmu untuk tetap kuat. Ingat tujuanmu mencari pembunuh itu.' batin Hanny dalam hatinya. Tak lama Hanny keluar dengan kimononya, tubuhnya basah. Dan beruntung Sammy dan Hanny tidur dengan kamar terpisah. Walaunpun begitu tetap saja Sammy berani menyentuhnya. Dan bodohnya lagi hari ini dia tidak berada di kamarnya, melain dia berada di kamar Sammy yang masih tertidur lelap dengan selimut menutupi tubuhnya yang polos. "Laki-laki sialan." Cerca Hanny memandang Sammy yang berbaring dengan sempurna. Hanny kembali kamarnya, dengan memunguti satu persatu pakaian yang telah di lepas oleh Sammy. Setelah mengganti pakaian dengan dress mini berwarna marron. Hanny melanjutkan tugas sebagai seorang istri. Dia lihat nasi goreng yang berantakan di di lantai karena ulah Sammy. Ia pun membersihkan. "Dia bisa tidak menghargai makananku ini main buang aja. Dia pikir masak itu mudah." Gerutu Hanny sambil membersihkan pecahan piring. "Lihat dia sekarang, bukannya kerja. Malah tidur lagi." Ting Tong... Terdengar suara bel apartemen Sammy. perempuan itu yang masih dalam keadaan sebal pun, terpaksa harus membukanya. Hanny kembali berjalan seolah tidak bisa melihat apapun. Dia membuka pintu yang terlihat seorang wanita yang berdiri dengan tubuh seksi. 'Siapa dia.' "Sammy mana?" Tanya perempuan itu yang memainkan rambut panjangnya. 'Siapa lagi dia?' "Gue masuk ya." Kata Arini menabrak Hanny dengan sengaja. 'Benar-benar nih orang kota, enggak pernah punya tata karma.' Gerutu Hanny. Arini adalah kekasih Sammy. Dia sudah biasa ke apartemen laki-laki itu. "Pembantu ya disini." Ah... Menyebalkan Arini mengira jika Hanny pembantu Sammy. Dia tidak mengetahui Sammy telah menikahi Hanny. Hanny berjalan ke arahnya sambil meraba dinding apartemen, agar terlihat dirinya buta. "Oh.. lo buta ya. Kasian banget sih lo." Cela Arini membuat Hanny menggeram. "Iya, Saya buta. Sammynya lagi tidur." Kata Hanny lalu meninggalkan Arini. Rasanya Hanny ingin mencengkram muka perempuan itu dengan kukunya. Kalau saja tak mengingin tujuannya apa. Hanny tidak mungkin bertahan dengan sih brensek Sammy menurut Hanny. Dirinya mencuci piring bekas ia memasak tadi, lalu menaruhnya kembali ke tempat seharusnya. Sammy datang dengan menggunakan boxer saja, mengidik ngeri mengingat kejadian bersama pria yang sudah berstatus suaminya. "Eh.. buatkan tamu aku minum. Sekarang! dan enggak pakai lama." Kata Sammy seakan memperlakukan Hanny seakan pembantu saja. "Ck" Hanny yang masih berdiri membereskan dapur, ia menggepal tangannya geram pada Sammy. "Dasar brensek." Maki Hanny menghempaskan wajan dapur tersebut. Dan ternyata Sammy mendengar kekacauan yang Hanny buat, dia melihat keadaan dapur berantakan. Padahal saat dia datang tadi tidak seperti itu. "Kau itu bisa kerja enggak sih? Mau merusak barang di dapurku." Gerutu Sammy di belakang punggung Hanny. Hanny terjungkit kaget, dia pikir Sammy tidak mendengar kericuhan yang dirinya buat barusan. 'Astaga... Hanny sih brensek ini dengar. Bego banget kamu, Han.' batin Hanny menggigit bibir bawah. "Beresin cepat dan Bawah minuman untuk tamuku." Sammy berkata dengan penekanan penuh. Hanny menyelisik Sammy yang sudah pergi. Dirinya mendengus sebal. Bibirnya mengerucut, dia kembali membenahi tindakannya barusan. Lalu ia membuat minuman untuk perempuan belum lama datang ke apartemen Sammy. *** Sammy datang memeluk Arini yang sudah duduk manis seperti layaknya permaisuri. "Sayang... Kenapa tidak menelpon kalau mau datang." "Kejutan. Tadi aku ke kantor, tapi kata sekretaris kamu lagi enggak di tempat. Kamu juga sih pindahin aku di perusahaan lain." Sahut Arini bersandar di bahu lelaki itu. "Aku baru tahu kamu punya pembantu." "Iya.. Dari kampung, dan buta lagi." Remeh Sammy dengan sengaja saat melihat Hanny berjalan sangat hati-hati meletakkan minuman di atas meja tersebut. Entah sengaja atau tidak.. Sammy mencium bahkan meremas p******a Arini di depan mata Hanny. Belum saja 24 jam mereka bercinta, dan kini laki-laki itu ingin bercinta dengan Arini. Hal ini membuat terbakar dadanya. Bukan! jangan salah mengira, Hanny tidak sama sekali cemburu. Dia hanya tidak suka diperlakukan seperti ini. Itu artinya suaminya tidak cukup hanya Hanny. Dia masih belum puaskah? Hanny terpaku masih perhatikan Sammy. Tapi Sammy tidak perduli, karena bagi Hanny buta, apapun yang di lakukannya akan tetap aman. Namun tidak untuk Arini, dia merasa risih sekali. Karena Hanny tidak lari di hadapan mereka. Ia menghentikan Sammy sejenak. "Dia memperhatikan kita." Seru Arini. "Biarkan saja. Lagi pula dia buta, sayang." Jawab Sammy yang masih mencium Arini. Merasa tidak nyaman melihat kedua orang ini bermadu kasih, Hanny memutuskan ke kamarnya. "Sumpah.. aku benci banget sama Sammy. Dia menjijikkan sekali." Kata Hanny pada dirinya sendiri. Hanny membanting tubuhnya di kasur tidurnya, dia harus memiliki tingkat kesabaran terhadap Sammy. Hanny memutuskan ke supermarket. Tidak ada lagi kegaduhan yang di dengar. Namun saat melintas kamar Sammy. Setiap desahan terdengar jelas di telinganya. Sial.. Dia harus mendengar desahan Arini yang sudah berada di kamar Sammy. Hanny mengidik geli membayangkan kedua orang itu melakukan hubungan tanpa ikatan suami istri. "Dasar tukang mesum." Umpat Hanny di depan pintu kamar Sammy. Desahan itu semakin kuat, Hanny lari berburu. Dia tidak mau menjadi saksi dosa kedua orang ini. Ia memutuskan keluar apartemen. Hanny bahkan tidak melihat jalan depan, hingga membuat dia menabrak laki-laki yang lumayan tampan untuk Hanny. Bruk.. Oh Tidak.. Hanny menggigit bibirnya melihat lelaki itu. Menunjukkan rasa bersalahnya karena telah menabraknya. "Maaf." Gumam dengan muka yang tak nyaman. "Tidak masalah. Orang baru ya, Saya baru pertama kali melihat kamu." Kata laki-laki itu tersenyum, dan sudah pasti menjadi tampak tampan. "Iya Saya baru disini." Sahut Hanny. Hanny bahkan lupa memperlihatkan kebutaan pada pria tersebut. Rasa terpaksa menampakkan jati dirinya pada sosok tak di kenal Hanny tersebut. "Aku Satya. Kebetulan pemilik apartemen ini sahabat saya." Seru Satya tersenyum pada Hanny. "Saya Hanny. Maaf saya harus ke supermarket, lagi buru-buru." Ujar Hanny panik, dia takut ketahuan pada Sammy jika dia tidak buta. "Hai.. boleh minta no ponsel kamu." Satya memberikan ponselnya pada Hanny. Hanny pun langsung saja menyimpan nomor ponselnya di ponsel Satya. Seusai kejadian barusan, Hanny pergi. Dan merasa bodoh. Pertama dia memperlihat jati dirinya dan kedua memberi nomor ponselnya pada Satya. Menurut Hanny semua yang dialaminya itu karena Sammy sih brensek, dan m***m. Hanny jadi mengalami tindakan tanpa berpikir panjang. Dirinya sendiri merasa benar-benar menjadi tak waras. Hanny menghela nafas panjang. Entah kenapa bayangan ranjang bersama Sammy menghantui otaknya saat ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD