Matahari sudah terbit menyinari bumi saat ini, Sammy terbangun dari tidur, Ia terkejut kenapa dirinya bisa tidur di luar, Di sofa pula. Keningnya terdapat luka. "Kenapa aku tidur disini, ini keningku luka."
Sammy bersungut kesal, ia bangkit dengan membuka bajunya, tertampak gagah polos tubuhnya.
Pagi itu, Hanny membuat sarapan, nasi goreng. Kadang Sammy ragu dia buta. Begitu cepat mengetahui segala benda di apartemennya. Ia berpikir jika Hanny meminta asisten Sammy untuk membeli keperluan.
Padahal Hanny membeli keperluannya sendiri. Dengan tabungannya yang dibawanya, Hanny diam-diam pergi berbelanja sendiri.
"Eh... sih buta! Kau tau kenapa keningku ini" Hanny terjungkit mendengar kata Sammy, ia tertegun. Berusaha tetap tenang tapi sepertinya Sammy curiga padanya.
"Hah? Aku tidak bisa lihat." Ujar Hanny menghempaskan nafas berat. "Kenapa keningmu." Hanny berjalan pelan mencapai meja makan dengan dua piring nasi goreng.
"Kau buta atau tidak sebenarnya." Tanya Sammy membuat Hanny takut gemetar.
Hanny menduduki kursi hadapan Sammy, ia takut jika Sammy mengingat kejadian malam tadi. Ini sungguh menyebalkan. Bagaimana jika Sammy mengingat dialah yang telah menimpuk kepala pria itu.
"Lebih baik kau mandi. Kau harus bekerja. Itu sarapanmu."
Brak
Sammy menghamburkan nasi goreng yang diberikan pada Hanny. "Aku tidak sudi memakan nasi goreng buatanmu." Lempar Sammy pada piring membuat berderai dilantai.
"Bisakah kau hargai makananku itu." Sambar Hanny dadanya menggebu, rasanya ia menyesal hanya membuat kening Sammy terluka sedikit, seharusnya Hanny membuat sampai otaknya tergeser. Kira-kira itu pikiran Hanny saat ini.
"Cih! Aku tidak sudi." Sammy berdecih kesal. "Bisa saja kau meracuniku."
"Kau bilang apa!! Kau pikir aku pembunuh." Sanggah Hanny kesal
Sammy melekat memajukan kepalanya menatap mata Hanny lebih dekat, Sammy memastikan apa Hanny benar-benar buta. Laki-laki itu masih ragu Hanny buta, dia bisa masak dengan benar tanpa tongkat, ia juga bisa melakukan kerjaan rumah dengan baik. "Mungkin saja kau pembunuh berdarah dingin."
Hanny merasakan desiran darah mengalir terpacu cepat, jantungnya berdetak kencang. Mukanya memerah. "Ka--kau kenapa mendekat."
"Kenapa kau tahu aku mendekat."
"Kau ini bodoh! Aku bisa merasakan nafasmu menghembus diwajahku."
"Oohh... Benarkah?" komentar Sammy dengan wajah seringai.
"Menjauh!" Bentak Hanny kesal.
"Kalau aku tidak mau, Kau mau apa? hah? Berteriak.." Sergah Sammy merengkuh pinggang Hanny. "Siapa yang menolongmu? Aku suamimu tidak ada yang akan menolong. Coba saja berteriak."
'Benar juga kata dia, Mana mungkin ada yang menolong lagi pula dia suamiku.' Timpal Hanny dalam hatinya. "Lepaskan!!" Pekik Hanny.
Hanny sekarang terlihat lebih cantik dari saat ketika ia pertama kali menginjak kan dirinya di kota, karena Sammy meminta seorang mengubah dirinya seperti sekarang ini.
"Kenapa aku harus melepaskanmu. Bagaimana kalau kau memberikan hakmu padaku."
"JANGAN BERMIMPI. KITA HANYA DI JODOHKAN." Raung Hanny memukul punggung Sammy namun bukannya menjauh Sammy justru menggendong Hanny ke kamarnya.
"Sammy!! Lepaskan aku. Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku." Ricau Hanny yang terus tiada henti memukuli punggung belakang Sammy. "Dasar tidak berakhlak!!" Umpat Hanny. 'Ya Tuhan selamatkan aku. Apa dia selalu menjadi pemaksa seperti ini.'
Sammy membanting tubuh Hanny keranjang tidurnya lalu mengunci kamarnya agar tidak membuat Hanny kabur. "Aku akan membuatmu menjadi wanita paling beruntung karena telah tidur bersamaku."
"Apa kau masih mabuk, Kenapa kau mericau."
Hanny berusaha memundur tubuhnya hingga sampai disandaran ranjang ujung Sammy.
"Jadi tadi malam aku mabuk!!" Sanggah Sammy membuka celana panjang yang dikenakannya.
Hanny melempari Sammy dengan bantal didekatnya. "AKU BILANG MENJAUH!! APA KAU TULI."
Sammy seakan benar-benar tuli, ia dengan sengaja melucuti seluruh pakaiannya tanpa satu pun tersisa
Deg
Jantung hati seakan meledak, Tidak.. tidak.. tidak!! Hanny tidak pernah memandang semua ini, ia takut sekali, Hanny meremas seprai ranjang Sammy.
"Rasanya rugi aku tidak memanfaatkan tubuhmu dengan gratis, sementara diluar sana aku membayar mereka untuk tidur denganku. Jika ada istri aku tidak perlu membayar." Sammy menaiki ranjang mulai memaksa membuka dress yang membalut tubuh Hanny.
Sammy tidak mampu mendengarkan teriakan demi teriakan Hanny, ia menyumpal mulut Hanny dengan Lakban, tubuh Hanny sudah gemetar Kaku, ia hanya mampu mengeluarkan air mata.
Laki-laki itu sungguh melakukan apa yang diinginkan dirinya, tidak perduli Hanny terus memberontak ia justru mengambil tali mengikat tangan perempuan yang di anggapnya buta.
Ia melakukan hal menjijik kan untuk Hanny. Seluruh tubuh Hanny tersentuh oleh jemari Sammy. Hanny ketakutan ketika Sammy melepas underwear. "Jangan menangis, ini baru permulaan."
'Kau menjijikkan!!' Gusar Hanny dalam hati.
"Ayo kita bermain. Kau mau mulai darimana." Sammy tersenyum nampak gairah pada Hanny.
"Wow... Hanny!! Milikmu tampak menggoda. Kau akan menjadi pelacurku selamanya." Sammy menaiki satu alisnya dengan senyum miringnya. "Kau sudah siap, pelacurku."
Pelupuk air mata Hanny sudah menggenang, hati Hanny hancur dengan sikap Sammy yang berani mengambil perawannya. Ia bersumpah akan membalas semua perilaku Sammy yang kurang ajar padanya.
Menjaga keperawan sejak dulu adalah mahkota untuk Hanny, tidak pernah bermimpi dengan mudah pria yang berstatus suami merenggutnya, ia hanya ingin memberikan pada suami yang mencintainya bukan malah dibencinya. Sammy mulai meraba gunung ranum milik Hanny.
Hanny semakin meraung dalam tangisnya. Hanya menahan rasa sakit yang Sammy lakukan padanya. Ia terpaksa menerima gelutan yang Sammy lakukan, Jeritan Hanny bahkan tertahan saat Sammy meremas p******a Hanny semakin kuat.
Tidak ada kenikmatan yang Hanny rasakan, terdapat rasa benci dan ingin segera membalas perbuatan lelaki licik. "Lihat Hanny Bagaimana matamu terpejam, kau sudah merasa nikmat. Ingat ini hari pertama, dan kau harus lakukan setiap malamnya."
Hanny semakin jengkel, ia memang merasakan geli setiap sentuhan Sammy, merasakan ada suatu yang tidak pernah dirasakannya, seluruh tubuhnya mengidik seolah petir menyambar begitu saja.
Hanny malu, teriris hatinya karena segala harga dirinya telah jatuh dan hancur berkeping. Sammy menantang tombaknya dengan miliknya membuat perempuan itu merasa semakin muak. "Kau tahu ini nikmat!! Milikmu sungguh sempit."
Rasanya Hanny ingin menampar Sammy dengan sangat keras kalau saja tangan dia tidak terikat kuat sudah pasti Hanny tidak ragu melakukan hal tersebut.
Hanny merasa ada suatu yang basah ketika Sammy memainkan tangannya di dalam kemiliknya. Seakan ada yang mengejolak ditubuhnya. "Hanny, Bagaimana kau sudah basah? Kau mau lebih nikmat dari ini."
Hanny hanya bisa menggeleng seolah menghiba pada suaminya tersebut. "Ini tidak sakit, tapi kau harus menahannya."
Saat tangan Sammy memasuki didalam sana, ia sudah geli apalagi melihat tombak milik Sammy yang bergantung besar disana. Hanny sungguh ngeri, ia menelan salivanya takut.
Ingin sekali ini semua berakhir, Hanny tidak mampu lagi melanjutkan permainan yang Sammy buat padanya.
Perasaan Hanny tidak terkendali, matanya melotot dengan tenggorokan yang ingin menjerit kuat. Rasanya begitu sakit ketika benda itu masuk, ada rasa raung, dan nikmat bercampur aduk..
Sammy terus bermain, hingga Hanny mencapai puncak nikmat tersendiri. Sementara Sammy masih melanjutkan memajukan mundur miliknya, lelaki itu meresap leher putih Hanny, meninggalkan bekas kissmark. Puncak Sammy sampai, ia ambruk disamping Hanny.
Inilah permainan yang paling menjijikkan, cairan terkeluar dan darah perawan membekas di seprai tersebut.
***