4. ACCIDENT

1007 Words
Mentari, Salsa, dan Tata berada di Club malam, sesuai rencana mereka bertiga. Para ketiga perempuan ini minum sejadi-jadinya tanpa perduli bagaimana mereka menyetir nanti. "Men, lo banyak minum! Jadi lo mabuk." Kata Salsa bersender di dekat mobil dengan dirinya yang mabuk. "Diam lo! Lo sendiri mabuk." Mentari merasa pemandangannya sudah kacau. "Kok wajah lo pada ada lima ya." "Lo juga b**o!" Tata merangkul Mentari. "Jadi siapa yang nyentir." Tanya salsa. "Lo aja, ta" Usul Mentari. "Ogah." Tolak Tata dengan cepat. Ketiga perempuan ini masuk kedalam mobil Mentari dalam keadaan mabuk, malam itu sudah pukul 02.00 tengah malam. Jalan-jalan sudah pada sepi, pemandangan Mentari yang menyetir berkunang-kunang. Mentari melaju dengan jalanan yang sepi, sebuah motor melintas namun Mentari tidak melihat dan mereka saling bertabrakan BRAK...!! Kecelakaan terjadi antara mobil Mentari dan motor yang dikendari seorang lelaki. Untungnya mereka semua tidak apa, dan Mentari hanya lecet dibagian kepalanya sedikit. Pria itu dengan cepat membuka mobil Mentari, ia terbelalak memperhatikan wajah perempuan itu. 'Dia kan.. perempuan yang di kampus tadi.' Ucap dalam hati pria tersebut yang tak lain adalah Langit. "Lo Langit kan. Argh.. kepala gw sakit." Rintih Mentari dengan memegang kepalanya. "Lo cowok sengak yang berani nginjak harga diri gw." Teriak Mentari dalam keadaan mabuk. "Lo mabuk ya!" Langit menghembus nafas kasarnya. Langit sangat malas mengurus hal seperti ini, apalagi dengan yang namanya wanita. "Rumah lo dimana." "Rumah... Rumah gw, Dimana ya.." Bola mata mentari memutar seolah berpikir. "Lo punya rumah. Rumah lo dimana!" Nada suara Langit sudah mulai meninggi. Rasanya Langit ingin meninggalkan wanita di hadapannya ini, namun Langit bukan seorang pria yang tak punya hati meninggalkan wanita yang sedang mabuk di tepian jalan sepi, tengah malam pula. "Lo jadi cowok jangan galak amat!" Mentari terus berkata dengan menatap Langit yang terlihat tampan. Mata Mentari berbinar, ia mencium aroma tubuh Langit yang menggendong dirinya untuk pindah kebangku belakang. Langit memutuskan untuk membawa Mentari di hotel, karena dia tak tau dimana perempuan itu tinggal. Mungkin bisa dikatakan membuat dirinya malas berurusan dengan perempuan. Dia menelpon Tama untuk mengambil motor miliknya, malam itu langit sedang mencari angin luar dengan melakukan kebiasaan lamanya berbalap liar. Ya.. itu memang merupakan hobby Langit sangat berbahaya dari dulu. Langit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia bisik mendengar cerocos Mentari yang tidak ada habisnya. "Sedang mabuk saja sudah seperti burung beo apalagi sadar." Ucap Langit bicara sendiri. "Gw dengar.. lo ngatain gw!" Sahut Mentari. "Lo jadi cowok senyum dikit napa. Muka lo tu datar." Tak lama dari itu dia berhenti disebuah hotel bintang lima, langit menatap satu persatu ketiga wanita ini yang tengah tergeletak tak berdaya karena banyak minum. Ya.. terkecuali Mentari yang masih sadar dalam keadaan mengicau tak menentu. Langit meminta karyawan hotel membantunya untuk membawa kedua sahabat Mentari, sementara dirinya membawa Mentari. "Lo kalau di lihat cakep juga ya. Tapi galak!" Mentari memajukan bibirnya. "Lo bisa diam enggak!" Bentak Langit yang menopang tubuh Mentari ke kamar hotel. "Ish.. lo nyebelin." Sanggah Mentari menolak tubuh Langit, ia berusaha untuk jalan sendiri. "Gw bisa sendiri." Namun apa daya Mentari malah hampir terjatuh, ia merasa kepalanya semakin pusing. Pemandangannya mulai tersamar sosok Langit yang dihadapannya. "Lo kalau mabuk jangan merepotkan orang lain." Ucap dingin Langit langsung mrnggendong mentari ala bridal style. "Gw enggak minta." Sergah Mentari. Langit menggeleng kepala melihat kelakuan Mentari yang super ajaib. Ia mendengus kesal, untungnya ia sudah berada di kamar hotel. Langit membaringkan tubuh Mentari di sofa kamar hotel yang telah di pesannya, Sementara Tata dan Salsa sudah di ranjang besar. Seketika Langit terpana dengan paras cantik dimiliki Mentari, namun dengan cepat ia menepis semua rasanya. "Tolong bawakan saya kotak obat." "Baik, Mas." Ucap karyawan hotel begitu hormat. Hotel itu adalah milik Ayah kandung, semua karyawan mengenali Langit sebagai putra pemilik hotel. Walau pun Langit sudah lama tidak berkunjung tapi tetap saja mereka mengenali wajah Langit yang sangat mirip dengan ayahnya. Langit bangkit setelah membaringkan tubuh Mentari dengan rapih, ia melepaskan jaket kulit yang dikenakannya. Tidak bisa Langit pungkiri Mentari memang cantik, tapi dia tidak ingin mengulang rasa sakit dia alami. "Lo mikirin apa?" Mentari bangkit melekat tubuhnya pada Langit meringkuh pojok dinding. "Mikirin gw." "Gw enggak ada waktu untuk mikirin lo." Timpal Langit berusaha untuk menjauh, namun Mentari justru sudah lebih dulu lingkari tangannya di leher Langit. "Minggir lo!" "Kalau gw enggak mau. Lo mau apa?" "Lo mabuk. Gw... Hmmmppttt!!" Ucapan Langit terhenti, matanya terbelalak ketika Mentari menyosor bibirnya dengan cepat. Bibirnya basah tanpa membalas ciuman dari Mentari. Langit menahan untuk tidak terpancing oleh sikap Mentari yang menurutnya diluar kendali. Tak lama Mentari ingin muntah, ia pun melepaskan ciumannya, langsung dirinya muntah begitu saja. Ia pingsan setelah muntah, dengan sigap Langit menangkap tubuh Mentari dan membaringkan kembali di sofa menyelimuti Mentari dengan jaket miliknya. "Mas, ini kotaknya." Ujar bell boy lalu pergi. Langit mengobati luka yang di kening Mentari yang sudah terlelap. Ia hanya berusaha menolong perempuan yang dihadapannya. Dirinya tak mau terlibat masalah dengan yang namanya perempuan, Selepas mengobati Mentari ia langsung meninggalkan kamar tempat itu. Diluar hotel Tama sudah menunggu Langit, ia menatap Langit yang dari kejauhan datang menghampirinya. "Udah lama lo, Tam." Tanya Langit menepuk pundak Tama. "Lumayan.. lumutan nunggu lo." Nyinyir Tama. "Sialan lo!!" Langit berumpat seraya menjitak kepala Tama. "Lo ngapain di hotel bokap. Udah baikan lo sama bokap." Tanya Tama dengan rasa penasarannya membuat wajah Langit menatapnya tajam. "Yaelah ngit.. gw nanya doang, biasa aja mandangnya." "Udahlah balik yuk!" Ajak Langit pada Tama. "Lo belum jawab pertanyaan gw. Ngapain lo disini!" "Gw nolong orang, dia mabuk. Gw enggak tau rumahnya." Jelas Langit singkat tanpa memberitahu siapa yang ditolongnya. "Makanya lo bawa dia kesini." Ujar Tama. "Hmmm." "Cewek apa cowok." "Banyak tanya lo! Cepat jalan." Kesal Langit. Diperjalanan dengan malam yang dingin, Langit tidak menggunakan jaket. Terbesit ingatannya kejadian Mentari menyesap bibirnya. Ia hampir saja terlena dengan semua itu. Sesekali ia merabah bibirnya mengingat hal tak di duganya. Seandainya Langit pria brensek sudah pasti ia menyosor Mentari, tapi syukur ia bisa menahan nafsunya pada perempuan beraroma tubuh lili. "Shit." Umpat Langit. "Lo kenapa." "Enggak! Jalan aja lo." "Gw nginap rumah lo ya." "Ya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD