3. LANGIT FAJARAN

1000 Words
Ini adalah hari pertama Langit masuk kampus barunya, setelah sekian lama dirinya akhirnya kembali ke Jakarta. Menata masalalunya, siapapun memiliki masalalu termasuk seorang Langit. Dirinya tak ingin terus berlari dengan masalalu yang membuatnya pergi menjauh dari kenyataan hidupnya. Mungkin dibalik sifat dingin Langit, ia juga terlalu pengecut. Pecundang, rasanya itu yang pantas untuk dirinya. Bertahun-tahun ia meratapi kesalahan seseorang padanya. Tapi Langit.. tetaplah Langit.. Dia tidak membiarkan satu perempuan mana pun yang masuk kedalam kehidupannya, Apalagi hatinya. Ia takut kejadian yang akan terulang. Langit berada di toilet, ia dapat mendengar kebisikan diluar sana. Siapa sangka ketika keluar dari toilet ia menabrak seorang perempuan dengan rambut tergerai panjang, dan memiliki mata coklat yang indah. Tapi sayangnya.. Langit tidak tertarik dengan perempuan cantik tersebut. Semua u*****n kasar ia tahan, Langit tau dengan cara apa memperlakukan perempuan semodel dihadapannya. Dengan cepat Langit pergi meninggalkan perempuan itu. Langit pergi keruangan dosen bimbingannya, mungkin pelajaran dirinya di london berbeda dengan Jakarta, ia harus menyesuaikan semuanya. "Pagi Pak." Sapa Langit. "Pagi, kamu Langit. Rekomendasi Pak Jaya Handoko." Ujar Dosen itu. "Iya, Pak. Saya pindahan dari London." "Duduk, Saya sudah baca biodata kamu. Saya harap jangan mentang kamu dapat rekomendasi pemilik kampus, kamu bertingkah seenaknya. Seperti putrinya itu." 'Anak.. aku baru tau anak om Jaya kuliah disini.' Pikir Langit. "Iya, Pak Saya mengerti." "Bagus. Nama saya Pak Ryan. Jika perlu suatu kamu bisa tanya saya. Kamu boleh keluar." Ucap dosen tersebut. Langit masuk kelasnya, ia melihat semua mahasiswa maupun mahasiswi memperhatikannya, Langit merasa sangat risih dengan hal tersebut. Ternyata Langit sekelas dengan Tama yang tak bukan sahabat lamanya. Langit senang bertemu Tama yang menurutnya masih sama saja seperti dulu. Langit baru mengetahui jika perempuan yang ditabraknya tadi adalah seorang primadona di kampus ini. Langit bisa melihat tatapan Mentari sangat bengis pada dirinya. Ia tak perduli, secantik apapun Mentari itu tidak berhasil membuatnya jatuh cinta. *** Setelah mengantar bundanya kerumah sakit karena harus check up. Beruntung pemilik rumah sakit itu milik Om Jaya sahabat dari bundanya, jadi dia tak perlu harus menunggu antrian. "Bun, tunggu sebentar ya. Langit tanya suster dulu kapan bisa ketemu Dokternya." Kata Langit pada bundanya yang terlihat lemah. "Iya, sayang. Bunda tunggu sini aja. Tanya kan sekalian apa om Jaya ada di tempat." "Ya, bun." Suster pun mengatakan pada Langit jika om Jaya di Bangkok. Selama ini om Jaya sudah banyak menolong keluarga Langit, terutama semenjak ia memutuskan ke London. Ia tidak memerlukan uang dari ayahnya yang sangat dibenci karena sebuah alasan pengkhianatan ayahnya sendiri pada bundanya. Itu kenapa Om Jaya yang selalu membantu Langit dengan syarat suatu hari dia harus menikahi putri bungsu dari om Jaya. Ia pun sudah lama menyetujui hal itu, entah bentuknya seperti apa putri om Jaya. Langit tidak perduli, demi kesembuhan bundanya ia rela harus mengorbankan kehidupannnya. Mendadak dia merasa jika ada seorang mengikutinya, ternyata itu Mentari, perempuan yang sama di kampusnya. Langit sangat kesal dengan tingkah Mentari yang selalu bersikap sombong. Langit merasa ingin membanting tubuhnya ke tembok melihat sikap Mentari yang membuatnya nyaris gila. Untung dia dengan cepat bisa mengatasi itu sehingga bundanya yang masih di dalam ruangan dokter tidak perlu melihat Mentari. Ternyata prediksinya salah, bundanya sudah melihat Langit bersama Mentari namun wanita paruh bayah itu tidak bisa melihat wajah Mentari. "Siapa dia?" Tanya bunda Nessa pada Langit. "Ingat Langit, kamu sudah om Jaya jodohkan dengan putrinya." "Iya, bun. Langit tau itu." Ujar Langit dengan lembut. "Dia hanya teman kampus. Langit tadi terbawa catatannya." Bohong langit. "Ya.. sudah. Pulang?" "Ayo, bun." Ajak Langit menopang bundanya. Langit tau faktanya, ia harus menikah pilihan orang lain, bukan pilihannya. Dengan itu semenjak kejadian menyakitkan, ia memutuskan untuk tidak mencintai siapapun. Termasuk satu orang mana pun masuk ke dalam hatinya. Ini salah satu alasannya. Ia pulang bersama Bunda, terdapat seorang wanita seusia bundanya, yang tak lain dia adalah istri dari om Jaya. Tante "Runi, sudah lama." Ujar Bunda Nessa. "Kenapa tidak menelpon dulu." "Aku pikir kalian dirumah." Jawab Tante Runi. "Kalian baru kemarin sampai sudah keluar rumah saja." "Tadi dari check up, Run." Jawab bunda Nessa berjalan pelan mendekat pada sahabatnya Runi. "Bagaimana jantungmu." Tanyanya. Bunda Langit, Nessa memang terkena penyakit lemah jantung. Semenjak Ayah Langit mengkhianatnya tubuh wanita paruh bayah itu sering rentan. Beruntung Langit adalah anak yang baik dan menyayangi keluarganya terutama ibunya. Mereka hanya tinggal berdua. Kadang dia berpikir jika sudah menikah bagaimana dengan bundanya. Apa yang akan menjadi istrinya bisa menerima keadaan bundanya yang sakit keras. Walau sesekali ayahnya sering menelpon ibunya, bahkan menjenguk ketika mereka masih di London. Tapi itu tidak membuat Langit membuka hati untuk memaafkan ayahnya. "Masih sama." Langit membuka pintu rumahnya. "Tante Runi, bunda. Masuk dulu." Tawar Langit. "Ah.. iya aku sampai lupa." Bunda Nessa memandang Runi tak enak. "Mari masuk dulu, Run." Ketiga orang ini masuk kerumahnya, Langit menyiapkan minuman untuk mereka. Karena bundanya sedang sakit keras, ia tak mungkin meminta bundanya melakukan. Langit membawa tiga cangkir kopi untuk mereka. "Bagaimana kuliah pertamamu, langit." Tanya Runi. "Apa sudah bertemu anak tante." "Baik, tan. Hmm" Langit menghentikan ucapannya sejenak. "Belum, aku tidak tau namanya. Lagi pula bukankah tante Runi mengatakan minggu depan kita semua akan bicara ini bersama putri bungsu tante Runi." "Ya.. memang tapi apa kamu tidak ingin melihat wajahnya dulu." Tentu Runi menyarankan jika setidaknya Langit bisa lebih dekat dengan putrinya itu, Apalagi Runi berpikir jika sifat putrinya menyebalkan. "Langit, sebaiknya kamu kenal dulu. Putri bungsu tante itu berbeda dengan Bulan." Langit memang sudah pernah bertemu bahkan kenal baik dengan Bulan putri pertama Om Jaya dan Tante Runi. Tapi Langit belum pernah sama sekali bertemu putri bungsu mereka yang akan dinikahinya. "Tidak perlu, tante. Aku percaya pada om Jaya dan tante Runi." Seru Langit sambil duduk disamping bundanya. "O.. ya, Run. Bagaimana kabar bulan." Tanya Nessa. "Kudengar dia sudah hamil." "Ya, sudah enam bulan. Dia masih di bandung bersama suaminya." Keduanya masih asik mengobrol, sementara Langit membereskan kamarnya yang sangat berantakan. Ia menata kamarnya. Langit menghela nafas panjang ketika menemukan sebuah fotonya bersama ketiga sahabatnya itu. Wajahnya berubah murung, karena kenyataannya sahabatnya sekarang hanya Tama. Ia kehilangan dua dari itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD