bc

Terjerat Cinta Mahasiswa Abadi

book_age18+
600.8K
FOLLOW
2.7M
READ
contract marriage
teacherxstudent
love after marriage
drama
comedy
sweet
bxg
humorous
coming of age
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Naima, 30 tahun, seorang dosen yang cerdas didesak untuk menikah oleh kedua orang tuanya. Rangga, Mahasiswa Abadi terancam DO dari kampus karena tidak lulus-lulus.

Bagaimana jika keduanya menikah?

Naima membantu Rangga untuk menyelesaikan kuliahnya dan Rangga membantu Naima menanggalkan cap perawan tua yang disandangnya.

Apa jadinya pernikahan mereka?

chap-preview
Free preview
Perawan Tua

Naima memijit kepalanya lelah, setiap hari perdebatan dengan sang Ibu seputar itu-itu saja. Ibunya mengeluh seolah-olah dia adalah Ibu yang paling malang di dunia karena anak gadisnya tak laku-laku.

Andaikan mencari seorang suami semudah menemukan kucing anggora, pasti dia sudah menikah dari dulu, apa lagi yang bisa di lakukannya, laki-laki di luar sana lebih memilih wanita tamat SMA dari pada perawan tua sepertinya.

"Kau ini, jangan lagi memilih-milih, Pak Broto belum terlalu tua, dia baru empat puluh lima tahun, anaknya pun sudah besar, kau tinggal dapat enaknya saja."

Ibunya mengomel sambil merajang sayur di dapur.

"Ibu, tidak adakah yang lebih baik dari itu?"

Ibu Naima membalikkan badan, memandang Naima geram.

"Kau terlalu pemilih, aku sungguh malu kepada warga satu RT, yang selalu menanyakan kamu kapan nikah."

Naima memejamkan matanya lelah, rasanya dia lebih memilih menghabiskan waktu di kampus dari pada berdebat tanpa akhir dengan ibunya.

Naima meninggalkan ibunya, gadis berhijab dan berwibawa itu masuk ke dalam kamar dan akan keluar di saat saat tertentu saja, supaya tidak ditanya lagi, kapan nikah? kalau ada jodoh, dia mau menikah sekarang juga.

Apa yang kurang darinya, dia cukup cantik, tubuhnya bagus, karirnya mantap, tapi laki-laki selalu mundur bahkan sebelum mengenalnya lebih jauh.

*** 

Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah dua jam dia membaca bab satu proposal skripsinya, dan sampai sekarang dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dibuatnya. Mungkin dia menulisnya sambil mengingau.

Judul ini dicarikan oleh juniornya sehingga bisa lulus saat seleksi pengajuan judul proposal penelitian, sekarang adik tingkatnya sudah wisuda, meninggalkan Rangga yang merana dengan proposal nya sendiri.

Satu tahun sudah, proposal itu didiamkan dan dimasukkan ke dalam kardus harta karun-nya. Sekarang dibuka kembali, ah! andai saja menulis proposal itu semudah menulis surat cinta.

Bapaknya begitu berharap kepadanya, dia anak satu-satunya yang dibanggakan, mendapatkan gelar sarjana adalah mimpi bapaknya dari dulu, walaupun di masa SMA tinggal kelas satu kali.

Dia anak kepala dusun di kampungnya, bapaknya sangat di hormati dan dituakan, apa kata dunia jika dia pulang tanpa membawa ijazah.

Selama ini dia berhasil mencari alasan, ketika sang Bapak bertanya kenapa belum juga lulus, bahkan dua bulan terakhir, uang sakunya sudah dikurangi. Terpaksa wajah ganteng bak Aamir Khan semasa muda itu terkena sinar matahari karena dia sekarang bekerja sebagai tukang ojek online.

Mau bagaimana lagi, tidak bekerja ya tidak makan, uang yang dikirim bapak dari kampung hanya cukup membayar biaya kuliah.

Ucapan Bu Dosen tadi siang masih terngiang-ngiang di kepalanya, membuat kepalanya serasa mau pecah, bertemu dosen cantik itu malah membuat dia trauma.

Bu Dosen yang entah siapa namanya itu, orangnya galak, tegas, tidak bisa diajak bercanda sedikit pun. Andai saja seperempat kemampuan Bu Dosen itu ada padanya, pasti kuliah terasa lebih indah.

"Apa yang mau saudara teliti? Kalau tidak terjadi masalah dalam kasus ini? masalah itu akan terjadi jika teori tidak sesuai dengan kenyataan, pelajari lagi! besok temui saya! kalau saudara tidak paham juga, terpaksa saudara ajukan judul baru."

Rangga mengacak rambut gondrongnya sehingga menjadi berantakan, dia pusing dan tidak mengerti, jika tidak lulus juga, dia akan digantung oleh bapaknya sendiri.

Rumah, sawah dan ladang sudah tergadai demi menyekolahkannya setinggi ini. Dia kuliah di tempat orang kaya pula, biaya kuliah dan biaya gaya hidup yang tidak sedikit.

Andaikan boleh memilih, dia akan memilih terlahir dengan wajah biasa saja tapi memiliki otak cerdas, dari pada wajah mengalahkan artis Aamir khan waktu muda, tapi otaknya lemot.

Rangga membanting-banting kepalanya ke sisi meja. Tak ada sedikit pun ide keluar dari sana, mungkin emaknya dulu terjatuh waktu mengandung dia, sehingga otaknya terbentur dan tidak bisa menangkap pelajaran.

Rangga mengalihkan pandangan, saat teman kosnya yang jauh lebih muda masuk ke kamar itu, namanya Zaki, masih semester satu, tapi otaknya luar biasa encer.

"Ada apa, Bang?"

Zaki melirik tumpukan kertas di hadapan Rangga. Ya Tuhan, anak itu lebih cocok memanggilnya paman daripada sebutan Abang.

"Biasalah, derita baru masalah lama."

"Ooh," jawab Zaki. "Pinjam charger ya,  Bang."

Rangga memberi isyarat, Zaki pun keluar dari kamarnya.

Sekarang sudah jam satu dini hari, besok dia akan menemui Bu Dosen galak, dia hanya pasrah sekarang ini.

"Ibu Peri, turunlah, tolong aku!" ucapnya masuk ke dalam selimut, tanpa menunggu lama, dia masuk kedalam mimpi.

Naima membuka hijabnya, sungguh dia sangat lelah sekarang ini. Seharian di kampus mengurus Rangga Pradipta, mahasiswa tua yang belum juga tamat.

Rangga baru saja dipindahkan oleh ketua jurusan kepadanya, dia bertindak menjadi Penasehat Akademik anak itu setelah para Dosen lain mengatakan menyerah.

Naima sudah lama mendengar namanya, karena Rangga sangat populer dengan gelar Mahasiswa Abadi yang disandangnya. Benar saja, dia bahkan sudah semester tiga belas dan terancam DO, kesempatannya cuma tinggal satu semester lagi.

Naima menggeleng melihat rekap transkrip nilainya, nilai C dan D bertaburan seperti bintang di langit. Rangga hanya menanggapi dengan lesu saat Naima memaksanya menunjukkan rekap nilainya itu.

Skripsinya masih bab satu, dan itupun belum tuntas. Naima heran, apa saja yang dilakukan Rangga selama bertahun tahun di kampus.

Rangga adalah kasus sulit yang harus diselesaikannya, saat ini keprofesionalannya sedang di pertaruhkan.

Rangga... Naima hampir tertawa jika membayangkan wajah itu, wajah bak model tapi kualitas IQ yang rendah, ditambah dengan sifat pemalas akut yang dideritanya.

Rangga sampai bersimpuh di kaki Naima supaya dia bisa lulus dengan bantuan Naima.

"Buk, sawah ladang sudah tergadai menguliahkan saya, kalau saya DO, saya akan digorok oleh bapak di kampung."

Seharusnya Naima prihatin dengan keluh kesah mahasiswanya itu, tapi dia malah tertawa. Seolah-olah dia tengah dilamar.

Naima menghela napas mengingat kejadian tadi, sekarang dia siap tempur menyelamatkan mahasiswa abadi yang bernama Rangga.

"Oke, aku harus buat list dulu untuk menyelesaikan masalah Rangga satu persatu."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

MISTRESS OF DEFIANCE

read
27.8K
bc

Lelaki Tangguh Berpeluh

read
13.9K
bc

CEO Menikahi Gadis Desa

read
19.2K
bc

Naik Ranjang

read
24.2K
bc

Scandal Para Ipar

read
670.2K
bc

Om, Jadi Cinta Enggak?

read
94.1K
bc

Pesona Calon Adik Ipar

read
136.6K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play