“Akhirnya sampai juga,” keluh Senna sambil mencoba meregangkan badannya. Mobil berhenti perlahan di depan rumah. Devan mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke samping. Matanya segera tertuju pada kaki Senna yang masih terbalut plester. Wajah pria itu masih panik, cemas masih tergambar jelas. Ia membuka pintu dan segera menghampiri sisi lain, membukakan pintu untuk gadis itu. "Biar saya gendong aja," ucap Devan tiba-tiba. Senna kaget. "Hah? Eng-nggak usah, Om. Serius aku bisa jalan kok." Devan menggeleng tegas. "Udah, jangan maksa saya enggak mau kaki kamu infeksi atau jadi bengkak." Sebelum Senna bisa protes lebih jauh, Devan membungkuk, meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya ala bridal style. Senna terangkat begitu saja, tubuhnya terasa ringan di tangan Devan. Seketika napas Senn

