TJOL 3

1217 Words
Darren duduk di atas tikar di ruang tamu, sebuah mie cup dengan uap yang masih mengebul berada di tangan kirinya. Rasa lapar kembali menyerang setelah ia pulang dari berbelanja, secup mie berharap bisa meredakan rasa laparnya. Dibuka laptop miliknya, mencoba mencari hiburan disepinya rumah tanpa barang elektronik. Menyambungkan koneksi internet dari ponselnya. Panggilan video dari w******p web masuk, dari nomor Syla. "Heh.. Bunda." Ucap Darren kaget. Ia buru-buru mengangkat panggilan tersebut. "Assalamualaikum Bunda." "Wa'alaikumsalam, kamu kenapa saja Sayang? katanya mau menelpon lagi, Bunda menunggumu." Wajah cantik Syla terpampang di sana, ia tengah duduk bersandar di kepala ranjang. "Maaf Bunda, seharian aku beli perlengkapan untuk besok." Syla tampak cemberut, sehari tanpa kabar Darren membuatnya uring-uringan. "Kamu betah 'kan di sana? Sudah makan?" "Semoga betah Bunda, ini sedang makan." Darren mengangkat mie yang tengah ia nikmati, memperlihatkan kepada Syla. Syla melotot tajam, selama di Jakarta Darren sangat jarang makan mie instan. Bisa dihitung dengan jari dalam enam bulan. "Kamu makan mie?" "Aku lapar Bunda, jadi ini saja yang cepat." "Itu tidak sehat Darren, kamu jangan banyak-banyak makan makanan instan." "Iya, paling sebulan satu dus Bunda. Tidak banyak 'kan?" goda Darren. Syla sudah siap mencak-mencak, tetapi sebuah tangan mencubit pipinya lembut. "Sakit tahu," rajuk Syla, sebetulnya bukan sakit. Namun kaget saja. "Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." "Kita 'kan memang sudah tua?" "Tapi kamu awet muda sekali, bahkan sampai sekarang wajahmu masih tetap seperti pertama kali kita bertemu." Puji Denis, wajah Syla merona dibuatnya. "Hey, kalian. Jangan saling merayu, ingat di sini ada aku. Enak sekali, aku hanya jadi penonton." Ucap Darren. "Jangan lupa, siapkan semuanya buat besok. Ayah tidak mau kamu gagal masuk ke pabrik kita." Titah Denis, Darren cemberut kesal. Harusnya tadi hanya ada Syla saja, biar ia bisa mengobrol dengan Bundanya lebih lama. Namun Denis datang, dan mengacaukan segalanya. "Iya, Ayah. Kirimkan sepeda ku ke sini, aku tidak mau ke pabrik jalan kaki." "Hanya sepeda? Motor barumu tidak?" Darren menggeleng, ia tak butuh motor yang Denis belikan sebagai hadiah kelulusannya itu. Darren hanya butuh sepeda, mengingat apa yang dikatakan sang ayah jika pabrik hanya berjarak tiga ratus meter saja rumah yang ditempati olehnya. "Tidak, aku butuh sepeda saja." "Ya, nanti Ayah kirim sepedamu. Sudah dulu ya, Ayah dan Bundamu ingin berbulan madu." Kata Denis, Darren mencebik kesal. "Terserah kalian saja." Balas Darren, bibirnya sibuk mengunyah makanan. Meluapkan rasa kesalnya. Sambungan terputus, Darren menonton YouTube untuk membuang rasa jenuh sendirian di rumah. ***** Sinar terik mentari menerobos melalui sela-sela gorden kamar Darren terasa sangat menyilaukan, Darren terganggu dibuatnya. Setengah sadar, Darren mencari ponselnya. Alarm dengan nada suara ayahnya sepertinya belum berbunyi, Darren menyipitkan matanya. Menahan sinar ponsel yang menyilaukan mata. Darren terjengkit bangun, di ponsel sudah menunjukkan jam 06:40. Ia terlambat bangun dua jam empat puluh menit, cepat Darren menuju ke kamar mandi. Karena pagi ini, tepatnya pukul tujuh adalah jadwal tes masuk ke pabrik. Secepat kilat ia mandi, lalu ia keringkan tubuhnya dengan handuk. Ia mengambil pakaian baru yang belum sempat disetrika, begitu juga dengan celananya. Setelah semuanya terpakai, ia menuju ke dapur. Mengambil dua lembar roti, kemudian mengolesinya dengan selai. Untung saja ia sempat membelinya kemarin, ia rasa cukup untuk mengganjal perutnya sampai siang nanti. Berkas sudah ada ditangannya, sudah ia pastikan semuanya sudah lengkap. Darren sekali lagi meneliti penampilannya, rambutnya sudah tersisir rapi, baju dan celana pun demikian. Ia ambil tas kesayangannya, lalu ia memakai sepatu. Tak lupa juga memakai Hoodie kesayangannya. Darren sudah siap berangkat. Tak lupa ia mengunci pintu rumahnya. Darren memilih memesan ojek online saja, daripada ia harus mencari-cari dan waktunya habis di jalan karena ini hari pertamanya ke pabrik sembari menghapal jalan mana saja yang bisa ia lalui. Darren menuju ke pos satpam setelah  sampai di depan pabrik, menyampaikan maksud kedatangannya ke sana. Ia diminta untuk menunggu, Darren memilih duduk di dekat pintu masuk. Baby D. To: Bunda. Bunda, maaf aku tadi terlambat bangun. Doakan aku lolos tes ya Bunda, luv Darren memasukkan kembali ponselnya, sepertinya tes akan segera dimulai. Ia sudah diminta ke cafetaria, bersama dengan beberapa pelamar lain. Cukup banyak pelamar hari ini, Darren memilih duduk di baris kedua dari belakang. Sembari menunggu staf HRD melakukan interview, Darren saling bertukar pesan dengan Syla. Baru beberapa hari di Semarang, tak dipungkiri bahwa ia sudah rindu dengan wanita paling ia cintai itu. Bunda. To : Baby D. Pantas saja, Bunda dan ayah menelpon mu puluhan kali tak ada jawaban. Iya, bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang. Baby D. To : Bunda. Heheh, maaf Bunda. Aku semalam bergadang. Bunda. To : Baby D. Dasar, Jaga kesehatan Darren, jangan banyak bergadang. Baby D. To : Bunda. Iya Bunda. Bunda, sepertinya akan segera dimulai. Sambung nanti lagi, love you Bundaku. Bunda. To : Baby D Semangat Sayang, Bunda yakin kamu akan lolos. Love you too Baby "Selamat pagi." Ucap seorang wanita berkacamata, dengan suara lantang. Ada dua orang lagi mendampinginya. "Pagi." Jawab semua yang ada di sana, termasuk Darren. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. "Selamat datang di Pramudya's group, silahkan siapkan berkas lamaran kalian." Ucap wanita itu, salah satu dari wanita di sampingnya tadi mengambil berkas-berkas milik para pelamar. Interview pun dimulai, satu persatu dari mereka dipanggil. Hingga tiba giliran Darren, kakinya sempat tersangkut meja. Hingga meja itu berderit. Semua mata tertuju padanya. "Maaf." Ucap Darren, ia tersenyum tak enak telah membuat mereka tak nyaman. Darren sudah duduk di hadapan wanita bertubuh gempal, yang sempat menyebutkan namanya Nanik itu. "Afrizal Hanafi." Ucap Nanik membaca berkas lamaran Darren. "Iya, saya Bu." "Dari Jakarta?" "Iya, saya dari Jakarta." Nanik meneliti penampilan Daren, sangat mencolok untuk sekedar melamar pekerjaan. Lalu ia lontarkan beberapa pertanyaan kepada Darren seperti pelamar lain, meskipun gugup Darren bisa menjawabnya dengan cukup baik. Setelah selesai, Darren diminta kembali duduk untuk melakukan tes masuk kerja selanjutnya. Ada yang menggelitik telinga Darren dari beberapa pernyataan yang dilontarkan Nanik tadi, terutama saat ia dikatai lebih mirip seorang model daripada seorang pelamar kerja. Nanik juga meminta, Darren memangkas rambut jika diterima kerja di pabrik ini. 'Ada-ada saja.' Batin Darren. Rentetan demi rentetan tes masuk kerja telah dilakukan Darren dan beberapa pelamar lain, mulai dari wawancara, psikotes, juga tes kesehatan. Ada yang harap-harap cemas, ada juga yang bersikap santai seolah semua akan baik-baik saja. Terutama Darren, besar keyakinannya bisa diterima di pabrik milik ayahnya ini. Pukul 17:00, tes itu selesai. Semua sudah kembali ke rumah masing-masing, tak terkecuali dengan Darren. Sore ini, ia memilih berjalan kaki saja mengingat jarak pabrik ke rumahnya ternyata hanya lima menit. Tak peduli dengan tubuh lelahnya setelah seharian mengikuti tes. Darren cukup melewati rumah warga yang dijadikan tempat kost untuk sampai ke komplek perumahan tempatnya tinggal yang masih berada di wilayah rumah warga tersebut. "Menyenangkan juga." Gumam Darren, ia berjalan dengan santai saja. Sembari menikmati orang-orang yang berlalu lalang, menunggu senja berganti petang. Sesekali ia tersenyum kala ada yang menyapanya. Dering ponsel di saku hoodie, mengalihkan perhatian Darren. Ia mengambil ponsel itu, tersenyum ketika melihat siapa penelponnya. Darren menjawab panggilan tersebut, ia pasang earphone lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya. "Halo, Sayang. Bagaimana tes hari ini? Lolos 'kan? Kamu sudah pulang? Kamu sedang apa?" Begitulah rentetan pertanyaan dari Syla ketika panggilannya terhubung, Darren tertawa dibuatnya. "Hahaha, halo Bunda. Semua lancar berkat Bunda, masih nunggu pengumuman lewat w******p beberapa hari lagi. Ini aku sedang perjalanan pulang, Bunda sedang apa?" "Oh, naik apa? Bunda lagi di kamar." "Aku jalan kaki Bunda." "Kamu tidak lelah?" "Tidak, justru ini sangat menyenangkan." "Meski tanpa Bunda di sisimu?" "Hah? Bunda bicara apa?" "Ah, tidak. Bunda hanya merindukanmu, jaga diri baik-baik." "Iya Bunda, Bunda juga jaga kesehatan ya." "He'em, sudah dulu. Bunda mau menyiapkan makanan untuk ayahmu, sebentar lagi dia pulang." "Iya Bunda." Setelah sambungan telepon itu terputus, Darren menggantinya dengan memutar lagu favoritnya. Menemani ia berjalan kaki sampai rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD