TJOL 4

1714 Words
 Darren sampai di depan rumah, ia sudah ditunggu tamunya. Seorang pria berseragam sebuah jasa pengiriman, duduk di teras rumah Darren. Sebuah mobil pengangkut barang terparkir di sana, dengan sepeda permintaan Darren bertengger manis di atasnya. "Selamat sore." Sapa Darren. "Sore, Mas Darren?" tanya lelaki itu. Darren melihat sekeliling, takut ada yang mendengar panggilan lelaki tersebut kepadanya tadi. Cukup aman, karena suasana komplek sepi. "Iya, saya sendiri." "Saya ditugaskan Pak Denis mengantar sepeda." "Oh, iya. Sudah lama? Maaf saya baru kembali dari melamar pekerjaan." "Sekitar tiga jam yang lalu." "Apa! Lama sekali." Ucap Darren terperangah, kasihan sekali lelaki ini menunggunya sampai berjam-jam. "Tidak masalah, itu sudah biasa saya temui dalam pekerjaan saya." Darren mengangguk-angguk saja, tak habis pikir dengan ayahnya. Seharusnya kan Denis bisa memperkirakan kapan sepeda itu akan diantar, ini terlalu cepat bagi Darren. Ditambah lagi ia merasa tak enak sudah membuat Lelaki itu menunggunya berjam-jam. "Saya turunkan sepedanya." "Baik." Ucap Darren, ia melepas hoodie dan sepatunya. Ikut membantu menurunkan sepeda. Lelaki itu membuka tali rantai yang mengikat sepeda Darren, perlahan mereka turunkan sepeda itu dari atas mobil bak terbuka. "Ini, ada juga titipan dari Bu Syla." Lanjut lelaki tersebut, sebuah kardus besar diturunkan juga dari mobil itu. Entah apa isinya, kelihatan sangat berat. "Mohon tanda tangan di sini." Katanya lagi, menyodorkan surat tanda terima kepada Darren. "Terimakasih, sebaiknya anda masuk dulu. Saya buatkan minuman." "Terimakasih kembali, maaf saya harus segera ke Jakarta lagi. Masih banyak pekerjaan yang menunggu." "Oh, baiklah. Hati-hati di jalan." Lelaki itu mengangguk, perlahan mobil bak terbuka yang mengantar barang-barang Darren meninggalkan pelataran rumah pemuda itu. Darren memandangnya sampai menghilang di simpang jalan, lalu ia beralih menatap sepeda dan juga kardus besar disampingnya. Ia membuka pintu rumah, memasukkan dua barang itu ke dalam. Darren duduk di lantai, ia sangat penasaran dengan isi kardus berat itu. "Apa sih ini." Kata Darren, tangannya membuka lakban yang menutupi bagian atas kardus tersebut. Bau masakan menguar ketika kardus itu terbuka, mata Darren berkaca-kaca. Kardus itu dipenuhi plastik vakum kedap udara berisi masakan Syla, mulai dari rendang, dendeng, opor ayam, ayam goreng dan masih ada beberapa masakan lain. Darren terkesima dibuatnya, Syla benar-benar sangat perhatian kepadanya. Ada juga buah-buahan yang semestinya bisa Darren beli di Semarang, tetapi Syla turut mengirimnya juga. Baby D. To : Bunda. Bunda, aku sudah terima titipan dari bunda. Terima kasih ❤️ Darren mengeluarkan semua isi kardus, ia pindah ke dalam kulkas. Cukup membuat kulkas itu penuh, apa lagi belanjaan Darren kemarin masih utuh.  Bunda. To: Baby D. Syukurlah, semoga kamu suka masakan bunda ya. Biar kamu tidak terlalu banyak makan makanan instan, biar cukup gizi. Darren dibuat bingung, memilih makanan mana yang harus ia makan terlebih dulu. Semua tampak menggiurkan baginya, hingga ia lupa belum beberes sehabis dari luar rumah. Juga ia belum mandi sore. Ia memilih mencuci tangan dan mengganti pakaian terlebih dulu, baru nanti ia akan mandi. Dipilih rendang yang sudah ia masukkan freezer tadi, ia keluarkan dari kulkas. Lalu ia buka plastik pembungkusnya, Darren mengambil wajan untuk menghangatkan kembali rendang. Bau rendang memenuhi dapur saat Darren menyalakan kompor, dengan api sedang saja ia memanaskannya. Bau khas masakan Syla yang selalu menggugah selera, menambah lapar perut Darren yang siang tadi belum sempat terisi. "Lapar." Gumam Darren, tangannya sibuk mengaduk masakan agar panasnya merata. Air liur seakan ingin menetes tiap Darren menghirup baunya. Darren mematikan kompor saat dirasa cukup, lalu menuang rendang ke atas piring. Ia mengambil nasi yang sempat ia tanak tadi malam, nasi kemarin memang. Namun apa daya, perut Darren minta segera dipenuhi masakan dari Syla itu. "Allahumma bariklana fiima razaqtana waqina adza bannar." Ucap Darren membaca doa sebelum makan, agar kenikmatan makanan yang ia makan bertambah. "Bunda, memang ter-the best!" Kata Darren lagi, matanya berkaca-kaca saking menikmatinya. Kunyahan demi kunyahan nasi dicampur rendang itupun masuk ke dalam perut kosong Darren, hingga ia berhenti mengunyah dengan tiba-tiba. Ia ingat seseorang. "Paman Sanusi. Ah, lebih baik aku membagi makanan ini sebagian kepada beliau. Belum tentu aku bisa menghabiskan semuanya." Ucap Darren, ia lanjutkan acara makannya yang terhenti sejenak. Setelahnya, ia membersihkan diri sebelum ke rumah Pak Sanusi. **** Darren menuntun sepedanya ke luar rumah, di tangan kanannya sudah ada bungkusan untuk Pak Sanusi. Dua plastik opor ayam, satu kantong rendang, dan beberapa buah apel. Entah kenapa ia ingin melakukan ini, hati nuraninya tergerak dengan sendirinya. Darren mengayuh sepedanya membelah jalanan komplek yang sepi, karena ini baru lepas Maghrib. Kayuhan demi Kayuhan mengantar Darren sampai di pertigaan jalan depan komplek, ia baru teringat jika tak mengetahui di mana rumah pak Sanusi. "Astaghfirullah, aku kan tidak tahu rumah beliau." Kata Darren, ia menepuk jidatnya karena merasa sangat bodoh kali ini. "Nak Rizal?" sapa seorang pria yang melihat Darren tengah kebingungan, diam di atas sepeda dengan kaki menopangnya. "Paman, kebetulan sekali saya bertemu Paman." Ucap Darren senang, karena bertemu orang yang hendak ia temui. Pak Sanusi mengenakan sarung dan baju Koko, tak ketinggalan songkok bertengger di kepalanya. Sepertinya beliau baru saja pulang dari sholat berjamaah di mushola tak jauh dari tempat Darren berhenti. "Nak Rizal mau kemana?" "Saya mau ke rumah Paman, mengantar ini..." Diperlihatkan kantong kresek itu kepada Pak Sanusi. "Aduh, kenapa repot-repot?" "Tadi ada kiriman ibu dari Jakarta, terlalu banyak. Jadi, saya pikir sebagian untuk Paman saja. Paman tidak keberatan 'kan?" Pak Sanusi menggeleng kecil, sejujurnya ia merasa tak enak karena baru beberapa hari mengenal Darren. Namun pemuda itu begitu baik kepadanya, hingga memberinya makanan seperti ini. "Mari ke gubuk saya, Nak Rizal." Mereka berjalan beriringan, Darren lebih memilih kembali menuntun sepedanya. Berjalan kaki bersama Pak Sanusi. "Jauh kah Paman?" "Tidak, itu sudah terlihat gubuk kecil saya." Kata pak Sanusi, sembari menunjuk sebuah bangunan semi permanen. Rumah berbentuk Limasan khas Jawa tengah, meski terlihat seperti rumah tua tetapi rumah itu masih berdiri kokoh di antara bangunan baru lainnya yang kebanyakan berdinding bata. Rumah Pak Sanusi pun masih berlantai tanah, benar-benar masih rumah kuno zaman dulu. Dari luar terdengar anak-anak sedang belajar iqro' saat mereka sampai di pelataran rumah Pak Sanusi, banyak sandal tertata rapi di sebuah rak. Darren bertanya-tanya dalam hati, memangnya anak Pak Sanusi sebanyak ini? "Istri saya mengajar anak-anak mengaji." Kata Pak Sanusi seolah tahu pikiran Darren. "Oh." "Mari silahkan masuk, Nak." Pak Sanusi membukakan pintu, semua mata anak-anak yang duduk beralas tikar tertuju kepada beliau. Serempak suara mengaji di ruang tamu rumah itu pun terhenti, semua fokus kepada sosok di belakang Pak Sanusi. "Assalamualaikum." Ucap beliau. "Wa'alaikumsalam." Jawab semua yang ada di sana, anak-anak ingin berdiri menyalami Pak Sanusi. Namun beliau meminta mereka kembali duduk. "Dilanjut lagi, Buk." Ucap Pak Sanusi, beliau mengajak Darren masuk ke ruang tengah. "Maaf ramai, karena ini memang jam mereka mengaji." Kata Pak Sanusi, tak lupa mempersilakan Darren duduk. Mereka duduk di sebuah dipan besar, di sana terdapat sebuah televisi 14 inch. Tak banyak perabot di rumah ini, menjadikan rumahnya terlihat begitu lapang. Sekat pun hanya di bagian kamar saja. "Tak mengapa Paman, justru saya merasa tak enak. Takut kalau kedatangan saya menganggu aktivitas mereka." "Sama sekali tidak, saya senang Nak Darren berkenan berkunjung ke gubuk reyot ini." Darren hanya tersenyum, sembari memberikan bungkusan yang ia bawa tadi. Pak Sanusi menerimanya, lalu menaruhnya di meja dapur kemudian menutupnya dengan tudung saji. Suara mengaji kembali terdengar, kadang diselingi candaan khas bocah-bocah kecil yang Darren perkirakan rata-rata usia anak TK sampai kelas empat SD. Kadang juga dibarengi suara istri Pak Sanusi membenarkan bacaan yang salah. Sungguh, ini pengalaman pertama  bagi Darren berada dalam suasana ini, ia merasa hatinya begitu tenteram dan merasa nyaman mendengar suara mengaji. Di kota besar tempatnya tinggal, sudah sangat jarang ditemui anak-anak berbondong-bondong belajar seperti di sini. Dengan seksama Darren mendengarkannya, ia merasa malu diusianya kini sama sekali tidak pernah memegang kitab suci. "Paman, sepertinya saya...." Ucapan Darren terpotong dengan sorak ramai anak-anak dari ruang tamu, ternyata jam belajar mereka sudah selesai. Dan terdengar satu persatu dari mereka pamit pulang, diiringi celoteh riang mereka.  Jadwal belajar mengaji di tempat pak Sanusi mulai dari selepas Maghrib, hingga mendekati isya' saja. Darren belum sempat menyampaikan maksudnya untuk ikut mengaji bersama, ia ingin lebih mendekatkan diri pada penciptanya. Istri pak Sanusi masuk ke dalam rumah, menggendong bocah balita yang tertidur. Menyapa Darren sekilas, lalu masuk ke dalam kamar. Tadi Darren tak sempat memperhatikan jika ada balita di sana. "Wah, sepeda siapa ini? Bagus, apa sepeda barumu Mas?" sayup-sayup terdengar celoteh bocah lelaki dari luar rumah, suara itu terdengar sampai di dalam seolah menembus dinding kayu rumah Pak Sanusi. "Hustt, Ojo sembarangan." Peringat suara lain. "Pegang sedikit tak apa kan? Tak mungkin lecet kan?" "Wes ayo mlebu omah, salim Karo bapak ibuk sek." ( Sudah ayo masuk rumah, Salim sama bapak ibu dulu.) "Ah, Mas Fajar tidak asik." Gerutu bocah itu. Darren mengikuti Pak Sanusi yang keluar rumah, nampak dua anak laki-laki beda usia mendekat ke arah mereka. "Pak, ibuk ning endi?" (Pak, ibuk di mana?) "Kae ning njero, Adekmu turu."(itu di dalam, adikmu tidur.) "Ono tamu tho. Ayo Dani, salim sek." ( Ada tamu tho. Ayo Dani, beri salam dulu.) Kata Fajar, sulung dari tiga bersaudara anak Pak Sanusi. Lalu mengajak adiknya masuk ke dalam rumah, takut Dani akan terus nyerocos dan mengganggu tamu bapaknya. "Kalau begitu, saya pamit Paman." Kata Darren, ia rasa sudah cukup malam ini bertamu di rumah Pak Sanusi. Ia tak ingin terlalu lama, takut menganggu aktivitas keluarga beliau. "Kok buru-buru? Maaf dianggurkan." "Tidak apa-apa Paman, assalamualaikum." "Wa'alaikumsalam." Pak Sanusi mengantar Darren pulang dengan pandangannya, kemudian masuk ke dalam rumah untuk memberikan pemberian Darren kepada anak dan istrinya. "Ini apa Pak?" tanya Ibu Lastri, istri Pak Sanusi. "Itu, dari Nak Rizal. Katanya kiriman orangtuanya, dari Jakarta." "Kenapa banyak sekali Pak? Ibu belum sempat berterima kasih." "Nanti Bapak sampaikan, siapin makan malam Buk. Bapak panggil anak-anak." Bu Lastri menata makanan ke atas piring, ini sangat banyak bagi keluarga mereka. Mungkin bisa dipanaskan lagi untuk lauk besok pagi, matanya tertuju kepada sekantong plastik berisi rendang dari Darren. Jujur saja, keluarga mereka sangat jarang makan daging seperti ini. Mungkin setahun sekali saat idul adha saja. "Ibu masak apa?" tanya Fajar, ia sudah duduk di depan Bu Lastri yang masih berdiri mematung. "Buk?" "Ah, ini tadi dari tamu Bapak." Bu Lastri menunjukkan opor ayam dan rendang pada Fajar. "Waaah, opor ayam. Ada apa itu Buk? Rendang? Wah, makan enak malam ini." Cerocos Dani, yang cenderung lebih ceriwis dan ekspresif daripada Fajar. Meskipun mereka sudah sering makan opor ayam masakan Bu Lastri, tetap saja rasanya beda. Lebih enak pemberian Darren kalau kata Dani. "Alhamdulillah, rejeki kita hari ini. Doakan Mas Rizal selalu diberikan kelancaran rizki." Kata Pak Sanusi, ikut bergabung bersama anak-anaknya. "Aamiin, mari makan." "Baca doa jangan lupa, Dani." Peringat Bu Lastri, Dani mengangguk cepat agar cepat makan pula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD