TJOL 5

1327 Words
Pagi ini, Darren bangun setelah mendengar alarm ponselnya berbunyi sebelum nada dengan suara ayahnya itu semakin merusak gendang telinga. Awalnya ia sangat jengkel ketika dengan sengaja Denis memasang suaranya, tetapi semakin hari Darren semakin menikmati. Anggap saja itu nyanyian merdu dari sang ayah. Hari ini ia tak ada aktivitas, sembari menunggu kabar lolos tidaknya ia masuk pabrik. Darren masih betah berbaring di ranjang, ponsel pintar setia menemani digenggamnya. Darren berselancar di YouTube, mencari tutorial mencuci pakaian. Ada cara mudah memang yaitu dengan laundry saja, tetapi tidak mungkin kan selama di Semarang Darren menggantungkan diri dengan orang lain? Jadi, mau tidak mau ia harus mencuci pakaiannya sendiri. Mungkin nanti ia akan membeli mesin cuci. Darren menggaruk kepalanya, merasa pusing karena belum tahu betul tentang mencuci. Sedangkan baju kotor dia selama datang ke Semarang sudah mulai menumpuk. Darren menghentikan sejenak ketika kepalanya sudah terasa berat, ia justru teringat satu hal yang ingin ia lakukan semenjak tiba di rumah ini, merubah kesan rumah tak berpenghuni dengan mengecat ulang tembok yang warnanya sudah pudar. Ia sibuk memilih warna yang cocok untuk rumahnya, melupakan sejenak proses cuci mencucinya. "Warna apa ya?" tanya Darren, ia baru merasa jika tinggal sendirian itu amat sangat tidak enak. Ia jadi sering berbicara dengan dirinya sendiri, seperti barusan. Ia melontarkan pertanyaan yang mungkin hanya ia yang bisa menjawabnya. Darren fokus ke layar ponselnya, ia bahkan mengunduh aplikasi cat untuk mencari kombinasi warna yang pas. Mencocokkan satu dengan yang lain. "Duh, bingung." Keluh Darren. "Biru muda, sama merah muda? Ah, itu perempuan banget." "Apa ya?" Pilihan Darren jatuh pada warna putih, krem, dan latte yang terpenting tembok usang itu bercat baru. Juga ia nanti akan membeli cat besi untuk pagar rumah yang sudah berkarat. Darren bangkit dari berbaringnya, kini masih pukul 07:00. Lebih baik ia sarapan dulu, sebelum ia mencari toko cat terdekat. ***** "Sayang, tolong pakaikan dasiku." Kata Denis, ia perlahan menuruni anak tangga. Mencari keberadaan istrinya, yang tak lain dan tak bukan adalah dapur. Seperti kebiasaannya setiap pagi. Denis mendekati istrinya yang sedang merampungkan masakannya, memeluknya dari belakang. "Kamu!" Pekik Syla kaget, ia sedang fokus memasak tiba-tiba ada tangan melingkar di pinggang. "Tolong pasangkan dasiku, Sayang." Bisik Denis tepat ditelinga Syla, Syla merinding dibuatnya. Napas Denis terasa menyentuh daun telinganya. "Sebentar, aku selesaikan ini dulu Mas. Kamu duduk saja." Ucap Syla, Denis justru semakin mengeratkan pelukannya. "Mas." Desis Syla ketika sang suami tak mengindahkan perintahnya, Denis masih tetap di sana. Memeluk Syla dari belakang, tak peduli kegiatannya dipergoki asisten rumah tangga mereka. Tak jarang justru para pekerja di rumah mereka yang merasa malu, lalu memilih menjauh dan memberi mereka ruang untuk bermesraan. Akhir-akhir ini Denis memang lebih bersikap masa bodoh jika ada yang melihat kemesraan mereka berdua, tak peduli tempat. Ini rumahnya 'kan? Jadi dia bisa melakukan apa saja sesukanya. Kian hari, kian bertambah pula cintanya untuk Syla. Meskipun hampir dua puluh tahun mereka membina rumah tangga, tak ada kata bosan diantara keduanya. Cinta Denis semakin tumbuh subur, bak bunga yang dipupuk dan disiram setiap hari. "Duduklah." Rengek Syla, ia meniriskan ayam goreng yang baru ia angkat dari penggorengan. Menu masakan Syla hanya itu-itu saja, sesuai permintaan Denis yang tak ada bosannya makan ayam goreng buatan Syla. "Hmm, baiklah." Ucap Denis, akhirnya ia menuruti perintah Syla. Setelah menyiapkan sarapan selesai, barulah Syla pasangkan dasi di leher Denis. Ia ambil dasi digenggaman suaminya, memintanya untuk berdiri. Syla lebih suka memakaikannya dengan posisi itu, mengurangi kesempatan Denis untuk mengerjainya. "Merunduk." Titah Syla, Denis menurut saja. Lelaki itu memandangi wajah istrinya, wajah yang pertama dan terakhir kali ia lihat setelah ataupun sebelum tidur. Menemani sisa-sisa usia dan akan menua bersama. Denis membelai wajah Syla dengan jemarinya, perlahan ia bingkai wajah yang kian hari terlihat semakin tirus. Wajah yang dulu ceria juga kini menjadi sendu. "Apa yang membuatmu kurus?" tanya Denis. Syla yang tengah fokus memasangkan dasi, menatapnya. "Maksudmu?" "Kamu terlihat semakin kurus, apa yang membebanimu?" Syla menggeleng, ada-ada saja suaminya ini. Ia rasa wajahnya biasa saja, seperti hari-hari sebelumnya tak ada yang berubah. "Cuma perasaanmu saja," kata Syla sekenanya. Syla selesai memakaikan dasi Denis, lalu merapikannya. "Apa ini tentang Darren?" tanya Denis, matanya lekat menatap manik coklat milik Syla. "Kamu sih! Kamu terlalu jahat, Mas." Kata Syla akhirnya, ia memukul pelan d**a suaminya. Mata coklat itu sudah berkaca-kaca, sebentar lagi akan ada pertumpahan air mata. "Jahat bagaimana?" "Kamu mengirimnya ke Semarang, sendirian tanpa sanak saudara. Kamu pikir itu mudah baginya?" Syla kini sudah menangis, Denis mendekap tubuh istrinya. Sudah beberapa hari setelah kepergian Darren, Syla masih saja bersedih. Sabar, sabar sebentar saja. Batin Denis. Diusap wajah Syla, ia kecup kening istrinya yang masih menangis. "Nanti kita kunjungi dia." Ucap Denis, mencoba menenangkan hati istrinya. "Kapan? Kamu saja selalu sibuk dengan pekerjaanmu." "Akan ku luangkan waktu untuk mengantar permaisuriku bertemu puteranya." Ucap Denis. Denis meringis, merasakan perutnya yang memanas akibat cubitan Syla. "Sakit, Sayang." Ringis Denis, cubitan itu belum terlepas. "Kamu terlalu berlebihan, aku pegang janjimu. Awas saja kalau kamu ingkar janji." "Tidak, aku akan mengingatnya. Sudah ya, jangan menangis. Karena aku sudah berjanji tak akan membuatmu menangis lagi." "Tapi kamu melakukannya!" ucap Syla gusar. "Hey, kamu menangis sendiri. Aku bahkan tak melakukan apapun." "Tapi, kamu..." Denis mengecup bibir Syla singkat, membuat wanita itu terkejut dan berhenti bicara. "Aku tak ingin terlambat bekerja karena berdebat dengan istriku." "Hah, ya sudah. Sarapan." "Iya, tapi aku tidak ingin menyantap sarapan dengan menatap wajah sedih istriku. Senyum lah." Pinta Denis, Syla tersenyum kecil. Dalam hubungan mereka memang sering terjadi perselisihan, tetapi mereka selalu menyikapinya dengan kepala dingin. Membuat hubungan mereka semakin hangat. ***** Darren memesan ojek online, mengantarnya ke sebuah toko cat yang telah ia temukan lewat ponselnya. Berteman dengan ojek online mungkin akan menjadi kebiasaannya di kota ini, karena dia sendiri memang sedang dalam tahap mengenal kota Semarang. "Sesuai map ya Mas?" tanya supir ojek. "Iya. Mas, toko elektronik daerah mana ya? Saya sekalian mau beli beberapa barang." "Sebelah toko cat yang kita tuju juga ada, Mas." "Oh, baiklah." Darren memakai helm hijau khas ojek online, lalu naik ke jok belakang. Perlahan motor itu melaju, dengan kecepatan sedang saja karena tempat yang dituju tak terlalu begitu jauh. Darren mengedarkan pandangannya, sembari menghapal jalan. "Terimakasih, Bang." Ucap Darren, saat sampai di depan toko cat yang lumayan besar. Darren harap, ia menemukan apa yang ingin ia cari. Darren memasuki toko cat tersebut, deretan cat berbagai macam merk terjejer di sana. "Ada yang bisa saya bantu, Dek?" tanya seorang karyawan toko. "Ah, saya mau cari cat tembok, cat kayu, juga cat besi." Karyawan tersebut menunjukkan tempat apa yang Darren cari, ia sempat kebingungan memilih karena saking banyaknya merk cat. Ia memilih meminta rekomendasi karyawan toko saja, minta cat dengan kualitas terbaik dan sesuai kebutuhan untuk rumahnya. Beruntungnya, karyawan itu sangat baik mau membantu Darren. Darren sudah mendapat beberapa kaleng cat, ia bersiap untuk membayarnya. "Berapa Kak?" Seorang kasir menyebutkan nominal yang harus Darren bayar, pemuda itu mengeluarkan kartu debit dari dalam dompet. "Terimakasih." Kata Darren. Dari toko cat, Darren berpindah ke toko elektronik yang tepat berada di samping toko itu. Darren membeli televisi LED keluaran terbaru, juga mesin cuci. Tak lupa Darren membeli karpet dan kipas angin untuk di ruang tamu, itu saja yang Darren butuhkan saat ini. Jika nanti ada yang kurang, ia akan membelinya lagi. Darren ikut pulang bersama mobil pick up yang mengantar barang-barangnya, di depan rumahnya sedang banyak ibu-ibu berkerumun mengelilingi tukang sayur keliling. Mereka menatap ke arah Darren, sembari berbisik-bisik satu sama lain. Darren menyapa mereka dengan menganggukkan kepalanya saja, lalu ia masuk ke dalam rumah. Membantu petugas menurunkan barang yang tadi ia beli, setelahnya tak lupa Darren memberi uang tip kepada petugas itu. Sementara di sana, ibu-ibu tadi masih menatap heran ke arah Darren. Mereka baru melihat Darren hari ini, kecuali Bu RT yang juga ada di sana. Beliau sudah tahu tentang Darren dari suaminya. "Siapa sih Bu?" "Tidak tahu, penghuni baru. Aku baru lihat dia hari ini." "Sendirian ya? Masih muda sekali." "Iya, ganteng lagi. Ayo yang punya anak perawan, bisa dicalonkan." Suasana menjadi riuh membicarakan Darren, Bu RT hanya menggelengkan kepalanya tak heran dengan tingkah warganya. Suara-suara itupun terdengar sampai ke telinga Darren, di dalam rumah ia hanya bisa tersenyum. Namanya juga ibu-ibu komplek. Darren membaringkan tubuhnya di atas karpet yang baru saja ia gelar, mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Baru nanti ia akan mencari jasa pengecatan rumah, rasanya tak sabar menunggu hasilnya. Darren ingin nyaman tinggal di sini. Untuk mesin cuci dan televisi, ia bisa memasangnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD